
-
-
Hiks hiks
Jiana tak menghentikan tangisannya, ia terus melukai Bryan mencakar serta memukul pundak dan punggung Bryan. Kali ini Jiana benar marah dan merasa dibodohi Bryan, pria itu memang pandai berucap membuat Jiana percaya dan akhirnya berkhianat
Bryan bahkan tak melepaskan Jiana malah kian menancapkan miliknya hingga tenggelam sepenuhnya dalam milik Jiana. Jiana tidak tahu bahwa kini Bryan menitikan airmata dipundaknya. Bryan dihantam rasa bersalah yang tinggi karena membuat wanita itu menangis lagi, apalagi tangisan Jiana sangat kencang menyayat hati Bryan menjadi tercabik
Bryan merasa dirinya sangat brengsek dan mungkin ini terakhir kalinya ia memaksa Jiana. Bryan tak akan sanggup lagi membuat wanita itu sedih dan menangis. Bryan hanya berharap apa yang ia paksakan malam ini membuahkan hasil, ia berharap ada keajaiban dan benihnya tumbuh dirahim Jiana
Selama dua jam ia dan Jiana tak mengubah posisinya. Bahkan adik Bryan sudah layu didalam sana. Saat tangisan Jiana mereda, Bryan segera bangkit, kedua matanya kembali berkaca melihat airmata yang terus merembes keluar dari kedua mata Jiana. Bryan memalingkan wajah dan menunduk tak sanggup melihat Jiana, ia menjauh dan memakai pakaiannya satu persatu
Tapi Jiana tetap tak bergeming, posisinya tak berubah. Menatap Bryan dengan airmata menderas, rasanya sakit karena terus dilecehkan pria pembohong itu. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Bryan maupun Jiana. Diruangan itu hanya suara tv saja yang menyala pelan
Setelah memakai semua pakaiannya, Bryan segera meninggalkan Jiana yang mulai menangis kencang lagi. Ia tak menoleh lagi kebelakang dan keluar dari rumah itu." Jangan biarkan dia pergi kemana-mana selama satu minggu ini, ikuti dia kemanapun dia pergi sampai persidangan." perintah Bryan pada dua anak buahnya lalu benar-benar pergi dengan mobilnya
Bryan melajukan mobilnya menuju rumah Bulan karena Dean yang terus menghubunginya. Ada sekitar 20 panggilan Dean tak terjawab diponselnya. Bryan menancap gasnya dan merasa khawatir tiba-tiba, karena tidak biasanya sang kakak ipar menghubunginya sampai sebanyak itu
Langkah Bryan sampai tergesa-gesa memasuki rumah mewah nan luas itu. Bryan langsung masuk karena pintu terbuka lebar. Perlahan langkah Bryan memelan, pria itu mengedarkan pandangannya melihat semua orang berkumpul diruang tamu. Semua orang menatapmya terutama sang ayah, bulu kuduk Bryan berdiri dengan tatapan itu
Tapi Bryan mencoba tersenyum dan mendekati sang ayah. Ia duduk disampinya dengan wajah tanpa dosa." Dimana Jiana?" aura dingin itu membuat tubuh Bryan membeku hingga Ken harus bertanya dua kali padanya
" Dimana Jiana?"
" Istriku sedang ditoko kue bersama Kya." saut Bryan menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa dan sedetiknya tubuh Bryan menegang saat melihat Queen bersama kedua orangtuanya datang kesana dari arah dalam rumah Bulan
" Dad?" Bryan menoleh pada sang ayah yang menampilkan wajah dinginnya
" Nikahi Queen, kau harus bertanggung jawab atas apa yang kau lakukan."
" Tidak, aku tidak mau. Itu bukan bayiku."
" Bryan teganya kamu, ini bayimu. Aku berani bersumpah!!"
" Diam aku tidak bicara denganmu!" bentak Bryan menunjuk Queen dengan tatapan tajamnya membuat Bulan menyuruh Delan dan Pevita masuk kekamar mereka. Keduanya tampak menurut tapi saat semua orang lengah mereka bersembunyi dibalik tangga dan mengintip dari sana
" Jangan mempercayai wanita itu, aku akan melakukan tes dna padanya."
" Lalu jika itu bayimu apa yang akan kau lakukan?"
