
-
-
Darah Jiana berdesir hebat tatkala ia menatap Bryan yang begitu rakus memainkan dua gunung kembarnya, Bryan sudah seperti Kya saat bayi yang lahap menyusu padanya. Tubuh Jiana juga mulai tak diam, bergerak tak karuan akan sentuhan jemari dan bibir Bryan
Bryan mengangkat tubuhnya menjauh dari Jiana, kedua tangannya mulai menarik celana piyama Jiana hanya meninggalkan kain segitiga saja. Tatapan Bryan berkabut memandangi setiap lekuk tubuh Jiana, bibirnya tersenyum lucu melihat cetakan yang basah disekitar pangkal paha di kain merah menyala segitiga Jiana. Bryan menyentuh pangkal paha itu membuat tubuh Jiana menggeliyat
Breek, Bryan merobek kain segitiga itu hingga sang pemilik tersentak dan memekik
" Kenapa merobeknya?"
" Aku akan membelikan yang lebih bagus dari itu. " saut Bryan parau melempar kain segitiga itu kesembarang arah dengan manik hitam pekat tertuju pada pangkal paha membuat jakunnya naik turun akan keindahan itu
Merasa malu ditatap seperti itu, Jiana merapatkan kedua kakinya membuat Bryan terbahak. Lalu mensejajarkan wajahnya pada Jiana menghimpit tubuh itu dan membuka lebar kedua paha Jiana dengan satu tangannya, mengusap pangkal paha itu dengan lembut
" Basah." bisik Bryan dengan seringai nakalnya
" Kau sudah tidak tahan ya." goda Bryan kian membuat Jiana malu hingga wajahnya memerah
" Shut up." saut Jiana pelan
Bryan terkekeh." Woow seksi." bisiknya lagi menggoda Jiana yang disambut dengan tamparan pelan pada bibirnya oleh Jiana. Lalu jemari kekar itu naik ke pipi membelainya pelan seraya memberi kecupan lembut disana. Untuk kesekian kalinya Jiana terbuai dengan sentuhan itu, ia memejamkan mata menikmati hangat dan kenyalnya bibir Bryan dipipinya, dimata, dikening dan dibibir, begitu seterusnya yang dilakukan Bryan sambil melepaskan seluruh pakaiannya dan melemparnya kelantai
Setelah sama tanpa busana seperti Jiana, Bryan segera memposisikan dirinya, menempatkan tubuhnya diantara kedua kaki Jiana, wanita itu menggeliyat geli tatkala sesuatu yang panas dan keras menyentuh permukaan kulit area sensitifnya
" Aku masuk ya." bisik Bryan meminta ijin pada Jiana, mencium bibir Jiana sejenak, wanita itu hanya pasrah dengan apapun yang Bryan lakukan malam ini
" Bryan. " pekik Jiana saat Bryan mulai menekan juniornya dibawah sana. Wajah Jiana menegang, kedua matanya menatap Bryan yang malah tersenyum. Jiana merasa gugup, ia bergerak tak karuan dan mencoba bergerak menjauhi Bryan tapi seketika itu juga Bryan lebih mendekat, kian menghimpit tubuhnya
" Ssshhhttt diamlah sayang .. jangan banyak bergerak" ucap Bryan
" Ah susah juga." ucap Bryan parau mengangkat sedikit tubuhnya dengan satu sikut menahan beban tubuhnya menundukan wajahnya kebawah mencoba membenamkan adiknya pada kewanit*an Jiana
" Sakit Bryan aww. " pekik Jiana mendorong dada Bryan
" Hey .. " Bryan menahan tangan Jiana yang terus mendorongnya, ia menatap Jiana
" Kapan terakhir kali melakukannya?" tanya Bryan menautkan jemarinya pada jemari Jiana, menekannya kekasur
Jiana menggelengkan kepalanya pelan." Aku tidak pernah melakukannya."
" Kenapa?" tanya Bryan lembut lalu mencium kening Jiana, hati Jiana bergetar. Nyatanya ia lebih suka Bryan menciumnya dikening dibanding dibibir
" Karena Kya selalu melarang dan mengusir pria yang mendekatiku."
