Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Aku tidak mau kau terluka



-


-


" Tubuhmu harum." gumam Bryan masih dengan bibir menyentuh punggung Jiana, wanita itu hanya tersenyum manis mendengar ucapannya


Tak lama Bryan melepaskan dirinya dari Jiana, ia beranjak bangun untuk memakai pakaian santainya yang senada dengan pakaian yang dipakai istrinya yaitu hitam dan yang membedakan hanyalah celana jeans navi Bryan


Lalu Bryan menarik Jiana, menggenggam jemari itu menuju keluar. Tampak diruang tamu semua orang sedang santai dan sepertinya dari mereka baru saja datang


" Queen kau belum istirahat?" tanya Jiana pada Queen yang ikut duduk diruang tamu masih dengan jaket Bryan dan koper ditangannya


" Aku tidak tahu harus menempati kamar yang mana, kakak bisakah kita tidur sekamar." saut Queen dengan wajah memelas membuat Bryan merasa geram melihatnya


" Kau ini tidak tahu diri sekali. Kakakmu itu sudah bersuami, bisa-bisanya kau menyuruhnya untuk tidur denganmu." bentak Bryan pelan


" Bryan kenapa kau kasar sekali." gerutu Jiana menatap Queen dan Bryan bergantian, ia kembali dibuat bingung dengan Bryan yang terlihat tak menyukai adiknya


" Adikmu ini sangat berlebihan. Masih untung aku mengijinkannya untuk ikut dan apa sekarang? dia mau tidur denganmu?" gerutu Bryan membuat Jiana kembali kesal dan melepaskan pegangannya dari Bryan dan beralih mendekat pada Queen


" Queen ayo kakak akan mengantarmu mencari kamar."


" Jiana." bentak Bryan pelan memelototkan kedua matanya


" Boy, ada apa denganmu?" tanya Ken, kini pria itu yang memelototi Bryan memperingati pria itu agar tak keterlaluan. Meskipun Queen adalah mantan kekasihnya namun saat ini wanita itu adalah adik iparnya bukan?


Namun Jiana tak menghiraukan Bryan, ia mencoba menarik adiknya untuk berdiri." Berani kau membantah suamimu?" teriak Bryan kesal


" Ji, biar Momy saja yang mengantar Queen." ucap Jeny sambil berdiri


" Tidak tante, biar aku bersama kakak saja." saut Queen kukuh semakin membuat Bryan marah. Segera Bryan mendekat dan menarik paksa Jiana, menariknya menuju dapur meninggalkan semua orang yang terdiam dengan pikiran masing-masing, sepertinya kehadiran Queen dalam liburan itu membuat semua orang merasa tak nyaman dan canggung terlebih mereka sangat tahu siapa Queen bagi Bryan dulu


" Apanya yang salah?"tanya Jiana membentak saat mereka tiba didapur membuat dua pelayan vila disana segera pergi dari dapur menghindari keduanya


Mendadak Bryan melunak, ia memutar tubuhnya menghadap Jiana." Bukankah kamu sangat lapar, aku hanya tidak mau kamu kelaparan." saut Bryan lembut beralasan


Jiana menepis tangan Bryan yang memegang lengannya namun Bryan tak membiarkan itu malah tangannya turun pada jemari Jiana dan menggenggamnya


" Tidak bisakah kau sedikit lembut pada Queen, dia adikku. Mungkin aku tidak terlalu senang dengan kehadiran Queen tapi dia adikku, kami sedarah dan seharusnya kami saling menyayangi meskipun ini terasa tak adil untukku." tutur Jiana dengan kedua mata berkaca


" Ji .. " lirih Bryan merasa bersalah, sebenarnya Bryan tak mempermasalahkan adanya Queen tapi Bryan hanya tak ingin hubungannya dan Jiana retak karena kehadiran wanita itu setelah susah payah selama ini ia mendekati dan mengambil hati istrinya


" Aku tidak mengerti apa alasanmu tidak menyukai Queen, tapi .. bisakah perlakukan dia sebagai seorang tamu dirumah kita?"


" Maaf aku tidak bermaksud kasar hanya saja aku tidak mau kamu terluka." ucap Bryan mengelus pelan pipi Jiana


" Kenapa aku harus terluka?" tanya Jiana membuat Bryan membungkan dan hanya menatapnya


" Bryan kenapa aku harus terluka?" tanya Jiana lagi


" Emmh .. bukankah kamu sangat kecewa pada mamamu?" tanya Bryan, entah kenapa lidahnya selalu kelu saat akan mengatakan yang sejujurnya. Padahal ia dan Queen sudah tak memiliki hubungan apapun, tidak ada salahnya bukan jika ia mengatakan yang sejujurnya?


