
-
-
Berhari-hari Bryan mendiamkan Jiana, pria itu tak memakan masakan Jiana. Pagi tak pernah sarapan dan malam tak pernah mau makan malam dirumah. Jika pulang pun Bryan hanya bermain bersama Kya dan mengabaikannya. Tak menggoda dan merayu Jiana lagi membuat Jiana merasa sedih padahal ia ingin memperbaiki pernikahannya bersama Bryan, ia akan menerima Bryan sepenuh hatinya. Berhari-hari ini juga Jiana sering menitikan airmatanya karena Bryan yang dingin, entah kenapa Jiana rindu kejahilan, sentuhan dan perlakuan manis pria itu. Kini Jiana menyadari semuanya, ia mulai membutuhkan Bryan untuk mewarnai hari-harinya
Jiana sampai melamun dan tak mendengarkan ibu mertuanya yang bertanya padanya. Kini mereka sedang berada dipusat perbelanjaan terbesar di pusat kota disebuah toko sepatu. Tadi sore Jeny memang mengajak Jiana dan cucunya berjalan-jalan, maklum saja hanya Jianalah menantu wanita satu-satunya dikeluarga jadi Jeny lebih sering mengajak Jiana ketimbang Chesa dan Chesy
Memang kedua wanita kembar itu tak pernah mau jika berbelanja bersama ibunya. Alasannya karena Jeny selalu banyak bertanya dan cerewet mengenai barang-barang yang akan ia beli. Dengan Jiana Jeny merasa cocok karena wanita itu lebih sabar ketimbang Chesa-Chesy apalagi Bulan yang notabennya pemarah
" Ji, ada apa? kamu bertengkar dengan Bryan?" tanya Jeny pada Jiana, ia pun merasa heran dengan anak dan menantunya yang terlihat sedang perang dingin. Pasalnya Bryan selalu mampir untuk makan malam dirumahnya, Bryan sendiri tak banyak bicara dan juga sering melamun seperti Jiana saat ini membuat Jeny tak berani bertanya terlebih ia ingin Bryan menyelesaikan masalah keluarganya sendiri tanpa campur tangannya ataupun Ken
" Pertengkaran dalam pernikahan sudah biasa terjadi Ji, asal jangan beradu mulut didepan Kya saja. " tutur Jeny lagi menyentuh pundak Jiana, menyadarkan wanita itu
" Bryan marah." gumam Jiana sendu
" Biarkan saja, nanti juga dia baik lagi jika ada maunya." saut Jeny tersenyum dan sudah hafal dengan watak putranya
" Apa jika marah dia selalu selama itu?"
" Ya, tapi dia akan kembali seperti kucing manis saat menginginkan sesuatu." saut Jeny tak memudarkan senyumannya pada sang menantu membuat Jiana ikut tersenyum
Mereka kembali mengitari sekitar toko mencari barang yang cocok dan mereka suka. Sambil menuntun Kya, Jiana celingukan kesana kemari, memperhatikan jejeran sepatu cantik berwarna-warni ditoko itu, sebagai seorang wanita tentu ia tertarik hanya saja ia terlalu malu untuk membeli sesuatu jika tak meminta ijin lebih dulu pada Bryan
Tapi Jiana kali ini benar-benar tertarik pada sepasang sepatu pentovel hak tinggi berwarna merah terang dan gemerlap dengan butiran swaropski kecil didepannya, ia menyentuh dan mengambilnya, menatap lekat sepatu ditangannya sampai ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya dari belakang. Seketika Jiana berbalik memutar tubuhnya dan mematung seketika, menjatuhkan sepatu itu kelantai
" Mum sepatunya jatuh." suara Kya tak ia hiraukan, ia mematung menatap pemilik tangan yang baru saja menyentuh pundaknya
"Ji, anak gadis mama?" ucap seorang wanita seumuran ibu mertuanya
Airmata Jiana mulai menggenang membuat wanita itu berhambur memeluknya
" Mama tahu ini kamu Ji, kamu Jiana putriku. Aku masih mengenal wajah cantik putriku." gumam wanita itu membuat Jiana menangis kencang
" Sayang, apa kamu masih mengingat mama?"
" Mama, mama kemana saja?" tanya Jiana tersedu memyembunyikan wajahnya dipundak sang ibu yang lebih pendek darinya
" Maafkan Mama sayang. " sautnya ikut menangis lalu mengurai pelukannya mengusap airmata Jiana yang berjatuhan
" Bagaimana kabarmu Ji?" tanya wanita itu lalu ia melirik Jeny yang terlihat elegan dengan pakaian mewahnya kemudian seorang gadis kecil disamping Jeny
Jiana tersenyum. " Dia putriku." ucap Jiana bangga menarik pelan Kya mendekat
" Kamu sudah menikah?"