" Aku tidak mungkin menikahi Queen, aku sudah mempunyai istri."
" Tinggalkan Jiana, dia tidak akan bahagia dengan pria sepertimu. Dad sudah tahu semuanya, kalian akan berpisah sebentar lagi."
" Tidak aku tidak mau, sampai matipun aku tak akan melepaskan Jiana." saut Bryan kini pria itu bergerak berlutut didepan ayahnya dengan wajah memohon, Bryan tak pernah sampai memohon seperti ini pada siapapun termasuk ayahnya
" Aku akan menyelesaikan semuanya, meskipun itu bayiku aku tidak akan menikahi Queen. Aku hanya akan bertanggung jawab atas bayiku saja."
" Dan kau akan membuat keluargaku malu?" suara bariton keras itu menyaut dengan amarahnya
" Baiklah, kalau sikap kalian seperti ini saya pastikan tak hanya Bryan saja yang akan malu namun semua keluarga akan kena imbasnya. Saya akan menuntut putramu atas kasus pemerkosaan. Bisa-bisanya melecehkan putriku."
" Tidak Bryan akan menikahi Queen." saut Ken dengan wajah yang masih tenang menatap pria berkepala plontos yang diyakini adalah ayah Queen
" Dad!" bentak Bryan membuat Ken menoleh padanya
" Diam, jangan bicara lagi dan menurutlah. Ini pertama kalinya Daddy meminta satu hal padamu." Ken menyentuh bahu Bryan dengan kedua tangannya
" Kau bilang seperti itu karena kau sedang mabuk. Jangan seperti ini Bryan, bayi ini juga anakmu sama seperti Kya." rasanya Bryan ingin sekali mencekik wanita jadi-jadian itu saat ini. Bryan menghela nafasnya dan menatap ayahnya dengan wajah memelas. Bryan menggelengkan kepala tanda ia menolak
" Dimana Jiana, biarkan kami menemuinya."
" Untuk apa?" Bryan menoleh pada mama Mia dengan tatapan tajamnya." Mau memohon pada Jiana agar melepaskanku begitu?" Mia dibuat membungkam dengan ucapan Bryan
" Aku ingin memastikan semuanya dulu, setelah kandungannya 20 minggu kita laku-"
" Dan kau akan membiarkan perut putriku semakin membesar?Ini benar-benar keterlaluan." gerutu pria berkepala plontos itu dengan tatapan tak sukanya pada Bryan
Saat ini Bryan diposisi tersulit, wajahnya terlihat bingung. Lalu ia bergeser berlutut didepan ibunya." Mom, selama ini Mom sangat mempercayaiku kan?" tanya Bryan menggenggam jemari Jeny
" Aku tidak melakukannya Mom, mom tahu aku sangat mencintai Jiana."
" Ayo kita pergi, membuang-buang waktu melihat drama seperti ini." lagi-lagi ayah Queen itu menggerutu sambil menarik tangan anak dan istrinya untuk pergi dari sana
" Tunggu!" Ken menahan dengan suara kerasnya lalu ia menoleh pada Bryan. Ia memegang kerah anaknya
" Jangan jadi pengecut dan bertanggung jawablah." perintah Ken tajam
" Kenapa Dad tidak mempercayaiku? aku benar-benar tidak melakukannya." lirih Bryan tapi sang ayah hanya diam, tatapan elang itu menajam pada pundak Bryan. Ken baru sadar kemeja anaknya dipenuhi noda darah. Ia menarik kerah baju Bryan dengan kencang hingga kancing atas Bryan terlepas. Seketika itu juga tatapan Ken seperti akan memakan Bryan bulat-bulat kala melihat luka bekas cakaran yang begitu banyak dipundak Bryan. Sebagai seorang pria, Ken sangat tahu itu adalah cakaran kuku wanita
" Wanita mana lagi yang kau tiduri?" pertanyaan itu dingin dan terasa merendahkan Bryan. Bryan mengangkat wajahnya keatas
" Jiana, aku meniduri Jiana. Memangnya salah jika meniduri istri sendiri?" Ken memejamkan matanya dalam, kedua tangannya terkepal kuat. Untuk pertama kalinya ia benar-benar marah terhadap putra semata wayangnya itu
