Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Daddy jahat



-


-


Jiana menangis kencang memeluk Kya, ia sudah tak sanggup dengan rasa sakit dihatinya. Ia mencoba memaafkan Bryan tapi kedatangan Queen membuat sekali lagi hatinya hancur berkeping-keping


Jiana merema* dadanya, nafasnya terasa terhenti. Sekarang tak hanya dirinya yang akan merasa sakit tapi juga putri mereka. Jiana mengusap pelan kening Kya, gadis kecilnya masih tertidur tanpa tahu keadaan saat ini. Jiana tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa putrinya mempunyai adik dari Auntynya, lalu jawaban apa yang akan ia diberikan untuk Kya nanti?


Lalu apa yang harus Jiana lakukan? bagaimana nasib pernikahannya bersama Bryan? apa Bryan akan menikahi Queen, menjadikan wanita itu sebagai madunya, demi Tuhan Jiana tak bisa membagi Bryan dengan wanita manapun apalagi adiknya. Tangisan Jiana kian mengencang, ia tak menyangka kedua orang itu akan berlaku kejam seperti ini padanya. Sebenarnya apa salah Jiana pada mereka?


Dan tangisan kencang itu membuat Kya terusik, gadis kecil Jiana dan Bryan itu membuka matanya dan perlahan terisak pelan. " Kenapa Mum selalu menangis?" tanyanya pilu


" Kya Mum sangat sakit." saut Jiana tersedu


" Apa Daddy membuat Mum kesakitan?" tanya Kya ikut menangis


" Hmm, apa yang harus Mum lakukan? Kya Mum sangat sakit." lirih Jiana seakan tak sanggup menahannya lagi didepan Kya


" Ayo kita pulang Mum."


" Tidak apa-apa tidak bersama Daddy?"


" Kya anak baik dan pintal."


Jiana segera memeluk tubuh kecil itu dengan punggung bergetar. Kedua wanita itu menangis bersama lagi karena Bryan, ya hanya pria itu yang mampu membuat Jiana merasa sakit seperti ini. Jika berbulan-bulan yang lalu Jiana mungkin tak akan sesakit ini dikhianati Bryan, tapi Jiana sudah jatuh sedalam-dalamnya pada Bryan, ia memberikan semuanya untuk Bryan tak hanya tubuh namun hati ia berikan itulah yang membuat Jiana hancur


Sampai pagi menjelang, Bryan samasekali tak bisa menutup kedua matanya. Ia memikirkan semuanya, badai yang tiba-tiba menerjang pernikahannya dan Jiana. Bryan merasa kepalanya akan meledak saat ini karena terlalu banyak berpikir


Bryan memutuskan untuk mandi dan mendinginkan kepalanya. Ia mengguyur tubuhnya dibawah shower dengan air dingin sambil menjedug-jedugkan kepalanya pada dingding kaca


" Jia .. Kya .. Daddy takut." gumam Bryan


Setelah dirasa tubuhnya benar-benar dingin dan menggigil Bryan segera berhenti. Pria itu segera keluar dan memakai pakaian kerjanya. Sialnya pagi ini Bryan ada meeting penting yang tak bisa ia wakilkan pada Darwin, sehingga memaksakan diri pergi bekerja


Tepat didepan kamar Kya, Bryan berdiri mengetuk pintu itu pelan berharap Jiana mau keluar dan bicara dengannya." Jia ayo kita bicara, aku mohon." ucap Bryan memelaskan wajahnya


" Sayang ..."


Lama ia berdiri disana dan menghela nafas beratnya berkali-kali sampai kakinya terasa pegal dan hari semakin siang barulah Bryan berhenti dan pergi kekantor


Bryan menjadi pusat perhatian dikantor namun kali ini bukan karena wajah tampannya, melainkan karena tampilannya yang berantakan, dasi pria itu tak ditata dengan benar juga rambutnya yang tak disisir dan acak-acakan. Terlihat sekali Bryan sedang banyak masalah


Ia langsung masuk menuju ruang meeting dimana smeua orang sudah menunggu dengan wajah heran melihat tampilan Bryan. Pria mengabaikan tatapan aneh itu dengan duduk ditengah dan menyuruh semuanya untuk memulai


Bryan tak fokus pada meeting ini yang ia lakukan hanyalah mengetuk-ngetuk meja diruang itu. Tatapan Bryan pun tak pada layar tapi kesembarang arah hingga suara ponsel menyadarkan Bryan dari lamunannya


" Fuc* ." umpatan itu mengagetkan semua orang, Bryan yang selalu berkelas dengan wajah malaikatnya hisa juga mengumpat, begitulah pikiran mereka


" Tahan mereka." teriak Bryan sudah seperti orang gila memarahi orang yang berbicara lewat telepon dengannya


Bryan sudah tak memperdulikan ruang meeting lagi. Pria itu berlari keluar diikuti Darwin yang mengejarnya, Darwin segera menarik lengan Bryan." Sampai kapan kau akan berlaku tidak tanggung jawab seperti ini." bentak Darwin pada atasannya membuat semua pekerja mengintip dari divisi mereka masing-masing


