
-
-
Saat mendengar suara deru nafas Jiana yang teratur, Bryan mengurai pelukannya. Untuk sejenak ia mengagumi wajah cantik istrinya ketika tidur, ia belai dengan jemarinya dan kecupan lembut mendarat dikening Jiana
" Your are mine Jiana .. " gumam Bryan lalu melepaskan dirinya secara pelan-pelan dari Jiana. Ia beranjak bangun dan menuruni ranjang, menyelimuti kedua wanita yang sedang meringkuk diatas kasur dengan selimut tebal. Udara sekitar vila memang sangat dingin dimalam hari karena terletak di tengah-tengah perkebunan yang lumayan jauh dari pemukiman warga
Bryan keluar kamar berniat ikut bergabung bersama keluarganya namun saat baru melangkah keluar sebuah jemari lentik menarik Bryan menuju ke balkon belakang vila dimana tak ada siapapun disana
" Apa yang kau lakukan?" tanya Bryan menghempas kasar tangan Queen dan melipat kedua tangannya didada
" Aku merindukanmu." saut Queen dengan suara lembut dan lihatlah tampilan Queen malam ini, sangat cantik dengan gaun malam merah yang seksi
" Kau GILA." bentak Bryan dengan tatapan mulai menajam
" Kenapa? apa karena sekarang kamu adalah kakak iparku?" tanya Queen mencoba mendekat
" Bryan aku tidak menerima semuanya, aku kembali untukmu. Kupikir kau sangat jahat menikahi kakakku sendiri. Katakan padaku, itu hanya kesalahan bukan?" tanya Queen dengan mata menggenang airmata
" Sadarlah dan tahu tempatmu." saut Bryan seraya berbalik meninggalkan Queen namun wanita itu menahan Bryan dan berlari berhambur memeluk tubuhnya dari belakang
" Aku sungguh merindukanmu, tubuhmu, sentuhanmu, semuanya .. aku sangat merindukanmu. Aku akan menjelaskan semuanya alasanku pergi waktu itu!"
Bryan menghela nafasnya lalu melepaskan paksa kedua tangan Queen dari tubuhnya. " Tidak perlu, itu tidak berarti lagi untukku. Aku kakak iparmu sekarang, jadi hargai Jiana sebelum aku berbuat kasar." saut Bryan melangkah mencoba meninggalkan Queen
" Apa kau mencintai Jiana?" tanya Queen membuat Bryan berhenti melangkah, ia memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar mendengar pertanyaan Queen. Ia memutar tubuhnya pada Queen
" Kau pikir adanya Kya karena apa?" tanya Bryan membuat Queen membeku ditempat. Bryan menyeringai melihat raut wajah masam Queen
" Bukankah kau wanita yang punya harga diri? kau seharusnya tidak menggoda kakak iparmu
atau jangan-jangan tidak ada pria yang mengejarmu selama ini?"
" Shut up Bryan, kau tidak tahu selama ini aku tidak pernah melupakanmu."
Bryan tak menggubris, ia meninggalkan Queen begitu saja dan berjalan menuju ruang keluarga. Tampak dari mereka sudah tak ada yang ada kini hanya Gerald dan Dean saja
" Ayolah, kau bukan pengantin baru Boy, kau betah sekali dikamar." ledek Gerald
" Sudah kubilang aku harus menidurkan kedua wanitaku dulu." Bryan mendudukan dirinya disamping Dean, pria itu sama seperti Gerald tampak sedikit mabuk karena terlalu banyak meminum cairan merah. Lalu Bryan mengambil botol anggur merah diatas meja menuangkannya kedalam gelas. Ia mendekatkan kebibirnya dan menyesap aroma anggur merah itu sebelum meneguknya habis
" Ayolah, baru dua botol kalian sudah mabuk." ucap Bryan
" Aku tidak mabuk, aku ingin menyentuh Chesy malam ini jadi aku tidak akan mabuk." ucap Gerald setengah sadar, jika dalam keadaan sadar mana bisa Gerald mengatakan hal seperti itu karena Gerald tak seperti Bryan yang suka berkata mesum seenaknya
" Chesy belum 5 bulan ada apa denganmu adik ipar?" tanya Dean mengedipkan sebelah matanya pada Gerald
" Memangnya ada apa dengan 5 bulan?" tanya Bryan
" Aku lupa kalian belum berpengalaman." guman Dean tersenyum lucu menatap Bryan dengan wajah penasarannya, dan sebagai yang paling tua akhirnya Dean berpura-pura menjelaskan kepada kedua adik iparnya itu
" Kenapa selama itu." gerutu Bryan membuat Gerald dan Dean terbahak karena berhasil mengerjai Bryan yang tampak percaya dengan ucapan Dean
