Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
gagal total



-


-


Baru saja Bryan akan kembali membuka mulutnya kini teriakan Kya membuat Bryan berdecak kesal, gagal sudah acaranya yang akan mengulangi menggagahi tubuh ibunya


" Daddy Kya .. " teriaknya lucu dari arah dalam rumah


" Ini gara-gara kalian, aku jadi kehilangan waktu bermesraan dengan istriku." gerutu Bryan kesal dengan kedua tangan yang masih tak berpindah masih menangkup wajah Jiana, wanita itu hanya tersenyum lucu melihat Bryan


Bryan segera melepaskan kedua tangannya dari Jiana lalu merubah kembali duduknya. Seketika ia tersenyum melihat kedua pipi bapau itu bergetar saat berlari ke arahnya


" Dasar nakal tidak pernah menurut." gumam Bryan menggelengkan kepala jengah pada putrinya


Gadis kecil itu langsung berhambur memeluk Bryan yang sedang duduk, bibir itu mengerucut dan langsung mendapat kecupan Bryan membuat siapapun merasa lucu melihat gadis kecil dalam pelukan Bryan terutama Arnold, pria itu sampai membuka mulutnya lebar memperhatikan Kya


" Kya .." panggil Arnold merentangkan kedua tangannya membuat Kya menoleh dan spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan sambil menggelengkan kepalanya


" Ayolah cantik, ini uncle." ucap Arnold lagi namun sekali lagi gadis kecil itu menggeleng dan menyembunyikan wajahnya didada Bryan


" Kenapa mirip sekali denganmu?" tanya Clay


" Kau bodoh ya, tentu saja karena dia putriku. " bentak Bryan pelan membuat Clay tak mengerti dengan Bryan yang berubah, dulu pria itu selalu manis dan penuh rayuan padanya tapi sekarang didepan istrinya Bryan terasa dingin bahkan mengabaikannya, padahal sejak datang dada dan paha putihnya terlihat. Biasanya Bryan sangat suka dan matanya akan jelalatan melihat Clay ataupun wanita yang seksi tapi sekarang hanya Arnold dan David saja yang sesekali jelalatan padanya sedangkan Bryan hanya fokus pada istrinya


Dari arah dalam rumah terlihat Dean dan Pevita menyusul menghampiri mereka, pria bertubuh tinggi itu celingukan sesaat kedalam rumah sebelum menyalami teman-teman perempuan Bryan membuat Bryan terkekeh lucu melihat kakak iparnya yang pasti ketakutan oleh kakanya. Maklum, ayah Pevita itu suami yang takut istri apalagi istrinya segalak Bulan


" Kya .. kamu melewatkan acara membuat adik Daddy dan Mumymu." teriak Dean kencang saat melihat leher Jiana yang di penuhi tanda merah yang tentu saja itu milik adik iparnya


" Jadi Daddy tidak mengajak Kya lagi?" tanyanya dengan bibir mengerucut cemberut membuat semua orang tertawa melihatnya


" Kalau Kya melihat Kya akan terkejut." saut Bryan


" Kenapa Kya halus telkejut?


" Karena adik bayi buatan Daddy akan sangat tampan."


" Kya mau yang cantik sepelti Kya." Bryan terkekeh lucu lalu ia menoleh pada Jiana yang tersenyum pada keduanya, senyuman itu menyalur pada Bryan seolah mengucapkan beribu terima kasih pada wanita yang telah mau melahirkan putrinya itu


" Daddy Kya mau adik bayi yang cantik sepelti Kya." ucapnya lagi cerewet


" Iya sayang cantik seperti Kya." saut Bryan lembut lalu memberi kecupan lembut dikening Kya terlihat sekali dimata semua orang, Bryan yang playboy itu kini menjelma menjadi ayah penyayang untuk putrinya


" Ehmm papa mertua." sapa David tiba-tiba menyengir pada Dean


" Kau ini tidak sadar atau bagaimana, Pevita tumbuh besar nanti kau sudah kakek-kakek." ledek Bryan


Dean tertawa pelan sambil menggandeng putri semata wayangnya yang selalu menampilkan wajah jutek pada teman-teman pamannya


" Dia masih terlalu kecil, tidak akan mengerti dengan rayuan gombalmu." ledek Dean pada David


" Aku tidak akan merayunya aku akan langsung menikahi Pevita, iyakan Pev?" tanya David yang sangat senang sekali menggoda bocah yang baru tumbuh remaja itu, maklum perpaduan Dean dan Bulan itu memang sangat cantik


" Aku tidak sudi menikah dengan om-om genit seperti paman David." sautnya ketus membuat semua orang tertawa. Pevita benar-benar mirip ibunya dulu, pikir Dean


" Pevita apa Kya tadi berenang?" tanya Jiana saat menyentuh dahi Kya yang kembali panas


" Iya bersama Pevita." sautnya. Jiana beralih pada Kya yang mendadak merengut takut dipelukan ayahnya


" Mum sudah bilang kenapa Kya nakal sekali. " omel Jiana sambil menarik dagu runcing itu agar menatapnya


" Mau sakit lagi hmm? mau disuntik lagi pakai jarum besar?"


