Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Zayn, Zeen & Chelsea



-


-


Saat keluar dari ruang persalinan Jiana, Bryan disambut keluarga besarnya yang ternyata sudah ada menunggunya. Semua orang tampak terkejut melihat wajah Bryan yang memucat dan tubuhnya yang bergetar


" Bryan bagaimana Jiana?"


" Bryan apa semuanya baik-baik saja?"


Bryan hanya mengangguk membuat semua orang bernafas lega, tapi mereka bisa melihat ketakutan diwajah Bryan


Dengan langkah lunglai Bryan mendekati sang Momy, kedua matanya berkaca lalu menghambur membawa wanita itu dalam pelukannya


Seketika ia menangis kencang


" Mom .. maafkan aku .. maafkan boy .. " kini pria itu benar-benar tahu perjuangan seorang wanita dalam mengantarkan nyawa kedunia ini melalui Jiana


Sang ibu melirik suaminya dan tersenyum mengusap punggung Bryan


" Aku selalu berbohong .. "


" Aku nakal .. "


" Aku sering membuat Mom kesal .. "


" Aku selalu membantah .."


Semua orang tersenyum lucu mendengar suara tangisan manja Bryan


" Kenapa, kenapa pria brengsek menangis seperti ini?" Arnold yang sejak tadi berada disana pun tiba-tiba menyaut, pria itu ingin sekali tertawa melihat Bryan


Mendengar suara Arnold, Bryan melepaskan pelukannya. Pria itu menoleh kebelakang dengan wajah sembabnya


" Kau .." bentaknya


" Kenapa kau tidak bilang kalau Jiana mengandung tiga bayi." gerutu Bryan


" Apa?" Bulan berteriak histeris


" Kau bilang ingin sebuah kejutan." saut Arnold santai dengan tawa renyah


Bryan mendengus kesal lalu menoleh pada sang kakak


" Iya dua laki-laki dan satu perempuan seperti Kya."


Semua orang tersenyum senang dan memuji Bryan membuat pria itu menepuk dadanya bangga. Bryan kembali memeluk ibunya, memeluk wanita yang telah melahirkannya. Ia melihat perjuangan Jiana, rasanya Bryan tidak tega, dalam hatinya ia berjanji takkan menyakiti wanita itu


" Apa saat melahirkanku dulu, Mom juga kesakitan seperti Jiana?"


" Tentu saja, rasanya seperti akan mati. Tapi rasa sakit itu hilang begitu saja saat melihatmu ditangan dokter." Bryan mengurai pelukannya menghujani kening sang ibu dengan kecupan lembut


" Terima kasih Mom."


" Semua wanita akan merasakan hal yang sama, begitupun Jiana!" Bryan tersenyum


" Jiana hebat Mom, dia melahirkan tiga bayi untukku!"


" Sayangi Jiana, jangan pernah menyia-nyiakan Jiana. Wanita yang baik adalah wanita yang berjuang melahirkan anak-anakmu!"


Bryan mengangguk cepat airmatanya berjatuhan lagi


" Apa Jiana baik-baik saja sekarang?"


" Dia terus memukulku dia bertambah galak." saut Bryan membuat semua orang tertawa begitupun dirinya yang ikut tertawa. Rasanya lega untuk Bryan, kebahagiaan pun tampak terpancar dari wajahnya


Semuanya berbalik pada pintu saat pintu itu terbuka lebar menampilkan Jiana yang dibawa dua perawat dengan brangkar. wanita itu tampak tersenyum pada semua orang, tapi wajah itu tak bisa berbohong menahan rasa sakit


Bryan segera menyusul Jiana yang dibawa menuju ruang perawatan begitupun yang lainnya. Bryan membantu tubuh Jiana duduk menyandar pada brangkar yang sudah perawat atur untuk membuat Jiana nyaman


Bryan mengusap pelipis berkeringat itu, menyempilkan dirinya disamping Jiana lalu menggandeng wanita itu menyandar padanya. Bryan mengecup kening Jiana dalam, wanita itu teramat cantik, wajahnya bercahaya setelah melahirkan


Lalu pandangan semua orang beralih pada perawat diambang pintu. Perawat-perawat itu membawa masin-masing box bayi kedalam yang mana langsung disambut semua orang, semuanya bergegas melihat bayi-bayi yang masih tanpa nama itu


" Aah Bryan aku akan membawa salah satu dari mereka ke Paris." teriak Bulan heboh membuat Kya yang masih tidur dalam pangkuan Dean terbangun, gadis kecil itu mengucek kedua matanya dan beringus turun dari pangkuan Dean


" Enak saja membuatnya saja susah." saut Bryan menggerutu


" Harus dipaksa dulu." bisik Bryan melanjutkan ucapannya pada Jiana, wanita itu terkekeh mengelus pipi Bryan dengan punggung jarinya. Bryan menangkap jemari itu, mengecup lalu menggenggamnya, bibirnya tersenyum pada Jiana


" Terima kasih sayang .. " bisiknya lagi


" Kau kan bisa membuat lagi."


