Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Merindukan Jiana



-


-


Besok sabtu adalah hari dimana tiba saatnya Bryan untuk kembali menanam benih pada Jiana. Bryan sudah bersemangat sore ini ia sudah memesan tiket menuju Paris. Bryan hanya perlu membubuhkan satu tanda tangannya pada berkas terakhir barulah pria itu beranjak berdiri merapihkan kemeja hitam yang akan ia pakai, tak lupa kacamata hitam untuk melengkapi penampilannya


Tapi saat akan membuka pintu ia disajikan dengan Darwin, pria itu juga membuka pintu dan sudah siap-siap dengan tampilan kerennya yaitu mantel hitam dan kacamata hitamnya. Bryan mencebik melihat penampilan itu ia tahu apa yang akan Darwin bicarakan padanya


" Aku akan mengambil cuti lagi selama dua hari. "


" Bukankah minggu kemarin kau sudah mengambil cuti?" tanya Bryan melipat kedua tangannya didada


" Sudah bertahun-tahun aku bekerja disini, aku belum pernah memakai hari cutiku yang bisa saja kuambil selama tiga bulan full tapi aku akan mengambilnya hanya dua hari setiap dua minggu sekali."


Bryan hanya mengangguk-ngangguk membuat Darwin langsung memutar tubuhnya meninggalkan Bryan yang terdiam dengan bibir menyeringai licik." Seperti akan bertemu Jiana saja!" ucapnya lalu mengambil ponsel disaku celananya untuk menghubungi seseorang


" Tahan dia selama satu jam, buat jalanan macet atau apalah asal jangan biarkan dia naik pesawat sebelum aku."


Bryan mematikan panggilan itu lalu keluar dari ruangannya. Sejenak ia menyapa Marissa, sekertaris keduanya." Marissa, kosongkan jadwalku sampai hari senin." perintahnya


" Baik Bos, memangnya Bos mau kemana?" tanyanya


" Bukan urusanmu." saut Bryan ketus membuat Marissa kesal, padahal ia sangat mengagumi sosok Bryan sejak awal ia masuk kedalam kantor tersebut dan ini pertama kalinya Bryan bersikap seperti itu. Selama ini Bryan adalah orang yang ramah dan genit menurut Marissa meskipun beberapa bulan kebelakang sikap pria itu memang perlahan cuek dan dingin, tak hanya padanya namun hampir semua wanita kini membicarakan sikap Bryan


" Apa benar bos sudah menikah?" gumamnya dengan tatapan pada Bryan yang berjalan menjauhinya


16 jam lamanya ...... 🌹🌹🌹🌹


Bryan tertawa terbahak-bahak didepan sebuah rumah sederhana minimalis bersama dua orang anak buahnya yang selama ini ia perintah untuk mengikuti Jiana dan Kya. Bryan mentertawakan Darwin, pria itu mencoba membodohi Bryan padahal dirinya yang sangat bodoh, bisa dibayangkan kini Darwin pasti sedang mengetuk-ngetuk pintu rumah kosong bekas Jiana, pikir Bryan memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa


" Bos ini kunci rumahnya." ucap salah satu anak buah Bryan yang berkepala plontos memberikan kunci duplikat rumah baru Jiana. Saat itu Bryan tahu Jiana pasti akan menghindarinya makanya ia membayar dua orang untuk membuntuti Jiana, mengawasi gerak-gerik istrinya itu hingga membuat duplikat kunci rumah baru yang ditinggali Jiana


Rumah tepi pantai yang juga jauh dari pemukiman warga sekitar dan juga lebih jauh dari sekolah Kya namun lebih dekat dengan toko kuenya, ada dua rumah disana yaitu rumah Jiana dan rumah sewaan Bryan untuk kedua anak buahnya selama mengawasi Jiana


Lalu Bryan membuka pintu rumah itu, perlahan ia masuk kedalam dan menutup pintu kembali. Langkahnya mengendap-ngendap bak pencuri memperhatikan sekitar rumah yang nampak kecil untuk Bryan, hanya ada ruang tamu, dapur satu kamar mandi dan dua kamar tidur


