Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Bryan datang menjemput



-


-


Malam ini Jiana baru saja selesai mencuci piring makan malamnya bersama Kya. Sejujurnya ia merasa tersiksa tinggal ditempat terpencil seperti ini, setiap malam Jiana dihantui rasa takut karena tak ada seorangpun yang bisa ia ajak bicara. Meskipun setiap minggunya ada sang ibu dan Darwin yang mengunjungi Jiana namun Jiana masih tetap merasa kesepepian, kerinduannya pada Bryan membuatnya kesepian


Jiana bahkan tak pernah mau bicara lagi dengan sang ibu yang menurutnya sangat kejam dengan tega memisahkannya dan Bryan. Wanita itu datang setiap minggu sekali bersama Darwin membawa bahan makanan untuk Jiana dan Kya, Mia juga memberi susu hamil dan vitamin untuk Jiana meskipun Jiana tak pernah mau memakan vitamin itu. Meski Mia adalah ibunya namun wanita itu lebih membela Queen membuatnya takut Mia akan meracuninya


Dan Darwin, pria itu juga diabaikan Jiana. Jiana mulai tak menyukai Darwin karena malah menyembunyikannya bersama sang ibu. Jiana kecewa dan harapan setiap hari Jiana, Bryan datang mencarinua. Setiap malam Jiana hanya bisa menangis merindukan Bryan, ia takut Bryan akan benar-benar berpaling pada Queen. Lalu bagaimana nasib Jiana? apa ia akan terjebak selamanya dipulau tanpa penghuni ini?


Jiana mengusap perutnya yang semakin hari semakin bertambah buncit. Buah cintanya dan Bryan itu kini juga mulai bergerak aktif diperut Jiana membuat Jiana sedikit senang. Lalu ia menuju kamar, ia tertegun mendengar isak tangis sang putri. Jiana terharu melihat gadis kecil itu sedang duduk memeluk kedua kakinya dengan pandangan pada jendela yang tirainya masih terbuka


Mendapat pergerakan pada ranjang, Kya menoleh pada sang ibu. Wajah sembab dengan airmata berurai itu membuat Jiana pilu. Ia segera mendekati Kya duduk dibelakangnya." Mum kapan Daddy pulang?" itu yang selalu ditanyakan Kya pada Jiana


" Kenapa Daddy lama sekali, kenapa lumahnya jadi kecil?" pertanyaan itu menjatuhkan airmata Jiana dari pelupuk matanya


" Daddy akan menjemput Kya dan Mum, Kya bersabar ya." seketika Kya menangis kencang


" Tapi Kya lindu Daddy, Kya mau main sama Daddy Mum. " Jiana merasa tak tahan ia membawa gadis kecil itu duduk dan ia peluk sambil menangis tanpa suara


" Huuuuu Daddy .. Daddy ... " Jiana semakin sedih dan semakin merindukan Bryan, Jiana ketakutan tak bisa lagi bertemu suaminya. Ia dikurung ditawan bagaikan manusia yang tak punya hati, Jiana juga seorang ibu lalu mengapa ibunya tak seperti Jiana yang menyayangi anaknya?


" Mum. " seketika tangisan itu berhenti, Jiana mengurai pelukannya menatap wajah Kya yang menengadah, bibir itu tiba-tiba tertawa dengan airmata masih menderai


" Perut Mum bergelak." ucap Kya senang menyentuh perut ibunya yang bergerak


" Itu karena adik bayi marah, mereka tidak suka kakak Kya menangis." saut Jiana lembut mengusap pipi bakpau yang basah itu


" Jangan menangis lagi hmm?"


" Tapi Kya rindu Daddy."


" Daddy akan menjemput kita, dan Kya akan tinggal dirumah besar lagi." Kya mengangguk cepat dan itu membuat Jiana semakin pilu melihatnya. Setiap malam ia hanya bisa berbohong pada Kya yang terus menunggu ayahnya


Jiana membawa Kya tertidur diranjang yang terlihat lusuh. Saat Kya tertidur suara ketukan pintu mengganggu Jiana, sebenarnya Jiana malas membuka pintu itu ia tahu siapa yang datang tapi mau bagaimana lagi, Jiana harus bertahan hidup demi anak-anaknya


Jiana menuju keluar, ia membuka pintu untuk sang mama yang hari ini datang membawa dua kantung kresek berisi bahan makanan untuk Jiana. Mia bisa melihat wajah sembab Jiana semakin membuatnya merasa kasihan namun ia lebih tak mau lagi jika anak bungsunya yang depresi, ia tahu Jiana wanita yang kuat sangat berbeda dengan Queen yang rapuh


" Bagaimana kabarmu Ji?" tanya Mia mengelus perut Jiana, wanita itu tak tahu bahwa Jiana sedang mengandung bayi kembar. Jiana tak menjawab ia melengos masuk kedalam dan duduk dimeja makan kecil bundar, rumah yang sempit bahkan dua kali lebih sempit dari toko kuenya


Jiana hanya menatap ibunya yang membenahi bahan makanan kedalam kulkas. " Bersabarlah Ji, mama akan membawamu pergi dari sini sebentar lagi."


