
-
-
Sekitar pukul 08: 00 Bryan pulang dari kantor. Ia memasuki rumahnya dan disambut suara tangisan cempreng yang diyakini adalah tangisan Chelsea. Bryan terkekeh, hampir setiap malam setelah putra-putri mereka lahir, bukan Jiana ataupun Kya yang menyambutnya melainkan tangisan bayi
Bryan menaiki lantai dua sembari membuka jas yang masih membalut tubuhnya, ia sampaikan pada lengan kirinya dan langsung membuka pintu kamar sikembar. Bryan kembali terkekeh lucu melihat istri dan anaknya yang sedang berusaha menenangkan Chelsea, entah kenapa putri bungsunya itu terus menangis
Cukup lama Bryan memperhatikan ketiganya lalu ia perlahan masuk kedalam. Bibirnya langsung hinggap dikening Jiana yang duduk disisi ranjang dimana disitu juga ada Bella, gadis itu tersenyum melihat keharmonisan Bryan dan Jiana yang setiap hari ia lihat. Sang suami yang tampak sekali menyayangi istrinya
" Kenapa dia menangis hmm?" tanyanya pada Jiana
" Chelsea sangat rewell uuhhh berisik." Bukan Jiana namun Kya putri mereka yang menyaut. Bryan tertawa pelan lalu berjongkok antara Kya dan Jiana
" Kya juga sama rewelnya seperti Chelsea kalau mau mainan." ledek Bryan
" Tapi Chelsea sangat belisik, Kya jadi tidak bisa tidul." gerutunya melipat kedua tangannya didada
" Kya mau tidur? memangnya Kya tidak punya PR huh?" Kya tampak malu-malu, gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya pada Bryan yang mana langsung disambar bibir sang ayah
" Ayo Kya kerjakan dulu PR-nya?"
" Kya tidak bisa." Bryan menggeleng jengah sambil menatap sang istri yang sibuk menenangkan Chelsea. Putrinya selalu beralasan bila disuruh mengerjakan pekerjaan rumahnya
" Belajar bersama kak Bella oke?" Kya menoleh pada Bella dan tampak memelaskan wajah meminta gadis itu untuk membantunya membuat Bryan tertawa lagi dan mencium pipinya dengan begitu gemas
" Daddy." bentak Kya yang kesal, gadis kecil itu mulai tak mau dan selalu protes bila Bryan melakukan itu karena menurutnya ia sudah besar bukan Zayn, Zeen dan Chelsea
" Oke, oke belajarlah." ucap Bryan dengan tawa lucunya seraya menarik tubuh kecil itu menuruni ranjang lalu menyuruh Bella membawa Kya ke kamarnya seperti yang biasa dilakukan gadis itu. Bella tampak senang inipun kesempatan dirinya untuk belajar
Setelah keduanya keluar, Bryan mendudukan dirinya disamping Jiana yang tampak mulai kesal karena Chelsea yang tak kunjung berhenti menangis." Kemarilah Daddy akan menggendongnya." Tanpa persetujuan Jiana, Bryan mengambil alih Chelsea kepangkuannya lalu berdiri mengaming-ngaming Chelsea
Lucunya bayi mungil itu seketika berhenti menangis membuat Bryan terbahak kencang." Uuuh Chelsea merindukan Daddy huh?" Bryan menatap lekat bayi dengan wajah sembab itu
Sementara Jiana tampak terperangah, tadi selama hampir setengah jam susah payah ia menenangkan Chelsea. Lalu ia bangkit berdiri mendekat pada sang suami, ia mengusap pipi dan sudut mata Chelsea yang basah." Dia sepertinya sudah mengenalimu boy." Bryan tersenyum lebar
