Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Kau harus mencintaiku



-


-


Udara disekitar mendadak dingin karena Bryan mulai diam seribu bahasa saat Jiana malah tertawa menanggapi pertanyaannya. Entah apa yang merasuki Bryan hingga ia merasa marah dan tak suka Jiana malah mengabaikan pertanyaannya padahal Bryan sangat serius menanyakan hal itu pada Jiana


Wajah itu terlihat makin kesal saat kemacetan mulai melanda dipertengahan jalan mereka. Bryan terus membunyikan klakson membuat pengguna jalan lainnya merasa risih dengan Bryan begitupun Jiana yang menjadi gusar mendadak


Sampai divila milik keluarganya pun Bryan masih terdiam setelah berjam-jam lamanya bergelut dalam kemacetan. Pria itu segera melepaskan Jiana dan keluar menuju belakang mobil. Bryan membuka pintu dan mengambil koper hitamnya tak memperdulikan Queen yang tak henti menatapnya sejak tadi


" Bryan .. " panggil Jiana yang ikut keluar bersamanya. Pria itu tak menjawab malah melengos pergi begitu saja


" Menyebalkan ada apa dengannya." gerutu Jiana lalu mengejar Bryan masuk kedalam vila


Langkah kaki Bryan yang panjang membuat Jiana kesulitan mengejarnya hingga berlari. Bahkan ia meninggalkan Queen yang masih berada didalam mobil mereka


" Bryan .. kau marah?" tanya Jiana memeluk tubuh Bryan dari belakang saat Bryan masuk kedalam sebuah kamar yang sangat luas dan sepertinya kamar utama di vila itu karena terletak dibawah dekat pintu keluar


" Lepaskan aku." sautnya pelan melepaskan kedua tangan Jiana dan berjalan menuju kamar mandi diikuti Jiana lagi


Jiana terdiam menatapi kamar mandi yang luas dengan jaguzzi yang dipenuhi kelopak bunga mawar didalam kamar mandi tersebut. Dan aroma lavender mencuat masuk menusuk hidung Jiana tapi seperkian detiknya ia mematung melihat Bryan yang membuka pakaiannya didepan Jiana


" Kalau tidak mau mandi, keluarlah. Untuk apa berdiri disitu." ucap Bryan terdengar dingin untuk Jiana lalu masuk kedalam Jaguzzi itu, meredam tubuhnya sambil memejamkan mata menyandar pada sisi Jaguzzi


Jiana tak henti memperhatikan Bryan, malu-malu ia melepaskan seluruh pakaiannya hingga luruh kelantai. Jiana mendekat suara gemericik dan gelombang air membuat Bryan membuka matanya


Bryan terpana, kedua matanya tak mengedip menatap Jiana yang mulai turun dan berjalan kearahnya. Jakunnya naik turun dengan pemandangan indah diddepan matanya, lihatlah area sensitif itu ditumbuhi bulu-bulu halus disekitarnya yang sangat kontras dengan kulit Jiana membuat sesuatu dibawah sana bangkit


Ditariknya tangan Jiana hingga wanita itu tercebur dan ditangkap oleh kedua tangan Bryan. " Kau harus mencintaiku Jiana. " ucap Bryan menatap serius


" Aku .. " saut Jiana terbata


" Aku tidak perduli alasanmu, tapi kau harus mencintaiku." potong Bryan, manik hitam pekat Bryan menyihir Jiana hingga lidahnya terasa kelu tak mampu bersuara


Bryan mendorong Jiana kesisi Jaguzzi," Kau yang menggodaku, jadi jangan salahkan aku bila aku tak akan melepaskanmu malam ini." bisik Bryan merengkuh pinggang ramping Jiana lalu meraup bibir itu. Jiana segera mendorong dada Bryan, ia sedikit takut melihat tatapan itu seperti ingin menerkamnya


" Kapan aku menggodamu?" tanya Jiana malu-malu


" Sudahlah mengaku saja, kau juga mau kan?"


Jiana menepuk dada Bryan dengan kencang." Percaya diri sekali, aku juga ingin mandi karena tubuhku terasa lengket." sautnya membuat Bryan tersenyum dan kemarahan itu hilang begitu saja karena Jiana yang naked. Disajikan hal indah dan nikmat dari Jiana tentu Bryan tak akan pernah menolak


Bryan menyelipkan rambut Jiana kebelakang telinga lalu menarik dagunya untuk menyatukan bibir mereka. Bibir itu selalu menjamahnya dengan lembut membuat Jiana selalu terlena dan membalasnya


Mereka bercumb* mesra dalam Jaguzzi itu memenuhi kamar mandi dengan suara-suara erotis


" Jiana .. Jiana .. " panggilnya parau dibuah dada Jiana. Wanita itu hanya menengadah memejamkan mata dengan kedua tangan merema* rambut Bryan, mengacak-ngacak rambut itu melampiaskan desiran aneh yang mulai menjalar setiap kali Bryan menyentuhnya


Bryan tak melanjutkan permainan itu ia malah meraih sabun dan menuangkannya ke air membuat Jiana heran dan mematung


" Emmh Bryan?"


" Sebentar Ji sabarlah, meskipun tak tahan bersabarlah. Kita mandi dulu." ucap Bryan menggoda Jiana dengan menatap nakal


Jiana kembali menampar pipi Bryan dengan kencang." Kenapa kau selalu percaya diri!"


" Ingat sayang, sekali tampar kutambah rondenya." saut Bryan


Jiana berdecak." Yang benar saja."