" Kya pintar sekali, dia benar-benar putriku." teriak Bryan senang lalu meraup bibir itu lagi untuk kesekian kalinya. Tak lama ia lepaskan dan mencoba mendorong adiknya lagi pada kewanita*n istrinya
" Aw sakit, lepaskan saja." pekik Jiana lagi padahal Bryan baru masuk ujungnya saja. Bryan kembali lagi pada Jiana, merayu wanita itu dengan sentuhan bibirnya di bibir Jiana, ia luma* dengan lembut untuk beberapa saat
" Aku tidak bisa berhenti sayang, ini sudah ditengah jalan." ucap Bryan memelaskan wajahnya, setelah sekian purnama menunggu Jiana mana mungkin ia melepaskan Jiana begitu saja
" Tapi ini sungguh sakit." ringis Jiana
" Tahanlah sebentar sakitnya tidak akan lama hmm." saut Bryan lembut
Jiana menganggukan kepalanya lemah membuat Bryan tersenyum dan kembali mendaratkan bibirnya dikening hingga Jiana merasa disayang dengan sikap Bryan yang lembut seperti ini
" Kau perawan lagi ya, susah sekali." goda Bryan mengulum senyumnya menatap Jiana yang juga ikut tersenyum ditengah ringisan sakitnya karena Bryan yang terus mencoba mendorong miliknya untuk menyatu dengan Jiana
Tautan jemari Bryan kian menguat seiring dengan hentakan kuat dibawah sana yang menenggelamkan adiknya masuk seutuhnya dalam hangatnya tubuh Jiana, Bryan sampai mengerang panjang karena hal itu
" Ouugh ****!"
" Bryan sakit, kau jahat." teriak Jiana mulai menitikan airmatanya yang segera dihapus Bryan lalu ia beri kecupan kedua mata Jiana
" Aku akan pelan-pelan sayang." bisik Bryan lembut menyusupkan kedua tangannnya untuk merengkuh tubuh Jiana sambil mulai bergerak pelan dan meraup bibir Jiana yang merintih kesakitan agar membuat Bryan tak gusar karena rintihan kesakitan itu sedikit mengganggunya dan membuatnya tak tega
Saat rintihan itu mulai tak terdengar, Bryan mengangkat tubuhnya dengan menumpu telapak tangan pada kasur dan satu tangan kembali ia tautkan dengan jemari Jiana. Bryan mulai berbohong nyatanya ia mulai bergerak cepat, berpacu dengan penuh semangat
" Bryan lepaskan dulu, aku ingin kekamar mandi."
" Disini saja."
" Tidak mau, cepat lepaskan." pekik Jiana tersengal
Bryan tersenyum lucu melihat Jiana yang tidak tahu apapun mengenai hubungan intim. Lalu Bryan segera mendekat dan merengkuh tubuh itu lagi, ia beri kecupan lembut dibibir Jiana
" Keluarkan saja sayang disini. kau bukan mau pipis tapi itu namanya klimak*." bisik Bryan
" Bryaaaaannnnhhh." pekik Jiana, tubuhnya bergetar hebat membuat Bryan berhenti karena adiknya merasa terjepit dibawah sana, ia menatapi Jiana yang diselimuti kenikmatan usai pelepasan pertamanya
" Kau menikmatinya?" tanya Bryan pada Jiana yang wajahnya memerah bak kepiting rebus, bahkan Jiana tak mampu membuka matanya
Bryan tersenyum lucu dan kembali melanjutkan permainan panas yang belum usai untuknya itu, kali ini ia benamkan wajahnya di dua gunung kembar yang berguncang karena hujamannya dibawah sana
" Bryan .. " suara itu sangat-sangat terdengar indah ditelinga Bryan, pria itu mengangkat wajahnya sejenak
" Ya sayang yeah terus panggil namaku." bisik Bryan parau lalu kembali membenamkan wajahnya dibuah dada, menghirup aroma tubuh yang telah lama ia rindukan dengan bibir yang tak henti mengerang
Kucuran keringat membanjir membasahi seluruh tubuh keduanya terutama Jiana, keringatnya membanjir mengalir dari leher ke gunung kembar dan mengenai wajah Bryan yang basah bertambah basah membaur dengan keringat Jiana. Bryan kembali mengangkat wajah dan mensejajarkannya dengan Jiana, kali ini ia menghujani seluruh wajah istrinya dengan kecupan lembut membuat Jiana tersihir untuk kesekian kalinya dengan kelembutan itu
" Apakah sangat panas?" tanya Bryan
" Tubuhmu sangat panas." saut Jiana menunduk kebawah merasakan panasnya adik Bryan yang terus keluar masuk miliknya lalu ia kembali ke atas pada wajah yang basah oleh keringat. Jiana mengulurkan jemarinya menyentuh dahi Bryan
" Kita selesaikan secepatnya hmm?"
