Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Suka hal romantis



-


-


Bryan segera menghampiri Jiana yang menekuk wajahnya didepan meja rias setelah ia menidurkan Kya diranjangnya bersama Jiana karena gadis kecil itu kembali rewel jika demam. Bryan tersenyum dan langsung menggeser Jiana lalu mendudukan tubuh wanita itu dipangkuannya


Setelah kepergian mama dan adiknya tadi sore, Jiana memang terlihat sedih dan kecewa. Entah apa yang diceritakan ibunya itu hingga Jiana jadi seperti ini


Kehadiran Queen juga membawa pengaruh tak hanya untuk Bryan namun juga untuk keluarganya yang mengenal Queen yang dulu selalu Bryan ajak kerumahnya ketika mereka masih berpacaran


Tidak ada seorangpun yang berani bercerita pada Jiana mengenai hubungan Bryan dan adiknya karena jelas Bryan melarang dan bilang ia yang akan jujur pada Jiana. Bryan akan menunggu waktu yang tepat karena untuk saat ini ia benar-benar tak mau bertengkar dengan Jiana, ia baru saja memulai hubungan baik dengan Jiana dan tak ingin menghancurkan semuanya hanya karena kehadiran Queen


" Ada apa hmm?" tanya Bryan menatap wajah merengut Jiana


" Aku tidak menyangka Mama menghianati papaku." tutur Jiana lalu menghela nafasnya begitu panjang


" Mama jadi seorang simpanan seorang pria kaya untuk memberinya keturunan karena istrinya yang punya sakit parah dan tak bisa hamil. Mama meninggalkanku dan Papa, dia kembali pada pria kaya itu setelah istrinya mati. Bukankah menurutmu aku harusnya membenci Mama?" tanya Jiana dengan manik kembali berkaca menatap Bryan yang jadi pendengar setianya


" Karena kau wanita baik, aku yakin kau tidak membencinya." saut Bryan lembut membelai pipi Jiana dengan jemarinya


" Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Jiana dengan tangan yang gatal ingin menyentuh wajah Bryan, lalu ia memberanikan diri menyentuh wajah Bryan yang terasa kian tampan dan berkharisma untuknya


" Kau bahkan membesarkan putri dari pria yang memperkosamu."


Seketika itu juga Jiana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan menangis kencang


" Aku sangat bodoh, seharusnya aku membenci mama." isak Jiana membuat Bryan segera membawa tubuh itu dalam pelukan hangatnya, mengusap rambut sebahu itu penuh kelembutan, dan ini sungguh terasa nyaman untuk Jiana, ia menumpahkan semuanya dipelukan Bryan malam ini


" Kau tidak bodoh, itu karena hatimu terlalu baik." ucap Bryan tulus


Saat Jiana sudah tenang, Bryan mengurai pelukannya dan membuka wajah Jiana. Wajah itu sembab sehingga Bryan mengulurkan kedua ibu jarinya untuk mengeringkan pipi Jiana yang basah


" Jangan menangis, lihat wajahmu jadi jelek." ledek Bryan mengulum senyumnya membuat Jiana tersenyum meski tipis


" Terimakasih untuk pelukanmu."


" Kita sudah menikah. " Bryan menepuk dadanya sendiri


" Tubuh ini milikmu, kau berhak melakukan apapun. Memelukku, menciumku dan meniduriku." ucap Bryan dengan kekehan kecil, Jiana kembali dibuat tersenyum


" Bagaimana kalau aku ingin membunuhmu?"


" Hey, kalau aku mati siapa yang akan menidurimu hmm? siapa yang akan membuatmu menjerit?" tatapan Bryan mulai mesum dan menuju buah dada. Tapi Jiana segera mengangkat wajah Bryan keatas menangkup dengan kedua tangannya


" Masih banyak pria lain."


" Jangan berkata seperti itu." bentak Bryan pelan dengan manik menyalang tajam pada Jiana yang malah tertawa cekikikan


" Apa kau sudah cinta mati padaku?" tanya Jiana usil


" Ya aku cinta mati padamu jadi jangan pernah macam-macam dibelakangku." saut Bryan meladeni ucapan usil Jiana


" Ya selama kau masih hidup."


" Jiana." bentak Bryan pelan lalu ia menciumi bibir Jiana dengan begitu gemas membuat tawa Jiana kembali memenuhi kamar mereka


" Aku suka." ucap Bryan melebarkan senyumnya


" Hmm?" Jiana mengernyitkan dahinya tak mengerti


" Tawamu aku suka, kuharap kau akan terus tertawa seperti ini karenaku." bisik Bryan lembut dengan tatapan penuh damba pada istrinya


" Kau selalu nakal." umpat Bryan lalu meraup bibir Jiana, ia sungguh gemas pada wanita dipangkuannya ini


Jiana tersenyum dalam ciuman lembut itu, ia mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan dan membalas gerakan bibir Bryan, Jiana kini sudah lihai meladeni ciuman pria itu


Bryan membawa memangku Jiana keranjang tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Ia baringkan dengan pelan tubuh itu disamping Kya dengan dirinya yang mengurung Jiana. Tautan bibir itu terlepas saat jemari Bryan mulai nakal pada kancing piyamanya


" Jangan malam ini." larang Jiana menyentuh jemari Bryan dikancing keduanya


" Kau sedang menstruasi?" tanya Bryan mengerutkan dahinya


" Kya sedang demam, aku tidak akan tenang." saut Jiana membuat Bryan terbahak kencang


" Baiklah, jadi malam ini kita tidur begitu saja?"


