Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Malam Bryan dan Jiana



-


-


Malam ini Bryan tengah bersiap menunggu Jiana dikamarnya. Pria itu duduk disofa melipat satu kakinya dengan tubuh hanya berbalut boxer hitam. Sambil sesekali mengisap rokok ditangan dan sampagne dalam gelas ditangan satunya lagi


Rasanya Bryan sudah tak tahan untuk bercocok tanam bersama Jiana. Ia sudah lama tak mengeluarkan sper*anya di dalam rahim Jiana. Mengingat itu Bryan jadi terkikik lucu, penantian selama lima bulan akhirnya berakhir


Zayn, Zeen dan Chelsea sudah ia antisipasi dengan Bella. Bryan akan bebas menghabiskan malam bersama Jiana


Ceklek


Senyum Bryan mengembang tatkala wanita tercantik yang ia nanti itu keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya


" Boy kamu belum tidur?" tanya Jiana dengan dahi berkerut, biasanya jam seperti ini Bryan sudah terlelap bergelung dalam selimut karena menghindari Jiana


" Ini masih sangat sore." saut Bryan dengan seringai nakal dibibirnya yang mana saat itu juga Jiana mengerti


" Kenapa lima bulan cepat sekali." gerutu Jiana dalam hati lalu melenggang menuju meja rias dan duduk disana membelakangi Bryan


Ia menyisir rambutnya sembari menatap Bryan yang juga menatapnya dengan tatapan nakal melalui pantulan cermin


" Jia kemarilah." perintah Bryan


" Aku belum selesai." saut Jiana gugup


Bryan terkekeh lalu beranjak berdiri membuat Jiana dag dig dug tak karuan. Ia menggenggam erat sisir ditangannya. Rasanya seperti akan melakukan malam pertama lagi untuk dirinya


Jiana meneguk ludahnya susah payah saat Bryan mengurung tubuhnya dengan kedua tangan menumpu pada sisi meja rias. Bibirnya langsung berlabuh pada pipi Jiana


" Aku merindukanmu sayang." ucapnya setelah sekian lama tak Jiana dengar. Jiana hanya tersenyum dengan wajah merona


" Boy. " Jiana memekik tatkala tubuhnya tiba-tiba dibopong Bryan


" Aku belum selesai." saut Jiana pelan


" Aku sudah tidak tahan." bisik Bryan parau lalu membawa Jiana menuju ranjang


Membaringkan tubuh itu dengan pelan dan mengurungnya." Jia kamu meminum pil kontrasepsi?"


Jiana mengangguk pelan." Sikembar masih kecil." sautnya


Bryan tertawa pelan sambil tak henti menatap Jiana yang entah kenapa terlihat gugup dimatanya." I love you." bisik Bryan membelai pipi Jiana dengan begitu lembutnya, tak lama ia beri kecupan lembut pipi itu


Menjalar menuju bibir Jiana, ia beri kecupan berulang sebelum meluma*nya. Bryan mulai menuntut memasukan lidahnya kedalam mulut Jiana membelit lidahnya dengan tangan mulai nakal menurunkan gaun tidur Jiana kebawah


Jiana hanya diam, ia tak mungkin menolak kewajibannya untuk melayani Bryan meskipun dalam hatinya ia merasa takut dengan bekas kelahiran Zayn yang mengharuskan dokter menjahit luka robek pada kewanitaannya


Lama Bryan mencumbbui bibir itu sampai tangannya menyusup kebalik celana Jiana, ketika itulah Bryan berhenti. Ia melepaskan bibir Jiana mengangkat wajah dan tertawa kecil." Basah sayang." bisiknya nakal menggoda Jiana yang baru ciuman saja sudah terangsang


Jiana yang malu akhirnya memberi tamparan pelan untuk Bryan dipipinya." Aku lanjutkan hmm?"


