Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Bella pergi



Selama satu minggu ini Bryan dan Jiana merasa puas menikmati liburan mereka di Swiss. Kini keduanya memutuskan pulang membawa anak-anak mereka karena liburan si sulung Kya sudah berakhir dan mulai lusa gadis kecil itu sudah memasuki sekolah dasar dikelas satu


Banyak kenangan indah di Swiss bagi Jiana, hal romantis yang Bryan beri untuknya. Sejujurnya Jiana masih enggan untuk meninggalkan Swiss, baginya Swiss tempat dimana cintanya semakin tumbuh pada Bryan


" Bisakah kita kembali lagi?" tanya Jiana menyandarkan tubuhnya yang lelah pada Bryan. Mereka kini sudah duduk di Jet pribadi di bandar udara Zurich


" Tentu, kita akan kembali lain waktu." Sautnya sembari menggandeng Jiana, wanita itu menatap keluar jendela


Cup


Bryan mengecup kening itu


" Aku akan melihat anak-anak sebentar." Namun Jiana menahan tubuh Bryan lalu melingkarkan kedua tangannya manja diperut Bryan


" Mereka sedang tidur, jangan diganggu." Bryan mengulum senyumnya


" Bilang saja kamu tidak mau aku tinggal."


" Itu kamu tahu." saut Jiana lalu mengecup bibir Bryan, tentu bibir pria itu tersenyum lebar. Ia membalaa pelukan Jiana dengan erat sambil mengikuti pandangan Jiana, rasanya nyaman berduaan seperti ini bersama ibu anak-anaknya itu


Tak lama Bryan meletakan sebelah pipinya dipuncak kepala Jiana dan memejamkan mata. Diikuti Jiana yang juga memejamkan mata. Keduanya menikmati perjalanan menuju negara asal dengan tidur dalam pesawat


Menempuh perjalanan berjam-jam yang melelahkan, Jiana dan Bryan beserta putra-putri mereka tiba dirumah. Mereka disambut kedua orangtua Bryan beserta saudara-saudara mereka terutama sang kakak Bulan yang langsung berhambur melihat sikembar kedalam mobil, wanita itu sangat suka dengan ketampanan Zayn maupun Zeen juga kelucuan Chelse si bayi cengeng


" Bagaimana kabar kalian?" tanya Mommy Jeny berhambur memeluk Jiana


" Sebenarnya anak Mom Jia atau aku?" Bryan menggerutu, ia sudah membuka kedua tangannya lebar tapi ibunya malah menyambut antusias sang menantu


" Kamu yang menantu disini." saut Mommy Jeny membuat Bryan mendengus kecil tapi tak lama pria itu tersenyum saat mendapat tepukan dipundak dari sang ayah


" Apa kau memakai pengaman?" tanya sang ayah membuat Bryan malu dan menggaruk kepalanya yang tak gatal


" Kenapa Daddy menanyakan hal itu?"


" Sikembar masih kecil." sautnya karena tak mau Bryan seperti dirinya dulu, saat Bryan masih kecil ia mempunyai lagi anak kembar


" Tentu saja Dad, kami mencegahnya."


" Awas saja ya Boy, kasihan Jiana." Momy Jeny menyaut


" Iya, iya aku tidak seceroboh itu." Gerutu Bryan lalu membuka pintu mobil dan menggendong Kya yang tertidur lagi, sepertinya gadis kecil itu juga kelelahan seperti ayah ibunya


Namun Jiana merasa ada yang aneh, sejak tadi ia tak melihat kehadiran pengasuh sikembar yang ada hanya keriuhan keluarga besar Bryan


" Dimana Bella?" tanya Jiana menatap sang ibu mertua


" Emmh nanti Mom akan beritahu."


" Maksud Mom?" tanya Jiana namun Jeny malah menggandeng menantunya itu masuk kedalam rumah


" Ada apa Dad?" tanya Bryan


" Bella pergi."


" Pergi, bagaimana bisa?"


" Dia tidak berpamitan sama sekali." Saut sang Daddy membuat Bryan tertegun, mendengar hal ini istrinya pasti akan merasa sangat sedih. Pasalnya Jiana terlihat sangat menyukai Bella


Benar saja apa yang Bryan pikirkan, istrinya kini sedang menangis dengan sepucuk surat ditangannya. Lalu Bryan meletakan tubuh Kya di kasur yang biasa Bella tempati saat membantu Jiana menidurkan sikembar. Bryan mendekati Jiana duduk disampingnya, sementara Momy Jeny juga tampak sedih, selama ini ia mengenal Bella adalah gadis yang baik dan penurut