" Apa Bryan sudah melupakanku?" tanya Jiana dan kali ini Mia menghela nafasnya. Wanita itu tak menjawab hanya duduk didepan Jiana


" Mama tidak akan menginap, mama akan pergi lagi. Tidurlah ini sudah malam." ucap Mia berdiri


" Kelak antarkan aku ke Paris, setelah itu jangan pernah menemuiku lagi. Aku tidak akan memanggilmu mama lagi. Kamu bukan ibuku lagi mulai sekarang." saut Jiana dingin


" Jiana .. " bentak Mia membuat kedua mata Jiana menggenang airmata


" Sejak dulu aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Dan sampai detik inipun aku tak merasakan kasih sayang seorang ibu. Lalu untuk apa aku memiliki ibu. Lebih baik aku hidup bersama anak-anakku. Setelah Bryan melupakanku, biarkan aku bahagia dan hidup bebas." saut Jiana lalu meninggalkan Mia seorang diri, wanita itu mematung dan tak lama pergi meninggalkan rumah kecil itu dengan membanting pintu marah dengan perkataan anaknya. Jiana segera mengunci pintu itu dan kembali kekamar


Jiana benar-benar menangis dikamarnya, rasanya Jiana tak akan sanggup bila Bryan benar-benar meninggalkannya. Jiana menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak. Ia marah saat ketukan kembali ia dengar dipintu dan ketukan itu semakin kerap mengganggu telinga Jiana. Jiana berjalan tergesa amarahnya memuncak, ia membuka pintu


" Sudah kubil-" teriakan itu berhenti, Jiana mematung ditempat. Airmatanya berurai membasahi pipi tatkala melihat Bryan berdiri disana, pria yang ditunggu Jiana itu kini tepay didepan matanya


Bryan masuk kedalam dan langsung memeluk Jiana. Bahkan pria itu masih mengenakan pakaian rumah sakit. " Jangan meninggalkanku lagi, atau aku akan benar-benar gila." ucap Bryan mengurai pelukannya menatap Jiana yang menderai airmata. Bryan menghujani wajah itu dengan kecupan lembutnya lalu mengempaskan tubuhnya berlutut memeluk kedua kaki Jiana, Bryan menurunkan harga dirinya didepan ibu anak-anaknya itu


" Jangan pergi lagi .. " ucapnya memelaskan wajah menengadah pada Jiana dengan airmata luruh membasahi pipinya. Jiana tak kuasa melihat Bryan, seketika ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan menangis kencang


" Aku takut .. kupikir aku tidak akan bisa melihatmu lagi." ucapnya tersedu. Bryan segera berdiri menarik kedua tangan itu dengan pelan


" Aku mencintaimu Bryan .. " Bryan tersenyum senang akan pengakuan itu lalu memeluk Jiana, tak bisa menempel karena terhalang perut wanita itu


" Aku juga sangat sangat mencintaimu." saut Bryan, senyumannya kian merekah. Kini bukan hanya badai yang berlalu, semua Bryan dapatkan termasuk hati Jiana yang selama ini Bryan perjuangkan


" Kamu datang untuk menjemputku kan?"


" Iya sayang, semuanya telah berakhir." Jiana menangis untuk waktu yang lama dipelukan Bryan


Bryan tersenyum menangkup wajah sembab Jiana lalu mencium bibir itu mesra. " Dimana Kya?"


" Dia sudah tidur." saut Jiana


" Apa kamu sudah makan?" tanya Jiana yang merasa pilu memperhatikan tubuh Bryan yang kini terlihat kurus bahkan wajahnya tak terawat dipenuhi jambang tipis. Bryan menggelengkan kepalanya dan tersenyum


" Aku akan memasak untukmu." Bryan tersenyum lalu mencium kening Jiana. Ia melepaskan wanita itu dan menuju kamar. Bryan langsung memeluk tubuh yang kini meringkuk dan tertidur pulas itu, ia menangis lagi betapa sedihnya Bryan melihat keadaan rumah yang benar-benar tak layak untuk dtinggali. Ibu Jiana benar-benar keterlaluan, pikir Bryan


" Kya Daddy datang menjemput." bisik Bryan yang mana membuat Kya terbangun, seketika gadis kecil itu menangis kencang memeluk leher snag ayah dengan kedua tangan kecilnya


" Uuuhhh sayang .. " ucap Bryan menitikan airmatanya


-


-