
-
-
Jiana hanya terdiam seribu bahasa, sejak pulang dari pengadilan wanita itu sudah tak bersuara lagi. Pandangannya dingin lurus kedepan tak menghiraukan Bryan dan Kya, gadis kecil itu riang bernyanyi bersama ayahnya dalam mobil
Kini mereka tiba dirumah sakit. Bryan segera keluar dengan Kya yang terus menempel manja padanya. Bryan juga memutari mobil membuka pintu Jiana, wanita itu lagi-lagi terdiam membiarkan Bryan menariknya keluar
Dengan Jiana yang dalam rangkulannya, Bryan mengikuti Arnold beserta kawan-kawan memasuki rumah sakit besar keluarganya karena disitulah Arnold maupun Viona bekerja. Mereka langsung masuk kedalam ruangan Arnold yaitu ruang obegyn
" Sayang baringkan tubuhmu." perintah Bryan dengan suara lembut membuat teman-temannya ingin sekali tertawa dengan pria yang kini menyandang gelar suami bucin untuk Jiana
Wanita itu hanya menuruti Bryan, terlihat pasrah dengan keadaannya sekarang. Hal itu membuat Arnold menyingkap kemeja putih Jiana." Apa yang kau lakukan?" Bryan menahan jemari Arnold lalu menutupi perut Jiana lagi
" Bukankah kau mau melihat bayimu?" tanya Arnold heran
" Kenapa harus seperti itu? jangan ambil kesempatan untuk melihat tubuh istriku." Bryan menaikan jari telunjuknya didepan Arnold, pria itu menghela nafas geram dengan Bryan lalu ia melirik Viona
" Viona kau saja yang melakukannya." gerutu Arnold
" Bryan, biarkan Arnold memeriksa Jiana, ada apa denganmu. Kenapa posesive sekali." gerutu Clarissa yang sebal pada Bryan
" Aku tidak bicara denganmu." saut Bryan ketus lalu duduk disisi Jiana sambil mengusap perut yang masih rata itu
" Baiklah tapi jangan terlalu tinggi." ucap Bryan mengalah dan sedikit menyingkap kemeja putih Jiana keatas
Arnold terkekeh lalu mulai melakukan pekerjaannya sebagai seorang dokter kandungan." Boy kau beruntung .. " ucap Arnold dengan tatapan pada layar
" Apa baby twins?"
" Kau tahu?" tanya Arnold menoleh kesamping
" Aku punya keturunan kembar, itu bukan hal yang aneh tapi aku sangat senang." saut Bryan tersenyum lebar lalu beralih pada Jiana yang menengadah menatap layar monitor dengan kedua mata berkaca. Bryan segera membungkuk untuk mencium kening Jiana dengan lama
" Terima kasih." bisik Bryan
Lalu menutupi perut Jiana kembali dan membantu sang istri duduk setelah Arnold selesai. Jiana hanya terdiam memegangi perutnya membuat Bryan tersenyum, dalam hatinya Jiana sangat terharu dengan kehamilannya tapi rasa kecewa membuat wanita itu jadi dingin terhadap siapapun
" Vitamin dan penambah darah diminum 3 kali sehari." ucap Arnold seraya meletakan diatas meja kerjanya
" Untuk tiga bulan kedepan hubungan badan dilarang."
" Apa?" Bryan tiba-tiba berteriak membuat teman-temannya terbahak
" Iya, janin masih terlalu lemah jadi ibu tidak boleh kelelahan apalagi membuatnya begadang sampai pagi. Aah itu sama saja membunuh bayimu." saut Arnold mengulum senyumnya melihat wajah masam Bryan, pria itu percaya saja dengan ucapan Arnold
" Baiklah." saut Bryan malas menggandeng istrinya turun dari ranjang lalu mengambil obat yang telah Arnold resepkan padanya
Bryan melajukan mobilnya menuju rumah baru mereka. Rumah itu Bryan desain secara khusus olehnya dan rumah itu kini sedikit lebih jauh dari rumah Ken mengingat letaknya yang berada diujung gang
" Nah sampai." ucap Bryan mengecup puncak kepala Kya yang duduk dipangkuannya
" Ini rumah baru kita." ucap Bryan menyentuh pipi Jiana, wanita itu tak menolak ataupun bereaksi apapun hanya diam dengan wajah dingin. Bryan memaklumi itu lalu menurunkan tangannya menjadi diperut. Mengusapnya dengan lembut dan bibir yang tersenyum
Lalu ia membuka sabuk pengaman Jiana, jika tak ada Kya mungkin Bryan sudah meluma* habis bibir yang cemberut dan terlihat lucu dimatanya itu. Bryan keluar dari mobil dengan Kya dalam gendongannya dibelakang, memutari mobil membuka pintu untuk Jiana, wanita itu harus ditarik dulu baru mau keluar dari mobil
Jiana seperti kehilangan jiwanya, wanita itu hanya mengikuti Bryan tak bicara ataupun berekspresi diwajahnya. Bryan mengajak keduanya masuk kedalam rumah yang mana langsung disambut bi Ami dan Pak Deden disana. Keduanya tampak senang melihat Jiana Kya kembali
Rumah itu lebih besar dan modern karena Bryan mendesain semuanya sendiri. Tampak foto-foto Jiana dan Kya bertebaran disetiap sudut rumah itu. Tak lupa juga foto pernikahannya dan Jiana terpajang besar diruang tamu
Kemudian Bryan menarik Jiana membawanya kelantai dua dimana disana ada beberapa kamar termasuk kamarnya dan Jiana. Dilantai dua juga ada sebuah tempat olahraga dan ruang khusus keluarga yang didalamnya benar-benar penuh dengan foto keluarga, Bryan menuju kesana. Tapi sekali lagi Jiana hanya diam tanpa mau melihat-lihat membuat Bryan merasa kesal, sepertinya Bryan harus ektra sabar menghadapi Jiana
" Sekarang kita kekamar Kya."
