Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Aku dan Jiana baik-baik saja



-


-


Bryan menggeret kopernya menuruni tangga. Dilantai bawah bi Ami dan Pak Deden sudah menunggunya dengan wajah sedih. Mereka tak menyangka pernikahan yang baru harmonis itu kini retak dan bahkan diujung tanduk, keduanya sangat menyayangkan Bryan yang tak setia dan berkhianat dengan adik iparnya sendiri. Lihatlah bahkan Bi Ami dan pak Deden pun tak mempercayai pria itu


" Bibi dan pak Deden, bisakah kalian membantuku?" tanya Bryan


" Tuan mau kemana?"


" Saya akan pulang kerumah orangtua saya, bisakah pak Deden dan Bi Ami menyimpan semua foto-foto keluarga kecil saya untuk sementara waktu?"


" Iya Tuan kami akan melakukannya." saut Bi Ami


" Untuk sementara waktu kalian tinggal dulu disini, jika saatnya tiba saya akan memanggil kalian lagi." tutur Bryan lalu berpamitan pergi pada keduanya


Bryan keluar dari rumah menuju mobilnya yang masih terparkir dihalaman. Ia memasukan koper hitamnya kedalam bagasi lalu menutupnya. Bryan berputar menuju kursi kemudi tapi belum juga masuk teriakan bi Ami menghentikan Bryan


" Tuan .. "


" Tuan .. " Bi Ami berlarian dari dalam mencoba mengejarnya


" Ada apa?" tanya Bryan kembali memutari mobil dan mendekat


" Nona Queen jatuh dari tangga." sautnya terbata


Bryan segera masuk lagi kedalam rumahnya. Ia sedikit terkejut melihat Queen sudah tergeletak dilantai satu. Bryan mendekat lalu berjongkok


" Bagaimana bisa dia jatuh?" tanya Bryan lalu menepuk kasar pipinya


" Dia mencoba mengejar tuan, dia berlari dari atas."


" Dasar gila." umpat Bryan lalu melirik pak Deden dan bi Ami yang pandangannya tertuju pada paha Queen, darah mengalir dari balik celana dala* wanita itu


" Kita bawa dia kerumah sakit." ucap Bryan datar tanpa khawatir sedikitpun


" Eeemmmh bisakah pak Deden membawanya kemobil." perintah Bryan


" Bisa tuan." saut Deden lalu membopong Queen sementara bi Ami tampak berlari keatas menuju kamar Bryan untuk mengambil pakaiannya yang wanita itu simpan dilemari bekas Jiana


Diikuti Bryan pak Deden membawa Queen masuk kedalam mobil, ia baringkan dikursi belakang serta memasangkan sabuk pengaman ditubuh Queen. Tak lama mobil melaju setelah bi Ami masuk dan memakaikan pakaian tertutup pada Queen


Mereka sampai dirumah sakit, pak Deden kembali membopong Queen, bahkan Bryan tampak tak ingin menyentuh Queen sedikitpun. Queen langsung dilarikan ke ruang UGD oleh kedua perawat yang membawa brangkar


Bryan menunggu bersama kedua pembantunya dikursi tunggu. Pria itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang dia tumpu pada paha." Mati saja, enyah saja .. " Bryan merasa menjadi manusia yang paling kejam saat ini karena bukan mendoakan keselamatan Queen dan bayinya ia malah mendoakan bayi yang dalam kandungan itu keguguran


Bryan mengusap wajahnya kasar, ketakutan akan kehilangan Kya dan Jiana membuat hati nurani Bryan hilang saat ini, dalam hatinya ia terus mendoakan hal yang buruk terjadi pada bayi Queen. Meskipun ia tak tahu bayi itu memang benar anaknya atau bukan tapi jika tak ada bayi itu Jiana tak akan pergi seperti ini bukan? wanita itu sudah memaafkan Bryan sebelumnya


Saat pintu ruang UGD itu terbuka, Bryan segera berdiri berjalan mendekat pada dokter pria yang menangani Queen." Bagaimana bayinya?" tanya Bryan tanpa basa-basi ataupun menanyakan keadaan Queen lebih dulu


" Ibu dan bayinya baik-baik saja, bayinya sangat kuat. Tapi ibu harus bed rest untuk seminggu kedepan." raut wajah yang mendadak kecewa itu tampak terlihat oleh semua orang termasuk dokter


" Apa anda suaminya?"


