
πΉπΉπΉ
Jiana memaksakan senyumnya didepan cermin rias. Setelan elegan, kemeja putih dengan rok span bahan hitam membalut tubuh rampingnya. Jiana menghela nafasnya panjang, ia mencoba menguatkan dirinya untuk tidak menangis lagi. Ada Kya yang harus ia jaga dan ia harus tangguh seperti dulu
Hari ini hari dimana persidangan atas gugatan cerainya pada Bryan. Jiana mulai melangkah keluar dari kamar, ia tersenyum pada Kya yang sedang sarapan dimeja makan kecil Viona. Seminggu lalu ia memang sengaja datang dan menginap di Apartement Viona tentu atas tawaran wanita itu karena saat itu ia juga bingung harus tinggal dimana. Sementara tak ada seorangpun yang tahu ia telah kembali ke Jakarta untuk menghadiri persidangannya
Sudah hampir sebulan lebih ini juga Jiana tak bertemu Bryan. Semenjak malam itu Bryan menghilang tak pernah datang ataupun sekedar menghubungi putri mereka membuat Jiana merasa kasihan pada Kya yang terus merindukan
" Ji, kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Viona
" Aku sangat yakin." saut Jiana duduk disebelah Kya, mengusap puncak kepala anak gadisnya
" Emmh tapi Viona, aku ingin bertanya satu hal padamu?"
" Mengenai apa?"
" Kau seorang dokter, tentu kau tahu masalah mentruasi?" Viona tampak mengangguk pelan sambil mengunyah sarapan paginya karena hari ini ia juga ikut menghadiri persidangan itu, ia menjadi saksi dari pihak Bryan dan Jiana tak mengetahui hal itu
" Aku tidak tahu apa itu efek dari pil kb yang ku konsumsi atau tidak .. "
" Memangnya kenapa?"
" Seminggu yang lalu aku pikir mengalami menstruasi, aku melihat darah kecoklatan dicelanaku. Kukira itu hari pertamaku tapi saat hari kedua aku tidak mengeluarkan darah lagi. Menurutmu apa itu hal yang normal."
" Setelah ini bagaimana jika kamu melakukan konsultasi ke dokter obegyn?"
" Obegyn? kenapa harus obegyn?" tanya Jiana
" Untuk melakukan usg, siapa tahu ada bayi diperutmu." saut Viona dengan tawa membuat Jiana menepuk bahunya dengan kencang
" Jangan gila." umpat Jiana
Tak lama setelah menghabiskan sarapan pagi. Mereka segera pergi. Acara persidangan dimulai jam 09.00 dan Jiana harus tepat waktu untuk berada disana. Jiana dan Kya beserta Viona keluar dari mobil, tampak disana Clarissa sudah menunggu karena Jiana akan menitipkan Kya pada Clarissa. Jiana mendekat dan tuntunan Kya ia pindahkan pada Clarissa. Jiana berjongkok didepan Kya
" Sayang tunggu sebentar bersama tante ok?"
Kya hanya mengangguk pelan lalu mengerucutkan bibirnya membuat Jiana langsung mencium bibir itu." Anak pintar." ucapnya lembut lalu mengusap kepala Kya
Jiana berdiri." Clarissa aku titip Kya sebentar."
" Tenang saja, Kya aman."
Jiana bersama Viona masuk kedalam ruang persidangan. Disana semua orang sudah berkumpul termasuk Bryan dengan kemeja putihnya, pria itu selalu tampan membuat Jiana mengalihkan pandangannya dari Bryan tak ingin terjerat lagi Bryan. Kedua orangtua Bryan juga tampak sedih, dua minggu yang lalu keduanya mengunjungi Jiana dan meminta Jiana untuk memikirkan semuanya secara matang. Ken dan Jeny juga terus meminta maaf pada Jiana atas kelakuan anak mereka. Tapi Jiana hanya membalas mereka dengan senyuman, meskipun marah karena menyembunyikan fakta tentang Queen namun Jiana sudah berusaha mengikhlaskan semuanya, ia akan memulai hidup baru bersama Kya tentu hatinya harus tenang
Jiana menarik nafasnya panjang, jantungnta berdebar. Apa hari ini benar-benar hari terakhirnya melihat Bryan? Jiana melirik Bryan untuk terakhir kalinya. Wajah itu tampak tenang tak menampilkan rasa sedihnya. Mungkin Bryan bahagia akan terlepas darinya dan memulai hidup baru bersama Queen. Pikir Jiana sendu
Jiana semakin deg degan sampai merema* jemarinya sendiri. Ia fokus menatap hakim didepan, kedua mata Jiana berkaca, namun bibir itu ia paksakan tersenyum. Jiana tak mau terlihat lemah dihadapan semua orang terutama Queen yang ternyata ikut hadir disana bersama kedua orangtuanya dikursi paling belakang
Tok tok
Ketukan palu dan ucapan hakim itu membuat Jiana membuka mulutnya lebar dengan kedua mata membulat sempurna." Apa maksudya ini?" tanya Jiana berdiri merasa tak adil dengan keputusan hakim
" Nyonya, harap bersikap sopan."