Jiana mengangguk pelan dan kembali mendapat bungkaman bibir Bryan pada bibirnya untuk beberapa saat. Kemudian pria itu mulai bangkit menjauhkan tubuhnya dari Jiana, membuka kedua paha Jiana lebar, menahan dengan kedua tangannya dan mulai memacu hujamannya membuat Jiana menjerit tak karuan
" Bryan .. Bryan .. ohh .. aaah .. uuhhmmm .. "
" Jiana .. uuhmm sayang .. "
" Sayang .. oough **** .. kau sempiiithhh .."
" Bry .. aan ah emmh .. pel aan .. "
" Jiana .. "
Nama Jiana terus lolos dari bibir Bryan. Bryan juga berbohong, nyatanya hampir setengah jam ia belum juga menyelesaikan permainan panas ini padahal Jiana sudah terlihat lemah dan suara itu merengek meminta Bryan untuk segera berhenti. Tapi Bryan malah semakin memacu seolah tak lelah hingga suara benturan tubuhnya dan Jiana lebih mendominasi suara derit ranjang
Bryan kembali merengkuh Jiana saat dirinya diambang batas dan memuntahkan lahar hangatnya dirahim Jiana membuat tubuh Jiana pun ikut bergetar, Jiana merasakan panas, lengket dan nikmat dibawah sana. Selama setengah jam lebih ini entah berapa kali tubuh wanita itu bergetar hebat
Kemudian Bryan berguling membawa Jiana dalam pelukannya dengan nafas keduanya yang masih terengah. "Kau beruntung aku sedang sakit, jika tidak habis kau malam ini Jiana." ucap Bryan serak lalu memejamkan mata, tubuhnya kini benar-benar terasa lemas setelah mengeluarkan banyak tenaga menggagahi Jiana, melampiaskan hasratnya yang terpendam berbulan-bulan lamanya
Sementara Jiana masih mengatur nafasnya sambil menatap wajah Bryan yang kini kian memucat. Jemarinya terulur menyentuh dahi Bryan yang panas lalu ia menyentuh bibir itu, Jiana tersenyum manis mengingat bibir itu sangat lihai menaklukannya
" Tidurlah, memangnya tidak lelah?" gumam Bryan membuat Jiana terkejut
" Tubuhmu panas." saut Jiana kembali menyentuh dahi Bryan lalu ia mencoba melepaskan dirinya dari Bryan
" Mau kemana?" gumam Bryan lagi, kali ia membuka matanya
" Tubuhmu sangat panas, aku akan mengompresmu." saut Jiana
" Tidak usah sayang, jangan tinggalkan aku."
" Tapi kau demam."
" Aku tidak apa-apa, peluk saja aku." saut Bryan kembali ia mendekap erat Jiana, membenamkan wajah cantik berkeringat itu kedadanya yang juga dipenuhi keringat. Bryan kecupi puncak kepala Jiana lalu benar-benar memejamkan matanya yang terasa berat
Jiana tersenyum membalas pelukan Bryan, melingkarkan tangan kanannya dipinggang Bryan dengan jantung yang berdebar kencang. Malam ini Jiana sangat merasa senang, Bryan memperlakukannya dengan sangat lembut sangat berbeda dengan 5 tahun lalu, saat itu Jiana hanya merasakan sakit tapi kini terasa berbeda, bukan sakit tapi rasa nikmat yang tidak bisa ia jabarkan
-
-