" Tidak, saya bukan suaminya. Saya kakak iparnya." saut Bryan dengan nada membentak membuat dokter itu terlihat takut


Bryan tiba dirumah besar itu, ia menaiki tangga dengan menggeret koper ditangannya. Bryan disambut sang ibu yang kebetulah akan menutup pintu rumah itu." Boy .." panggilnya lembut dengan kening berkerut melihat koper ditangan Bryan


Bryan berhenti diambang pintu dan tersenyum." Jiana dan Kya sedang diParis jadi aku akan menginap disini untuk beberapa hari."


" Kenapa mereka ke Paris?"


" Jiana sangat merindukan toko kuenya."


" Bukankah Kya sekolah?"


" Itulah egoisnya Jiana, dia bahkan mengambil libur sekolah putrinya." gerutu Bryan dengan senyum tak memudar membuat Jeny terkekeh akan ucapan Bryan dan wanita itu tampak percaya dengan ucapan mengarang putranya


" Mom memasak apa? aku sangat lapar."


" Kebetulan sekali Mom memasak makanan kesukaanmu."


" Ayam balado?" tanya Bryan dengan mata berbinar terang setelah hampir dua bulan ia tak memakannya


Jeny mengangguk lalu menggandeng lengan putra satu-satunya itu untuk masuk kedalam dan menuju dapur." Bi antarkan koperku kekamar." perintah Bryan berteriak pada salah satu pembantu dirumah itu


Jeny segera memanaskan masakan yang masih banyak sisa itu didapur sambil sesekali menatap putranya yang duduk dimeja makan, bibir itu tampak terus memberikan senyuman padanya


Tak sampai sepuluh menit ia kembali pada Bryan, ia duduk disebelah Bryan sembari meletakan sepiring ayam balado diatas meja. " Thank you Mom, your the best." Jeny kembali tersenyum dibuatnya lalu mengambil piring dan menuangkan nasi, terakhir ayam balado ia letakan diatas nasi itu


Bryan segera mengambilnya dari tangan sang ibu dan memakannya perlahan. Raut wajahnya mendadak sendu dengan bibir tak henti mengunya h. Tatapan Bryan juga tampak kosong kesembarang arah dan hal itu terlihat dikedua mata ibunya


" Ada apa? bertengkar lagi dengan Jiana?"


" Aku dan Jiana baik-baik saja."


" Bicaralah pada Mom hmm?" Jeny mengusap pelan bahu Bryan


" Aku dan Jiana sungguh baik-baik saja, aku bahkan baru pulang dari Paris mengantar mereka." saut Bryan terus berbohong. Sebisa mungkin ia akan menyembunyikan semua masalahnya dari kedua orang tuanya, setidaknya sampai ia melakukan tes DNA pada bayi Queen


" Bryan kamu sudah dewasa, Mom yakin apapun itu kamu akan bisa menyelesaikan semuanya. Mom tahu kamu hebat." puji Jeny membuat senyuman Bryan melebar dan satu tangannya merangkul bahu sang ibu, membawanya kedalam dekapan yang amna langsung disambut kedua tangan Jeny yang memeluknya


" Buktinya Jiana yang galak bisa luluhkan?"


" Ya mom benar .. " saut Bryan lalu kembali memasukan sesendok makanan kemulutnya dengan tatapan kembali kesembarang arah


" Aaah Jiana beruntung bisa merasakan pelukan ini setiap hari." ucap Jeny seraya menepuk bahu kekar putranya


Bryan tertawa pelan." Setiap pagi, setiap aku pulang bekerja dan setiap malam dia selalu mendapatkannya." saut Bryan lembut


" Jadi kamu tidak menyisakan pelukanmu untuk Kya?"


" Tentu saja Kya yang utama, setelah Kya tidur barulah Jiana." sautnya menyengir membuat sang ibu tertawa dan tak henti menepuk-nepuk bahunya. Tidak tahu saja Jeny masalah pelik yang kini menimpa rumah tangga putranya, dan jika ia tahu, bukan tidak mungkin ia akan memukul dan memaki putra semata wayangnya itu


-


-