
-
-
Jiana membuka mulutnya lebar saat Bryan menyuapi strawberry kemulutnya hingga mulut itu penuh membuat Bryan terbahak dan mencubit kedua pipi Jiana dengan gemas. Jiana yang kesal memelototkan wajahnya pada Bryan
Tanpa malu Bryan membantu Jiana, ia mendekatkan wajahnya untuk menggigit sisa strawberry yang setengahnya lagi belum masuk kemulut Jiana. Hal itu membuat semua orang menyoraki Bryan dan Jiana yang mereka pikir selalu bermesraan tak tahu tempat
Jiana yang malu memukul dada Bryan dengan bibir tak henti mengunyah. Sedangkan Bryan hanya tertawa kencang dan spontan memeluk Jiana dengan gemas untuk menyembunyikan wajah memerah istrinya yang sekali lagi sorakan dan tawa menguar diperkebunan strawberry itu
Kya yang melihat ayah dan ibunya berpelukan segera mendekat dan memeluk kaki keduanya dengan wajah menengadah dan menyengir pada keduanya membuat Bryan maupun Jiana tersenyum dengan putri mereka
" Putri kita." bisik Bryan lembut
" Ya .. " saut Jiana
Lalu Bryan melepaskan Jiana yang terlihat masih malu-malu dan menggandeng wanita itu berjalan mengelilingi kebun strawberry yang luasnya berhektar-hektar. Sedikitpun Bryan tak melepaskan dan berjauhan dari Jiana, pria itu menempel layaknya prangko pada surat
" Apa kebun ini milikmu?" tanya Jiana
" Terntu saja, hidup denganku kamu tidak akan kekurangan apapun. Bahkan membelikan sebuah pesawat untukmu pun aku mampu."
" Untuk apa pesawat." gumam Jiana menoleh dan mengerutkan dahinya
" Mungkin saja kamu ingin berkeliling dunia."
" Aku akan memikirkannya." saut Jiana cepat dan memberikan senyum manisnya lalu wanita itu berjongkok saat matanya tak sengaja melihat strawberry yang sangat besar ditanah. Ia memetiknya dengan hati-hati dan kembali berdiri seraya mengusap-usap buah itu ke gaunnya bagian bawahnya untuk mengilangkan kotoran yang melekat dibuah tersebut
" Apa ini diekspor keluar negri?" tanya Jiana
" Hanya sebagian." saut Bryan lalu membuka mulutnya lebar saat strawberry ditangan Jiana tepat didepan bibirnya. Bryan celingukan kebelakang melihat orang-orang yang tampak sibuk dengan aktifitas mereka, terutama putrinya yang cekikikan anteng bermain tanah bersama Juno. Bryan terkikik dalam hati sembari menarik Jiana menuju pohon besar ditengah perkebunan itu
" Mau kemana? jangan terlalu jauh." tegur Jiana seraya menoleh kebelakang pada Kya
Saat sampai dekat pohon besar itu, Bryan menarik Jiana sehingga tubuhnya dan Jiana terhalangi pohon itu. Bryan menyudutkan Jiana dengan memegangi kedua bahunya, ia mendekatkan mulut yang masih menggigit strawberry kebibir Jiana. Wanita itu tersenyum, malu-malu membuka mulutnya dan menggigit bagian dirinya
Sambil saling menatap, bibir keduanya tak henti mengunyah strawberry yang memeliki rasa asam manis itu tapi bagi Bryan tidak ada rasa asam sedikitpun karena ia memakannya sambil memandangi Jiana. Bryan menelan kunyahan terakhirnya, tanpa menunggu Jiana Bryan meraup bibir Jiana, meluma*nya dengan lembut hingga kunyahan dimulut istrinya sebagian berpindah pada mulut Bryan. Bukan merasa jijik Bryan malah menikmatinya dengan memejamkan mata membuat Jiana pun ikut memejamkan mata dengan kedua jemari berpegang pada kaos disekitar dada Bryan
Pria itu kian menghimpit Jiana merengku pinggangnya dengan satu tangan sementara tangan yang lain menumpu pada batang pohon. Keduanya saling bercumbu mersa dipersembunyian mereka sesekali juga tawa keluar dari mulutnya dan Jiana saat mengambil jeda karena kehabisan nafas
Bryan benar-benar merasa gila karena istrinya itu, wanita itu memenuhi segalanya didiri Bryan. " Jia .." panggilnya lembut
" Jia?"