" Rumahnya bagus Dad." puji Kya membuat Bryan tersenyum lebar
" Siapa dulu, Daddy Blayen!" teriak Bryan
" Daddy Kya!" balas Kya berteriak sambil meloncat girang
Bryan kembali melangkah menuju kamar Kya, ia membuka pintu dan seketika itu juga gadis kecilnya meronta ingin turun dari pangkuan Bryan. Bryan terkekeh lucu menurunkan Kya sehingga gadis kecil itu berlari menuju rak dingding yang dipenuhi boneka dari berbagai macam bentuk
" Mariposa!" teriaknya mengambil boneka barbie Mariposa
" Kya rindu mariposa." Bryan tertawa melihat tingkah putrinya memeluk barbie Mariposa seolah menyalurkan rasa rindunya pada mainan favoritenya itu. Lalu ia melirik Jiana, bibirnya tampak tersenyum melihat Kya dan Bryan ikut tersenyum karena hal itu. Pria itu segera menarik Jiana keluar kamar dan membawanya menuju kamar disebelah kamar Kya yang diyakini adalah kamar untuk mereka
Bryan membuka pintu kamar itu mempersilahkam Jiana masuk. Bryan berharap Jiana senang namun wanita itu hanya datar. Sambil melangkah masuk Jiana tampak mengedar dikamar yang luas itu. Disana juga terdapat balkon yang luas yang sengaja Bryan desain khusus untuk area privasinya bersama Jiana. Bryan berharap bisa bermesraan disitu setelah semua masalah yang menimpanya selesai
Bryan hanya mengikuti Jiana, wanita itu membuka kaca jendela dan menuju balkon. Pandangan Jiana mengedar memperhatikan pemandangan sekitar. Lalu wanita itu duduk disebuah sofa merah yang terletak disudut balkon. " Jia, kamu menyukai ini?" tanya Bryan tapi lagi-lagi Jiana tak menjawabnya
Bryan menarik nafasnya pelan lalu mendudukan dirinya disamping Jiana. Menggandeng wanita itu kepelukannya dengan tangan lain mengelus perut Jiana. Sesekali juga kecupan Bryan mendarat dikening, lama mereka diam disana dalam keheningan." Sayang .. kamu tidur?" tanya Bryan menarik pelan dagu Jiana hingga menengadah, wanita itu menatapnya dalam diam
" Kamu mungkin kecewa Jia, tapi ini caraku untuk mempertahankan pernikahan kita. Jika kamu ingin bahagia, aku yang akan membahagiakanmu. Jika kamu menginginkan sesuatu aku yang akan memberikannya padamu. Karena aku sangat mencintaimu Jia .." tutur Bryan tapi Jiana hanya menampilkan wajah datarnya
" Aku sangat mencintaimu, aku mencintaimu." bisik Bryan menatap lekat seraya mengulurkan tangannya membelai pipi Jiana
Lalu ia memiringkan wajah untuk meraih bibir Jiana. Untuk kesekian kalinya wanita itu diam bahkan saat Bryan memberikan ciuman mesranya. Wanita itu hanya diam menatap wajah Bryan dari jarak dekat sangat berbeda dengan Bryan yang memejamkan mata, Jiana tak terkecoh sedikitpun dengan lumata* lembut suaminya
" Daddy .. " teriakan itu sukses membuat Bryan berjingkat kaget dan spontan melepaskan bibirnya dari Jiana
-
-