" Salah, jika kau memaksanya." saut Ken menghempaskan tubuh Bryan hingga terjengkang kebelakang. Pertengkaran ayah dan anak itu kini dimulai, tatapan Ken terus menajam pada sang putra, wajah itu juga terlihat kecewa, sepertinya kesalahan Bryan benar-benar fatal kali ini
" Pengecut, hanya pengecut yang memaksa seorang wanita." Bryan tersenyum kecut lalu ia bangkit berdiri menjulang didepan ayahnya. Bryan juga kecewa dengan sang ayah yang tampak merendahkannya
" Dad pikir adanya Kya selama ini karena apa? karena aku memperkosa Jiana, 5 tahun lalu aku memaksanya aku menghamili Jiana. Makanya Jiana sangat membenciku." aku Bryan membuat sang ibu menggeleng tak percaya dengan kedua mata menggenang airmata begitupun adik kembar Bryan. Jeny tak menyangka putranya akan sejahat itu pada seorang wanita. Sementara Queen tampak tertegun, selama ini ia salah sangka mengira Jiana adalah salah satu jalan* Bryan tapi sedetiknya bibir Queen tersenyum puas ia tahu Bryan melakukan itu karena berpikir wajah Jiana sangat mirip dengannya
" Aku memang pengecut!" aku Bryan lagi sambil memutar tubuhnya dan melangkah menjauh
Brruk
Bryan tersungkur kelantai saat Ken menendang tubuhnya dengan sekuat tenaga. Belum sempat bangkit kini pria itu mulai ditendangii ayahnya dibagian perut. Ken seperti hilang kendali, selama ini ia selalu menahan semua amarahnya pada Bryan." Aku terlalu memanjakanmu, dan kesalahanku membebaskanmu, tapi bukan berarti kau bisa menjadi pria sebrengsek ini. Beraninya kau berlaku seperti itu pada seorang wanita, kau pikir ibu dan adik-adikmu bukan wanita!" bentak Ken menggelegar membuat siapapun takut termasuk Bryan, tubuhnya sampai bergetar tak menyangka dengan kemarahan sang ayah padanya
Ken menarik Bryan berdiri, pria itu tak melawan, hanya menunduk menyembunyikan airmatanya. Dapat terlihat semua orang tubuh Bryan gemetar ketakutan. Selama ini Ken adalah orang yang paling Bryan takuti, yang paling ia hormati dan saat ini Bryan benar-benar takut dengan kemarahan ayahnya. Kali ini pukulan Ken tepat diwajah Bryan hingga pria itu tersungkur lagi kelantai. Merasa belum puas Ken mencoba menarik Bryan lagi, rahangnya semakin mengetat saat tak sengaja melihat CD hijau muda yang telah robek tergeletak dilantai
Melihat itu, Bryan segera mengambil dan memasukan lagi kedalam saku celananya. " Brengsek!" umpat Ken dan pukulan keras kembali Bryan dapatkan. Pria itu tergeletak dilantai dengan darah segar bercucuran dari hidungnya
" Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi pria pengecut!" teriak Ken menggelegar
" Bukankah kau ini kebanggaanku hah .. apa selama ini aku tak pernah mengajarkanmu bagaimana menjadi pria yang bertanggung jawab!!" Bentak Ken lagi sambil menendang perut Bryan
Selama ini Bulan ingin sekali melihat Ken memarahi Bryan. Tapi melihat Bryan dipukuli seperti ini Bulan maupun Chesa dan Chesy merasa kasihan, ketiganya tampak menangisi Bryan tapi mereka tak bisa berbuat apapun merek lebih takut pada sang ayah, kemarahan itu kembali mereka lihat setelah bertahun-tahun berlalu
" Bangun." Ken menendang lagi perut Bryan namun tak keras
" Bangun!" perintah Ken tapi Bryan tak menurut, pria itu hanya meringkuk dan menunduk menyembunyikan tangisannya. Merasa geram, Ken menarik kerah baju Bryan namun sang ibu menghentikan semua itu. Wanita itu berhambur membawa Bryan dalam pelukannya, menyembunyikan wajah Bryan didadanya
" Cukup Ken, jangan pukul lagi anakku!" ucap Jeny dengan airmata berlinang
-
-