Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Mencoba memaafkan Bryan



-


-


Sudah dua minggu ini Bryan dilanda rasa sedih yang mendalam. Perang dinginnya dan Jiana belum berakhir. Wanita itu tetap mengacuhkan Bryan tak pernah melayaninya lagi, Bryan terlunta lantung sarapan dan makan malam diluar. Bryan tak pernah makan dirumah sang ibu semenjak hari itu alasannya karena ia tak mau keluarganya banyak bertanya mengenai hubungannya dan Jiana


Bryan merasa sengsara dan kekurangan kasih sayang tanpa anak dan istrinya. Bryan sudah mencari saksi dan bukti hari dimana Jiana menuduhnya meniduri Queen tapi Darwin yang menjadi saksi satu-satunya itu malah menghajar Bryan dan menilai Bryan tak punya hati dan tak berperasaan pada Jiana karena memasukan Queen kedalam rumahnya yang jelas-jelas adalah mantan kekasihnya


Rasa bersalah Bryan sangat tinggi pada Jiana, ia terlalu takut semuanya benar-benar terjadi. Bryan sangat bingung bagaimana ia akan meminta maaf pada istrinya bila hal yang memalukan itu sungguh terjadi padanya. Tapi Bryan juga tak mungkin melepaskan Jiana, ia akan gila bila itu sampai terjadi


Kedua mata Bryan berkaca memandangi istri dan anaknya diambang pintu. Sore itu Jiana sedang menyiram tanaman dihalaman depan rumahnya sementara Kya sedang mengelilingi halaman itu dengan sepeda. Hati Bryan merasa tersayat melihat istrinya, tubuh itu terasa semakin kurus dimata Bryan mungkin karena Jiana sangat membatin dan memikirkan semuanya terlalu dalam


" Maafkan aku Jia, aku melanggar janjiku untuk membahagiakanmu." gumam Bryan


Sementara Queen, sang penghancur tiba-tiba menghilang bak ditelan bumi. Bryan bahkan sudah menyewa detektif handal untuk mencari Queen namun wanita itu tetap tak ditemukan membuat Bryan semakin frustasi


Bryan melangkah dan duduk di kursi depan memandangi keduanya. Ini hari libur jadi Bryan tak pergi kekantor, biasanya ini waktunya Bryan mengajak Kya dan Jiana berjalan-jalan namun Bryan hanya menghela nafasnya berat, entah kesekian ratus kalinya semenjak Jiana mendiamkannya. Bahkan Bryan membiarkan perutnya kosong tak terisi makanan, ia merindukan masakan istrinya jadi ia tak bernafsu makan sejak semalam


" Jia kuharap kamu memaafkanku, aku tersiksa tanpamu .. " gumam Bryan


" Daddy!" teriakan itu membuat Bryan tersenyum, ia melambaikan tangannya pada Kya


" Daddy kemali." ajaknya balas melambaikan tangan pada Bryan


Bryan terkekeh lucu lalu beranjak berdiri dengan tubuh terbalut pakaian santai. Ia berjongkok didepan Kya dan langsung mengusap dahi Kya yang dipenuhi keringat


" Daddy ayo kita jalan-jalan .. " ajak Kya manja


Bryan tersenyum lalu menunjuk Jiana dengan dagunya


" Mum ayo kita jalan-jalan, Kya mau lambut nenek." suara itu manja pada Jiana


" Tidak Kya, gigi Kya akan semakin hilang." saut Jiana beralasan tanpa melihat kebelakang


" Kalau begitu Kya tidak mau lambut nenek, Kya hanya mau jalan-jalan saja." tuturnya lucu namun sang ibu membungkam tak menjawab ucapannya


" Mum." kini Bryan yang memanggil Jiana, terdengar lembut membuat seluruh bulu ditubuh Jiana meremang


Bryan beranjak berdiri, ia berdiri dibelakang Jiana dan memberanikan diri menyentuh pundak Jiana. " Jangan seperti ini kamu tidak kasihan pada Kya?"


" Aku sakit Bryan. Hatiku sangat sakit." untuk pertama kalinya Jiana menjawab Bryan


" Maafkan aku kumohon." pinta Bryan memelas memutar tubuh Jiana, ia menangkup wajah Jiana dan menangis didepan wanita itu


" Kumohon maafkan aku, saat itu aku sungguh mabuk berat. Tapi aku bersumpah aku tak menyentuh Queen. Kumohon percayalah, aku akan membuktikan semuanya kumohon beri aku kesempatan." Bryan memelaskan wajahnya dan airmata itu membuat Jiana luluh begitu saja dan ikut menangis


Pria itu membawa Jiana dalam pelukannya, menciumi puncak kepala Jiana. Ia rindu pelukan dan bau tubuh Jiana." Hatimu sakit, aku akan mengobatinya Jia. Beri aku kesempatan untuk mengobati lukamu, memperbaiki semuanya. Aku ingin menepati janjiku padamu dan Kya." lirih Bryan serak menahan tangis


Melihat kedua orangtuanya saling berpelukan membuat Kya turun dari sepeda. Gadis itu meloncak memeluk kaki keduanya hingga Jiana dan Bryan saling memberi jarak dan menatap Kya yang menyengir melihat keduanya


Bryan langsung memangku Kya memeluknya erat diikuti Jiana membuat pelukan Bryan beralih jadi memeluk keduanya. Sudah lama mereka tak saling memeluk seperti saat ini, Kya juga tampak senang melihat kedua orangtuanya yang berbaikan. Meskipun masih kecil namun sepertinya Kya sudah mengerti akan keretakan hubungan kedua orangtuanya. Bryan tersenyum menciumi pipi Kya, gadis kecil itu kembali menjadi perekat hubungannya dan Jiana


