
-
-
Sentuhan hangat dibibir dan pipi membuat Jiana terbangun dari mimpi indahnya. Ia menggeliyatkan tubuhnya yang terasa lelah karena kelakuan Bryan semalam. Pria itu seperti pria yang baru pertama kali merasakan bercinta hingga terus menerus ingin selalu mengulang pergumulannya dengan Jiana
Pelan-pelan Jiana membuka mata, ia tersenyum disajikan pemandangan indah didepan matanya. Suaminya ini sudah tampan dengan setelan jas kerjanya
" Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Jiana mengucek kedua matanya yang masih terasa lengket
" Tidurmu sangat pulas, aku tidak tega." saut Bryan membelai pipi Jiana
" Kamu sudah sarapan?"
Bryan menggeleng pelan." Aku menunggumu." sautnya dengan senyum manis membuat Jiana terpesona dan menangkup wajahnya. Ia tatap sejenak wajah itu lalu mengangkat kepalanya untuk mencium bibir Bryan dengan begitu lembut
"Tunggu sebentar, aku akan memasak untukmu." bisik Jiana mendorong Bryan menjauh lalu beringus duduk. Ia membulatkan kedua matanya saat melihat kain tipis tranfaran yang melekat ditubuhnya
Lalu kepala itu berputar menoleh pada sang suami yang tersenyum nakal menatapnya. Jiana menghela nafasnya saat pria yang sedang duduk disisi ranjang itu kini naik merangkak mendekatinya
Cup
Bibir itu langsung mendarat dipipi Jiana dengan gemas hingga mengeluarkan suara. Jiana menghela nafasnya lagi dengan wajah jengah, ia tahu apa yang akan dilakukan Bryan padanya
Tidak ada waktu untuk menolak, Jiana kembali didorong Bryan untuk berbaring. Pria itu mengukung Jiana, tangannya tak diam membelai dari wajah ke bawah dan berhenti dibuah dada, lihatlah saking transfarannya kain itu, putin* Jiana sampai terlihat dari luar
Dan raupan bibir itu membuat Jiana pasrah, ia hanya diam menikmati apa yang dilakukan Bryan. Padahal Jiana belum mandi tapi pria itu tetap saja sangat bernafs* padanya. Gerutu Jiana dalam hati
Dengan tergesa-gesa Bryan menurunkan resleting celananya, sepertinya pria itu sudah tidak tahan untuk menyatu dengan Jiana. Bahkan Bryan tak melepaskan lingerie itu ditubuh Jiana, ia hanya menyingkap tepat dibagian pangkal paha saja
" Aaahhh sssshhhh .. " suara Jiana dan Bryan mulai menggema dikamar itu, pagi ini suasana kembali diselimuti hawa panas tubuh keduanya apalagi Bryan, kemeja yang digunakannya sampai basah oleh keringat dan mencetak tubuh kekarnya
Tak tahan, Bryan membuka kemeja itu dan melemparnya kelantai. " Ouuhh baby aaaaahhhh .. " erangnya dengan tubuh bergerak penuh semangat
Jiana kembali dibuat tak berdaya, tubuh itu melemas dibawah kungkungan Bryan." Sudah sayang jangan lagi." ucap Jiana membuat Bryan terkekeh lucu
" Hari ini aku akan mendaftarkan Kya sekolah jadi jangan lagi." tegur Jiana masih tersengal
" Ya." hanya itu yang keluar dari bibir Bryan, pria itu tersenyum lucu memperhatikan wajah Jiana yang dipenuhi keringat
Bryan berguling kesamping tidur terlentang menatap langit-langit kamar mereka dengan jemari kiri mengelus perut Jiana, rasa puas yang selalu ia dapatkan setelah meniduri Jiana. Senyum mengembang dibibir Bryan, jemari itu nakal lagi naik keatas pada buah dada merema*nya pelan yang saat itu juga ditepis Jiana
Bryan terkekeh lucu." Ayolah, pelit sekali." goda Bryan
Wanita itu terburu-buru bangun dan turun dari ranjang sambil menyilangkan kedua tangannya di dada menutupi hal itu dari Bryan, Jiana berlari menuju kamar mandi membuat Bryan terbahak kencang
Sembari menunggu istrinya, Bryan mengambil tisue diatas meja nakas untuk membersihkan adiknya dari sisa-sisa cairannya yang masih menempel disana. Setelahnya pria itu melempar tisue kelantai lalu menaikan resletingnya kembali, Bryan memang seperti itu tak pernah menyimpan sesuatu pada tempatnya
Tak lama Jiana keluar dari kamar mandi dan hal itu tak luput dari perhatian manik hitam pekat yang masih nyaman berbaring dikasur. Jiana yang hanya memakai handuk membuat Bryan jahil, ia segera mengambil ponselnya yang didalam saku celana kemudian memotret diam-diam istrinya
Bryan terkikik lucu, galeri itu dipenuhi foto Jiana yang dari awal memakai handuk dan sampai detik ini saat wanita itu mendekat dengan setelan santai, yaitu celana jeans dan kaos longgar panjang yang menutupi seluruh lehernya. Lalu Jiana merampas ponsel Bryan karena menyadari semuanya
" Jangan menghapusnya, kamu menghapus semua koleksi filmku dan sebagai gantinya adalah kamu."
