Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Bertemu Mama



-


-


Tepat hari ini kandungan Jiana berusia 28 minggu. Kian hari tubuh itu semakin berisi dengan perut yang kian membuncit. Untuk sekedar berjalan pun kini Jiana jadi sangat kesulitan sehingga harus selalu dituntun oleh Bryan ataupun bi Amy


Cup


Bryan mengecup bibir itu sebelum memasuki kamar mandi. Hari ini ia akan mengantar istrinya kedokter kandungan seperti minggu-minggu sebelumnya dimana Bryan tak pernah absen memeriksa kesehatan bayi-bayinya dan Jiana


Setelah sama-sama rapi, Bryan segera menuntun Jiana dengan menggandeng bahunya. Dengan langkah pelan keduanya berjalan keluar dari kamar. Untuk sementara waktu Bryan memindahkan kamar mereka ke lantai satu agar memudahkan istrinya yang setiap saat meminta makanan dan cemilan pada bi Amy


" Tunggu sebentar sama bibi ok?" tanya Bryan pada Kya yang sedang main sepeda bersama bi Amy dihalaman depan rumah


" Ok!" saut Kya membuat sang ayah tersenyum mengusap puncak kepalanya


Bryan tak bersama pak Deden, pria itu menyetir sendiri mobilnya menuju rumah sakit keluarga. Sambil menggenggam jemari Jiana dengan satu tangannya, Bryan menoleh sejenak pada sang istri yang tampak memejamkan mata menyandarkan kepalanya pada kepala kursi." Jangan tidur."


" Aku benar-benar lelah."


" Maaf, apa aku kelewatan tadi pagi?" tanya Bryan membuat Jiana membuka mata dan menoleh padanya. Bibir itu tersenyum manis menyentuh jemari Bryan yang menggenggamnya


" Tidak, itu masih standar." Bryan tertawa lucu dengan pandangan fokus kedepan


" Kalau kamu lelah jangan memaksakan diri, jangan selalu mau diatas."


" Itu bukan kemauanku, itu kemauan sikembar!" saut Jiana sembari mengelus perut buncitnya. Bryan terkekeh melepaskan genggamannya lalu mencubit pipi chuby Jiana


" Awas saja jika sikembar sudah keluar dan kamu masih mau diatas." Jiana tertawa sembari memukul lengan itu lalu menyandarkan tubuhnya pada bahu Bryan


Bryan langsung memarkirkan mobilnya dibasement rumah sakit begitu tiba disana. Ia keluar duluan dan membuka pintu untuk Jiana." Hati-hati." ucap Bryan, lihatlah istrinya selalu kesusahan bila akan bangun dari duduk membuat Bryan bergegas membantu dengan membopongnya keluar


" Turunkan aku." gerutu Jiana menepuk pundak Bryan


" Aku akan menggendongmu."


" Ah tidak-tidak, kita akan menjadi pusat perhatian." begitulah Jiana selalu menolak padahal Bryan tidak tega melihatnya kesusahan. Bryan tak pernah mau memaksa istrinya, ia tak mau membuat Jiana marah ataupun menangis. Sudah cukup dulu ia selalu membuat wanita itu menangis


Keduanya tak membuang waktu, Bryan kembali menggandeng Jiana masuk kedalam dengan langkah pelan karena Jiana kini sudah seperti nenek-nenek yang sudah tak bisa berjalan dengan benar. Tapi tiba-tiba Jiana berhenti melangkah, wanita itu mematung." Ada apa?" tanya Bryan mengusap keringat dipelipis Jiana


" Mama .. " Bryan mengikuti arah pandang Jiana


" Tidak, mungkin kamu salah orang."