Bryan tersenyum mengusap bibir basah Jiana dengan ibu jarinya. " Ya, bukankah belum ada yang memanggilmu seperti itu?" tanya Bryan
" Emmm belum."
" Dan aku akan menjadi yang pertama dan satu-satunya bagaimana?"
" Baiklah." saut Jiana cepat dengan senyum mengembang yang mana Bryan langsung kembali meraup bibirnya cukup lama lalu beralih pada pipi ke rahang kemudian telinga dan belakang telinga sampai tubuh Jiana menggeliyat geli dibuatnya
" Hentikan." tegur Jiana menepuk pundak Bryan
" Kita sedang diluar." Bryan terbahak akan ucapan itu, ia mengusap puncak kepala Jiana dengan begitu gemas
" Tenang saja, aku tidak akan memasukimu disini, sayang aku tidak segila itu." saut Bryan
" Kita sudah terlalu lama, Kya akan mencari kita." bisik Jiana dan benar saja gadis kecil mereka kini berteriak memanggil saat pandangannya tak menemukan kedua orangtuanya
" Daddy .. "
" Mummy .. "
Sekali lagi Bryan mengusap bibir Jiana sebelum keluar dari persembunyian mereka. Tampak Kya sedang celingukan mencarinya dan Jiana dengan wajah mencebik akan menangis
" Kya .. " panggil Bryan
Seketika gadis kecil itu menangis kencang dan berlari mendekati Bryan, memeluk kaki panjang Bryan." Kenapa anak pintar menangis?" tanya Bryan
" Juno mendolong Kya, Kya jatuh dan bajunya penuh tanah." Kya menunjuk bajunya belakangnya yang memang dipenuhi tanah yang terlihat basah
" Tidak apa-apa, Mum akan mengganti dengan yang baru." saut Jiana berjongkok mengusap airmata yang mengalir dikedua mata putrinya lalu ia menengadah pada Bryan. Seakan mengerti Bryan menyuruh pelayan disana untuk mengambil ransel Kya dikamar mereka lalu ia menjauh mendekat pada sang ibu yang sedang santai di gajebo ditengah-tengah perkebunan itu. Sambil mendudukan dirinya Bryan mengambil segelas orange jus diatas meja dan meminumnya hingga setengah
" Jadi wanita yang paling cantik itu sekarang adalah Jiana?" tanya sang ibu pada putranya yang tak sedikitpun mengalihkan pandangannya pada sang istri, terlihat sekali pria itu sedang jatuh cinta dimata ibunya
Bryan hanya tersenyum manis membuat sang ibu mengusap pundaknya." Jiana wanita yang baik yang mau melahirkan putrimu, dia patut mendapatkan kebahagiaan .. Bryan .. " tutur Jeny
" Aku selalu ingin membuat Kya dan Jiana tersenyum dan tertawa, itu membuatku sangat bahagia .. " sautnya tulus
Jeny tersenyum mengikuti arah pandang Bryan pada Jiana yang sedang mengganti baju Kya. Wanita itu memang terlihat keibuan dan penyayang. Mungkin karena hal itulah Bryan luluh dan mau berubah, putranya tidak nakal dan bermain wanita lagi sejak menikahi Jiana
Bryan segera menghabiskan orange jus ditangannya dan meletakan gelas kosong kembali diatas meja. Ia beranjak berdiri mendekati kedua wanita berbeda generasi yang menunggunya
" Auuuuhh semakin hari Kya semakin berat." pekik Bryan seraya memangku Kya ke pangkuannya
" Ini kalena Kya suka makan sayul dan buah." sautnya menyengir
" Anak pintar." ucap Bryan mencium pipi bapau Kya lalu menoleh pada Jiana yang malah terdiam dengan ransel Kya dipundaknya
" Apa?" tanya Jiana tak mengerti. Bryan menghela nafas akan ketidakpekaan istrinya lalu ia menunjuk lengannya dengan dagu membuat Jiana terkekeh dan menggelayuti lengannya dengan kedua tangan
Bryan membawa Jiana dan Kya ke taman disamping vila dimana terdapat dua ayunan disana. Bryan mendudukan Kya dan mendorong pelan ayunan itu hingga gadis kecilnya tertawa riang
" Daddy lebih kencang. " teriaknya, Bryan terbahak dan menoleh pada Jiana
" Coba kau yang bicara padaku seperti itu saat diranjang, jangan hanya pelan-pelan saja bicaramu." bisik Bryan hingga cubitan Jiana mendarat pinggangnya
" Jia sakit!" teriak Bryan membuat Kya dan Jiana tertawa cekikikan
-
-