Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
POV Jiana



-


-


Aku membeku, kulihat airmata Bryan menderai saat ini. Pria itu seperti linglung setelah mendengar ucapanku membuat hatiku sedikit melunak dan tak tega melihatnya meskipun Bryan telah menggores luka yang teramat dalam dihatiku. Bukankah aku bodoh?


Jawabannya adalah ya aku wanita bodoh. Sejak awal aku tahu Bryan adalah tipe pria brengsek yang suka mempermainkan wanita tapi dengan otak udangku aku malah jatuh cinta pada pria itu, aku memberikan semuanya bahkan tubuh yang selama ini kujaga tanpa tersentuh pria manapun tapi Bryan datang dan dengan mudah mengambil semuanya termasuk hatiku


Setelah Bryan dibawa dua petugas keamanan, aku segera memangku gadis kecilku yang tak henti menangisi ayahnya. Sangat berat untukku memisahkan Kya dan Bryan, tapi aku juga tak bisa mempertahankan semuanya lagi, hatiku sangat sakit


Aku sudah mencoba untuk memaafkan Bryan, aku menerima semuanya tanpa memperdulikan Queen yang sudah ternodai oleh suamiku. Cintaku pada Bryan membuatku buta hingga dengan mudahnya aku memaafkan Bryan yang kupikir sedang mabuk dan tak menyadari semuanya, aku ingin bahagia bersama keluarga kecilku dan aku ingin mempertahankan pernikahanku bersama Bryan, bukan karena Kya tapi karena kupikir Bryanlah sumber kebahagiaan kami


Tapi pengakuan Queen tadi malam membuat semuanya hancur lagi, hatiku dan kepercayaanku pada Bryan. Kehamilan Queen memang tepat sekali dengan kejadian menjijikan itu, aku tak mengelak semuanya dan sangat yakin itu memang anak Bryan


Mungkin mereka masih sama-sama saling menyukai dan seperti yang Queen bilang aku adalah orang asing diantara mereka. Bryan mempertahankanku karena Kya, karena dia sangat menyayangi putri kami. Aku tahu Bryan tak ingin kehilangan Kya, dia tak ingin dipisahkan dengan putrinya tapi kenyataan itu kian menambah rasa sakitku. Bryan bisakah kau menahanku bukan hanya karena Kya tapi aku juga menjadi alasan untukmu? bukankah aku meminta hatimu dan kau sudah berjanji untuk memberikan hatimu padaku?


5 tahun memang bukan waktu yang sebentar untuk saling melupakan. Kini aku menyadari semuanya, saat itu Queen sakit karena alergi udang, awalnya aku merasa heran kenapa suamiku lebih tahu, tapi sekali lagi aku bodoh karena cintaku pada Bryan. Aku mengenyampingkan rasa penasaranku karena kupikir itu hanya kebetulan dan tak berpikir sampai sejauh itu


Mereka pandai bersandiwara dan membodohiku, mungkin jika hari itu aku tak melihat keduanya mereka akan tetap melakukannya dibelakangku. Apa aku saja tak cukup untukmu? apa tubuhku ini tak membuatmu puas? kau bilang kau sudah berubah, apa semua itu hanya omong kosong untuk menjeratku!


Aku ingin sekali berteriak histeris menyumpahi keduanya bila kuingat bayangan keduanya yang tanpa busana kala itu, dan setiap aku melihat noda darah diatas sprei itu semakin membuatku jijik pada Bryan dan Queen. Aku tak bisa menahan semuanya, rasa sakit dan cemburuku terhadap Queen, ucapan Queen sangat mengusikku. Selama ini aku memang tak tahu perasaan Bryan seperti apa padaku, Bryan tak pernah serius dan selalu membuat semua itu seperti sebuah lelucon atau mungkin juga itu hanya sebuah rayuan karena dia ingin mendapatkan tubuhku, melampiaskan hasratnya untuk memenuhi kebutuhan batinnya yang selama berbulan-bulan kebelakang tak terpenuhi tidak seperti saat ia lajang


Kehadiranku dihidup Bryan mungkin hanya sekedar pelayan karena yang diinginkan Bryan dari pernikahan ini hanyalah Kya, darah dagingnya. Sejak awal Bryan hanya menyayangi Kya tapi tidak denganku, Bryan mencintai putrinya tapi tidak dengan istrinya, mungkin baginya aku hanyalah sebuah alat pemenuh kebutuhan lahir dan batinnya saja