" Tidak boy .. itu mama." Bryan menghela nafas, selama ini ia selalu berusaha menjauhkan Jiana dari ibunya. Bukan apa-apa, Bryan tak mau Jiana sakit hati lagi, Bryan tak mau Jiana stress memikirkan ibunya dan membuat kandungannya bermasalah


" Jia .. "


" Biarkan aku menemuinya .. "


" Bukankah kamu sudah tidak mau menemuinya?" tanya Bryan membuat Jiana menoleh


" Aku hanya ingin menyapanya!" Bryan mengangguk lalu menggandeng Jiana mendekati sang ibu. Semakin dekat, kedua mata Jiana kian berkaca-kaca melihat tubuh itu kini kurus tak terawat dengan pakaian yang compang camping layaknya pengemis. Meskipun marah, benci namun hati kecil Jiana merasa tak tega melihat ibunya, bagaimana pun jika tak ada wanita itu Jiana tak akan lahir kedunia ini


Jiana berhenti melangkah untuk sesaat, ia mengusap sudut matanya. Jiana menarik nafas pelan dan mengangkat wajahnya, ia ingin terlihat kuat dan tangguh dihadapan sang ibu. Jiana hanya berdiri dua meter dari tempat sang ibu berdiri yaitu ruang ugd


Saat itu mama Mia tak sengaja melihat Jiana, wajah itu terlihat malu pada Jiana dan takut pada Bryan. Seketika cairan bening itu mulai mengalir dari sepasang matanya." Ji .. " panggilnya dengan suara lirih


Jiana melingkarkan satu tangannya dipinggang Bryan lalu menarik Bryan agar membawanya mendekati sang ibu." Ji .. bagaimana kabarmu? bayimu? Kya?" tanyanya serak. Jiana sebenarnya tak tahan, namun ia berusaha menahan airmatanya


" Apa yang mama lakukan disini?" wanita itu mengusap kedua pipinya yang basah


" Mama menunggu Queen."


" Dia sakit?"


Mama Mia mengangguk lemah." Sudah beberapa bulan ini dia sakit." Jiana hanya menatap begitupun mama Mia, airmata wanita itu kembali berderai


" Berapa usia kandunganmu?" Jiana menunduk mengusap perutnya yang membuncit


" 7 bulan .. "


" Sebentar lagi kamu jadi ibu dua anak. Mama senang Ji .. " sautnya dengan senyuman yang tampak tulus membuat kedua mata Jiana berkaca-kaca. Melihat itu Bryan segera mengusap-usap bahunya mencoba menguatkan Jiana


" Baiklah kalau begitu aku permisi!" saut Jiana memutar tubuhnya dengan gerakan pelan


" Maafkan mama, mama tahu kamu tidak akan memaafkan mama, kesalahan mama memang fatal. Mama juga tidak berharap kamu mau memaafkan mama. Mama harap kamu selalu bahagia bersama keluargamu." Airmata Jiana tak tertahan kian mengalir deras


" Ayo kita pergi." ajak Jiana menarik lengan Bryan dengan kedua tanganya. Bryan menghapus airmata dipipi itu hingga mengering sebelum menuruti Jiana. Menggandeng istrinya menuju kamar Arnold


" Ada apa?" bisik Arnold ditelinga Bryan saat melihat wajah sembab Jiana. Bryan memelototkan kedua matanya agar temannya itu tak banyak bicara membuat Arnold terkekeh menepuk bahunya


" Bertengkar lagi ya .." ledek Arnold


" Diam atau aku akan merobek mulutmu!" Arnold tertawa kecil lalu mendekati Jiana yang sudah siap berbaring diranjang


" Nah kita lihat sikembar." ucap Arnold meletakan transedure diperut Jiana


Bryan tersenyum menatap layar monitor meski ia tak mengerti apapun tentang medis. Pria itu mendudukan dirinya disamping Jiana dan menggenggam satu jemarinya


" Berapa lama lagi aku bisa melihat mereka?"


" Hplnya sebelum akhir tahun ini." saut Arnold tanpa melihat, pria itu sibuk menatap monitor dengan seringai dibibirnya


" Kalian sungguh tidak mau tahu jenis kelamin bayi-bayi kalian?"


" Tidak, aku dan Jia ingin sebuah kejutan."


" Banyak makan sayuran dan buah, tidak boleh stres, minum airputih yang banyak dan jangan terlalu sering berhubungan badan. Aku sudah hapal." ucap Bryan mendahului Arnold


" Ya ya kau memang suami yang baik!"


