
-
-
Jiana merasakan seluruh tubuhnya remuk lagi dan itu semua karena sang suami yang menggpurnya lagi semalam. Pria itu benar-benar melampiaskan nafssu liarnya selama lima bulan ini pada Jiana hingga semalam berkali-kali membuat Jiana tak berdaya
Dan lihatlah bekas pengaman Bryan berserakan dilantai. Semalam pria itu memelas pada Jiana ingin memakai pengaman dan menyuruh Jiana untuk berhenti meminum pil kb, alasannya karena pil kb akan membuat gairah istrinya menurun padahal pria itu memang selalu melakukan hal aneh dan konyol pada Jiana
Mau tak mau Jiana membuka kedua matanya yang masih terasa berat. Ia tersenyum melihat sang suami yang telah rapi dan bersiul penuh semangat menata rambutnya dicermin rias. Jiana pikir Bryan sangat kuat, pria itu tampak tak kelelahan padahal Jiana tahu tadi menjelang pagi Bryan melakukannya lagi. Meskipun tertidur Jiana masih bisa merasakan guncangan-guncangan yang terus membuat kewanitaannya basah
" Boy. " panggil Jiana beringus bangun duduk dan menutupi seluruh tubuhnya yang dipenuhi noda bekas kecupan
" Hey sayang kamu sudah bangun?" Bryan memutar tubuh dan mendekat pada Jiana dengan wajah sumringah dan cerah bak mentari pagi
Bryan duduk sambil mendaratkan bibirnya dikening Jiana. Ia tersenyum manis lalu menatapi bibir Jiana yang membengkak karena ulahnya lalu ia sentuh lembut bibir bawah itu dengan ibu jarinya." Ada apa?" tanyanya
Jiana menunjuk ceceran pengaman dilantai
" Iya, iya aku akan membersihkannya sayang." saut Bryan dengan tawa
" Tapi semalam benar-benar emmmmh." Jiana menampar pelan wajah mesum itu
" Enak?" tanya Jiana
" Nikmat!" saut Bryan dengan senyum merekah
" Tapi aku kelelahan huh."
" Ya sudah jangan melakukan apapun."
" Lalu sikembar."
" Mom dan kak Bulan akan datang dan membantumu." Jiana tersenyum melipat kedua tangannya didada
" Aku mau hadiah." ucapnya manja
" Baiklah, kamu mau apa?"
" Hmm?" tanya Bryan lagi
" Bunga."
" Astaga itu terlalu kecil." Bryan terbahak akan permintaan itu
" Bunga Edelwise maksudku!"
" Jangan konyol, itu hanya ada dipegunungan." Bryan jadi menggerutu
" Katanya kecil."
" Jia, mintalah yang nyata dan tidak membahayakan." gerutu Bryan mengerucutkan bibirnya
" Aku lebih baik menghabiskan uangku daripada harus naik gunung."
" Tapi aku mau edelwise, aku sangat suka bunga edelwise."
" Jia .. Jia .." tegur Bryan menyentil kening Jiana
" Ya sudah!"
" Ya sudah apa?"
" Nanti malam aku tidur dikamar sikembar."
" Jia kamu sudah tidak hamil lagi bukan?" Bryan memijat pelipisnya
" Memangnya aku meminta sesuatu hanya harus hamil saja." gerutu Jiana membuat Bryan menciut
" Tapi permintaanmu selalu aneh."
" Itu karena aku ingin tahu seberapa besar kamu mencintaiku."
" Memangnya tidak cukup selama ini aku mencintaimu, memberikan semuanya huh?" balas Bryan
" Kamu sungguh tidak mengerti wanita." rajuk Jiana memalingkan wajah merengutnya, seperti Kya kalau keinginannya tidak dituruti
" Edelwise sialan." gerutu Bryan
" Apa?"
" Ahh tidak." saut Bryan gelagapan
" Sakit." Jiana mendadak meringis memegangi perutnya
" Dimana? dimana sakitnya?" Bryan panik menyentuh kedua pundak polos Jiana
" Perutku!"
" Sebentar aku panggil dokter hmm."