" Tidak mau." sautnya pelan ketakutan dengan kedua tangan memegang erat kaos Bryan


" Kalau tidak mau kenapa Kya nakal." saut Jiana ia hendak menyentil kuping itu namun segera ditahan Bryan dengan tangannya


" Sudah kubilang jangan pakai tangan."


" Jangan terlalu memanjakan Kya, dia akan terus nakal dan tak menurut."


" Tapi tidak menggunakan tanganmu." bentak Bryan pelan memangku Kya duduk dipangkuannya dan membalikan wajah gadis kecil itu membelakangi Jiana


" Mau kemana?" tanya Bryan melunak


" Kedapur memasak." saut Jiana malas


" Aku belum lapar, nanti saja." Bryan kembali menarik Jiana untuk duduk namun wanita itu menolak dengan menepis pelan tangannya


" Ini sudah waktunya jam makan siang."


" Sayang aku baru saja makan bukan?"


" Aku akan memasak untuk teman-temanmu."


" Tidak, tidak jangan. Mereka akan pulang sebentar lagi."


" Kenapa sebentar sekali?" tanya Jiana menatap semuanya bergantian


" Siapa bilang kami masih lama disini." saut Arnold dengan mata jelalatan memandang tubuh Jiana membuat Bryan kesal sampai mengepalkan tangannya. Padahal Arnold sengaja ingin melihat reaksi Bryan dan ternyata pria itu terlihat cemburu


" Ya memasak sana, pergi cepat kedapur." perintah Bryan ketus


" Dasar aneh." gerutu Jiana lalu ia berpindah ke samping Bryan yang lain untuk melihat putrinya yang menciut takut karenanya, Jiana pelototi Kya hingga kedua mata itu berkaca


" Anak nakal." ucap Jiana sambil menyentil kuping Kya dan kali ini wanita itu berhasil saat Bryan lengah, lalu ia melenggang masuk kedalam meninggalkan Kya yang mulai menangis kencang


" Jiana, bisa-bisanya kau membuat putriku menangis." teriak Bryan kencang membuat Jiana tertawa pelan sambil terus berjalan menuju dapur


" Sstttt nanti kita beri pelajaran Mum hmm?" rayu Bryan pada Kya


Gadis kecil itu mengangguk pelan ditengah tangisannya


" Dad mau memukul Mum?"


" Ya kita pukul bokong Mum bersama-sama." bisik Bryan ditelinga Kya membuat gadis kecil itu cekikikan ditengah tangisnya


" Jadi sekarang kau tidak akan berkumpul lagi bersama kami." ucap Clay sendu, wajah itu terlihat cemburu dengan Bryan yang sudah dimiliki orang dan yang dilihat Clay Bryan terlihat menyayangi istrinya


" Aku tidak tahu, aku sudah janji pada Jiana untuk berubah." saut Bryan


" Personil kita akan kekurangan satu." saut Clay


" Bukankah Kalia bergabung?" tanya Bryan melirik Kalia, wajah wanita itu sama sendunya seperti Clay


" Kau yakin?" tanya Clay lagi


" Aku tidak mungkin mengingkari janjiku." saut Bryan mantap


Ehem


Suara deheman wanita membuat semua perhatian semua orang tertuju padanya. Wanita itu Jeny dan Bulan yang baru datang menghampiri mereka. Lihatlah Momy Bryan itu memberikan delikan sebalnya pada Arnold dan David


" Jangan mengajak Boy, kalian sudah beda dunia." larang Jeny sambil menatapi semua orang bergantian


" Kami hanya mengunjungi Bryan yang sedang sakit." saut David dengan senyum khasnya pada Jeny yang memang sering mengomeli ketiga pemuda playboy itu


" Boy kamu sakit?" tanya Jeny spontan menyentuh dahi putranya


" Aku hanya masuk angin, mereka saja yang berlebihan." saut Bryan


" Jelas-jelas istrimu yang menghubungi Viona." gerutu David membuat Bryan tersenyum merekah


" Itu karena dia mengkhawatirkanku." sautnya


" Bukan, karena Jiana malas merawatmu." saut Arnold


" Beraninya kau!" bentak Bryan membuat teman-temannya cekikikan


-


-.