Jiana mengangguk pelan dengan senyum manisnya


" Kau sangat cantik Jiana." puji Bryan tak mengedipkan matanya menatap Jiana hingga jemari Jiana mengusap wajah Bryan dari dahi kebawah


" Berhenti merayuku, percuma karena malam ini kau tidak akan mendapatkanku." ejek Jiana


Bryan terkekeh lucu, ia menarik pelan dagu Jiana. " Tapi tidak dengan bibirmu, aku akan mendapatkan ini." ucap Bryan lalu kembali meraup bibir Jiana, kedua mata itu kembali terpejam menikmati ciuman mereka. Bryan merasa heran pada Jiana ia sangat sabar dan menurut, jika wanita lain Bryan tidak berlaku seperti ini, ia tidak pernah melewatkan wanita diranjangnya dan Bryan tidak pernah mencium wanita selembut ini. Wanita itu sangat istimewa mampu menaklukan dirinya, pikir Bryan


Bryan berguling kesamping, mendekap erat Jiana dengan bibir masih menyatu, saling memagut lembut. Lalu ia lepaskan saat kehabisan oksigen dalam parunya, ia menatap Jiana yang juga tersengal karena ulahnya


Bryan tersenyum manis merah jemari kanan Jiana yang bertumpu dipundaknya, ia tuntun menuju dadanya. " Kau bisa merasakannya?" tanya Bryan pada Jiana saat jantungnya berdebar kencang


Jiana mengangguk pelan sembari mengulum senyumnya


" Inilah yang kurasakan setiap kali menyentuhmu." saut Bryan. Kali ini Jiana menarik satu jemari Bryan yang melingkar dipunggungnya, ia tuntun pada dadanya


" Aku juga merasakannya, jantungku selalu seperti ini." Bryan tersenyum lebar dan tangannya malah nakal, merema* satu buah dada Jiana membuat wanita itu segera memukulnya dengan kencang


" Pelit sekali." gerutu Bryan pelan


" Kau selalu merusak suasana."Gerutu Jiana mengerucutkan bibirnya


" Jadi kau suka hal yang romantis seperti itu?" tanya Bryan menatap lekat Jiana dengan senyum nakalnya. Bryan tertawa pelan melihat Jiana yang merajuk tiba-tiba


" Baiklah, I love you." ucap Bryan lembut membuat bibir itu kembali tersenyum, sekarang mudah sekali untuk Bryan merayu Jiana. Lihatlah wanita itu kini menghamburkan dirinya pada Bryan, mengurung tubuh besar Bryan dengan tubuh kecilnya bahkan Jiana naik keatas tubuhnya dan menyatukan bibirnya kembali pada bibir Bryan. Bryan memejamkan mata menikmati jamahan bibir Jiana dan membalas ciuman itu. Keduanya larut dalam ciuman mesra dan menggairahkan hingga cukup lama


Nyatanya sentuhan itu membuat Bryan tak tahan, kedua tangannya mulai menjalar ketubuh Jiana, satu pada tengkuk, menekannya agar ciuman itu kian dalam dan Bryan mulai melancarkan aksinya mengganti ciuman lembut itu dengan ciuman mautnya. Sementara tangan yang lain mulai menyusup pada piyama tidur Jiana, hinggap pada pengait Bra mencoba membukanya jika saja suara Kya tak mengganggu mereka


" Mummy, Daddy .. " gumam Kya dalam tidurnya. Jiana segera melepaskan bibirnya dan menoleh pada Kya yang masih terpejam, saat demam Kya selalu meracau dalam tidurnya. Lalu ia beralih kembali pada Bryan dan tertawa diikuti Bryan yang juga tertawa melihat Jiana


Kemudian Jiana turun dari tubuh Bryan diikuti pandangan nakal pria itu. Jiana bergerak membelakangi Bryan dan memeluk tubuh gadis kecilnya."Nakal juga kalau sudah jinak" gumam Bryan dalam hati terkikik sendiri lalu ia bergeser untuk mendekap Jiana dengan kedua tangannya, menyusupkan wajah ke celah leher Jiana


" I love you." bisik Bryan mengulum senyumnya menggoda Jiana


" Berhenti merayuku." gerutu Jiana meronta


" Aah I love you Jiana." goda Bryan lagi


" Bryan." bentak Jiana pelan kembali meronta membuat Bryan terbahak mengangkat wajahnya untuk menjangkau wajah Jiana


" Uuuuh bukankah istriku ini suka hal yang romantis." ucapnya manja hingga Jiana beralih dan menampar pelan pipi kanan Bryan dengan jemarinya. Bukan marah, pria itu malah tertawa membuat Jiana pun ikut tertawa. Tawa itu memenuhi setiap penjuru kamar mereka bagaimana usilnya Bryan yang tak henti mencandai Jiana malam itu


-


-