" Sepertinya aku datang bulan." saut Jiana menyingkap selimutnya dan benar saja kasurnya kini ternodai darah mentruasi Jiana
" Maksudmu mentruasi?" teriak Bryan histeris sambil memandangi darah diatas sprei
Jiana mengangguk pelan membuat Bryan merasa pusing, baru saja malamnya menjadi indah dan panas namun harus dingin dan tanpa keringat lagi
" Edelwise sialan, mentruasi sialan." gerutunya sambil memandangi darah Jiana
" Bryan." bentak Jiana memelototinya
" Iya iya .. aku akan pergi kegunung mencari edelwise." gerutu Bryan berjingkat kesal meninggalkan Jiana membuat Jiana tersenyum, lucu memperhatikan sang suami. Padahal Jiana hanya mengerjai Bryan, ia senang menggoda suaminya semenjak kehamilan sikembar. Selain itu Bryan juga selalu menurutinya dan meyakinkan Jiana bahwa pria itu kini benar-benar tergila-gila padanya
Jiana memutuskan untuk mandi dan membersihkan tubuhnya yang terasa lengket
Setelah rapi dengan setelah dress rumahannya, Jiana menyusul Bryan kebawah. Ia terkikik lucu melihat suaminya yang sedang sarapan seorang diri dimeja makan, biasanya pria itu bersama Kya namun untuk hari ini dan seminggu kedepan gadis kecil mereka sedang libur sekolah dan menginap dirumah kakek neneknya
" Sayang." Jiana memeluk tubuh itu dari belakang. Ia terkekeh lucu melihat wajah cemberut suaminya
" Tidak usah naik gunung, edelwise ada ditoko bunga." ucapnya dengan begitu lembut berbisik ditelinga Bryan yang mendadak merajuk padanya
" Kenapa jadi marah seperti ini."
" Jia, ini benar-benar mengesalkan." gerutu Bryan mengerucutkan bibirnya
" Apa yang membuatmu kesal, memangnya kamu pikir aku akan membiarkanmu kesusahan." Bryan mencebikan bibirnya, Jiana tidak sadar bahwa selama ini wanita itu selalu membuat Bryan susah. Selama hamil, setelah melahirkan ia harus menunggu selama lima bulan lalu sekarang Bryan harus menunggu lagi
" Adikmu tidak akan kesepian sayang." bisikan itu membuat Bryan melunak, ia menoleh dan tersenyum nakal pada Jiana
" Ya, give and take."
" Kamu turuti keinginanku dan aku turuti semua keinginanmu."
" Aku tidak mau menggunakan tangan."
" Lalu?"
Bryan mengerucutkan bibirnya begitu lucu membuat Jiana merasa gemas." Oke!" sautnya
Membuat Bryan kegirangan lalu menarik tubuh Jiana kepangkuannya. Luluh sudah pria itu dirayu masalah kebutuhan ranjangnya, Jiana tak pernah susah membujuk Bryan
Keduanya sarapan dengan Bryan yang menyuapi Jiana. Saat itu Jiana tak sengaja melihat Bella yang baru saja datang." Bella." panggilnya setengah berteriak. Gadis manis itu tampak murung menghampiri Jiana dengan cara jalannya yang berbeda dimata Jiana
" Kamu sedang sakit?" tanya Jiana memperhatikan Bella dari atas kebawah, Jiana juga merasa heran melihat penampilan Bella yang tertutup bahkan lehernya disembunyikan
" Hey ada apa?" tanya Jiana beringus turun dari pangkuan Bryan, ia menyentuh pundak Bella yang menunduk
" Kak aku, bisakah aku mengambil cuti lagi untuk beberapa hari kedepan?"
" Ada apa? katakan padaku?"
Bella menggeleng pelan membuat Jiana menarik tubuhnya menjauh dari Bryan dan membawanya menuju ruang keluarga." Ada apa hmm? apa seseorang melukaimu?" tanya Jiana dengan wajah khawatir
" Aku hanya sedang tak enak badan." sautnya
" Kalau begitu aku akan mengantarmu kedokter, bukakah disini kamu hanya tinggal sendiri."
" Tidak usah kak, aku hanya perlu beristirahat."
Jiana tak mau memaksa, ia mengelus pundak Bella." Aku keatas sebentar!"