"Aku memang merasa sakit dan kecewa pada mama tapi aku sudah memutuskan akan menerima semuanya." saut Jiana, kini Jiana meraih kedua tangan Bryan dan menggenggamnya


" Bryan." panggil Jiana


" Boy. " panggilan lembut itu menyadarkan Bryan, seulas senyum manis terbit dibibir Bryan. Panggilan Jiana ini lebih terdengar indah dari lagu favoritnya karena ini pertama kalinya ia mendengar dari bibir Jiana


" Aku akan berusaha. Apapun itu, jika untukmu aku akan berusaha Ji." saut Bryan membuat Jiana tersenyum sekaligus terpesona untuk kesekian kalinya, Bryan selalu punya cara untuk membuat jantungnya berdebar-debar


Keduanya duduk dimeja makan. Bryan membuka tutup saji disana mengambil sashimi yang ia pesan untuk istrinya. Sambil menatap Jiana yang terlihat berbinar melihat sashimi, Bryan mengambil sumpit dan menyumpit potongan ikan salmon segar lalu menyuapkan pada Jiana yang seketika itu juga membuka mulutnya lebar


" Enak?" tanyanya


Jiana mengangguk cepat dengan mulut mengunyah pelan membuat Bryan tersenyum dan menyuapi Jiana lagi


" Kamu menyukai makanan Jepang?" tanya Bryan seraya mengusap saus yang tersisa disudut bibir Jiana, tanpa jijik ia menjilat saus itu membuat Jiana tersipu malu dengan wajah merona


" Ada apa?" tanya Bryan, suara bariton itu terdengar seksi ditelinga Jiana


Jiana hanya tersenyum lalu mengambil alih sumpit ditangan Bryan. Ia menyuapi Bryan yang juga langsung membuka mulutnya lebar. Keduanya saling menyuapi dan mengunyah sambil saling menatap dengan pikiran masing-masing. Jemari Bryan terulur mengusap pipi merona Jiana, ia hendak mencium bibir itu namun terhenti karena teriakan Kya yang baru saja datang bersama Dean


" Daddy. " teriakan itu melengking membuat Jiana dan Bryan tertawa dengan betapa lucunya suara buah hati mereka


" Terima kasih Jiana, kamu memberikan hal yang sangat indah untukku." ucapnya tulus menggenggam jemari Jiana diatas meja makan lalu keduanya menoleh pada Kya yang sudah mengacungkan kedua tangannya sambil berlari kencang menghampiri mereka


" Apa dia sudah tidur?" tanya Jiana


" Ya, tadi dia tidur saat diperjalanan." saut Dean lalu tanpa malu mengambil sumpit ditangan Bryan dan menyumpit sashimi Jiana


" Ayolah kak, itu milik Jiana."


" Aku hanya mencobanya, pelit sekali." gerutu Dean memberikan sumpit itu kembali ketangan Bryan dan melenggang pergi meninggalkan mereka


" Kya darimana saja?" tanya Bryan seraya mengangkat tubuh Kya duduk dipangkuannya


" Kya main ke taman hibulan belsama Onty dan Papa." sautnya dengan manik cerah menatap Bryan, pria itu tersenyum dan mendaratkan ciumannya di kening Kya lalu melihat Jiana yang tersenyum menatap keduanya dengan kedua mata yang terlihat berkaca dimata Bryan


" Apa Kya sudah makan?" tanya Jiana


" Kya sudah makan dan minum susu belsama Onty. Mum itu apa?" tanya Kya menunjuk sashimi diatas meja


" Ini Sashimi, Kya mau?"


Gadis kecil itu tampak menimbang-nimbang apa yang ibunya tawarkan. Tak lama Kya membuka mulutnya lebar membuat Jiana menyuapi potongan ikan salmon kemulut kecilnya


Oek


Tak sampai dua detik salmon didalam mulutnya, Kya memuntahkannya lagi kelantai


" Mum itu tidak enak." bentaknya bergidig jijik menatapi salmon di lantai. Tawa Bryan dan Jiana menguar didapur memperhatikan Kya, tingkah dan suara cadel putri mereka memang selalu menggemaskan dimata keduanya


-


-