Jiana mengangguk cepat lalu ia menoleh pada Jeny
" Ini mama mertua Ji." ucap Jiana mengenalkan Jeny pada ibunya, Jeny hanya terdiam ia tak mengerti dengan hal yang tiba-tiba ini
" Aku mama Jiana." ucap wanita yang biasa dipanggil Mia itu sambil mengulurkan tangannya pada Jeny
" Aku mama mertuanya " saut Jeny menjabat tangan itu dan tersenyum
" Ji, mama akan menemuimu lagi, bolehkah mama meminta nomer ponselmu?"
Jiana mengangguk cepat dan memberikan nomer ponselnya, terlihat sekali wajah itu sangat senang dimata Jeny
" Mama akan menghubungi kamu Ji, sekarang mama harus pergi." ucap Mia, kembali ia memeluk Jiana, menciumi kedua pipi Jiana lalu ia berjongkok tepat didepan Kya, gadis kecil itu merengut takut dan bersembunyi dibelakang Jiana
" Sayang ini Omamu." ucap wanita itu mencoba menarik Kya
" Putrimu sangat cantik dan lucu Ji." puji Mia dengan kedua mata berkaca
" Semua orang bilang seperti itu." saut Jiana tersenyum hangat mengusap puncak kepala Kya
" Mama pergi sekarang." pamit Mia beranjak berdiri dan berjalan tergesa-gesa meninggalkan Jiana yang tak henti menatapnya dengan airmata yang terus menetes tanpa henti
" Ji .." panggil Jeny menyentuh pundak Jiana membuat Jiana memutar tubuh dan menghadap ibu mertuanya. Jeny segera menuntun Jiana dan Kya menuju sebuah tempat duduk di mall itu
" Ceritakan semuanya, ceritakan yang sebenarnya, selama ini kami tidak pernah tahu tentangmu Ji .. jujurlah." tutur Jeny mengusap airmata Jiana, Jiana tersentuh dan airmatanya semakin menderas. Jiana memang tertutup, saat akan dinikahkan dengan Bryan saja, Jiana seolah enggan membahas keluarganya, wanita itu hanya mengatakan hidup sendiri tanpa sanak saudara
" Mama meninggalkanku puluhan tahun yang lalu." saut Jiana memaksakan senyum sambil mengusap airmata dikedua sudut matanya
" Orangtuamu bercerai?"
Jiana mengangguk pelan, tatapan itu terlihat sedih
" Kau membencinya?" tanya Jeny merasa iba
" Tidak ada anak yang akan membenci orangtuanya meskipun mereka melakukan kesalahan yang besar." saut Jiana hingga hati Jeny terenyuh dan berhambur memeluknya
" Lalu kenapa kamu menutupi semuanya?"
" Aku malu." isaknya
" Semua orang bilang mama pergi dengan pria asing, aku hanya tidak mau keluarga suamiku menilai mamaku buruk."
" Kamu tidak usah khawatir Ji, Mom akan selalu menyayangimu dan Kya apapun keadaanmu. Kamu tidak usah malu, tidak ada manusia yang sempurna didunia ini, semuanya bisa melakukan kesalahan. Bukankah putra Mom juga melakukan kesalahan padamu, dia tidak menemanimu membesarkan Kya." saut Jeny mengusap-usap punggung Jiana. Wanita itu hanya menganggukan kepalanya namun Jeny bisa mendengar isakan tangisnya, dalam hatinya ia merasa kasihan pada Jiana
Menjelang malam, Jiana dan Kya baru pulang diantar sopir Jeny kerumahnya. Keduanya turun dari mobil dan masuk gerbang rumah
" Apa Bryan sudah pulang?" tanya Jiana pada Deden
" Iya nyonya baru saja." saut Deden
Jiana tersenyum senang, setelah bertemu ibunya kembali Jiana merasa sangat senang. Mau seperti apapun ibunya dulu, ia tetap merindukan wanita yang telah melahirkannya itu dan hari ini rasa rindu itu terbayar dengan pertemuannya bersama sang ibu
Jiana membawa Kya kekamarnya dan mengganti pakaian Kya dengan piyama tidur bercorak tedy beard. Gadis kecil itu tak henti menyanyi dengan suara cadelnya
" Apa Kya senang hari ini?"