Bryan menuju kamar yang diyakini kamar Kya, ia membuka pintu dan tersenyum melihat putrinya yang sudah tertidur pulas lalu masuk kedalam. Ia berlutut dilantai dan memberikan kecupan lembutnya dikening Kya yang terlelap diranjang kecilnya. Setelahnya Bryan keluar dari kamar Kya menuju kamar Jiana, Jiana memang bodoh, ia bahkan tak mengunci pintu kamarnya membuat Bryan leluansa masuk kedalam kamar


Kali ini Jiana mendesain kamarnya secara berbeda dengan bergaya lesehan, bukan ranjang berderit lagi melainkan kasur busa dilantai. Bryan merangkak naik mendekati Jiana, ia berbaring menyamping menghadap wanita itu. Meskipun bercahaya remang namun kecantikan Jiana tetap terpancar membuat Bryan tersenyum dan mendaratkan bibirnya dikening Jiana


" I miss you Jia .. "


Setelah kemeja terlepas, jemari Bryan mulai menyerbu kedua pahanya brergantian. Ia terkikik lucu mendengar lenguhan Jiana lagi dalam tidurnya. Lalu Bryan membuka semua celananya, tak terhitung 20 detik pria itu sudah polos tanpa busana


Pelan-pelan ia menyingkap gaun tidur itu keatas, Bryan benar-benar menjelma jadi seorang pencuri namun yang dicurinya bukan harta benda melainkan tubuh Jiana. Kini Bryan membungkuk menciumi perut rata istrinya dengan kedua tangan yang perlahan menurunkan CD hitam Jiana


Manik hitam pekat itu tak mengedip memandangi area sensitif Jiana sambil membuka kedua kaki itu lebar. Lalu mendekat, mendaratkan bibirnya tepat dibibir kewanitaannya, menyesapnya kuat membuat Jiana kembali melenguh dengan tubuh meliuk


" Bryan .. " panggilnya lembut


Bryan mengangkat wajahnya mendekati wajah Jiana, ia terkikik dalam hati, merasa senang karena saat tidurpun Jiana terus memanggil namanya." Sayang .. percayalah, rasa nikmat ini bukan mimpi tapi aku nyata didepanmu." bisik Bryan


Kedua mata Jiana perlahan terbuka saat sesuatu menembus area sensitifnya, hangat, terasa sedikit perih dan tentunya sangat nikmat. Jiana membelalak tak percaya, ia mengucek kedua matanya. Tadi ia memang bermimpi bersetubuh dengan Bryan, tapi ternyata kini pria itu ada didepannya, sedang mengukungnya dengan mulut sedikit mengenga dan mata terpejam


Plak


" Awww .. " suara parau itu terdengar memekik ditelinga Jiana


" Apa yang kau lakukan brengsek!" bentak Jiana mencoba mendorong Bryan dengan kedua tangannya dengan sekuat tenaga


Tapi Bryan tak menggubris pria itu malah memulai aksinya menggoyang tubuh Jiana dengan berirama. " Lep .. as .. kan .. aku .. " Nafas Jiana tersendat akibat hujaman yang mengguncang tubuhnya itu


" Syyyuuuuutttt .. " hanya itu yang keluar dari bibir Bryan, pria itu segera mencekal satu pergelangan tangan Jiana yang terus meronta padanya, ia tekan kekasur dan tautkan jemarinya dengan jemari Jiana


Jiana menggigit bibir bawahnya saat hujaman itu kian mengalirkan rasa nikmat dipusat tubuhnya." Aaah Jia sayang .. "


" Aahhh baby uuuhhh .. "


" Aaahhh mana suaramu .. "


Bryan tak henti mengeluarkan suara erotisnya untuk menggoda Jiana. Lalu tangan yang bertaut itu Bryan lepaskan dan menjalar masuk kebalik gaun tidur Jiana meraih pengait bra. Saat terlepas Bryan segera menggulung gaun dan bra itu keatas. Bibirnya turun kebawah menguasai gunung kembar


" Aaahh jangan menggigitnya." pekik Jiana. Bryan tersenyum akhirnya suara Jiana keluar juga. Lalu ia mengangkat wajahnya menatap Jiana, ia tarik dagu Jiana sehingga wajah yang berpaling itu kini beradu pandang dengannya


" Aku mencintaimu." kata-kata itu membuat hati Jiana menghangat tiba-tiba tapi Jiana kembali memalingkan wajahnya


" Jangan percaya Ji, semua yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan dan kau akan sakit hati lagi untuk kesekian kalinya .. " batin Jiana


-


-