Ketiganya larut dalam obrolan mesum sambil tertawa terbahak-bahak, sesekali juga cairan merah membasahi tenggorokan mereka. Untuk kali ini ketiganya merasa nyambung, biasanya hanya Dean dan Gerald saja yang berbicara tentang ranjang karena pada waktu itu Bryan belum menikah, ya meskipun dalam hal ranjang Bryan sangat berpengalaman
Menjelang subuh Bryan masuk kedalam kamarnya, ia langsung menghempaskan tubuhnya keranjang sambil merengkuh Jiana dari belakang. " Jiana kau membuatku gila." gumam Bryan dengan mata terpejam. Mendengar suara Bryan, tidur Jiana terusik. Wanita itu membuka matanya dan bergerak menghadap Bryan
" Hanya sedikit sayang." saut Bryan lalu ia membuka matanya dengan jemari membelai pipi Jiana
" Aku tidak suka, jangan mabuk lagi." gerutu Jiana
" Iya iya aku tidak akan mabuk lagi demi kamu." gumam Bryan lalu ia memejamkan mata lagi menarik Jiana lebih erat. Bryan menyusupkan wajahnya keceruk leher Jiana membuat wanita itu menggeliyat geli
" Jiana .. "
" Jiana .. "
" Ada masalah apa?" tanya Jiana
" Tidak ada aku hanya ingin memanggilmu." bisik Bryan dan lidahnya mulai nakal dileher Jiana membuat tubuh Jiana tak diam
Dan jemari besar itu mulai merayap ke tengkuk menarik tali spagheti dress Jiana lalu turun pada pengait bra. Saat terlepas Bryan menurunkan pakaian Jiana ke bawah hingga perut membuat Jiana tersentak dengan pergerakan Bryan yang cepat
" Emmmhh .. " desah Jiana dengan tubuh meliuk tatkala bibir dan lidah itu mulai mendarat dipuncak buah dadanya bahkan ia dapat merasakan nafas Bryan yang memburu dibuah dadanya
" Bryan .." panggil Jiana, ia sudah tak bisa diam ditambah jemari Bryan yang mulai main dipangkal pahanya, menggoda Jiana hingga pangkal paha itu basah karena Bryan
Bryan tersenyum dan menurunkan ciumannya menuju perut menodai perut itu dengan tanda merah dibeberapa titik dengan kedua tangan melucuti semua pakaian Jiana
" Jiana .. " bisiknya parau lalu kembali mensejajarkan wajahnya pada Jiana, Bryan membuka mata menatap lekat wajah Jiana dikeremangan kamar mereka, mengingatkannya pada malam 5 tahun lalu. Suasananya persis seperti ini hanya saja saat itu rambut Jiana panjang dan wanita itu menangis dibawah kungkungannya
" Aku gila .. kau sungguh cantik." ucap Bryan lalu menurunkan celananya
" Ahhh .. " pekik suara Jiana sedikit kencang saat Bryan menghentakan miliknya terbenam dalam tubuh Jiana
Bryan merengkuh erat tubuh Jiana hingga dada mereka benar-benar menyatu. Ia mulai bergerak berirama dan mendaratkan bibirnya dipipi kiri Jiana, wanita itu menggigit bibir bawahnya kencang agar tak mengeluarkan suara tapi kedua tangannya tak dapat berbohong, mencengkram punggung Bryan hingga kuku-kuku lentiknya menancap melampiaskan rasa nikmat akan adik Bryan yang terus keluar masuk miliknya
" Keluarkan suaramu." bisik Bryan gemas pada Jiana lalu satu tangannya beralih pada lutut, membuka kaki Jiana lebih lebar agar Bryan semakin leluansa menghujam lagi adiknya lebih dalam pada daging lembut Jiana
Jiana yang tak tahan akhirnya mulai merintih, merasakan nikmat yang terus menjalar luar biasa ditubuhnya. Jiana menepis tangan Bryan yang menahan kakinya lalu melingkarkan kedua kaki itu kepinggang Bryan
" Nakal juga." bisik Bryan tersenyum lucu lalu mengangkat wajahnya dan meraup bibir Jiana yang tak henti merintih karenanya
" Sayang aku tidak tahan." bisik Bryan tepat didepan bibir Jiana
" Bryan .. emmmhh .."
" Ya sayang emmmhh .. "
" Aaahh Ji.. aa naa ... "
Jiana semakin merengkuh Bryan begitupun pria itu, tubuh keduanya saling menegang tubuh, Jiana bergetar hebat untuk kesekian kalinya bersamaan dengan meledaknya cair* n suaminya
" Oh shitt!" umpat Bryan merasakan nikmat yang selalu luar biasa untuknya saat pelepasannya bersama Jiana, wanita itu selalu membuat Bryan merasa melayang dan Bryan tak pernah merasakan hal itu pada wanita manapun, jangankan untuk memanggil nama sang wanita
mengerang saat bersetubuh pun ia tak pernah
-
-