
-
-
" Dasar brengsek, kenapa tidak pulang-pulang sih, aku sudah tidak sabar untuk menghamili Jiana." gerutu Bryan dengan kedua mata tak mengedip sedikitpun takut ada yang terlewat saat ia mematai istrinya dan Darwin
Kecemburuan terlihat dimata Bryan melihat keduanya yang tampak asyik berbincang dan tertawa renyah." Jiana kau istri durhaka, bisa-bisanya kau tertawa seperti itu bersama pria lain." gerutu Bryan lagi mengepalkan kedua tangannya geram
" Kita bahkan belum berpisah, kau sudah berani berduaan bersama si brengsek itu." Bryan sangat ingin menghabisi Darwin tapi ia tak mau menggagalkan tujuan awal ia datang kemari, akhirnya ia hanya bisa bersabar menunggu Darwin pulang
Menjelang larut malam akhirnya penantian Bryan berakhir, Darwin pulang karena Kya yang terlihat mengantuk dan merengek pada Jiana. Bryan segera keluar dari kamar Kya, ia segera bersembunyi diruang tamu dibelakang sofa saat pintu rumah Jiana tertutup dan dikunci wanita itu
Manik hitam pekat itu terus menatapi Jiana yang memangku Kya menuju kamarnya. Gadis kecil itu tampak lelah dan meletakan kepalanya dipundak Jiana. Bryan segera berdiri ia berlari lagi menuju kamar disebelah kamar Kya. Dengan pandangan mengedar ia masuk kedalam kamar itu, tak terlalu luas dan yang membuat Bryan tertawa adalah ranjang dikamar itu terbuat dari kayu bisa dipastikan saat ia menggoyang Jiana ranjang itu akan berderit kencang. Pikir Bryan mesum
Tak berselang lama Bryan mendengar suara pintu tertutup, ia segera bersembunyi dibelakang pintu kamar Jiana. Bibirnya menyeringai melihat Jiana masuk kedalam kamar, ia mengintip dari balik pintu dan tersenyum lebar saat Jiana membuka seluruh pakaiannya membelakangi Bryan
" Ah aku tidak tahan." gumam Bryan dalam hati meneguk ludahnya kasar
Sementara Jiana masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya tanpa tahu kedua mata kini sedang memperhatikannya dengan jakun naik turun karena pintu kamar mandi yang tak ditutup
" Jia hanya kau yang membuatku jadi pria mesum seperti ini." gumam Bryan lalu segera berlari untuk menyembunyikan dirinya lagi tatkala Jiana selesai dan kembali kekamar
Tubuh Jiana mendadak menegang, ia mencium aroma maskulin yang sangat ia kenali dan sedetiknya ia terkesiap saat kedua tangan mendekapnya dari belakang
" Aku mendapatkanmu." suara itu membuat Jiana meronta
" Lepaskan aku, apa yang kau lakukan disini." teriak Jiana
" Ssssuuuut jangan menghabiskan suaramu sekarang." saut Bryan, nafas itu menggelitik kulit leher Jiana
" Keluar dari rumahku!"
" Kenapa? kau mau memasukan si Darwin kedalam rumahmu?" tanya Bryan tajam
" Kau .. memataiku?"
" Kenapa kau mau menggantikanku dan Darwin? kita belum bercerai kau sudah berani bertemu pria lain." Jiana mencoba meronta sekuat tenaganya namun dekapan Bryan terlalu kuat
" Aku tidak sebejad dirimu!" umpat Jiana dan langsung mendapat dorongan dari belakang oleh Bryan, pria itu menghimpit tubuh Jiana yang hanya menggunakan handuk kepintu lemari
" Ah lepaskan aku." teriak Jiana, Bryan mulai tak menggubris, ia menyingkap rambut basah Jiana kesamping dan mendaratkan bibirnya dipundak
" Lepaskan aku atau aku akan berteriak dan semua orang datang kemari." Bryan tersenyum sinis
" Seperti kau punya tetangga saja." ledek Bryan yang melihat rumah Jiana yang lumayan dari pemukiman warga
" Lepaskan aku, tolong .."
