
-
-
" Kalian tidak memesan?" tanya Bryan lagi untuk kesekian kalinya, kali ini ia meraih piring dengan pasta carbonara untuk dirinya
" Tidak, kami sudah makan tadi."
" Lalu apa yang kalian lakukan disini?" tanya Bryan melirik keduanya, suara itu terdengar mengusir keduanya
" Kami hanya ingin memastikan, apa pengantin baru ini baik-baik saja. Apa dia sudah berhasil menjebol gawang atau belum." saut Arnold terkikik sendiri membuat Bryan tersedak makanannya, cepat-cepat ia meraih air putih diatas meja dan meneguknya hingga tandas
" Sepertinya belum." saut David lalu ia tertawa kencang melirik Jiana yang terlihat datar tak mengerti ucapannya dan Arnold
" Pergilah .. selamat bersenang-senang." usir Bryan mengibaskan tangannya hingga tawa kembali menguar di meja Bryan
" Kau yakin tidak akan ikut."
Bryan memelototkan kedua matanya pada David, tidak tahu ya pria itu bahwa kini ia sedang merayu istrinya agar mau ia tiduri malam ini. Tapi kedua temannya malah banyak bicara seakan tak mendukungnya sedikitpun
" Baiklah, baiklah kami akan pergi. Selamat bersenang-senang kawan." ucap David beranjak berdiri diikuti yang lainnya
Bryan melirik Jiana yang sibuk memakan makanannya
" Apa kau menikmatinya?" tanya Bryan mengusap pipi kanan Jiana yang seketika itu juga menghindar dengan menjauhkan kepalanya namun Bryan tak menyerah, ia meraih kepala itu mendekat lagi dan langsung memberi kecupannya dipipi Jiana
"Dont touch me!" tegur Jiana menaikan pisau tepat didepan wajah Bryan seakan mengancam suaminya
" Auuhh wanita yang menakutkan." pekik Bryan terkikik lucu
" Kau akan tahu seberapa menakutkannya aku." ancam Jiana sambil melirik kebawah pada pangkal paha Bryan
" Hey .. turunkan pisau itu." saut Bryan mendadak menciut langsung menutupi senjata andalannya dengan satu telapak tangannya membuat Jiana ingin tertawa melihat raut wajah Bryan
" Kau takut? kalau kejantananmu kupotong kau tidak akan bisa mesum lagi bukan?"
" Dan kau akan menjadi wanita yang paling tidak bahagia didunia ini." saut Bryan menarik pelan pisau itu kebawah
" Kenapa aku harus tidak bahagia, aku memiliki suami yang kaya raya dan tampan."
" Semua itu tidak ada gunanya kalau suamimu tidak punya burung. Memangnya kalau kau sedang mau siapa yang akan memberi untukmu?" bisik Bryan
" Aku akan mencari pria lain, pria muda yang tampan dan burungnya lebih besar darimu."
" Jiana kuperingatkan kau, jangan macam-macam denganku!" ancam Bryan mencengkram pelan kedua pipi Jiana, tatapannya tiba-tiba menyalang tajam mendengar ucapan Jiana
Jiana segera menepis tangan Bryan dengan kasar dan melanjutkan kembali makan malamnya dengan tenang. Sementara Bryan masih memperhatikan Jiana dengan wajah kesalnya, Bryan bingung, sangat bingung. Bagaimana cara menaklukan wanita itu agar lembut seperti wanita-wanita lain yang memujanya
" Daddy Kya sudah habis." ucap Kya dengan mulut penuh steak daging
" Baiklah, baiklah ini ice creammu." saut Bryan menarik cup besar ice cream dengan lelehan coklat diatas meja, ia geser piring yang sudah kosong itu dan menempatkan cup ice cream tepat didepan Kya
Gadis kecil itu langsung menyendok penuh ice cream coklat tersebut dan memasukan kedalam mulutnya membuat Bryan merasa ngilu melihatnya. Bryan dan Jiana terus memperhatikan putri mereka yang lahap dengan ice creamnya sesekali juga tangan-tangan itu mengusap pipi dan sudut bibir Kya yang belepotan oleh ice cream. Jika berurusan dengan Kya, Jiana dan Bryan akan akur dan kompak. Bryan juga lebih sering mengalah dan meredam egonya pada Jiana
Satu cup ice cream itu kini telah habis oleh Kya, gadis kecil itu memegangi perutnya yang kini penuh dengan segala macam makanan. Lalu ia menoleh pada kedua orangtuanya yang tersenyum menatapnya
" Sepertinya dia mengantuk." bisik Bryan menoleh pada Jiana
Tak lama Bryan memanggil pelayan dan memberikan black cardnya pada pelayan tersebut. Mereka tak lama menunggu karena pelayan itu segera kembali untuk mengembalikan black card Bryan
Lalu Bryan memangku Kya yang sudah tak berdaya, tubuh gadis kecil itu sudah melemas karena kebanyakan makan. Diikuti Jiana dibelakang, Bryan membawa Kya ke kamar yang telah ia pesan, sambil berjalan ia juga mengaming-ngaming Kya hingga mata yang sayu itu mulai memejam dan wajahnya ia benamkan di pundak sang ayah
" Dia tidur?" tanya Jiana
" Ya. " saut Bryan singkat