Malam tiba, ketiganya berkumpul diruang keluarga dengan beberapa kue dan camilan buatan Jiana diatas meja yang tersisa tinggal sedikit karena dihabiskan Bryan dan Kya. Kehangatan itu Bryan rasakan kembali hingga bibirnya tak henti tersenyum dan tangan itu tak henti menggandeng Jiana yang juga melingkarkan tangannya didada Bryan. Ketiganya tampak fokus menonton acara televisi yaitu kartun kesukaan sang gadis kecil


Cekikikan-cekikikan Kya mulai melemas seiring bertambahnya malam. Gadis kecil itu tidur terlentang dipangkuan Bryan hingga remote tv ditangannya terjatuh kelantai. Bryan terkekeh begitupun Jiana yang spontan melepaskan dirinya dari Bryan


Bryan meninggalkan Jiana membawa Kya kedalam kamarnya dan menidurkan Kya dikasur. Bryan selimuti tubuh yang meringkuk itu lalu kecupi keningnya dengan lembut sebelum keluar dari kamar


Pria itu kembali pada Jiana mendudukan dirinya disofa dengan tangan langsung menggandeng Jiana. Berduaan seperti ini bersama Bryan membuat Jiana canggung, wanita itu tak berani menatap Bryan yang kini menatapnya


Tubuh Jiana mulai menggeliyat tatkala kecupan kecil bibir itu mulai naik ketelinganya." Aku rindu suaramu." suara parau itu kian menggoda Jiana sampai merema* kedua jemarinya sendiri


" Eeuunnggg .. " suara Jiana mulai keluar membuat Bryan tersenyum dan mengulurkan jemarinya untuk menarik dagu Jiana agar wanita itu menatapnya


Bryan menatap lekat Jiana yang memejamkan matanya. Ia mengecup kedua mata Jiana, hidung dan berhenti dibibir. Dikecupnya bibir itu dalam dan berulang lalu meluma*nya dengan lembut seraya membawa Jiana kepangkuannya. Bryan menangkup wajah Jiana, nafas memburu itu terdengar jelas ditelinga Jiana


" Jia .. " Panggil Bryan membuat kedua mata Jiana terbuka, Jiana terpesona dengan manik hitam pekat yang tepat beberapa inci didepan matanya. Tidak tahan, Bryan kembali mencium bibir itu lalu bergerak membuat Jiana berada dibawahnya


" Aaahh .. " desa* Jiana tatkala bibir itu mendarat dilehernya. Jiana selalu tak tahan dengan sentuhan itu ia mencengkram kaos Bryan dengan kedua jemarinya


Bryan mengangkat wajahnya menatap Jiana yang juga menatapnya. Bryan tak mengerti, ia begitu mendambakan Jiana. Sementara Jiana masih menunggu Bryan, ia menunggu kejujuran pria itu dan berharap Bryan bicara kali ini sebelum ia benar-benar memaafkan Bryan dan menjalani pernikahan mereka dengan penuh rasa manis lagi


" Aku menci-"


Ting ting ting tong


Suara bell yang kerap menghancurkan moment penting dimana Bryan akan menyatakan perasaannya pada Jiana


" Ah sialan, siapa malam-malam begini datang bertamu." gerutu Bryan. Senyuman terbit dibibir Jiana merasa lucu melihat Bryan


" Bukalah, mungkin saja itu sangat penting." perintah Jiana


Bryan mendengus kesal lalu bangkit berdiri menuruni tangga menuju lantai satu. Dengan kesal ia membuka pintu, seketika itu juga tubuhnya tersentak mendapat pelukan kedua tangan dengan kulit seputih susu siapa lagi kalau bukan Queen, adik ipar yang mencoba menghancurkan rumah tangganya bersama Jiana


Bryan segera mendorong Queen hingga wanita itu terjengkang dan terpental pada sisi pintu


"Boy, kenapa kasar sekali, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan bayi kita." gerutu Queen memegangi pinggangnya yang sakit


" Jangan gila!" teriak Bryan menggelegar dan naik pitam dengan ucapan Queen, kedua matanya menajam dan kedua tangannya geram ingin mencekik leher Queen


Tapi saat ini Bryan membatu, Bryan merasa tenggorokannya tercekat saat ini dengan apa yang ada ditangan Queen, pria itu membuka mulutnya lebar


" Aku hamil dua minggu." teriak Queen senang dengan senyum manis dan hasil cetakan USG ditangannya


Jedar


Jiana maupun Bryan seperti tersambar petir detik ini juga terutama Bryan, wajahnya sampai memucat pasi." Tidak itu bukan bayiku." tolak Bryan mentah-mentah


" Kau tega sekali, jelas-jelas ini bayimu." saut Queen berteriak


Bryan menoleh kebelakang, hatinya seperti dihantam batu besar melihat Jiana yang menangis untuk kesekian kali karena dirinya. Bryan segera berlari menaiki tangga mengejar Jiana yang perlahan melangkah menuju kamar Kya dengan suara tangisan menyayat hati Bryan


" Tidak dengarkan aku dulu .. " ucap Bryan dengan nafas terengah


" Jia buka pintunya kumohon." teriak Bryan menggedor pintu itu dengan kencang


" Jiana .. " teriak Bryan frustasi


-


-


Waah para readers meradang lagi ya πŸ˜…πŸ˜…


Maaf ya untuk para readersku, Author kasih konflik buat nguji cinta mereka. Tapi tenang aja, setiap permasalahan pasti ada penyelesaiannya kok! jadi tetap ikuti kisah Bryan dan Jiana karena kisah ini masih panjaaangg banget


-