" Daddy kenapa adik Kya banyak sekali?" gadis kecil yang sedang berjinjrit melihat ketiga adiknya itu tampak protes terhadap ayahnya


Dean terbahak, pria itu berjongkok disamping Kya


" Inilah akibatnya kalau Kya terlalu sering membiarkan Daddy dan Mum berpacaran."


" Huh." Kya mengalihkan pandangannya pada sang ayah dengan berkacak pinggang


" Daddy dan Mum tidak boleh pacalan lagi." gerutunya lalu berlari mendekati ranjang, kepalan kecil itu mendarat kencang diperut Bryan


" Auuhhhh .. " teriak Bryan pura-pura sakit membuat Kya cekikikan. Bryan segera memangku gadis kecil itu duduk dipangkuannya


" Tidak, Daddy tidak akan berpacaran sama Mum selama lima bulan." saut Bryan sambil menaikan kelima jarinya pada Kya membuat Dean sang kakak ipar ingin sekali tertawa. Bryan percaya saja pada ucapannya dulu, pria itu benar-benar tak tahu menahu tentang wanita. Dean juga ingin tahu seberapa kuat Bryan untuk tak menyentuh Jiana sampai selama itu


" Kenapa ada pria sebodoh Bryan?" tanya Arnold berbisik ditelinga Dean


" Biarkan saja, kita lihat sejauh mana." sautnya ikut berbisik, keduanya tertawa membuat Bryan heran


" Apa yang kalian tertawakan?" Tapi Dean dan Arnold tak menjawab, keduanya kembali terbahak-bahak dan saling berbisik


" Dasar gila!" umpat Bryan


" Boy kau sudah memberi mereka nama?" tanya Bulan


" Sayang kamu sudah menyiapkan nama?" tanya Bryan sambil mengusap pipi Jiana, kenapa Bryan pikir Jiana teramat cantik saat ini membuat sang adik menegang, Bryan ingin sekali mencumbui bibir merah jambu itu


" Kamu saja yang memberi mereka nama." saut Jiana membuat Bryan tersenyum, pria itu terdiam lalu menatap sang ayah


" Dad, apa Dad mau memberi saran?"


" Chelsea?" Bryan tersenyum lalu mengangguk


" Chelsea sibungsu .. " lalu Bryan melirik sang ibu


" Mom."


" Ah tidak boy kamu saja yang memberi mereka nama, kamu kan ayahnya." Bryan menurunkan Kya, mendudukan gadis kecil itu disamping ibunya. Sementara dirinya berjalan mendekati box bayi, menatap ketiga bayinya bergantian


" Aku memberi mereka nama Zayn dan Zeen, Zayn sang kakak dan Zeen sang adik." ucapnya dengan senyum bangga


" Sayang bagaimana menurutmu?" tanya Bryan sambil menoleh pada Jiana


" Sial kenapa Jia sangat cantik." gerutu Bryan dalam hati dengan tatapan terpaku, ia tersadar saat Arnold menepuk bahunya dengan kencang


" Nama yang bagus!" sautnya dengan senyum


" Ayolah ini belum sehari, masiiiiiiiih 5 bulan lagi." bisik Arnold mengejek


" Sialan!" gerutu Bryan memalingkan wajah lagi pada ketiga bayinya


" Hehe wajah mereka sama." kekeh Bryan


" Ya jadi kembar empat." saut sang ibu yang juga menatapi cucu-cucunya. Bryan terkekeh lucu, kedua matanya kembali berkaca-kaca karena terharu


Oek


Oek


Oek


" Jia .. " panggil Bryan, ia sendiri belum bisa membedakan ketiga bayinya


" Itu Chelsea, dengar saja suaranya!" saut Jiana


Kemudian Bryan memberanikan diri menggendong Chelsea, kedua tangannya tampak bergetar menggendong bayi Chelsea membawanya pada Jiana yang seketika itu juga mengulurkan kedua tangannya. Bibir itu tak henti tersenyum melihat bayi mungil yang sedang menangis dengan suara cemprengnya


Jiana mengecup keningnya lembut yang mana membuat tangisan itu kian mengencang. Ia tersenyum lalu membuka kancing atas baju rumah sakit yang dipakainya, saat akan membuka kancing kedua Bryan segera menahannya


" Sebentar sayang!" tahan Bryan lalu ia menoleh pada semua orang


" Bisakah kalian keluar sebentar?"


" Kenapa? kami masih ingin melihat Zayn dan Zeen."


" Maksudku para pria, Jia akan menyusui Chelsea."


" Astaga!" ucap semua orang membuat Bryan menyengir kuda padahal Chelsea sudah menangis kencang hingga wajahnya memerah


-


-