Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Kenapa kau selalu beruntung



-


-


Kehadiran Viona dikamarnya dan Bryan membuat Jiana bergeser memberi jarak tubuhnya dari Bryan yang duduk didepannya sambil menimang Kya. Gadis kecil itu kembali demam dan rewel


Viona segera mendekat pada Bryan, duduk menggantikan posisi Jiana, ia mengambil termometer dari dalam tasnya


" Sayang buka mulutmu." perintah Viona pada Kya, gadis kecil itu hanya merengek menggelengkan kepalanya cepat membuat Bryan mengambil termometer itu ditangan Viona dan memaksa pelan masuk ke mulut Kya


" Kya diam sebentar." ucap Bryan mencengkram pelan pipi Kya


" 37 derajat celcius, cukup panas." gumam Viona sambil kembali mengambil termometer dimulut Kya


" Apa dia sudah makan?" tanya Viona menatap lekat Bryan, ia merindukan wajah tampan yang kini terasa dingin untuknya. Setelah kejadian itu Bryan memang menghindari Viona dan ini pertama kalinya mereka bertemu lagi setelah pengakuan Viona padanya waktu itu


" Sudah, tapi sedikit." jawab Jiana dibelakang Kya, lalu wanita itu berdiri ketengah-tengah antara Viona dan Bryan


" Baiklah, aku akan memberi obat penurun demam, jika demamnya belum turun bawa saja kerumah sakit." ucap Viona menatap Bryan lalu Jiana, melihat Jiana Viona sedikit kesal terlebih dengan kissmark dilehernya, hati Viona memanas


" Mumy. " panggil Kya merengek pada Jiana


Jiana melirik Viona yang langsung bergeser kebelakang lalu ia duduk dekat Bryan menggantikan Viona


" Mana yang sakit?" tanya Jiana menyentuh dahi Kya diikuti Kya


" Apa Kya tadi berenang?"


" Kya belenang belsama Pevita."


" Ini karena kau." ucap Bryan dingin


" Kenapa menyalahkanku?" tanya Jiana tak terima


" Intropeksi diri." saut Bryan dengan manik menyalang tajam


" Ji, ini obat untuk Kya." ucap Viona membuat Jiana beralih pada Viona dan mengambil obat penurun demam ditangannya. Viona menatapi Bryan dan Jiana bergantian, kentara sekali keduanya terlihat sedang bertengkar dari cara saling memandang terutama Bryan, wajahnya dipenuhi rasa marah pada istrinya itu


" Terima kasih." saut Jiana


" Kalau begitu aku pamit." Viona beranjak berdiri dan tersenyum sejenak pada Bryan yang tak membalas atau menatapnya sedikitpun membuat Viona semakin sakit hati


" Pak Deden akan mengantarmu." ucap Jiana


" Tidak usah aku membawa mobil." saut Viona


Jiana ikut berdiri untuk mengantar Viona keluar. Mereka melewati beberapa orang yang masih disana termasuk Jeny dan Bulan


" Vi, menginap saja disini." ucap Gerald, pria itu memang masih memiliki ikatan persaudaraan bersama Viona


" Ah tidak Kak, besok aku harus masuk pagi." saut Viona. Lalu ia berpamitan pada semua orang dan keluar dari rumah Bryan diantar Jiana sampai depan


" Kenapa kau selalu beruntung." gumam Viona berhenti diteras depan membuat Jiana menatapnya


" Kenapa kau bicara seperti itu?"


" Kau beruntung memiliki Bryan, padahal kau hanya kesalahan waktu itu. Dulu juga kau beruntung bisa masuk universitas yang sama denganku padahal IQ mu tidak sebanding denganku." saut Viona, terasa jahat hingga terasa menyakiti hati Jiana sambil berlalu pergi meninggalkan Jiana. Karena cinta, wanita yang dulu temannya itu kini sangat terasa asing untuk Jiana


Jiana tak ambil pusing perkataan Viona, ia kembali kedalam, menuju dapur mengambil segelas air dan sendok, ia langsung masuk kekamarnya. Disana Bryan masih menimang Kya yang bibirnya terus meracau jika sedang demam


Jiana segera mengambil botol obat yang dalam bentuk sirup. Ia buka dan tuang kedalam sendok sesuai takaran disana lalu mendekatkan kebibir Kya


" Tidak mau, tidak enak." tolak Kya berteriak kencang


" Cepat masukan." bisik Bryan. Jiana segera memasukan sendok dengan sirup obat itu kedalam mulut Kya dan membungkam mulutnya untuk sementara dengan telapak tangan agar Kya tak memuntahkan obatnya


Kya mulai menangis kencang karena pemaksaan kedua orangtuanya itu hingga Bryan berdiri, menimang untuk menenangkannya


" Huuuuu huuuu huuuuuu huuuuuu." suara Kya menggema dikamar itu. Jiana mengikuti Bryan, ia berdiri dan menciumi kening Kya berulang. Ia memegang pundak Bryan, dan tiba-tiba meletakan kepalanya disana, menatap putri mereka sambil tangan dipundak itu berpindah pada pinggang Bryan. Menjadikan kaos hitam pria itu sebagai pegangannya, bibir Jiana tiba-tiba tersenyum, dulu saat Kya demam seperti ini Jiana sendiri kerepotan mengurus Kya tapi sekarang ada Bryan disisinya membantu dan menemani Jiana