" Tentu saja!" saut Bryan lalu membantu istrinya menuruni ranjang


" Ini vitamin penambah darah." ujar Arnold meletakan diatas mejanya yang saat itu juga diambil Bryan dan dimasukan kedalam tas pundak Jiana, sejak bertemu ibunya Jiana jadi pendiam dan wajah itu tampak sedih dimata Bryan


" Setiap pagi usahakan ajak istrimu berjalan tanpa alas kaki untuk mengurangi bengkak dikakinya."


" Berapa lama?"


" Sampai berkeringat saja, wanita hamil tidak dianjurkan terlalu lelah." saut Arnold lalu mengantar keduanya keluar rumah sakit


-


" Hey .. " Bryan membelai pipi itu dengan begitu lembut yang dibalas Jiana hanya dengan senyuman. Jiana jadi pendiam dan terus melamin sejak pulang dari rumah sakit dan Bryan tahu Jiana pasti sedang memikirkan ibunya Bryan menghela nafasnya lalu membawa tubuh Jiana menyandar padanya. Mereka sedang duduk disofa balkon kamar, menikmati semilir angin yang berhembus. Kegiatan setiap malam sebelum mereka tidur yaitu bersantai menikmati waktu berdua mereka


" Boy .. " Bryan tahu apa yang istrinya pikirkan saat ini


" Jia .. kamu sudah tahu bukan seberapa jahat mamamu?"


" Aku tau, tapi aku tidak bisa menahannya. Itu menyakitkan untukku boy, melihat mamaku seperti itu." saut Jiana serak menahan tangis. Bryan segera mengelus pelipis Jiana dengan tangan yang merangkulnya lalu menempelkan sebelah pipinya pada puncak kepala Jiana


"Menangislah .. " Seketika itu Jiana menangis dan bergerak memeluk Bryan membenamkan wajah didadanya. Bryan mengelus rambut itu begitu lembut, ia merasakan kesakitan istrinya. Jiana adalah wanita dengan hati yang baik, bahkan setelah disakiti oleh ibunya Jiana masih mengasihani wanita itu. Bryan sangat bingung sekarang, ia tak mau Jiana stress dan terus memikirkan ibunya, ia tak mau masalah ini akan berpengaruh pada kandungan istrinya nanti


Makanya Bryan tak membuang waktu, ia merangkul Jiana lalu menariknya keluar dari kamar. Bryan membopong Jiana menuruni lantai dua menuju lantai satu dan menurunkannya disofa ruang tamu." Tunggu sebentar!" perintah Bryan, ia bergegas menuju kamarnya yang berada dilantai satu, mengambil dua mantel hitam untuknya dan Jiana


Bryan kembali dan memakaikan mantel hitam itu ditubuh Jiana." Kita mau kemana? kamu mau membeli sesuatu?" tanya Jiana tapi Bryan tak menjawab, ia kembali membopong istrinya yang kini lebih berat dari dua kantung beras menuju garasi dimana semua mobilnya berada


" Ada apa? kita mau kemana?" tanya Jiana lagi panik tapi Bryan hanya tersenyum, mendudukan Jiana dikursi samping kemudi. Tak lupa ia juga pasang sabuk pengaman ditubuh istrinya


Bryan segera melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang dipandangi Jiana yang tak mengerti dengan sikap Bryan. Sejak tadi Bryan tak menjawab pertanyaannya. Jiana menyentuh bahu itu ia hendak membuka mulutnya untuk bertanya lagi namun terhenti saat tiba dirumah sakit


" Boy .. " kedua mata Jiana berkaca. Bryan hanya tersenyum lalu keluar dari mobil, memutari mobil membuka pintu untuk Jiana


Jiana dan Bryan melanjutkan langkah mereka menuju ruang perawatan dimana Queen dirawat setelah bertanya pada bagian administrasi. Tepat didepan pintu ruang rawat itu, Jiana mengintip melalui kaca. Jiana melihat sang ibu menangis disamping Queen yang memejamkan mata dengan beberapa alat medis ditubuhnya