" Aku bahkan berpikir akan membuat video saat kita bercint*." saut Bryan dengan tawa saat melihat kedua mata Jiana memelotot padanya
" Minggirlah aku akan membereskan semuanya." perintah Jiana mengibaskan satu tangannya. Bryan menuruti istrinya, pria itu bangun menuruni ranjang tapi sebelum menjauh Bryan kembali jahil memukul bokong Jiana dengan telapak tangannya
Jiana hanya mendengus kecil lalu menggulung selimut dan sprei, sisa percintaanya dan Bryan berceceran disana makanya ia akan menggantinya dengan sprei baru. Jiana memasukan semua itu ke keranjang pakaian kotor lalu ia kembali pada Bryan yang hanya duduk disofa dengan manik tak lepas memandangnya
Jiana menunjuk tisue-tisue yang bertebaran dilantai, penyababnya siapa lagi kalau bukan sang suami. Lihatlah pria itu malah menyengir bukannya meminta maaf, Jiana menghela nafasnya kesal, tanpa jijik ia memunguti tisue-tisue yang masih basah itu lalu ia buang ketempat sampah yang berada disisi meja nakas
Setelah membersihkan semua kamarnya Jiana keluar diikuti Bryan dibelakang. Pria itu tersenyum nakal memandangi bokong padat Jiana yang melenggak lenggok saat berjalan, tentu pikiran Bryan mesum saat ini
Jiana tersenyum melihat Kya sedang asyik menonton televisi bersama Queen. Gadis kecil itu menyandarkan tubuhnya pada Queen, entah kapan keduanya berkenalan yang pasti Jiana merasa senang melihat itu
Jiana segera mendekat dan langsung berjongkok didepan Kya. Gadis kecil itu spontan memeluk lehernya." Emmmh sayang mumy." ucap Jiana mengurai pelukan kedua tangan kecil itu
" Apa Kya sudah minum susu?"
Gadis kecil itu mengangguk lalu mencium pipi Jiana lalu memberikan cengiran ompongnya membuat Bryan gemas, pria itu brrputar dan langsung mengambil alih Kya, menjauhkannya dari Queen.
Pria itu menciumi pipi Kya membuat Kya cekikikan lalu Bryan membawa Kya menjauhi ruang keluarga meninggalkan Jiana dan Queen
" Emmh Queen kau pasti belum sarapan?"
" Iya, aku menunggu kakak." jawab Queen dengan senyum tipis
" Aku akan memasak sekarang."
" Kenapa kakak tidak menyuruh pembantu untuk memasak?" tanya Queen menghentikan Jiana yang akan pergi
" Bryan tidak suka masakan orang lain." saut Jiana, ia mendudukan dirinya di samping Queen
Queen menatap lekat Jiana, rasa penasarannya kian tinggi." Berapa usia Kya?" tanya Queen
" Dua bulan lagi dia berusia 5 tahun."
Queen merema* kedua jemarinya, hatinya berdenyut nyeri dan ia merapatkan giginya menahan semua itu, rasa marah dan hancur didalam hatinya. Queen menghela nafasnya pelan." Berapa lama kalian berpacaran?"
Jiana terdiam, dahinya berkerut heran akan pertanyaan itu." Kami tidak berpacaran." saut Jiana, ia beranjak berdiri dengan wajah heran
" Lalu bagaimana Kya ada?"
" Apa itu cinta satu malam?" tanya Queen
" Eemmh maaf Queen, itu masalah pribadiku." saut Jiana beranjak meninggalkan Queen. Jiana merasa kesal dengan Queen yang begitu banyak bertanya apalagi pertanyaan itu hal pribadi. Jiana sudah memaafkan Bryan dan akan menutup tidak akan mengungkit semua masalalu pahitnya bersama Bryan
" Jiana, jadi kau salah satu jalan* Bryan." gumam Queen dengan manik tajam menatap punggung wanita yang ia panggil kakak
-
-