
-
-
Bryan merubah posisinya kebelakang dan mendekap Jiana lalu menciumi pipi wanita itu. Pria itu memang tak pernah tahu malu untuk menunjukan kemesraannya didepan umum
" Bukankah kamu sudah terlambat?" tanya Jiana memegang kedua lengan Bryan didada atasnya
" Iya ikutlah sebentar denganku." ajak Bryan melepaskan dirinya lalu meraih jemari Jiana
" Bagaimana dengan Kya?"
" Dia sedang belajar." saut Bryan lalu menuntun Jiana menuju mobilnya terparkir dihalaman depan sekolah
Bryan membuka pintu untuk Jiana, setelah wanita itu masuk barulah dirinya masuk kekursi yang sama dengan Jiana, keduanya duduk berdempetan dikursi samping kemudi itu. Bryan segera membawa Jiana dalam pelukannya, mengelus rambut itu dengan lembut
" Makan siang nanti aku akan menjemputmu dan Kya."
" Bukankah kamu belum pulang bekerja?" mendengar itu Bryan mengurai pelukannya, ia cubit dagu Jiana
" Aku seorang bos, siapa yang berani melarangku." sautnya terkekeh lucu lalu kembali memeluk Jiana
" Jangan kemana-mana, aku akan menjemputmu."
" Baiklah aku dan Kya akan menunggu."
" Aku akan pergi sekarang, jaga putri kita baik-baik."
Jiana tersenyum dan menganggukan kepalanya.
" Dilarang mengagumi pria lain." tegur Bryan
" Disini tidak ada pria." saut Jiana datar membuat Bryan melepaskan pelukannya, ia menarik dagu Jiana lalu mengecup bibirnya
" Aku tidak rela mata indahmu menatap pria lain. Ingat kamu punya suami!" Jiana terkekeh ia menepuk pelan pipi Bryan
" Iya iya kenapa cerewet sekali."
" Karena aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak mau Kya punya ayah tiri." Lagi-lagi Jiana terkekeh karenanya
" Ya ya .. aku akan setia padamu Bryan. " saut Jiana
Bryan segera menarik Jiana duduk dipangkuannya kemudian mengelus pelan perut Jiana. Terlihat sekali pria itu menginginkan seorang bayi tumbuh diperut Jiana namun Bryan tak mau membebani sang istri dengan kemauannya. Bryan akan membiarkan semuanya mengalir sesuai jalan Tuhan, jika Tuhan memberikan kepercayaan lagi padanya dan Jiana, tentu ia akan sangat bersyukur
Jiana memeluk Bryan menempelkan pipinya didahi Bryan membuat Bryan memejamkan mata, rasanya pelukan ini terasa nyaman untuk Bryan dan Jiana hingga mereka berlama-lama dalam posisi itu. Setelah saling mengecup bibir, Bryan membiarkan Jiana keluar dari mobilnya lalu ia menjalankan mobil itu menuju kantor
Bryan memang seenaknya, pukul 10: 30 ia baru datang hal itu membuat Darwin yang sedang berdiri dimeja resepsionis menatapnya dengan kesal, jika benci jangan ditanya lagi, pria itu teramat membenci Bryan
" Pagi bos!" sapa seorang wanita cantik yang tercantik dikantornya pada Bryan yaitu monica
Bryan hanya mengangguk, pria itu mengabaikan Monica dan semua kariawan cantiknya. Ia hanya melenggang masuk kedalam lift khusus dirinya dan para staf. Hal ini menjadi sebuah keanehan untuk semua orang karena biasanya Bryan tak pernah menggunakan lift itu. Pria itu senang memakai lift bersama para bawahan cantiknya
" Sialan, pak Bryan makin cuek aja." gerutu Monica menyambangi meja resepsionis dimana Darwin berada
" Kupikir semua orang juga bilang begitu. Mereka bilang pak Bryan jarang tersenyum dan sejak beberapa bulan kebelakang tidak pernah membawa wanita lagi kemari." saut salah satu resepsionis disana yang tak kalah cantik dari Monica
" Jangan-jangan dia sudah menikah." gumam salah satu dari mereka lagi yang ikut menimbrung
" Ah yang benar saja, jika menikah tentu pernikahannya akan sangat mewah bukan?" saut Monica ketus
