Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Rasa



-


-


" Menyebalkan .. berhenti mengatakan pria lain tampan didepan suamimu." gerutu Bryan, kali ini ia benar-benar kesal dan cemburu membuat Jiana tersenyum dan mendaratkan bibirnya dipipi kiri Bryan dengan dalam lalu berhambur memelukn tubuh kekar itu, membelai rambut belakang Bryan lembut dan terasa penuh kasih sayang


" Baiklah kau yang tertampan." puji Jiana membuat senyum dibibir Bryan terbit dan wajah kesal itu mendadak berubah terang seterang sinar matahari. Kemudian Bryan membalas pelukan itu menyusupkan wajahnya keleher Jiana


Cukup lama keduanya dalam posisi seperti itu menikmati kehangatan dan mendengarkan jantung masing-masing yang saling bergemuruh. Hingga Jiana mulai merasakan darahnya berdesir tatkala hisapan yang menyengat bak aliran listrik sejuta volt mulai terasa dilehernya


Perlahan jemari Jiana yang membelai rambut Bryan itu mulai menguat berubah jadi jambakan pelan karena jemari Bryan mulai nakal menyusup kebalik dressnya lalu kebalik dalaman Jiana


" Euuuuummhh .. " Jiana melenguh akan kenakalan jemari itu


" Emmmhh basah." goda Bryan berbisik lalu melepaskan tangannya dan beralih pada paha, kulit halus dan lembut itu sangat terasa ditelapak tangannya


Ehem


Suara itu mengagetkan keduanya. Bryan segera menarik tangannya dan tersenyum kikuk pada sang ayah dan ibu yang baru saja datang dari arah luar


" Pergilah kekamar bermesraan disini banyak anak-anak." tegur Ken lalu melewati Bryan dan Jiana menuju kekamar mereka


" Tidak tahu tempat!" begitulah gerutuan sang ayah yang terdengar oleh keduanya membuat Jiana malu dan menenggelamkan wajahnya yang memerah dipundak Bryan


Bryan terbahak dengan Jiana, wanita itu tak seperti dirinya yang tak tahu malu. Lalu pria itu bergerak membopong Jiana hingga Jiana tersentak dan spontan mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan


Jiana tampak meneliti wajah Bryan hingga akhirnya ia tersadar saat Bryan meletakan tubuhnya ditengah ranjang


" Kya belum tidur." tegur Jiana sembari menepis kedua jemari Bryan yang akan membuka kancing kemejanya


" Aku hanya akan membuka kemeja ini agar tak mengganggu pemandangan indahku." saut Bryan menyengir kuda


Jiana menghela nafasnya dan membiarkan Bryan melakukan sesuka hatinya, pria itu membuka kemeja hitamnya dan melemparnya kelantai


Cup


Bibir hangat itu mendarat dipundak putih nan mulus Jiana yang terbuka karena bagian atas itu sangat seksi tanpa lengan. Bibir Bryan tak berhenti turun pada buah dada yang menyembul memberi kecupan-kecupan kecil


" Boy .. " tegur Jiana lagi menangkup wajah Bryan


" Kau terlalu menggoda sayang." bisik Bryan lalu mendorong Jiana berbaring diranjang dengan dirinya diatas Jiana


Keduanya saling bertatapan penuh makna dan tersenyum. Bryan mulai mendekat dan mendaratkan bibirnya dibibir Jiana, seketika itu juga Jiana menyambut lumata* lembutnya. Bryan merengkuh tubuh Jiana dan berguling, cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Jiana saat mendengar suara langkah kaki kecil yang diyakini putri mereka


" Daddy dan Mum sedang sembunyi hi .. hi .. " begitulah suara diluar kamar yang terdengar ditelinga Jiana dan Bryan beserta cekikikan khas gadis kecil itu. Kya menutup pintu namun tak rapat menyisakan cela yang bisa membuat siapa saja melihat kedalam kamar


Dengan lucunya gadis kecil itu melangkah pelan dan naik keatas ranjang, masuk kedalam selimut dari bawah dan menyusupkan dirinya ke atas tubuh Bryan dan Jiana yang seketika itu juga saling menjauh dan berjarak


" Apa Daddy dan Mum telkejut?" tanyanya dengan tubuh telungkup diatas antara Jiana dan Bryan


" Auuuh mengagetkan." pekik Bryan pura-pura hingga cekikian itu kembali memenuhi selimut mereka. Bryan yang gemas menciumi pipi bapau Kya membuat Jiana tersenyum, terlihat sekali Bryan sangat berbangga memiliki Kya. Dulu ia pikir pria seperti Bryan tak akan mengakui Kya yang notabennya terlahir dari wanita culun yang bukan tipenya


" Apa Kya sudah makan?" tanya Jiana seraya membuka selimut kebawah sampai keperut


" Kya makan sosis besal sama Papa."