Airmata sialan ini terus saja menetes karena Bryan. Pria itu benar-benar sukses membuat luka paling dalam dihatiku, aku mencintai Bryan tapi kenyataannya cintaku bertepuk sebelah tangan, kupikir Bryan merasakan hal yang sama, nyatanya dihati Bryan masih ada Queen. Meskipun dalam keadaan mabuk tapi aku yakin Bryan masih bisa membedakan antara aku dan Queen. Mereka melakukannya atas dasar sama-sama masih saling menginginkan, aku tak mengelak itu karena kini semua yang kuperhatikan antara Bryan dan Queen mulai terjawab satu persatu


Tit


Kuperiksa bunyi dalam ponselku, sebuah pesan masuk membuatku membeku lagi. Airmataku kembali mengalir deras dan hatiku kembali melunak melihat pesan singkat dari bi Amy padaku


" Nyonya, tuan menangis dikamar. Bibi tidak tega melihatnya!" begitulah pesan dari bi Amy


Aku tak berniat membalas pesan bi Amy, aku hanya memejamkan mata mencoba menguatkan pertahanan hatiku untuk tak terkecoh lagi. Tekadku sudah membulat, mungkin aku egosi memisahkan Kya dengan ayahnya tapi ini semua kulakukan agar putriku tak merasakan luka seperti yang kualami, aku tak ingin Kya merasa malu mempunyai ayah sebejad Bryan. Seiring berjalannya waktu putriku akan tumbuh semakin besar dan akan lebih banyak bertanya


Suara isak tangis Kya masih terdengar lirih ditelingaku menyayat hatiku untuk kesekian kalinya. Sabarlah sayang .. kebahagiaan menanti kita, tak hanya bersama Daddy, mum yakin hidup berdua pun kita akan tetap bahagia. Ucapku dalam hati sembari tak henti menimang dan mengelus rambut halus nan hitam legam milik putriku


" Maafkan Mun Kya .. maafkan Mumy sayang. Semua karena Mum, Mum manusia yang dipenuhi batas, tak sempurna dan tak pandai menjaga Daddymu. "


Selang beberapa jam, kini pesawat telah tiba ditempat Kya dilahirkan. Aku tersenyum, semuanya kembali keawal dimana aku dan Kya hanya berdua. Mulai detik ini kami akan hidup berdua lagi tanpa seorang Bryan, si pria brengsek itu


Kubuka mataku bertepatan dengan mata Kya yang juga terbuka. Kami berdua tertidur selama perjalanan, menangis membuat kami lelah. Kucium kening Kya berulang dan gadis kecilku memberikan cengirannya seolah telah melupakan semua kejadian berjam-jam tadi. Pada kenyataannya Kya memanglah anak kecil yang belum memahami apapun


" Ayo kita pulang." ajakku tersenyum


" Yes Mum!" suara itu selalu membuat hatiku yang sedang dirundung duka sedikit meneduh


Lalu aku menuntun Kya, kami berjalan mengikuti orang-orang keluar dari pesawat. Sesekali kulirik Kya yang tak henti celingukan dan raut wajah mungil nan cantik milik Bryan itu tampak merengut sedih


" Emmmh Kya, Mum punya sebuah kejutan untuk Kya." ucapku berusaha menghibur


" Kejutan? Kya suka kejutan, apa itu Mum." sautnya kembali bersemangat


" Rahasia."


" Ayolah Mum, Kya mau tahu."


" Baiklah tapi dengan satu syarat." Aku berjongkok mensejajarkan tinggi badanku dengan Kya, kubisikan sesuatu yang membuat Kya berjingjrak senang


" Kya suka pantai." teriaknya lucu membuat beberapa orang yang berlalu lalalang dibandara itu tersenyum melihat kelucuan Kya begitupun denganku


Kami berjalan kembali menuju keluar dari bandara dengan tangan yang saling mengayun dengan tangaku yang lain menggeret koper besar, senyuman manis Kya cukup menghibur rasa sakit dihatiku. Seperti yang kuucapkan pada Kya, kami berdua akan kepantai, kami akan menghabiskan waktu disana dan mengawali awal yang baru disana


Jaraknya tak jauh dari toko kue * Kya Cookies* yang kubangun sejak mengandung Kya. Aku menghabiskan uang tabunganku untuk membeli sebuah rumah minimalis sederhana ditepian pantai. Aku tak mungkin kembali tinggal di tokoku lagi karena aku tak ingin Bryan menemuiku, aku ingin menenangkan diri dan tak ingin melihatnya lagi sampai hatiku benar-benar sembuh, aku ingin kembali kuat dan tak serapuh sekarang. Aku ingin melupakan semuanya, aku ingin melupakan Bryan seperti sebelum aku bertemu dengannya sehingga jika suatu saat nanti aku melihat Bryan dan Queen .. aku tak akan lagi merasakan sakit


-


-