Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Terpaksa menikahi Queen



-


-


Bryan kali ini benar-benar menangis dipelukan ibunya. Meskipun mempunyai tubuh yang lebih besar dari sang ayah namun hanya Ken lah orang yang paling Bryan takuti. Selama ini Bryan selalu ingin terlihat hebat dimata sang ayah, ia begitu mengagumi sosok sang ayah.Tapi hari ini Bryan merasa gagal menjadi kebanggan Ken


Seolah tak merasa kasihan, Ken menyeret Bryan hingga tubuh itu terlepas dari sang ibu. Ken membawanya menuju ruang keluarga dimana disitu sudah ada seorang penghulu yang dibawa keluarga Queen untuk menikahkan putri mereka. Bryan sekali lagi berlutut memeluk kedua kaki sang ayah. " Aku tidak mau, kumohon. Istriku hanya Jiana dan sampai aku matipun akan seperti itu."


" Kau mengaku mencintai istrimu tapi kau menghianatinya. Pria macam apa dirimu!" saut Ken lalu menarik Bryan menghempas tubuh itu didepan penghulu membuat Queen dan sang ayah menyeringai puas. Keduanya memang sangat menginginkan Bryan. Queen tentu saja mencintai Bryan sedangkan sang ayah hanya memanfaatkan kesempatan untuk menjadikan Bryan sebagai menantunya. Lagipula ayah mana yang tidak menginginkan menantu yang mempunyai spesifikasi seperti Bryan, keturunan konglomerat, pengusaha muda sukses dan populer dikalangan pembisnis. Tentu ia akan mengambil keuntungan dari semua itu


Dean yang sudah tak tahan dan merasa kasihan pada adik iparnya itu mendekati Bryan. Ia membisikan sesuatu ditelinga pria itu. Bryan tampak terdiam beberapa saat sebelum akhirnya setuju untuk menikahi Queen


" Saya terima nikahnya Queen Anastasya binti Robert dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."


Malam itu juga Bryan menikahi Queen secara siri. Menjadikan mantan pacarnya itu istri keduanya atas permintaan semua orang yang tak mempercayainya. Dengan wajah marah Bryan menghempas kain putih yang menutupi kepalanya dan Queen lalu meninggalkan semua orang menuju kamarnya


Bryan menghempaskan tubuhnya yang terasa sakit pada kasur dan menatap langit-langit kamarnya. " Maafkan aku Jia, aku terpaksa. Tapi percayalah istriku hanya kamu." gumam Bryan lalu bangkit dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi


Bryan merasa tubuhnya segar kembali. Ia keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melingkar dipinggangnya. Bryan berdecih saat melihat Queen sudah siap diatas ranjang, bahkan wanita itu memakai lingeri yang sangat seksi dengan warna hitam, warna kesukaan Bryan


Bryan tak memperdulikan Queen, ia membuka lemari untuk memakai pakaian tidurnya. Saat Bryan melepas handuknya tiba-tiba Queen bersiul membuat Bryan menoleh dengan tatapan dinginnya." Sayang kamu sangat seksi." puji Queen menatapi burung Bryan tanpa malu sedikitpun


Queen bangkit saat Bryan memalingkan wajahnya. Wanita itu mendekat memeluk Bryan dari belakang." Boy ini malam pertama kita bukan?" tanyanya dengan suara manja dan menempelkan pipinya dipunggung Bryan yang masih basah


Tubuh Bryan tersentak saat jemari lentik itu menyentuh adiknya. Bryan terdiam, ia membiarkan Queen. Bryan juga hanya diam saat Queen menariknya menuju ranjang, wanita itu memberikan senyum menggodanya pada Bryan


Queen mendekatkan bibirnya pada perut bawah Bryan. Menggoda pria itu dengan kecupan-kecupannya yang mulai menurun kebawah. Bryan juga hanya diam saat Queen memasukan burungnya kedalam mulut hingga mulut itu penuh padahal burung Bryan tidak bangun dan bereaksi sedikitpun


Bryan menyeringai puas saat dahi Queen berkerut, wanita itu melepaskan burung Bryan dan menengadah menatap Bryan." Sekarang kau tahu bukan kenapa aku tak mengakui bayi dalam kandunganmu?"