Jiana mengangguk dengan malu-malu, dan hal itu membuat Bryan gemas, ia mencium bibir itu lagi mengeksplor rongga mulut Jiana dengan lidahnya. Sembari tangannya nakal dibawah sana terus membelai pangkal paha Jiana yang telah basah


Sampai bermenit-menit suara kecipak bibir itu memenuhi kamar mereka. Bryan akhirnya berhenti dibibir dan turun pada leher Jiana, mengisap menodai leher itu dengan beberapa titik membuat Jiana semakin tergoda, lihatlah tubuhnya meliuk mulai tak sabar dan terus menuntut Bryan untuk melakukan lebih


" Aah .." kini suara Jiana mulai memenuhi kamar mereka


" Boy aah .." dessahnya lagi saat jari tengah itu Bryan percepat keluar masuk daging lembut Jiana


Jiana merasa akan melayang, kedua tangannya semakin mencengkram kedua pundak Bryan


" Boy .. " Nafas Jiana semakin tersengal


" Mum .."


" Daddy .." Bryan mengangkat wajah dari ceruk leher Jiana


Keduanya menghela nafas, bayangkan didetik-detik itu Jiana yang akan menuju puncak dan terganggu oleh suara panggilan Kya yang berteriak


" Kenapa Kya belum tidur?" gerutu Bryan


Jiana menghela nafas, untuk kali ini ia merasa kesal membuat Bryan tertawa. Pria itu bangkit dari tubuh Jiana. Rupanya Bryan lupa ia belum antisipasi terhadap putri sulungnya. Bryan membuka pintu


" Hey sayang kenapa belum tidur?"


" Daddy Kya masih mengeljakan pl." Bryan tersenyum


" Lalu kenapa tidak dikerjakan hmm?" Bryan melipat kedua tangannya didada menatap putrinya


" Kya tidak bisa." sautnya lucu membuat Bryan kembali tersenyum


" Daddy akan membantu Kya tapi dengan satu syarat?"


Kya hanya terdiam dengan kepala melenggok genit kekiri


" Setelah selesai Kya langsung tidur, oke?"


" Oke!"


" No main lagi."


" Oke Dad, kenapa Daddy celewet sekali." gerutunya membuat Bryan dan Jiana yang mendengarnya juga tertawa


" Baiklah honey kemarilah." Bryan menarik tubuh kecil itu masuk, mereka menuju sofa sementara Jiana hanya diam diatas ranjang memperhatikan keduanya dengan senyum dibibirnya


" Nah, Kya samakan dengan bahasa inggrisnya. Anggur bahasa inggrisnya apa?" tanya Bryan pada putrinya


" Wine?"


"Bukan wine, not wine." saut Bryan lagi


" Orange."


" No no!"


" Kya tidak tahu. Kenapa Daddy tidak membelintahu Kya." kini Kya yang menggerutu melempar pensilnya kemeja


" Ada apa dengan anak ini kenapa pemarah sekali." gerutu Bryan merasa lucu pada Kya


" Coba Kya baca ini." Dengan delikan sebal pada sang Daddy Kya melihat apa yang ditunjuk Bryan


" Glape."


" Yeah that's right!"


" Glape!" gumam Kya lalu menuruti sang Daddy menyamakan dengan gambar didalam bukunya


Hampir satu jam ia membantu putrinya mengerjakan pekerjaan rumah yang ditugaskan guru disekolah. Sampai akhirnya pekerjaan rumah itu selesai dan Kya ketiduran disofa. Bryan segera membawa putrinya keluar dan menuju kamarnya


Ia baringkan ditempat tidur dimana Kya biasanya berada. Lalu memberi kecupan lembutnya sebelum meninggalkan kamar itu. Dengan semangat Bryan kembali kekamarnya, ia mengunci pintu kamarnya rapat


Dengan bibir menyeringai nakal ia berjalan menuju Jiana yang masih setia menunggunya. Bryan naik merangkak dan langsung membuka pakaian Jiana satu persatu membuat tubuh moleh itu tergeletak indah dihadapannya