Sementara yang jadi bahan perbincangan tampak santai dikursi kerjanya. Bibirnya senyum-senyum sendiri dengan tatapan pada layar ponsel
" Emmmh sayang aku merindukanmu." gumam Bryan mendekatkan ponsel dan menciumi layarnya yang bergambar Jiana dengan bikini orange dengan gemas sudah seperti orang gila dimata Darwin yang kini berdiri diambang pintu
Melihat Darwin, Bryan cepat-cepat mematikan ponselnya dan memulai pekerjaannya yaitu membubuhkan tanda tangan dibeberapa berkas yang menumpuk diatas meja kerja. Pria itu sok sibuk dan mengabaikan Darwin
" Siang nanti ada pertemuan dengan klien dari PT Nusa Abadi." ucap Darwin dengan tatapan pada Gadgetnya
" Tunda menjadi jam 3, jam makan siang aku sibuk." saut Bryan
" Ini tidak bisa diundur, tiga hari yang lalu anda menundanya menjadi hari ini- "
" Sebenarnya yang bos disini siapa? kau atau aku?" potong Bryan menatap Darwin
Darwin menggertakan giginya, ia dan Bryan terus saja berselisih tapi pada akhirnya Darwin lah yang mengalah karena nyatanya kekuasaan Bryan tak sebanding dengannya sedikitpun. " Baiklah." jawaban Darwin membuat Bryan menyeringai puas dan kembali pada pekerjaannya
Selang satu jam setelah kepergian Darwin, Bryan merasa lelah dengan pekerjaannya lalu ia mengambil ponselnya lagi. Untuk mengobati rasa lelahnya ia melihat lagi foto Jiana, lekuk tubuh itu membuat jakunnya naik turun
" Jia .. Jia .. coba kau disini, aku akan menidurimu lagi." gumam Bryan terus menggelengkan kepala mengagumi betapa cantiknya Jiana, wanita itu bahkan menggeser sang ibu yang notabennya wanita tercantik Bryan
" Wow seksi." suara bariton David membuat Bryan berjingkat kaget dan segera mematikan ponselnya. Bryan geram lalu memutar tubuh dan berdiri, ia menendang lutut David sekuat tenaga hingga pria itu mengaduh sakit
" Sakit sialan!" teriak David
" Bisa-bisanya kau melihat tubuh istriku." bentak Bryan menendang sekali lagi namun David menghindar dan berlari menjauh
Bryan mengepalkan kedua tangannya lalu mengejar David, ia ingin menghajar mulut David yang menurutnya selalu menyebalkan tapi David kembali berlari dan akhirnya kedua orang itu kucing-kucingan sehingga ditertawakan Arnold
" Kemari Brengsekk, kau belum pernah merasakan tinjuku ya!" bentak Bryan menggema diruangan itu
" Ayolah biasanya juga kau selalu berbagi wanita dengan kami."
" Jiana, istriku dia berbeda dengan wanita lain." saut Bryan ketus
Merasa lelah karena mengejar David, Bryan pun duduk dengan menghempaskan tubuhnya pada kursi singgle
" Ada apa kalian kemari?" tanya Bryan
" Kami hanya merindukanmu, memangnya salah?" saut Arnold
" Menjijikan!" umpat Bryan bergidik geli dengan ucapan Arnol membuat keduanya tertawa. Davus yang paling keras, pria itu masih berdiri diujung sofa, siap-siap takut Bryan mengejarnya lagi
" Kita sudah lama tak minum." Arnold mengeluarkan beberapa minuman beralkohol keatas meja
" Aku sudah berhenti minum, Jiana tidak menyukainya."
" Astaga, kenapa kau bucin sekali pada Jiana." gerutu Arnold
" Bucin? jangan gila." saut Bryan menggelengkan kepalanya jengah akan Arnold
" Jelas-jelas kau bucin akut dengan istrimu itu, kau bahkan tidak pernah menemui kami lagi diklub setelah menikah."
" Itu karena aku bermain bersama Kya!" saut Bryan, rasa gengsi tingkat tinggi membuat Bryan tak mau mengakui bahwa sebenarnya ia memang sudah bertekuk lutut pada Jiana. Terlebih kini ada Darwin, pria itu masuk membawa beberapa gelas, sepertinya atas perintah kedua temannya itu
" Jangan selalu membawa Kya sebagai alasan, kau yang bucin dan tergila-gila pada istrimu itu."
