
-
-
" Nakal sekali membuat Kya menangis." ucap Bryan seraya melingkarkan kedua tangannya diperut Jiana dari belakang membuat wanita yang sedang memasak makan siang itu berjingkat kaget. Sepertinya Bryan tak bisa berjauhan dari Jiana hingga belum juga 15 menit, pria itu sudah menyusul istrinya kedapur meninggalkan teman-temannya yang ikut berkumpul bersama keluarganya
" Dia akan selalu mengulanginya lagi jika terlalu dimanjakan." saut Jiana
Bryan tersenyum melihat tangan Jiana yang cekatan memasak makanan kesukaan Bryan di dalam wajan yaitu ayam balado. Lalu kecupan bibir Bryan mendarat dipipi Jiana
" Kau sering melakukan itu pada putri kita?"
" Hanya sesekali saat dia benar-benar nakal."
" Berapa kali?" tanya Bryan, tatapan itu terlihat begitu memuja Jiana
" Haruskan aku menghitungnya?"
" Ya, dan setiap kali kau melakukan itu pada Kya, kau akan mendapatkan hukuman dariku." saut Bryan dengan senyum dan tatapan mulai mesum. Spontan Jiana menoleh dan saat itu juga bibir Bryan mendarat dibibirnya
Cup cup
Dua kecupan lembut berhasil membuat wajah Jiana memerah. Bryan tersenyum lucu akan hal itu lalu ia mengeratkan pelukannya dan menumpu dagu dipundak Jiana
" Apa hukuman untukku?" tanya Jiana kembali pada masakannya
" Aku akan menidurimu he he .. " sautnya
" Astaga itu bukan hukuman." gerutu Jiana
" Kalau bukan hukuman lalu apa?" tanya Bryan
" Itu memang kemauanmu." saut Jiana membuat Bryan terbahak dan kembali menghujani pipi itu dengan kecupan
" Hentikan, jangan menggangguku." gerutu Jiana
" Kau sangat menggemaskan seperti Kya." saut Bryan manja
Jiana tertawa lepas untuk kali ini hingga Bryan tak berkedip memandangnya
" Cantik, kau sungguh cantik." puji Bryan, kembali Jiana menoleh dan tersenyum begitu lembut seperti senyumannya untuk Kya
" Aku berkata yang sebenarnya, kau sungguh cantik istriku." ucap Bryan lagi dengan suara manja sambil menatap Jiana yang juga menatapnya. Keduanya saling melempar senyum dengan jantung yang sama-sama berdebar dan Jiana memalingkan wajahnya lebih dulu karena merasa tak kuat berlama-lama menatap manik hitam pekat Bryan
" Aku jadi ingin menidurimu lagi." bisik Bryan membuat Jiana jengah, sikap manis pria itu pasti berakhir dengan ucapan mesumnya
" Yuk!" ajak Bryan mulai mendaratkan bibirnya dileher Jiana
" Bryan stop!" tegur Jiana
" Ayolah sayang, biarkan bibi yang melakukannya."
" Jangan gila, kita sedang banyak tamu."
" Memangnya kenapa biarkan saja mereka." gerutu Bryan dengan bibir mulai merakus dileher, naik ketelinga lalu turun kembali kebawah
" Sayang. " panggil Bryan dengan sengaja menggoda Jiana
" Aku benar-benar merindukanmu Ji." gumam Bryan. Kali ini Jiana tergoda dengan suara itu, kedua jemarinya mulai berpindah dari alat masak pada jemari Bryan yang diperutnya
Membuat Bryan jadi berani dan membalikan tubuh itu, ia langsung meraup bibir Jiana dan merengkuh pinggang Jiana agar lebih menempel padanya. Bryan melepaskan bibirnya dan mematikan kompor yang masih menyala. Lalu ia memangku Jiana ke atas meja panty dan kembali mencumbui wanita yang sudah tergoda bujuk rayunya itu
" Ji .. " panggil Bryan mesra seraya terus merangsang istrinya dengan menciumi telinganya membuat kedua jemari Jiana tak diam, mencengkram kaos yang dikenakan Bryan dibagian dada
" Apa kita akan melakukannya disini?" tanya Jiana tersengal dengan mata terpejam, ia tak kuasa dengan desiran darahnya terasa mengalir deras
Bryan terbahak menggelengkan kepalanya melihat wajah tegang Jiana. " Bukankah kau menyukainya?" tanya Bryan
" Bryan emmm .. emmm. " Bryan tak tahan melihat kegugupan Jiana, ia raup bibir itu kembali dengan ganas. Sementara dibawah sana ia tak melepaskan jemari Jiana malah memaksa menuntun untuk mengusap adiknya dibawah sana
" Daddy. " teriak Kya memenuhi dapur membuat keduanya berjingkat kaget, spontan Jiana menarik tangannya, ia melnoleh kebelakang dan salah tingkah. Ternyata gadis kecilnya bersama Viona yang mematung ditempat menatap Bryan
Tak berbeda dengan Jiana, Bryan pun salah tingkah seperti maling yang tertangkap basah, bukan karena Viona melainkan karena putrinya. Bryan membalikan badan membelakangi Kya, ia tak ingin putrinya melihat celananya yang mengembung, bisa-bisa Kya akan banyak bertanya dan membuatnya selalu buntu untuk menjawab akan pertanyaan putrinya