Jiana mengangguk ia memperhatikan Bella dengan dahi berkerut, Bella seperti menahan rasa sakit itu dari cara gadis itu berjalan. Setelah Bella naik kelantai dua, Jiana segera mendekati Bryan lagi yang pada saat itu telah selesai
Jiana duduk disamping Bryan melamun memikirkan Bella." Ada apa hmm?"
" Bella."
" Kenapa sikriting itu?"
" Dia tampak aneh." Bryan terkekeh, Jiana memang berhati baik selalu memikirkan orang lain
" Dia mungkin sedang pusing akan menghadapi ujian." Jiana mengalihkan pandangannya pada Bryan
" Gadis itu."
" Jia-"
" Apa seseorang melukainya?"
" Astaga!" Bryan merasa jengah, ia mengusap wajah Jiana
" Boy dia seperti?"
" Apa? seperti sudah diperawani?" tanya Bryan dengan kikikan lucu
" Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Jiana
" Jia aku seorang pria, biarkan saja kita jangan terlalu ikut campur masalah pribadi oranglain." Bryan beranjak berdiri menarik Jiana menuju keluar rumah. Ia memegang kedua pundak Jiana lalu mengecup kening dan perlahan turun kebibir
" Delan, bukankah kemarin sore Delan mengantarnya?"
Bryan terbahak." Jangan konyol, pria itu mana berani melakukan hal itu pada wanita."
" Tapi Delan juga seorang pria boy."
" Shut up oke!"
" No!" Jiana menggelengkan kepalanya cepat. Bryan menghela nafasnya
" Dengar Jia, Delan tidak akan seberani itu. Dia terlalu pendiam dan dingin jadi mana mungkin .."
" Tapi mereka saling menyukai." Bryan tak menjawab lagi. Ia mencium bibir Jiana beberapa saat lalu memutuskan untuk pergi bekerja
Diperjalanan Bryan tampak memikirkan ucapan Jiana, ia mampir sejenak kerumah orangtuanya. Saat itu ia disambut Delan yang diantar kedua orangtuanya keluar dengan membawa koper hitam ditangannya
" Delan kamu mau kemana?" tanya Bryan mendekat
" Dia akan mengejar mimpinya." saut sang ibu
" Delan semalam kamu-"
" Aku mengantarkan Bella sampai depan rumahnya dan menginap dirumah temanku."
" Temanmu yang mana?" tanya Bryan mengerutkan dahinya
" Apa aku harus sedetail itu, aku sudah besar."
" Tidak maksud paman."
" Aku sudah ketinggalan pesawat!"
" Iya boy, nanti Delan ketinggalan pesawat." timpal sang ibu
Bryan hanya diam memperhatikan Delan yang diapit kedua orangtuanya menuju mobil. Tapi sebelum Delan masuk pria itu mengejar Delan memastikan rasa penasaran istrinya. Bryan mencoba menarik kerah kemeja Delan dari belakang, ia mencoba melihat punggung Delan namun baru akan melihat Delan dengan sigap menepis tangan Bryan hingga sang paman terhuyung dan hampir terjatuh
" Ada apa denganmu boy?" gerutu Bulan merapihkan kembali kemeja putranya
" Aku hanya ingin memeluk keponakanku."
" Kau memeluk seperti akan mencekiknya." saut Bulan lagi menggerutu
Sementara Delan hanya diam dengan wajah memucat, ia pikir sang paman mencurigainya. Delan berusaha menyembunyikan sikap pengecutnya, menyembunyikan luka cakaran kecil kuku jemari Bella dipunggungnya dengan segera masuk kedalam mobil yang akan dikendarai ayahnya
Delan tampak melamun, ia senang akan pergi ke Harvard tapi entah kenapa Delan merasa berat, hatinya berat meninggalkan Bella. Meninggalkan gadis pujaan yang menghabiskan malam indah bersamanya itu, Delan tak akan lupa betapa sangat panas dan indahnya semalam ia bersama
Bella
" Maafkan aku Bella, aku janji akan kembali sebagai pria mapan dan keren untukmu. Aku akan melamarmu dan menjadikanmu istriku." gumam Delan dalam hati dengan kedua mata berkaca
-
-