" Jiana yang tergila-gila padaku sehingga aku tak bisa kemana-mana karena terus mengeloninya." saut Bryan kali ini David dan Arnold tertawa lagi tapi sangat terdengar memuakan ditelinga Darwin
" Ayolah kita minum, aku sengaja jauh-jauh membelinya khusus untukmu karena rasa rinduku." ucap Arnold merayu sahabatnya itu
" Menjijikan berhenti bicara seperti itu." saut Bryan lalu merampas satu botol minuman ditangan Arnold dan meneguknya hingga setengah
" Darwin kemarilah, bergabung dengan kami."
" Ah tidak, terima kasih." saut Darwin seraya meletakan beberapa gelas diatas meja lalu berjalan menuju meja Bryan dimana semua berkas berada untuk memeriksa pekerjaan Bryan, karena pria itu sering sekali melakukan kesalahan. Darwin membawa semua berkas itu menuju keruangannya meninggalkan ketiganya
Bryan menyandarkan tubuhnya, rasa pusing mulai menyergap tapi tak membuatnya berhenti. Pria itu meminum lagi minuman ditangannya, kali ini tandas tak bersisa. Merasa masih kurang Bryan mengambil lagi dan menghabiskan semuanya membuat kedua temannya terbahak-bahak
" Dasar gila, dia yang menolak tapi dia yang paling banyak." ucap David
" Aku merindukan istriku, aku ingin menidurinya sekarang." racau Bryan
" Jia .."
" Sayang aku merindukanmu!"
Bryan terus meracau membuat kedua temannya yang juga mulai mabuk tertawa. Mendengar keduanya Bryan juga ikut tertawa kencang
" Kalian tidak tahu saja, tubuh istriku sangat nikmat. Jiana sangat liar dan nakal diranjang." racau Bryan
" Pantas saja kau betah dirumah, sekarang kau punya yang lebih pintar dari Clarissa begitu?" racau David
Darwin yang akan masuk keruangan itu berhenti mendadak ditempat, tubuhnya menegang mendengar perkataan Bryan
" Sialan dia ibu Kya. Jangan samakan dia dengan Clarissa. Lagipula Jiana tak ada tandingannya, tubuhnya berbeda dan lubangnya sungguh sempit. Aaahhh Jia kau membuatku gila .. " racauan Bryan kian membuat Darwin kesal, dengan tergesa-gesa ia mendekat. Tangannya sudah terkepal ingin melayangkan tinju tapi sekali lagi Darwin pikir semua tidak ada gunanya, Jiana sudah menerima Bryan dan Darwin pun harus menerima keputusan Jiana
Darwin menghela nafasnya panjang. Sekarang ia yang harus menanggung ketiganya yang kini mabuk berat. Darwin merutuki kedua teman Bryan yang sering sekali menyusahkannya karena kerap mengajak Bryan minum sampai mabuk berat. Ketiganya memang sering mabuk bersama dikantor dan merepotkan beberapa orang disana
Darwin memanggil tiga satpam disana untuk menggendong ketiga pria mabuk itu. Bahkan Darwin harus membatalkan janji penting bersama klientnya karena Bryan. Ketiganya dimasukan kedalam mobil Darwin saling bertumpuk duduk dibelakang
Darwin mengantarkan Arnold dan David terlebih dulu kerumah mereka barulah kerumah Bryan. Saat tiba ia segera keluar dan menggendong Bryan dipunggung, berjalan menuju pintu utama rumah itu
" Sialan, sampai kapan kau menyusahkanku brengsek!" umpat Darwin kesal lalu ia menekan bel pintu rumah itu
" Jia .. ambilkan air .. "
" Sayang ... ambilkan air untukku .. "
Suara gumaman itu terdengar jelas ditelinga Darwin membuatnya semakin muak pada Bryan. Bodohnya Jiana menerima Bryan dan membuatnya frustasi malam itu, yaa saat melihat Jiana dan Bryan berciuman, hati Darwin hancur berkeping untuk kesekian kalinya
Tak lama pintu rumah itu terbuka menampilkan seorang wanita cantik yang tentu tak terasa asing untuknya, dulu ia sering melihatnya bersama Bryan
" Kau? dimana Jiana?"
-
-