Tatapan Queen berubah takut namun wanita itu menyembunyikannya dari Bryan." Bukankah saat itu kamu mabuk, mungkin saja saat itu kamu berpikir aku adalah Jiana." saut Queen memaksakan senyumnya


Bryan segera mendorong Queen berbaring lalu mengurung tubuhnya dengan menumpu kedua telapak tangan pada kasur." Wajah kalian memang mirip, tapi apa kau tahu bahwa Jiana mempunyai bau tubuh yang berbeda dari wanita lain." Queen meneguk ludahnya susah payah lalu menangkup wajah tampan Bryan dan mencium bibirnya. Bryan menggelengkan kepala hingga bibirnya dan Queen terlepas


" Aku tak berselera denganmu, kau tidak menggairahkan." bisik Bryan dan benar-benar sebuah hinaan untuk Queen


" Kau bilang seperti itu karena belum merasakannya?" Bryan terkekeh lucu


" Belum merasakannya?" tanya Bryan, kali ini wajah Queen memucat saat malah tak sengaja salah bicara


" Nikmatilah jadi istriku, yaa .. aku akan membiarkanmu bersenang-senang selama beberapa bulan ini sebelum menendangmu!!" ucap Bryan lalu bangkit dari ranjang untuk memakai piyama tidurnya


" Kau salah Bryan, aku akan bersenang-senang untuk selamanya. Dan aku akan menjadi istrimu sampai kamu mati." saut Queen bangun melipat satu kakinya lalu membuka lingerie hitam itu


" Hentikan Queen, kau menjijikan." ucap Bryan tanpa menoleh sedikitpun


Aahh


Aah


Queen terus menggoda Bryan, wanita itu mengusap miliknya sendiri dengan jemarinya." Bryan .. aahh .. sayang kemarilah .." Bryan hanya melirik dan bergidig melihatnya, Bryan pikir kenapa ada wanita seperti Queen. Bryan tak tertarik sedikitpun, pria itu menuju meja rias membuka semua lacinya. Bryan tertawa pelan saat menemukan yang ia cari lalu mendekati Queen, wanita itu tampak tersenyum senang berpikir Bryan akan meladeninya


" Pakailah ini agar kau lebih menikmatinya." ucap Bryan melemparkan botol parfum kosong dengan bentuk lonjong ke kasur tepat disamping Queen lalu melangkah berjalan keluar dari kamar


" Bryan .. " teriak Queen kesal membuat Bryan terbahak kencang


" Dasar wanita gila! kau pikir kau Jiana mampu menggodaku." gerutu Bryan


Bryan berjalan menuruni tangga. Semua lampu tampak mati dan semua penghuni sudah memasuki kamar mereka karena saat ini hampir menjelang pagi. Bryan menuju dapur memgambil air dalam lemari pendingin, Bryan menuangkan kedalam gelas dan meneguknya sampai tandas


Lalu Bryan mengambil dua buah apel dan menutup pintu lemari pendingin lagi. Sambil berjalan ia menggigit apel itu menuju ruang keluarga. Bryan hempaskan tubuhnya disofa, ia melamun sendiri diruang gelap dengan pandangan pada tv yang tak menyala


" Jia .. "


" Jia aku mencintaimu .. "


" Jia kamu sedang apa? aku merindukanmu .. " lalu Bryan mengambil ponsel disaku celananya. Ia melihat-lihat foto Jiana dan Kya dalam galeri. Tiba-tiba airmata Bryan menitik, Jiana membawa perubahan yang besar pada hidupnya sehingga Bryan yang tak pernah menangis itu kini lebih sering menangis


Bryan menengadah saat seseorang menepuk pundaknya. " Pev kamu belum tidur?" tanya Bryan lalu menarik tangan Pevita agar duduk disampingnya


" Pevita membawa ini." ucapnya dengan kotak p3k ditangan. Bryan tersenyum pada Pevita dan membiarkan gadis itu mengobati luka-luka memar diwajahnya


" Paman apa aku tidak akan bertemu Kya lagi?" tanya Pevita dengan kedua mata berkaca


" Tidak Pev, kamu akan bertemu Kya lagi. Kalian akan main bersama lagi Paman janji." saut Bryan mengusap sudut mata Pevita yang basah


" Tapi-" Pevita tak melanjutkan ucapannya, gadis itu menangis membuat Bryan menariknya kedalam pelukan


" Percayalah, paman akan membawa Kya kembali." ucap Bryan mengusap lembut rambut Pevita


-


-