Bryan kembali mencecapi inci demi inci tubuh Jiana dengan kedua tangan nakal pada buah dada dan pangkal paha. Malam ini Bryan berjanji tak akan melepaskan istrinya, ia akan menyalurkan hasratnya yang terpendam selama berbulan-bulan ini tak perduli Jiana merengek padanya


" Aaah boy .." Jiana mulai merintih


" Boy .." sama seperti Bryan Jiana juga merindukan sentuhan


" Ya sayang eemmmh." Bryan merasa akan meledak terus mendengar suara indah Jiana


" Bryan .." Jiana menjerit dengan tubuh bergetar ketika Bryan menyesap kewanitaannya begitu kuat


Pria itu sungguh liar untuk Jiana, bahkan Jiana belum siap Bryan sudah bangkit, melepaskan boxer hitamnya dan memposisikan dirinya untuk menyatu bersama Jiana


" Oh shiiiittt baby .."


Seperti janji dalam hatinya, malam ini Bryan benar-benar tak melepaskan Jiana. Pria itu terus mencumbbui bibir, leher dan buah dada Jiana. Bryan juga tak mendengarkan Jiana yang terus merengek padanya. Pria itu terus bergerak liar berpacu melepaskan semuanya malam ini


" Stop!" Jiana yang sudah tak tahan karena selama dua jam ini Bryan tak kunjung berhenti dan kasur mereka terus bergoyang kencang, entah sudah berapa puluh kali ia mencapai klimak* namun suaminya masih sama, tak berhenti mengguncang tubuhnya


" Bryan .." Jiana berteriak memukul dada Bryan


" Jia aku belum selesai." gerutu Bryan dengan suara parau


" Kamu terlalu lama." gerutu Jiana. Bryan terkikik lucu, Jiana tidak tahu bahwa ia meminum obat pemberian kakak iparnya


" Kamu sudah tidak tahan lagi hmm?" bisik Bryan ditelinga Jiana


" Aku lelah, istirahat dulu." gerutunya


" Oh tidak bisa sayang nanti akan semakin lama." sautnya lalu mulai bangkit menumpu tubuhnya dengan kedua telapak tangan


Bryan mengguncang lebih cepat lagi tubuh itu sambil sesekali tangannya jahil pada putting Jiana yang jika ia tekan mengeluarkan asi. Melihat itu Bryan mendekat menjilat asi yang menetes kebawah


" Eeemmmhh .." Bryan mencoba menggoda Jiana lagi dengan suara seksinya


" Aah boy aku akan keluar lagi." Bryan tersenyum lucu lalu meraih mencium bibir Jiana untuk beberapa saat


" Kita sama-sama sayang." bisiknya lalu bangkit lagi. Berpacu dengan penuh semangat


" Boy .."


" Aaah sayang .."


" Jia ouuh Jia .."


Dan guncangan hebat Jiana dapatkan, tubuhnya bergelinj#ng nikmat merasakan getaran itu lagi bersamaan dengan rasa hangat yang memenuhi rahimnya


Keduanya terkulai lemas dengan Bryan yang bergerak menjadikan tubuh Jiana diatasnya. Kedua dadanya kembang kempis, nafas mereka tersengal. Rasa nikmat yang tiada tara yang Bryan rasakan bersama Jiana


Cup


Bryan mengecup bibir itu dalam membuat sang pemilik bibir tersenyum dan membelai wajah tampannya


" Aku mau lagi."


" No aku lelah."


" Kamu masih terlihat baik-baik saja." saut Bryan lalu berguling lagi mengurung Jiana lagi


" Bryan .." teriak Jiana menggema dikamar luas itu


" Sudah kubilang aku tak akan melepaskanmu malam ini."


" Hentikan!"


" Kita belum memakai gaya favoritku."


" Bryan kau benar-benar .. aaaahhhh .."


Dan teriakan kesal Jiana terus menggema dikamar mereka


-


-