" Tentu saja karena aku ayahnya." saut Bryan. Keduanya saling tersenyum, Jiana mengulurkan satu tangannya melingkar dipinggang Bryan sambil menatapi Chelsea dan menempelkan sebelah pipinya pada lengan atas Bryan
" Jia kamu kelelahan hari ini?" Jiana menggeleng pelan lalu tersenyum. Bryan mengecup lagi kening itu dengan begitu lembut kemudian mengalihkan lagi pandangan pada Chelsea, bayi mungil itu celingukan menatap sang ayah dan ibu bergantian. Merasa lucu Bryan menciumi pipi Chelsea, tidak menangis bayi mungil itu malah tersenyum lebar hingga gusi-gusinya yang tanp gigi itu terlihat
" Hasil goyanganku benar-benar menggemaskan, lucu sekali kamu Chelsea." ucap Bryan dan mendapat cubitan pada pinggangnya
" Sakit!" gerutu Bryan menoleh pada Jiana
" Mesum, nanti Chelsea mendengarnya!" saut Jiana
" Dia masih bayi mana mengerti." gerutu Bryan sembari melirik Chelsea lalu menatap Jiana
" Sepertinya Chelsea mau tidur bersama kita." bisik Bryan
" Memangnya tidak masalah?" Jiana mengerlikan matanya nakal pada Bryan
Bryan terkekeh lucu." Karena percuma, kamu sedang merah." Jiana menampar pelan pipi itu dengan manja dan tertawa, tawa itu menyalur pada Bryan
Keduanya memutuskan membawa Chelsea kekamar mereka." Mandilah." perintah Jiana seraya mengambil alih Chelsea
Seketika bayi itu menangis kencang lagi karena tak mau berjauhan dengan ayahnya." Ada apa denganmu." gerutu Jiana dengan kesal membuat Bryan tertawa. Bryan mencoba mengambil alih Chelsea namun dihentikan Jiana
"Mandi dulu!" perintah Jiana memelototinya, tentu Bryan menciut, meskipun tak tega pada Chelsea Bryan menuruti Jiana. Ia berlari menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dengan tergesa-gesa
" Chelsea sssshhhh .."
" Tunggulah sebentar, Daddy sedang mandi huh? Daddy bau keringat, memangnya kamu betah huh?" Namun bayi mungil itu tak kunjung berhenti menangis
Memaksa Jiana membawa Chelsea kebalkon, menikmati semilir angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Itu sedikit menenangkan Chelsea meski sesekali suara tangisan masih keluar dari mulutnya namun tak sekencang tadi saat ditinggalkan ayahnya
" Sayang kamu menyukainya?" Jiana bergerak mengubah gendongannya jadi Chelsea yang menghadap pemandangan, ia tersenyum lalu mencium puncak kepala Chelsea yang beraroma khas bayi
" Terima kasih Tuhan .." gumam Jiana tanpa memudarkan senyumnya
Ia menoleh kebelakang pada Bryan yang tampak sudah selesai. Jiana kembali kedalam dan itu membuat Chelsea merengek lagi." Aahh Sepertinya Chelsea butuh liburan." ucap Bryan
" Sayang kamu serius mandi?"
" Tentu saja, lihat rambutku basah." Jiana memperhatikan rambut Bryan yang memang basah
" Kenapa cepat sekali?" Bryan tersenyum lucu
" Ini namanya mandi kilat, tidak lama. Memangnya jika berdua denganmu menghabiskan waktu berjam-jam."
" Kamu menggosok gigi?"
" Memakai sabun?"
" Iya, iya."
" Memakai shampo?"