Mereka masuk kedalam lift yang membawanya kelantai dimana kamar yang Bryan pesan berada. Saat sampai Bryan langsung menempelkan kunci kartu pada sensor pintu. Seketika pintu itu terbuka lebar untuknya, Bryan masuk kedalam, ia menunggu Jiana masuk lalu menutup pintu itu rapat
Bryan menuju kamar dan langsung menidurkan Kya diranjang empuk, ia usapi perut Kya yang terusik karena gerakannya
" Kita tidak membawa baju ganti." ucap Jiana mendudukan dirinya di sisi ranjang sambil menatapi setiap sudut kamar suite room itu
" Cih yang benar saja." gerutu Jiana melipat kedua tanganny didada
" Ayolah sayang, kapan kau mau memberikannya padaku? ini sudah seminggu .. pria mana yang tahan. " gerutu Bryan membalas ucapan Jiana, wanita itu hanya diam membungkam dengan pandangan keluar jendela yang tertutupi gorden
Bryan menghela nafasnya panjang dan merangkak mendekat pada Jiana yang duduk disisi ranjang. Ia duduk berhadapan dengan Jiana, menatap wajah Jiana yang selalu jutek padanya. Sebenarnya bisa saja ia memaksakan kehendaknya namun ia tak mau membuat kesalahan lagi dan membuat Jiana semakin membencinya. Bryan mengambil ponsel disaku celananya lalu memberikan ke tangan Jiana
" Hubungi Darwin, bilang bawakan pakaian tidur yang seksi untukmu." perintah Bryan
" Tidak usah, aku seperti ini saja." tolak Jiana melempar pelan ponsel Bryan ke atas kasur
" Kenapa? kau canggung menghubungi mantan kekasihmu itu?" tanya Bryan ketus dan tak digubris Jiana
" Dia bawahanmu sekarang." ucap Bryan
Masih tak menggubris, Bryan bergerak mengambil ponselnya dan menghubungi Darwin menyuruh pria itu membeli pakaian tidur untuk sang istri, tanpa menunggu jawaban Darwin Bryan langsung mematikan ponsel itu dan kembali pada Jiana
" Apa kau masih mencintai Darwin?" tanya Bryan tanpa basa-basi
" Jangan GILA." saut Jiana
" Ceritakan padaku?"
" Ceritakan padaku?" desak Bryan mencengkram kedua pipi Jiana pelan dengan tangannya
" Apa yang ingin kau tahu, itu semua sudah berlalu."
"Apa yang kau lakukan dengan Darwin selama berpacaran? kau berpegangan tangan? berciuman atau saling memeluk?"
" Dia tidak pernah menyentuhku, dia tidak sebejad dirimu." saut Jiana menatap tajam sembari menepis tangan Bryan
" Baguslah." saut Bryan dengan bibir tersenyum lebar lalu ia menarik Jiana berdiri, membawanya menuju balkon luar
Jiana terkesima dengan pemandangan gemerlap lampu kota dari ketinggian dimalam ini yang tak pernah ia lihat sebelumnya karena Jiana terlalu sibuk dengan bisnisnya membuat kue
" Indah bukan?" tanya Bryan menatap Jiana dari samping lalu mendekap tubuh itu hingga tubuh Jiana tersentak dibuatnya tapi kali ini Jiana membiarkan Bryan
" Jika siang hari tidak akan seindah ini bukan, pasti yang terlihat jejeran mobil yang di landa kemacetan sepanjang jalan." saut Jiana. Bryan tersenyum manis, untuk kali ini ia dan Jiana bisa juga berbincang dengan tenang. Sepertinya Bryan harus sering-sering memanjakan wanita itu agar Jiana luluh dengannya
" Ya seperti itulah ibukota." saut Bryan lalu ia menatap kemana Jiana menatap
" Apa kau suka hal seperti ini?" tanya Bryan
" Ya. " saut Jiana singkat membuat Bryan terperangah dengan Jiana yang tidak ada manis-manisnya sedikitpun padanya
" Dimana rumahmu sebelum kamu melarikan diri ke Paris?"
" Kenapa kau ingin tahu?" tanya Jiana menoleh pada Bryan yang juga beralih padanya, tatapan keduanya terkunci untuk beberapa saat
" Kau penuh misteri, aku tidak tahu apapun tentangmu, orangtuamu dan .. "
" Kau sudah tahu kalau papaku sudah meninggal." potong Jiana kembali mengalihkan pandangannya pada pemandangan kota
" Bukankah mamamu masih hidup?"
Pertanyaan Bryan membuat Jiana membungkam dan tatapannya terlihat sendu dikedua mata Bryan. Mencoba menenangkan Jiana, Bryan semakin mengeratkan dekapan kefua tangannya pada Jiana dan sentuhan bibir Bryan dipuncak kepala Jiana untuk pertama kalinya sukses membuat Jiana terperanjat, menoleh padanya dengan wajah terpana. Tatapan keduanya kembali terkunci cukup lama, tak ada yang bersuara keheningan melanda balkon hotel itu hanya suara hembusan angin saja yang melewati telinga mereka
" Malam ini kau sangat cantik." puji Bryan menyadarkan Jiana, wanita itu merutuki dirinya sendiri dalam hati karena malah terhanyut dengan perlakuan Bryan padannya. Jiana mencoba memalingkan wajahnya namun segera ditahan Bryan dengan kembali menarik dagunya, secepat kilat Bryan mendaratkan ciumannya dibibir Jiana
" Balaslah ciumanku." pinta Bryan memelaskan wajahnya tepat didepan bibir Jiana
" Aku-"
Ting tong ting tong ting ting
-
-