" Kya bisa menggigit sosis? gigi Kya kan tidak ada?" goda Bryan lalu ia memindahkan tubuh Kya menjadi diatasnya membuat Jiana bergerak melingkarkan satu tangannya dileher Bryan


Bryan senang Jiana menempel seperti ini, ia melirik Jiana dan tersenyum lalu kembali menatap wajah Kya yang sangat mirip dengannya. Bryan bangga dengan hasil goyangan fullnya itu, cantik dan lucu, tidak ada wajah Bryan yang terlewat disana seluruhnya adalah fotocopy Bryan


" Gigi Kya ada tapi ompong." sautnya menyengir


" Itu karena Kya terlalu banyak makan coklat." saut Jiana ikut menatapi putri mereka seperti Bryan


" Coba Daddy lihat gigi Kya."


Gadis kecil itu menurut membuka mulutnya lebar pada sang ayah. Bryan mengambil ponsel disaku celananya dan menyalakan senter untuk menerangi mulut Kya. " Apa dia tidak akan sakit gigi? giginya ada yang berlubang." ucap Bryan


" Selama ini dia tidak pernah mengeluh sakit gigi." saut Jiana yang juga meneliti gigi Kya


" Kita harus memeriksanya kedokter, sebelum dia benar-benar sakit gigi."


" No!" teriak Kya melengking seraya menutup mulutnya


" Sayang itu tidak apa-apa, dokter hanya melihat Kya."


" Kya tidak mau." teriaknya lagi tiba-tiba menangis


" Baiklah kita tidak pergi hmm, berhenti menangis." ucap Bryan seraya memeluk Kya, menempelkan wajah kecil itu didadanya dan membelai rambut sebahu Kya dengan lembut


Jiana terdiam dengan senyum terbit dibibir memperhatikan bagaimana Bryan memperlakukan putri mereka. Lalu Jiana memberi kecupan lembut dipipi Bryan membuat pria itu melepaskan satu tangannya pada Kya dan menyusup kebawah leher Jiana, membawa kedua wanita berbeda generasi itu dalam satu dekapan hangat


Kecupan lembut dikening Jiana mengalir kedalam hati Jiana membuatnya merasa ini keadaan yang terasa hangat. Dulu ia tak pernah berpikir akan dapat memberikan keluarga yang utuh untuk Kya. Ia pikir hidupnya dan Kya berdua sudah bahagia namun nyatanya keduanya memerlukan sosok Bryan sebagai pelengkap keluarga kecilnya


Sejak dulu Jiana selalu sendiri, tak pernah punya seorangpun untuk ia ajak berkeluh kesal. Tapi sekarang Jiana seakan mendapatkan semuanya, kedua mertua yang baik dan sangat menyayanginya, tak membedakan ia yang menantu bagi mereka. Juga kakak dan adik-adik ipar yang sangat menghargainya. Tokoh utamanya adalah Bryan, pria itu datang tiba-tiba memaksa Jiana untuk menerimanya dan kini ia pikir Bryan seperti pangeran yang membawanya dari kesepian pada kehangatan. Hatinya yang membeku itu mencair, meleleh bak jeli dan terhantam oleh sebuah rasa, rasa untuk Bryan yang datang perlahan seiring dengan berjalannya waktu kebersamaan mereka selama setengah tahun ini


Ketakutan Jiana akhirnya terjadi juga, ia yang tak mau itu kini malah benar-benar jatuh akan pesona Bryan, pria yang menghancurkan hidupnya namun memberikan kado yang paling indah untuknya yaitu Kya


" Aku mencintaimu Bryan .. " gumamnya dalam hati


-


-