" Astaga, cerewet sekali." gerutu Bryan sambil memakai piyama tidurnya yang sebelumnya telah disiapkan Jiana diatas ranjang sebelum pria itu pulang bekerja
" Apa?" bentak Jiana
" Hehe cantik sekali kamu sayang." jawab Bryan dengan cengiran khasnya lalu mendekat dan langsung mengambil alih Chelsea yang merengek
Rengekan itu berhenti saat dipangkuan sang ayah lagi. Bryan membawa Chelsea naik keatas ranjang dan menidurkan bayi itu diatas dadanya dengan posisi telungkup. Sementara Jiana memutuskan kekamar mandi untuk menggosok giginya sebelum tidur
Saat itu Jiana sedang santai dan dikejutkan dengan teriakan Bryan. Jiana langsung membersihkan mulutnya dengan air lalu berlari mendekati Bryan." Ada apa?" tanya Jiana panik
" Jia Chelsea menggigitku!" teriak Bryan
" Bagaimana bisa, Chelsea kan belum punya gigi." Jiana mencoba mengambil alih Chelsea yang telungkup diatas dadanya
Bayi itu kembali menangis karena terkejut
" Boy kamu keterlaluan, kamu membohongi Chelsea." gerutu Jiana sembari menimang-nimang Chelsea
" Aku hanya tidak ingin mengganggumu, tadi Chelsea seperti mau menyusu." saut Bryan mengusap-usap puncak dadanya yang digigit Chelsea. Bryan bangun duduk lalu kembali mengambil Chelsea
" Uhhh tidak sayang, Daddy tidak apa-apa." ucap Bryan menenangkan Chelsea yang menangis kencang
Jiana menghela nafasnya, ia jadi merasa lucu, setiap hari selalu ada saja tingkah konyol suaminya bersama bayi-bayi mereka. Jiana mendudukan dirinya disamping Bryan, mengancingkan lagi dua kancing piyama suaminya yang terbuka
" Kemarikan, aku akan menyusuinya." Bryan menurut memberikan Chelsea pada Jiana. Wanita itu membawa Chelsea ketengah, menyusui Chelsea sambil berbaring membelakangi sang ayah
Diikuti Bryan dengan pandangan pada keduanya
" Chelsea awas saja kamu jika menggigit Mum.c gerutu Bryan dan hal itu membuat Chelsea yang sedang menyusu merengek. Bayi itu seolah mengerti perkataan ayahnya membuat Jiana dan Bryan tertawa
Bryan menggeser batalnya merapatkan kebantal Jiana dan berangsur keatas. Ia mencium kening Jiana dengan cukup lama." Jia, kita tidak pernah berlibur bersama, bagaimana jika kita pergi berlibur?"
" Kemana?"
" Kemanapun yang kamu inginkan."
" Aku ingin keliling dunia!" canda Jiana
" Ash you wish."
" Sungguh?"
" Kamu pikir aku bercanda?"
" Hanya kita?"
" Emmh maksudku, aku, kamu, Chelsea, Kya, Zeen dan Zayn?"
" Ya hanya keluarga kecil kita." Senyuman terbit dibibir Jiana
" Kamu pergi kemana selain ke Paris? aku akan membawamu ketempat yang tidak pernah kamu kunjungi."
" Hanya Paris." saut Jiana cepat
" Itupun aku tidak pernah berlibur." tambahnya lagi
" Poor my wife." canda Bryan dengan kikikan lucu membuat Jiana harus menamparnya, tamparan itu Bryan artikan sebagai tanda kasih sayang Jiana untuknya
" Hanya aku kan yang selalu kamu tampar seperti ini?"
Jiana mengulum senyumnya dan mengangguk." Karena hanya kamu pria dihidupku!" Bryan terpesona dengan rayuan itu tapi ia berdecak kesal
" Sayang sekali, palang merah menghalangiku." gerutunya membuat Jiana tertawa dan sekali lagi menampar pelan Bryan, ia tak menjauhkan telapak tangannya malah berubah mengelus pipi Bryan dengan begitu lembut, penuh kasih sayang. Setiap hari bukan rasa bosan yang Jiana dapatkan namun ia semakin jatuh cinta pada suaminya ini
" I love you some much boy .." ucapnya dengan begitu lembut
" Jawab." Jiana memelototkan kedua matanya dan Bryan langsung mencium kening Jiana
" Itu jawabanku!" Keduanya saling menatap dan tersenyum lalu Bryan kian mendekat hingga bibirnya menempel pada puncak kepala Chelsea dan satu tangannya melingkar dipinggang Jiana. Tak lama keduanya memejamkan mata dan tertidur
-
-