" Kya sangat senang, glandma membeli Kya mainan lagi." sautnya riang
" Besok saja mainnya sekarang waktunya anak kecil seusiamu untuk tidur." ucap Jiana menyentuh hidung mungil Kya dengan telunjuknya
" Yess Daddy. " teriak Kya langsung menutup mulutnya karena salah bicara
" Oops yes Mum." teriak Kya kembali
Jiana tersenyum akan kelucuan itu lalu ia membawa Kya naik ke atas kasur, menidurkannya disana dan menunggu Kya terlelap sambil menyanyikan sebuah lagu tenang yang biasanya ia nyanyikan untuk Kya
Cup
Jiana mengecup kening itu saat mendengar deru nafas Kya yang teratur. Ia tersenyum memandangi wajah Bryan dalam wajah Kya. Lalu ia turun dari kasur, menyelimuti Kya dan mengangkat sisi ranjang itu keatas untuk melindungi putrinya agar tidak terjatuh kelantai
Jiana menutup pintu itu rapat lalu berjalan menuju kamarnya. Disana Bryan berbaring sudah siap dengan piyama tidurnya. Jiana melirik sesaat lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
Selesai mandi dan memakai piyama tidur, Jiana segera naik ke atas ranjang. Seperti biasa wanita itu selalu tidur membelakangi Bryan, berhari-hari kemarin mereka saling membelakangi tapi kini pria itu menghadapnya dan kini ia tersentak saat kedua tangan mendekapnya dari belakang
" Bryan lepaskan aku." pekik Jiana meronta karena terkejut
" Aku sedang sakit Ji, lembutlah sedikit padaku." saut Bryan bergumam dengan nafas panas menerpa kulit leher Jiana
Seketika Jiana berbalik menghadap Bryan, jemarinya terulur menyentuh dahi Bryan yang memang sangat panas
" Kau demam." ucap Jiana lalu ia menatap Bryan yang juga menatapnya
" Sebentar aku akan mengambil obat penurun demam " Jiana hendak bangun namun ditahan tangan Bryan, Lalu jemari kekar itu hinggap dipipi Jiana, mengelusnya pelan
"Aku sakit karena merindukanmu." bisiknya lembut membuat Jiana tertegun
" Aku ingin bibirmu." bisik Bryan lagi mendekat mengikis jarak, seperti apa kata ibu mertuanya Bryan akan baik lagi jika ada maunya
" Bolehkan Ji?" tanya Bryan mulai mengusap sensual bibir itu dengan ibu jarinya, jakun pria itu naik turun karena terus meneguk ludahnya kasar
Sebagai jawaban, Jiana mememjamkan matanya memberi kesempatan pada Bryan untuk mengeksplor bibirnya. Bryan selalu bersemangat meskipun tubuhnya sedang tidak sehat, ia mulai memberikan ciuman lembut yang perlahan menjadi ciuman maut pada Jiana yang kewalahan membalasnya, lidah Bryan benar-benar nakal dirongga mulutnya
Bryan bergerak naik ke atas tubuh Jiana, ia melepaskan bibirnya dan menatap Jiana. Tatapan itu menerkam ingin melahap Jiana dan jemarinya naik hinggap dikancing piyama Jiana, Bryan sangat gatal ingin menelanj*ngi istrinya namun ia tak mau jika Jiana tak mengijinkannya
" Bukankah kau sedang sakit?" tanya Jiana menyentuh jemari Bryan yang hinggap dikancingnya
" Aku masih kuat." saut Bryan menatap lekat, mengagumi, mulai memuja wajah itu dan hal itu menyihir Jiana, terlena dan luluh sudah ia pada pesona Bryan
Bryan mengerutkan dahinya kesal saat Jiana menepis jemarinya tapi seperdetiknya ia tersenyum lebar saat Jiana membuka kancing piyamanya satu persatu, malam ini sepertinya Jiana benar-benar akan menyerahkan tubuhnya pada Bryan. Pria itu segera memberikan ciuman maut yang lebih maut dari tadi pada Jiana sambil mengambil alih membuka kancing piyama Jiana
Dalam buka membuka Bryan tentu sudah terlatih, tak terhitung satu menit kini pria itu sudah berhasil melepaskan piyama tidur dan br* Jiana membuat Jiana terkejut dan spontan menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya
Bryan tersenyum lucu, pelan-pelan ia menarik tanga menyilang itu. " Sekarang tidak bisa berhenti, kau sudah menyerahkan dirimu padaku sayang." bisik Bryan nakal
-
-