
-
-
" Diperkosa ya hmm?" Bryan mencium pipi itu dengan gemas sambil menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya yang berlumuran cairan Jiana tepat diwajah wanita itu. Jiana memalingkan wajahnya yang memanas dan memerah karena malu, ia memukul-mukul bibirnya sendiri karena suaranya yang terus keluar saat Bryan memainkan kewanitaannya dibawah sana
Sementara Bryan tampak tersenyum menatap Jiana, pria itu mulai menurunkan celananya dan menarik kedua paha Jiana mendekat. Tubuh Jiana mulai menggeliyat tatkala Bryan mempermainkan adiknya pada area sensitif Jiana. Bryan segera mendekat sambil melesakan adiknya masuk
" Aahh .. " Bryan tersenyum lucu menarik dagu runcing itu lalu meraup bibir Jiana, merengkuh tubuh dengan bau tubuh favoritnya itu. Berpacu dan terasa sungguh liar untuk Jiana, Bryan selalu memberikan rasa yang berbeda setiap kali menyetubuhinya
Cup
Sekali lagi Bryan mengecup pipi itu dengan gemas sebelum menjauhkan dirinya dari Jiana. Ia membuka kedua paha itu lebar dan kembali memaju mundurkan adiknya dibawah sana hingga benturan tubuhnya dan Jiana menggema dirumah minimalis itu
" Hentikan aku lelah Bryan .. " suara rengekan itu mulai terdengar tatkala sudah hampir 40 menit Bryan tak kunjung berhenti, pria itu masih berpacu seolah tak merasa lelah seperti Jiana
" Bersabarlah Jia, sebentar lagi .. " sejak tadi Bryan terus mengatakan hal itu tapi ia tak kunjung berhenti. Sudah berbagai gaya pula Bryan praktekan pada Jiana tapi Jiana tak melihat tanda-tanda Bryan akan berhenti
" Jia .. Jia .. " nafas memburu itu terus memanggil namanya diiringi meledaknya lahar panas itu dirahim Jiana, Jiana sampai menggeliyat merasakan hangat dan lengketnya dibawah sana
Cup
" Aku mencintaimu." panggilnya seraya mencium kening Jiana lalu tumbang diatas tubuhnya. Wanita itu hanya terdiam, dalam hatinya ia ingin sekali memeluk Bryan tapi tak ia lakukan, bagaimanapun ia tak mau jatuh untuk kesekian kalinya karena Bryan
" Aku belum mandi." ucapan itu terdengar jelas ditelinga Jiana, Bryan mengangkat wajahnya, menatap Jiana sesaat dan mencium keningnya untuk kesekian kalinya
Bryan bangkit dari tubuh Jiana ia turun dari sofa panjang diruang tamu itu. Kemudian ia masuk kekamar mandi yang letaknya didekat dapur, Bryan membersihkan tubuhnya disama hampir 15 menit lamanya
Kini Bryan sudah keluar dari kamar mandi, saat tak menemukan Jiana disekitar ia masuk kedalam kamar dengan tubuh tanpa busana. Kehadiran Bryan membuat tubuh Jiana tersentak kaget hingga butiran kecil ditangan yang akan ia minum bersama air putih jatuh menggelinding kebawah
Bryan melangkah mengambil butiran kecil yang diyakini obat dilantai yang tak jauh dari kakinya." Sayang kamu sakit?" tanya Bryan meneliti obat kecil ditangannya dengan dahi berkerut
" Itu obatku, kembalikan." saut Jiana terbata menengadahkan telapak tangannya tapi Bryan malah menggenggam dalam kepalan tangannya dengan langkah mendekat, kecurigaan mulai menguap dibenaknya
" Ini obat apa? kamu sakit?" tanyanya lagi
" Aku hanya pusing, kembalikan." bentak Jiana pelan memundurkan langkahnya kebelakang dengan satu tangan ia sembunyikan dibelakang tubuhnya
Bryan menangkap pinggang itu dengan satu tangannya, ia tahu Jiana menyembunyikan sesuatu darinya. Bryan memaksa mengambil itu dari tangan Jiana, saat dapat ia segera melepaskan Jiana dan melihat selembar butiran obat yang masih digenggaman tangannya yang lain