Kedua mata Jiana berair lagi lalu menoleh pada Bryan. Pria itu mengangguk dan memberikan senyuman manisnya. Tak tertinggal kecupan dikening Bryan berikan." Masuklah." bisik Bryan


Jiana menuruti suaminya, ia ingin menyelesaikan semuanya sekarang. Jiana ingin hidup tenang tanpa bayang-bayang apapun, memangnya anak mana yang akan tega melihat ibunya menderita?. Jiana menghela nafasnya sebelum mendekati sang ibu


" Ji .. " panggil Mama Mia tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca. Sambil memegangi perutnya Jiana mendekati mama Mia dan berdiri disamping ranjang Queen


" Apa yang terjadi?" tanya Jiana membuat mama Mia menunduk


" Queen mengalami kelumpuhan setelah berusaha bunuh diri dari lantai tiga. Dokter bilang ini sebuah keajaiban Queen masih bisa hidup." Jiana menutup mulut menggelengkam kepalanya


" Queen menyesali semuanya Ji .. dia menyesali perbuatannya padamu. Setiap malam Queen selalu menangis, mama tahu Queen menangisi semua perbuatannya." ujar Mia dengan isak tangis, sungguh pilu dimata Jiana melihat kondisi ibunya yang seperti ini


" Apa dia tidak bisa sembuh?"


" Dokter bilang butuh waktu bertahun-tahun untuk Queen akan bisa berjalan normal lagi. Ini salah mama .. selama ini mama tidak mendidik Queen dengan baik, mama selalu memanjakan Queen .. " Jiana merasa tubuhnya lemas lalu duduk disisi tubuh Queen menatap adiknya itu


" Dia terpukul dengan kondisinya dan berniat bunuh diri lagi dua hari kemarin." tambah Mia dengan wajah sedih menatapi putri bungsunya


" Dimana Darwin? dimana suami mama?" Mia menggelengkan kepala pelan


" Darwin tidak bertanggung jawab?"


Mia terdiam, dengan perasaan malu ia menceritakan semuanya pada Jiana. Alasan Darwin pergi dan suaminya yang kabur meninggalkan hutang perusahaan puluhan milyar membuat Mia dan Queen terusir dari rumah. Bahkan Debt kolektor masih mengejarnya hingga saat ini


Jiana hanya terdiam mengusap sudut matanya yang basah lalu memegang kedua tangan yang sudah mengeriput itu membuat airmata Mia tak terbendung dan mengalir deras. Ia malu pada dirinya sendiri, ia telah menyakiti hati putrinya, menyia-nyiakan putrinya sejak dulu. Meninggalkan putrinya demi kesenangannya sendiri


" Mama benar-benar malu Ji .. mama tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa. Mama .. " Mia tak sanggup melanjutkan ucapannya, ia tak kuasa dan menangis kencang berhambur memeluk Jiana yang diam seribu bahasa


-


-


Hallo readers tersayang gimana kabar kalian?


Mudah-mudahan selalu sehat walafiat dan kita semua selalu ada dalam lindungan Allah SWT ๐Ÿ™


Sedikit cerita, aku mau promo novel terbaru aku, mungkin aja diantara para readers ada yang mau baca dan dukung aku lagi. Tapi ya .. tapi .. aku gak up novel baruku ini di mangatoon karena beberapa alasan dan aku up dilapak sebelah, mungkin diantara kalian ada juga yang suka baca novel diaplikasi K*M? kalo ada baca juga ya karyaku ๐Ÿค—


Nama pena : AirraMarcella


Judul : Nath๐Ÿ–คHan


Genre : Romance, action


*****


Ini pertemuan pertamaku dengan seorang gadis bernama Nathalie Kim


Seorang gadis yang hidupnya ibarat Rapunzel. Dia tidak tahu dunia luar, dia tak dikenali semua orang, tapi hatinya seputih malaikat, jiwanya setangguh karang


Sekian perkenalannya aku ucapkan terima kasih ..


-


-