" Lepaskan aku brengsek, istri dan anakku lebih penting saat ini." balas Bryan membentak dan detik itu juga semua orang tahu bahwa pria yang mereka puja itu ternyata sudah menikah, sepertinya kepingan hati patah tak hanya pada Jiana namun pada semua wanita dikantor Bryan


Sekuat tenaganya, Bryan mendorong Darwin hingga pria itu terjengkang. Bryan kembali berlari menuju lift yang tepat saat itu sedang terbuka. Ia masuk dan terburu-buru menekan lift menuju basement


Saat sampai Bryan langsung masuk kedalam mobilnya, melajukan mobil itu sekencang mungkin menuju bandara internasional halim perdana kusuma. Pria itu sudah seperti orang gila berlarian dibandara, dengan nafas terengah Bryan menemui dua orang detektif yang tadi menelponnya


" Maaf bos, mereka sudah naik pesawat. Kami tidak bisa menahannya."


" Bodoh!" umpat Bryan lalu ia berlari sambil melihat keberangkatan dengan tujuan ke Paris


Benar saja 15 menit lagi pesawat yang ditumpangi Jiana dan Kya akan lepas landas dan meninggalkan kota Jakarta tentunya Jiana dan Kya yang meninggalkan Bryan. Bryan sekencang mungkin menuju pesawat yang ditumpangi Jiana, bahkan Bryan menerobos masuk dua penjaga disana


Bryan sudah seperti ******* yang dikejar polisi, pria itu membuat rusuh seisi pesawat karena pencariannya terhadap Jiana dan Kya. " Dimana kalian." gumam Bryan mengedarkan pandangannya kesana kemari


" Mum pesawat besal." Bryan menghela nafas panjang mendengar suara Kya, ia segera memutar tubuh dan beringus mendekat pada Jiana


" Jia ..kumohon jangan pergi, kita selesaikan semuanya baik-baik." ucap Bryan membuat Jiana terkejut


" Kumohon, beri aku kesempatan untuk bicara, kita cari jalan bersama hmm?" Bryan berlutut dengan wajah lelahnya setelah berlari dihadapan Jiana, wanita itu hanya diam, matanya tertutupi kaca mata hitam


" Kumohon jangan pergi, jangan pisahkan aku dan putriku." ucap Bryan menggenggam kedua tangan Jiana


" Jangan pisahkan aku dan Kya Jia kumohon .. "


" Jia aku sangat menyayangimu dan Kya, jangan pergi kumohon." ucap Bryan hendak mencium kedua jemari Jiana namun secepat kilat wanita itu menariknya dan menyilangkannya didadaa, kedua mata Bryab menggenang air mata


" Jangan membenciku, jangan meninggalkanku. Dengarkan aku dulu, aku akan melakukan tes dna pada bayi itu. Aku sangat yakin itu bukan bayiku."


" Kalau bukan bayimu, kau pikir itu bayi siapa? memangnya ada pria lain dirumah kita?" suara Jiana sungguh dingin membuat bulu kuduk Bryan berdiri mendadak


Huuuu huuuu


Suara tangisan kencang itu mwnggetarkan hati Bryan, ia berpindah dan berlutut dideoan putrinya, menangkup wajah kecil Kya. " Hey kenapa menangis hmm?"


" Jangan menangis hmm, Daddy akan menyusul dan mencari Kya hmm." ucap Bryan lalu menciumi kedua pipi Kya, ia hapus sudut mata Kya dengan ibu jarinya


" Sssh anak pintar berhenti menangis." bujuk Bryan namun tangisan itu kian mengencang


" Baiklah, baiklah Daddy akan pergi bersama Kya, Daddy pesan tiket sekarang hmm?" Bryan terus mengusap airmata itu tanpa henti


" Daddy jahat!" ucap Kya


" Kenapa Daddy belpacalan dengan Aunty dan membuat Mun menangis?" Bryan merasa tenggorokannya tercekat, ia menoleh pada Jiana dan berdiri, tatapan itu menajam bak elang menemukan mangsangnya


Bryan mencengkram kedua bahu Jiana." Kau meracuni otak putriku hah?" tanya Bryan


" Apa yang kau bilang padanya? kau mempengaruhi putriku agar dia membenciku begitu?" bentak Bryan menggelegar mengguncang kedua bahu Jiana


" Aku tidak serendah itu!"


" Lalu bagaimana bisa Kya mengatakan hal itu." ucap Bryan, kedua mata itu memerah dan menggenang airmata


"Katakan!" bentak Bryan membuat perhatian semua orang tertuju padanya rermasuk dua penjaga yang mengejar dan masih mencarinya


" Itu karena dia melihatmu, putrimu melihatmu tidur dengan Queen." seketika itu juga airmata Bryan luruh, tubuhnya melemas seakan tak bertulang bahkan Bryan membiarkan dirinya dibawa oleh petugas keamanan disana


-


-