Aura dingin dan mencekam tampak menyelimuti kamar itu. Manik hitam pekat itu menyalang tajam pada selempar pil yang diyakini pil pencegah kehamilan. Sekarang Bryan sadar kenapa setiap kali ia menyetubuhi Jiana, benihnya tidak pernah tumbuh. Alasannya karena Jiana mencegah semua itu, Jiana sungguh membuatnya kecewa
" Sejak kapan kau meminum obat sialan ini?" tanya Bryan dingin dengan tatapan tajamnya menyalang pada Jiana
" Kau pikir sejak kapan." Jiana memberanikan diri menjawab Bryan
" Segitu bencinya kau padaku .." kata-kata itu terdengar lirih dari bibir Bryan
" Aku tidak pernah mempercayaimu, sejak awal kau memang brengsek, penghianat." Bryan mengepalkan kedua tangannya ingin sekali menampar Jiana tapi tak ia lakukan, ia terlalu menyayangi wanita itu meskipun kini amarahnya terasa diubun-ubun
Seperti orang gila Bryan mulai mengacak-ngacak kamar itu, ia membuka semua laci meja nakas. Saat tak menemukan yang dicari Bryan menendang meja itu hingga ambruk tepat didepan kaki Jiana. Wanita itu menciut takut dan segera berlari
Namun naasnya Bryan tak membiarkan Jiana, ia menarik tubuh itu lalu mengunci pintu kamar itu. Bryan mengangkat tubuh Jiana dan lempar dengan kasar kekasur." Jangan kumohon .. " teriak Jiana
Bryan segera menindi£ tubuh itu membuat Jiana memekik karena beban tubuh Bryan yang tak ringan." Kumohon jangan memaksaku lagi." Jiana mulai menangis kencang menggelengkan kepalanya saat tangan Bryan merobek CDnya dengan kasar
" Sakit Bryan .. " pekik Jiana tatkala Bryan menyatukan tubuh mereka tanpa pemanasan lebih dulu
Meski Jiana terus merintih namun Bryan tak menghiraukannya. Pria malah bangkit untuk membuka kedua kaki Jiana, memegang pinggang Jiana sambil berpacu dengan sangat kasar
" Sakit .." tangisan kecil itu tak didengarkan Bryan, pria itu sungguh marah pada Jiana yang pertama kalinya merasakan kekasaran Bryan, selama ini Bryan hanya kasar pada wanita lain, jika Jiana ia tak pernah melakukannya
Bahkan Jiana tak menikmati persetubuhan mereka kali ini, ia hanya metintih kesakitan memegangi perut bawahnya. Bryan sangat kasar, tak hanya tubuh bagian bawahnya saja yang terasa sakit namun semua bagian tubuh Jiana terasa remuk dengan kekasaran itu
" Sakit hiks .. "
Dan guncangan hebat disertai ledakan cairan didalam rahimnya menghentikan kekasaran Bryan. Setelah semua Bryan lepaskan dirahim Jiana, ia segera bangkit kembali mengacak-ngacak setiap penjuru kamarnya
Bryan kembali marah." Dimana kau menyimpannya lagi." bentakan itu membuat Jiana terkejut
" Aku hanya mempunyai itu."
" Bohong, janga berbohong padaku atau aku akan benar-benar membawa Kya."
" Aku belum membelinya lagi aku hanya mempunyai itu." balas Jiana membentak lalu menangis kencang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sikap Bryan seperti ini sungguh membuat Jiana takut dan semakin sedih
Bryan segera membuka jendela dan membuang semua butiran pil pencegah kehamilan itu keluar sana. Bryan berjalan menuju koper hitamnya, ia mengambil beberapa botol minuman dari dalam sana, membawanya menuju kasur
" Minumlah semua ini." ucapan itu terdengar dingin untuk Jiana
" Minum sekarang atau aku yang memaksamu meminumnya." bentakan itu kembali menggelegar. Pelan-pelan Jiana menurunkan kedua tangannya karena rasa takutnya pada Bryan
" Kenapa? kau mau meracuniku agar kau bisa membawa Kya dan hidup bersama Queen?" tanya Jiana dengan berlinang airmata
" Minum atau kau mau cara lain untuk meminumnya."