" Bryan .. "
" Aku merindukanmu." bisik Bryan parau di leher Jiana
" Lepaskan aku." teriak Jiana
Bryan memindahkan kedua tangannya menuju perut lalu menggeret Jiana hingga kedua kaki wanita itu mengangkang tak berpijak pada lantai. Jiana terus memukul bahkan mencakar lengan Bryan tapi Bryan seolah tak merasakan sakit sedikitpun, tekad dan tujuannya sudah bulat. Demi Kya dan Jiana ia mengenyampingkan perasaan dan rasa kasihannya pada Jiana
Bryan duduk diranjang dengan kedua tangan melingkar diperut Jiana yang duduk dipangkuannya, ia mulai mencumbu* leher dan telinga Jiana untuk merangsang wanita itu
" Lepaskan aku, jangan menyentuhku." teriak Jiana mulai menangis
" Jangan seperti ini kumohon." isak Jiana menggelengkan kepalanya cepat
" Aku tidak akan bersama Darwin, aku janji." wajah Jiana yang berlinang airmata itu memelas, sejujurnya ia sangat merindukan sentuhan Bryan namun ia juga tak mau goyah dan tertipu Bryan untuk kesekian kalinya
"Emmmmh .. " lenguhnya tertahan tatkala jemari itu mulai menyusup keantara kedua kaki Jiana yang merapat
" Kumohon jangan memaksaku." lirihnya dengan tubuh menggeliyat geli, Bryan tersenyum lucu karena hal itu
Bruk
Bryan hempaskan pelan tubuhnya dan Jiana pada ranjang lalu menaiki tubuh Jiana, mengurung wanita itu dengan tubuhnya." Aku tidak akan melepaskanmu Jiana, sampai matipun aku tidak akan melepaskanmu."
" Tidak kau salah, dua bulan lagi kita resmi berpisah." saut Jiana dengan nada dingin
" Kau yakin dengan keputusanmu?"
Jiana terdiam, tatapannya dingin pada Bryan." Aku tidak pernah seyakin ini." ucapan itu membuat tensi darah Bryan naik keubun-ubun. Ia segera turun kebawah dan meraup puncak buah dada Jiana
" Lepaskan aku brengsek." Jiana kembali berteriak dan menangis, meronta dengan mendorong kedua pundak Bryan dengan kedua tangannya
Tapi lama kelamaan tubuhnya mulai melemas, pertahanan Jiana runtuh. Tubuh yang merindukan Bryan mengkhianati pikirannya." Kumohon jangan paksa aku." lirih Jaian disela-sela kesadarannya
" Emmmh .. " Jiana hanya bisa menggigit bibir bawahnya agar tak bersuara tatkala jemari itu mulai menyeruak masuk kedalam kewanitaannya, mengoyak keimanan Jiana
Bryan segera mencabut dua jarinya yang sudah basah dipenuhi cairan Jiana. Ia mendekatkan wajahnya pada Jiana yang terengah
" Kau tidak mau tapi kau basah seperti ini." ledek Bryan menunjukan jari tengah dan jari telunjuknya tepat didepan wajah Jiana lalu memaksa memasukan kedua jemari itu kemulut Jiana
" Bagaimana rasanya nikmat aaawwww .. " Bryan berteriak Jiana menggigit kedua jari itu dengan kencang
" Lepaskan .. kau berniat membuatnya terputus." teriak Bryan, wajah itu kesakitan karena Jiana
Saat Jiana melepaskan jarinya, Bryan segera mencengkram kedua pipi Jiana dan meraup bibirnya, ciuman maut itu kembali membuat Jiana terlena. Jiana memejamkan mata meskipun tak membalas belitan lidah Bryan
Saat merasa tak tahan dengan hasratnya yang kian menggebu, Bryan menjauhkan tubuhnya dari Jiana. Ia berlutut membuka kancing kemejanya satu persatu membuat Jiana punya kesempatan untuk melarikan diri. Wanita itu beringus bangun dan mendorong Bryan hingga terjerembab dan terjatuh kelantai. Sedangkan dirinya mengambil handuk, Jiana berlari sambil melilitkan handuk ditubuhnya
" Sialan." teriak Bryan, kini pria itu benar-benar marah pada Jiana, wajahnya memerah dan kedua matanya menajam
" Jiana .." teriak Bryan lagi beringus bangun membuka kemejanya, melemparnya kelantai dengan kesal lalu keluar mengejar Jiana
Bibirnya menyeringai melihat Jiana yang ketakutan didepan pintu utama rumahnya. Jemarinya sampai bergetar berusaha membuka kunci pintu." Mau kemana?" suara Bryan membuat Jiana kian takut
" Jangan mendekat." teriak Jiana
" Aku akan terus berteriak dan membangunkan Kya. Putrimu akan melihat betapa bejadnya ayahnya."
" Lakukan saja."
" Kau memang brengsek dan tak pernah memikirkan perasaanku dan Kya." Jiana kembali menangis di ujung pintu itu, sialnya ia benar-benar kesusahan membuka kunci tersebut
Bryan tak menanggapi, maniknya sibuk menatap penuh terkaman pada tubuh Jiana yang sebulan ini tak ia sentuh. Ia tak membela dirinya dan membiarkan Jiana berucap menyumpah serapah dirinya. Karena menurut Bryan bicarapun rasanya percuma, Jiana tak mempercayainya lagi
-
-