" Daddy lihat." teriak Kya lagi, kini gadis kecil itu berlari memutari meja pantry dimana Bryan dan ibunya berada
Bryan langsung berjongkok untuk menyembunyikan adiknya yang sudah berdiri dari Kya membuat Jiana cekikikan mentertawakannya, wanita itu sampai menggeleng kepala melihat tingkah Bryan bahkan Jiana mengabaikan Viona yang berdiri dibelakangnya
" Daddy lihat tangan Kya." ucapnya senang ikut berjomgkok didepan Bryan, memperlihatkan punggung tangannya yang bergambar kupu-kupu oleh tinta
" Hey siapa yang melakukannya?" tanya Bryan suara itu masih terdengar parau ditelinga Jiana hingga cekikikan itu tak berhenti
" Paman arnold." saut Kya menyengir
" Ini sangat cantik, sepelti maliposa." ucap Kya menatap cerah manik sang ayah
" Ya cantik seperti Kya dan Mum." saut Bryan sambil melirik Jiana yang tersenyum memandangi keduanya, Bryan ikut tersenyum pada Jiana
Setelah lama berjongkok dan mencoba mengecoh adiknya untuk tidur lagi dengan ocehan putrinya. Bryan berdiri dan memangku Kya, ia melangkah pada Jiana
" Beraninya mentertawakan suamimu." ucap Bryan lalu mencium bibir Jiana membuat Kya mengikutinya dengan mencium pipi Jiana
Bryan dan Jiana mentertawakan Kya untuk beberapa saat, lalu Bryan membawa gadis kecilnya keluar dari dapur. Ia berpapasan dengan Viona namun mengacuhkan wanita itu membuat Viona merasa kehilangan harapan akan Bryan yang memang tak mungkin ia dapatkan hatinya, melihat pria itu terlihat begitu menyayangi Jiana dan putrinya. Rasanya Viona tak akan bisa merebut kebahagiaan keluarga kecil itu terlebih jika melihat putri Brya, rasanya Viona benar-benar tak tega melihat senyum dan tawa riang dari bibir gadis kecil itu hilang
Viona segera mendekat pada Jiana yang melanjutkan kembali memasak. Ia menatapi Jiana yang memang terlihat lebih baik daripada saat wanita itu bertemu pertama kali dengannya, wajah itu terlihat bersinar dan berseri, mungkin Jiana bahagia bersama Bryan. Pikir Viona dengan hati memanas terlebih jika melihat kissmark dilehernya
" Bukankah kau sangat membenci Bryan?" tanya Viona membuat Jiana beralih padanya dan tersenyum meski tipis
" Maaf aku mengecewakanmu." saut Jiana lalu kembali pada masakan di wajan
" Aku dan Bryan memutuskan memulai semuanya dari awal, pernikahan kami. Demi Kya, demi putri kami." saut Jiana, kembali ia tersenyum
" Kau yakin hanya demi Kya?" pertanyaan itu membuat Jiana mematung
" Apa hatimu juga mengatakan itu?" tanya Viona dan Jiana masih membungkam
" Kau mencintai Bryan kan?" tanya Viona lagi memdesak Jiana
" Aku tidak tahu." saut Jiana bergumam
" Apa kau tahu Ji yang Bryan lakukan dibelakangmu?" tanya Viona memancing Jiana, wanita itu mematikan kompor dan beralih menatap Viona
" Apa tujuanmu? kau ingin membuatku dan Bryan bertengkar? maaf Viona, Bryan sudah menceritakan semuanya padaku. "
" Kau yakin?" tanya Viona tak mau kalah
" Liburan kalian, Bryan menceritakan semuanya padaku. Dia bilang, dia tidak menyentuh siapapun. Dia memohon dan bersumpah padaku. Aku mencoba percaya dan Bryan membuktikan semuanya, dia benar-benar berubah demi Kya. Dia sangat menyayangi putri kami. Dia selalu pulang tepat waktu, dia selalu makan pagi dan malam dirumah, dia bahkan selalu menghubungiku saat jam kerja, memberitahuku dimana dan bersama siapa. Dia juga selalu melakukan panggilan video bersama Kya saat makan siang. Aku pikir waktu Bryan tak tersisa untuk bermain wanita lagi." tutur Jiana, kali ini Viona yang membungkam
" Aku benar-benar minta maaf Viona, aku mengecewakanmu. Tapi bisakah kau membiarkan kami, membiarkanku bahagia bersama keluarga kecilku?" tanya Jiana membuat kedua mata Viona berkaca
" Kau masih cantik dan muda, kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau. Tapi kumohon, jangan ambil Bryan aku tidak mau putriku terluka." tutur Jiana lagi, kali ini ia memelaskan wajahnya pada Viona
" Aku bahkan tidak punya sedikit celahpun untuk masuk kedalam hatinya." saut Viona memaksakan senyumnya pada Jiana membuat wanita itu merasa iba dan mengulurkan jemari menepuk pundak Viona
-
-