" Aku tidak mau, aku masih ingin hidup dan melihat Kya menikah nanti." tolak Jiana
Bryan segera menarik tubuh itu untuk duduk, ia membuka tutup botol dan meneguknya hingga pipinya mengembung lalu menarik tengkuk Jiana, menyatukan bibirnya untuk mengalirkan minuman penyubur kandungan yang sengaja ia pesan dari Jerman
Awalnya Jiana merapatkan bibirnya tapi karena paksaan itu ia membuka mulut sehingga air dnegan warna jingga itu masuk kedalam mulutnya." Oek .. " Jiana ingin sekali muntah saat merasakan tak enaknya minuman itu
Jiana kembali menangis kencang." Apa aku akan mati?"
" Diam .. " bentak Bryan
" Kenapa terus membentaku?" lirih Jiana
" Apa salahku .. hiks .. " Jiana kembali menutup wajahnya dan menangis kencang. Sementara Bryab hanya menghela nafasnya panjang seraya menyandarkan tubuhnya pada dingding kamar. Waktunya hanya tinggal satu bulan setengah lagi menuju persidangan dan ia belum berhasil menghamili Jiana karena ternyata wanita itu mencegahnya selama ini
" Aku akan meminumnya juga lihatlah." suara melunak itu membuat Jiana membuka matanya dan menatap Bryan, pria itu meminum bagiannya yaitu penyubur sperm*
" Ini hanya vitamin untukmu, aku juga membelikan untuk Kya. Aku tidak mungkin kan membunuh putriku sendiri." Bryan memang sudah persiapan, selain untuk dirinya dan Jiana, ia juga memesan untuk Kya agar tak membuat Jiana curiga
Malu-malu Jiana mengambil satu botol ditangan Bryan dan meminumnya membuat Bryan tersenyum dengan Jiana yang mau saja ia bodohi. Tapi senyuman Bryan memudar saat melihat bahu Jiana membiru, tentu itu bekas cengkraman tangannya
Bryan segera memeluk Jiana membuat wanita itu kembali menangis kencang." Bryan kau sangat kasar, aku takut .. " lirihnya
" Maafkan aku, aku benar-benar tak bisa mengendalikan semuanya. Maaf .. " sautnya mengusap rambut Jiana
" Perutku sangat sakit." suara manja itu membuat Bryan kembali tersenyum, entah kenapa untuk kali ini Jiana ingin sekali dimanja Bryan. Pria itu segara membawa Jiana berbaring." Mana yang sakit."
" Perutku .. "
" Ini?" usap Bryan pada perut atas Jiana
" Bukan, sedikit lebih kebawah." Bryan menurut jemarinya menurun kebawah dan mengusap perut Jiana lagi
" Disini?"
" Ya disitu, itu sungguh sakit." Wajah Bryan dipenuhi rasa bersalah mendadak mendengar rengekan manja itu, tadi ia sungguh kecewa dan tak bisa mengontrol emosinya pada Jiana. Sebagai permintaan maaf Bryan mengelus pelan perut itu, memberikan rasa hangat pada perut Jiana hingga tanpa sadar kedua mata itu perlahan tertutup dan tanpa sadar pula Jiana membalas pelukan Bryan
-
-
Aku sekarang kalo ada komentar yang bikin gedek dan down otakku suka langsung auto blok akunnya. Maaf kalo cerita gak sesuai ekspetasi kalian, dari awal udah jelasin kali kalo cerita ini konfliknya bikin kesel banyak panasnya tapi ada aja ye yang enggak ngarti dan nuntut author supaya gini gitu lah bla .. bla .. bikin novel tuh gak gampang butuh berjam-jam buat mikir buat ngerangkai kata. Sebelum bikin cerita Bryan author udah nentuan awalnya kaya apa endingnya kaya apa. Yang gak suka konflik berat skip aja jangan dibaca daripada kasih komentar yang bikin penulis down dan hilang semangat buat nulis!!!
-