Ia tidak tahu apapun dan kemarin pagi karena merindukan sikembar ia melihat Bella menangis dikamar itu. Tentu ia menenangkan Bella dan bertanya, namun gadis itu tak mengatakan sepatah katapun padanya dan sejak tadi malam ia tak melihat Bella. Bahkan sudah menyuruh pak Deden mendatangi kosan Bella, hasilnya nihil karena gadis itu sudah pergi entah kemana


" Bella, ada apa dengannya. Kenapa tiba-tiba pergi seperti ini." Isak Jiana yang mana langsung digandeng Bryan, pria itu mengambil dengan pelan sepucuk surat dari Bella dan membacanya dengan teliti


🌹 Nyonya adalah orang yang baik, aku beruntung mengenal nyonya. Aku juga begitu menyukai Kya dan sikembar. Tapi Nyonya maafkan saya, saya harus pergi, saya pulang ke kampung halaman saya. Saya harap nyonya memaafkan saya.🌹


" Dimana dia tinggal? bukankah dia belum menerima gajinya bulan ini?" tanya Bryan mengusap airmata Jiana dipipinya


" Aku tidak tahu, Bella sangat tertutup." Saut Jiana


Bryan menghela nafas lalu memeluk Jiana." Berhenti menangis. Kita cari pengganti Bella."


" Tidak ada yang seperti Bella, hanya gadis itu yang tidak menyukaimu." Saut Jiana sesegukan karena ia tahu Bella sangat mendambakan keponakan Bryan


" Ada banyak yang seperti Bella sayang, kita hanya perlu menemukannya." Jiana terus menggelengkan kepalanya dengan cepat


" Baiklah, terserah kamu." Bryan mengusap rambut belakang itu kemudian mengurai pelukannya


" Istirahatlah, kamu pasti lelah."


" Sikemb-"


" Ada Mommy ada kak Bulan dan juga ada aku. Tidak perlu khawatir." Jiana mengangguk dan Bryan segera membantu Jiana berbaring di kasur disamping Kya, spontan wanita itu memeluk putri sulungnya yang terlelap hingga suara dengkurannya terdengar keras


Setelah dua jam tidur, Jiana terbangun saat merasakan pergerakan kasur. Ia membuka mata dan ternyata Kya juga bangun, dengan muka bantalnya gadis itu duduk dengan pandangan mengedar. Jiana hanya diam membiarkan Kya, jika ditanya Kya malah akan menjadi manja padanya. Jiana berpura-pura kembali tidur dan mendengarkan Kya, tapi hal yang tak terduga Jiana alami, ia merasakan Kya turun dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut kecil. Dapat Jiana rasakan gadis kecil itu berdiri disampingnya mengelus pipinya begitu lembut dengan jemari kecilnya


" Mum Kya." Gumamnya masih terdengar ditelinga Jiana membuatnya terharu, dalam mata terpejam kedua matanya berkaca-kaca


Sesudah Kya keluar kamar, Jiana terbangun. ia tersenyum dan merasa bersemangat kembali mendapat vitamin dari putrinya. Jiana menuruni ranjang lalu memutuskan untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, sejujurnya hati Jiana masih dirundung rasa sedih, ia berat ditinggalkan Bella, ia sudah terlanjur menyukai gadis rajin yang selalu membantunya dalam mengurus sikembar


Saat melewati ruang tamu dilantai dua ia melihat Bryan bersama yang lainnya sedang berbincang santai sambil memangku Zayn, sedangkan Chelsea dan Zeen dipangku Daddy Ken, bayi-bayi itu sudah mandi, entah siapa yang memandikannya membuat Jiana tersenyum kemudian berusah mendekat


" Bukankah Delan sedang libur kuliah, kenapa dia tidak ikut?" Bryan bertanya dan menghentikan langkah Bella


" Entahlah, kakak sangat aneh. Dia bilang dia merindukan Grandma dan Grandpa. Tapi saat kita akan kesini kakak tidak mau ikut, selalu banyak alasan." Gerutu Pevita


" Lalu dimana dia sekarang, bilang padanya untuk datang kemari. Sudah hampir 6 bulan ini Paman tidak melihatnya."


" Paman, dia rumah. Dia selalu mengurung dirinya dikamar. Kakak sangat aneh, menyebalkan. Jika pulang dari Amerika dia selalu menyendiri. Dia semakin tertutup."


" Jangan-jangan dia sudah punya pacar sekarang?" tanya Bryan dengan senyum nakalnya membuat Dean dan Bulan saling melirik


" Jangankan pacar, dia bahkan tidak punya teman." Gerutu Bulan


" Aku tidak tahu, darimana sikap introvertnya itu." Gerutu Mammi Bulan lagi hingga semua orang melirik Dean, begitupun Daddy Ken yang terbahak dengan ucapan putrinya


Sementara Jiana menguping dibalik dingding, mendengarkan semuanya dengan pikuran berlalu lalang


" Apa karena Delan?" gumam Jiana


-


-