" Ya makanya tampar terus yang banyak." ucap Bryan meraih jemari Jiana menuntun kepipinya


Plak plak plak plak


" Ah kau menantangku ternyata!" gumam Bryan menyeringai nakal dengan kedua jemari mulai bermain digunung kembar Jiana, Bryan tahu kelemahan Jiana makanya sering sekali ia bermain disitu. Lihatlah tubuh Jiana mulai melunak bak Jeli hingga Bryan harus menopang dengan satu tangannya


" Sayang aku belum melakukan apapun." goda Bryan


" Aku tidak tahan sayang." bisik Bryan lalu ia mengangkat tubuh istrinya keluar dari Jaguzzi menuju shower. Bryan menurunkan Jiana dan menyalakan shower untuk membersihkan tubuhnya dan Jiana


Ia meraih handuk dan melilitakan dipinggangnya lalu membopong Jiana yang basah tanpa sehelai benangpun keluar dari kamar mandi. Bryan tersenyum puas melihat Jiana yang tampak bergairah saat menatapnya


Bryan membaringkan tubuh polos itu diranjang yang juga dipenuhi kelopak bunga mawar, Ia kurung dengan tubuhnya dan hendak meraup bibir Jiana tapi ia mengurungkan niatnya saat tak sengaja melihat siluet orang berdiri dipintu kamar yang ditempati mereka


Kecupan mendarat sejenak dibibir Jiana lalu Bryan bangkit menuruni ranjang dan berjalan menuju pintu. Tanpa menatap orang yang berdiri disana Bryan menutup pintu itu dengan kencang dan menguncinya rapat


" Dimana Kya? kenapa dia belum sampai?" tanya Jiana


Bryan mendekat mengurung wanita itu dengan tubuhnya. Tatapannya lurus pada kedua mata Jiana. " Mungkin mereka masih dijalan, kau tidak tahu ya kalau kak Bulan itu sangat loyal. Ia akan mampir kemana-mana dan membuat kak Dean dan anak-anaknya bosan menunggunya belanja membeli barang-barang yang tak berguna." tutur Bryan membuat Jiana tertawa


Jiana berhenti saat jemari Bryan hinggap dipipinya. Jantungnya kembali berdebar-debar begitupun Bryan. " Jiana .. " panggil Bryan lembut


" Hmm?" jawab Jiana


Bryan menggeleng pelan dan tersenyum


" Kau cantik."


" Ya, bukankah aku sangat mirip mamaku dan Queen." mendengar nama Queen Bryan mengerutkan dahinya dan menatap lekat Jiana. Kenapa baru sekarang ia baru menyadari kemiripan keduanya


" Kau yang paling cantik." puji Bryan cepat


Senyuman manis menghias bibir Jiana


" Aku tersihir .. " Bryan menatap lekat Jiana, tatapan itu memuja


" Aku tersihir wanita bernama Jiana." ucap Bryan


" Apa keahlianmu merayu seperti ini hmm?"


" Kau berpikir itu sebuah rayuan?"


" Ya." sautnya singkat dengan senyum tak luntur


Bryan terdiam menatap Jiana membuat Jiana tak tahan dan pelan-pelan memalingkan wajahnya kesamping. Jantungnya dag-dig- dug tak beraturan hingga nafas Jiana tersendat


Bryan tertawa pelan melihat Jiana." Kau gugup?"


" Tidak kenapa aku harus gugup." saut Jiana terbata. Bryan segera menarik dagu runcing itu dan meraup bibir Jiana. Ia memejamkan mata begitupun Jiana memejamkan mata dan mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan


Setelah puas Bryan segera mengangkat tubuhnya menjauh seraya membuka handuk yang melilit ditubuhnya. Jiana tersenyum melihat adik Bryan yang sudah berdiri tegak


" Kau ingin menyentuhnya?" tanya Bryan


" Ah tidak!" tolak Jiana cepat dengan wajah malu


Bryan tersenyum lucu dan kembali mendekatkan wajah mereka." Sentuhlah, aku tau kau menginginkannya!"


" Tidak, tidak." Bukan Bryan namanya jika tidak gila, pria itu menarik jemari Jiana dan menuntun adiknya dibawah sana


Pria itu semakin mendekat dan bibirnya mendarat dikening Jiana, lalu ia memejamkan mata merasakan jemari halus Jiana yang ia tuntun mengusap adiknya, Bryan menggigit bibir bawahnya merasakan kenikmatan itu


Sementara Jiana hanya menuruti Bryan dengan wajah memerah malu dan menatap kebawah. Mendadak ia terperanjat saat Bryan menepis jemarinya dan mulai memposisikan dirinya


" Aku tidak tahan, kau terlalu menggairahkan." bisik Bryan parau seraya memasuki Jiana dengan gerakan pelan


" Bryan .. " desah Jiana


" Ahh emmm aahh ooh aahh .. " suara Jiana dan Bryan mulai memenuhi kamar luas itu. Keduanya kembali merengkuh kenikmatan surga dunia seakan tak ada habisnya. Jiana sangat cocok dijadikan partner ranjang karena selalu membuat Bryan merasa puas, entahlah Bryan pikir ada sesuatu yang membuat Jiana berbeda dengan wanita lainnya yang ia tiduri. Jiana seperti mempunyai magnet yang membuat Bryan selalu ingin menyentuhnya dan terus ingin menyentuhnya. Hingga tanpa sadar Bryan mulai memberikan hatinya menjadikan Jiana sebagai dunianya


-


-