Membuat Jeny ikut tersenyum diambang pintu, mendengar tangisan Kya, Jeny berniat masuk kekamar namun langkahnya terhenti dan mengutungkan niat untuk masuk saat melihat Bryan dan Jiana yang terlihat mesra dan kompak dalam mengurus putri mereka, Bryan juga terlihat dewasa sekarang mungkin pria itu mulai berpikir bahwa dirinya adalah seorang pemimpin keluarga


Cukup lama Bryan dan Jiana harus menenangkan Kya. Gadis kecil itu kini sudah tertidur pulas dipangkuan Bryan. Jiana tersenyum pada Bryan yang hanya menatap putrinya, sejak tadi pria itu membungkam tak bersuara. Bryan segera bergerak berjalan menuju ranjang, membaringkan Kya ditengah. Ia menyentuh dahi Kya dan merasa lega karena demam Kya sudah turun


Sementara Jiana menutup pintu kamar mereka dengan rapat sebelum ikut bergabung tidur disamping Kya. Ia tidur menyamping menghadap Kya dan Bryan, pria itu terlihat tak mau menatapnya dan malah bergerak membelakangi Jiana setelah mendaratkan kecupannya dikening Kya


Jiana hanya menghela nafas dan tak henti menatapi punggung Bryan, ia ingin menyentuh punggung lebar itu namun ia terlalu malu. Ia tak mau dirinya yang memulai dan membuat Bryan besar kepala


Pagi tiba, Jiana membuka matanya lebar. Ia tersenyum melihat Kya yang tidur memeluk ayahnya dari belakang. Jiana mendekat untuk melihat wajah yang ia rasa kembar itu dan keduanya masih menutup mata


Jiana bangun dan hal pertama yang selalu ia lakukan adalah membuat sarapan pagi. Ia menuruni ranjang keluar dari kamar menuju dapur. Ia melihat sekitar ternyata beberapa orang telah pergi hanya ada keluarga Bulan saja yang ada dan mereka masih tertidur dikamar tamu yang terlihat tak ditutup sejak semalam


Satu jam ia berkutat didapur, kini ia selesai dan membawa sarapan itu ke meja makan. Ia mengernyit saat mendengar deru mobil dihalaman rumah. Jiana segera keluar dari dapur dan menuju keluar


Tampak Bryan sudah rapi dengan setelan kerjanya, pria itu hendak masuk kedalam mobil yang dikemudikan pak Deden membuat Jiana berlari mendekat dan segera menahan lengan Bryan untuk menahan pria itu agar tak pergi


" Kau tidak sarapan dulu?" tanya Jiana


" Aku tidak lapar." saut Bryan menepis pelan kedua tanga Jiana yang menahannya


" Bukankah kau tidak pernah melewatkan sarapan?"


" Berhenti so perhatian padaku, ingat .. kau yang memulai semuanya Jiana. Kau selalu menolakku dengan harga dirimu yang tinggi itu." bisik Bryan tajam membuat airmata Jiana menggenang, ucapan itu terasa tajam menusuk hati Jiana


" Jangan menangis, itu tidak akan mengubah rasa kecewaku. Kalau kau masih mencintai Darwin, kubiarkan kau kembali padanya tapi jangan harap membawa Kya. Aku yang akan mengurus putriku sendiri." bisik Bryan lagi tepat didepan wajah Jiana dengan manik tajam elangnya


" Bisakah kau tidak berpikiran buruk dan cemburu buta seperti ini? aku dan Darwin tidak ada apa-apa, kami hanya bicara." saut Jiana mulai menitikan airmatanya. Pak Deden yang berada didalam mobil tersenyum lucu melihat pertengkaran suami istri itu, apalagi bila melihat Bryan, wajah itu dipenuhi rasa cemburu pada istrinya


" Apa yang kalian bicarakan?" tanya Bryan cepat mencengkram pelan kedua pipi Jiana dengan satu tangannya


" Dia bertanya apa aku bahagia?"


" Lalu apa jawabanmu?"


" Aku bilang aku bahagia bila Kya bahagia." saut Jiana membuat kedua mata Bryan semakin menajam dan bibir itu berdecih


" Jawabanmu salah dan membuatku semakin marah." jawab Bryan lalu masuk kedalam mobil meninggalkan Jiana yang menangis karenanya, wanita itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dengan punggung bergetar


Hal itu tak luput dari tatapan Bryan, pria itu melihat Jiana yang menangis dari kaca spion mobil


" Jalan pak." perintah Bryan


Pak Deden mengangguk dan langsung melajukan mobilnya sambil melirik Bryan yang tak henti memandang istrinya dari kaca.


" Kasihan Nyonya Den." ucap Deden mengulum senyumnya. Deden memang menyukai pasangan muda itu, keduanya terlihat cocok dan saling melengkapi jika sedang akur tapi terlihat lucu jika sedang ribut seperti ini, lihatlah yang wanita sudah seperti abg yang diputuskan pacarnya dan yang pria pun sama galau karena cemburu buta


" Sekali-kali harus diberi pelajaran agar tidak menjadi istri yang durhaka pada suami." saut Bryan tapi wajah itu terlihat merasa bersalah dimata pak Deden


Pak Deden tertawa pelan menggelengkan kepalanya." Awas lho den nanti tidak dikasih jatah." ucap Deden usil membuat Bryan menghela nafasnya kasar, tidak tahu saja pria itu bahwa Bryan marah seperti ini ya .. karena selangka*gan Jiana yang sampai ini belum ia dapatkan


-


-