" Kenapa ditolak? apa kau disuap oleh Bryan?" tanya Jiana menunjuk hakim bernama Jordi itu
" Nyonya jaga sikap anda" tegur petugas keamanan disana. Jiana tak habis pikir, tatapamnya menajam
" Disini tertera anda sedang hamil, jadi kami tidak bisa menerima gugatan cerai anda."
" Tidak aku tidak sedang hamil."
" Saksi coba jelaskan pada nyonya penggugat ini." perintah hakim pada Viona. Jiana kembali dibuat terkejut, ia pikir Viona datang untuk menemaninya nyatanya wanita itu malah jadi saksi untuk suaminya. Benar-benar tak ada yang dipercaya Jiana saat ini.
" Dari hasi pemeriksaan lab kami minggu lalu, nonya Jiana dinyatakan positif hamil dengan usia 4 minggu. Ini hasi lab dari rumah sakit kami." ucap Viona lalu memberikan selembar hasil lab itu pada hakim
Jiana lamgsung menghempaskan tubuhnya yang terasa lemas disofa. Lalu ia menoleh pada Bryan, pria itu menampilkan senyum liciknya membuat Jiana ingin sekali menamparnya
" Jadi ini alasanmu terus memaksaku? kau sungguh licik Bryan." gumam Jiana dengan kedua mata berkaca lalu beringus bangun meninggalkan persidangan dengan wajah kecewanya
Sambil menangis, Jiana berjalan menuju kamar mandi. Ia berdiri didepan cermin lalu membasuh wajahnya dengan air kran. Jiana menangis kencang saat itu, ia kecewa dan sangat marah karena tak bisa terlepas dari Bryan. Jiana kembali membasuh wajahnya sampai berulang
" Caramu benar-benar murahan Jiana." suara itu membuat Jiana muak. Ia berbalik dan langsung menampar Queen dengan sekuat tenaga
" Kau seharusnya berkaca, disini yang murahan itu adalah kau. Kau naik keranjang seorang pria yang sudah menikah dan yang lebih menjijikan pria itu adalah kakak iparmu sendiri." tutur Jiana tajam membuat Queen marah dan akan membalas tamparannya. Tapi Jiana menahan tangan itu dan mendorong tubuh Queen hingga mundur beberapa langkah. Kedua mata Queen memerah saat ini karena kemarahannya pada Jiana. Lalu ia sengaja berpura-pura mengusap pipinya, memperlihatkan jari manisnya yang terpasang cincin berlian
Bibir Queen menyeringai melihat tatapan Jiana pada jemarinya. " Bryan memberikannya padaku dihari pernikahan kami." seketika itu juga airmata Jiana luruh lagi membasahi pipinya yang basah, pandangan dan wajah itu semakin dingin. Rasa kecewa, sedih dan marah kini bercampur didiri Jiana. Kini Jiana benar-benar berbagi suami dengan Queen
Jiana tak lagi menghiraukan Queen. Ia keluar dengan sempoyongan sembari memegangi perutnya. Dari jauh Jiana melihat Bryan sedang tertawa bersama teman-temannya didepan pengadilan dengan Kya yang juga dalam pangkuannya
"Boy kau sungguh menghamili Jiana." ucap Arnold menggandeng bahu Bryan
" Kau seperti tidak tahu kehebatanku saja, sekali gol adik Kya langsung jadi." begitulah yang terdengar oleh Jiana beserta tawa cekikian mereka karena ucapan Bryan
" Kau harus berterima kasih padaku."ucap Arnold
" Kita pesta malam ini, datanglah kerumah baruku."
-
-