Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Tidak ada yang gratis



-


-


Pagi ini Jiana merasa seluruh tubuhnya terasa remuk. Bayangkan saja semalam Bryan benar-benar menghajarnya habis-habisan dengan durasi yang benar-benar lama. Jiana memukul kasur dengan kedua tangannya, mulai hari ini dan setiap malam ia pasti akan terus diganggu Bryan


Ceklek


Lihatlah wajah tampan itu seolah tanpa dosa memberikan senyuman manisnya pada Jiana tidak seperti pagi lainnya yang selalu ditekuk. Jiana mencoba bangun dengan rasa perih dipangkal pahanya sambil menutupi tubuhnya yang dipenuhi noda merah dengan selimut


" Pagi sayang .." suara itu terdengar senang, apa memang sek* selalu membawa perubahan besar pada seorang pria? kini suaminya seperti anak kucing yang manis membawa sarapan untuk Jiana kekamar mereka


" Ini aku buatkan sarapan paling special untuk istriku yang paling cantik sejagat raya." Jiana tertawa mendengar gombalan itu, ia menampar pelan pipi Bryan


" Tubuhku sakit semua."


" Uhhm sorry, semalam benar-benar panas. Terima kasih sayang." sautnya dengan senyum manis lagi


Jiana mencoba mengambil alih nampan berisi sarapan pagi dengan nasi goreng yang dibentuk hati itu dari tangan Bryan


" Eiittss."


" Aku lapar."


" Aku akan menyuapimu, hari ini kamu tidak usah melakukan apapun. Aku akan melayanimu dengan baik." Jiana terkekeh lucu, ada apa dengan suaminya ini? semakin lama berumah tangga dengannya semakin manis pula Bryan padanya. Jiana jadi tak menyesal dengan semalam jika yang ia dapatkan akan semanis ini


" Baiklah." saut Jiana membuka mulutnya lebar atas suapan sang suami


" Kamu sangat tampan!" puji Jiana


" Yeah setiap hari aku tampan." jawabnya membuat Jiana tertawa lagi


" Aku beruntung!" saut Jiana, kedua mata Bryan berbinar terang


" Aku yang lebih beruntung Jia, mendapatkan wanita sesabar dirimu!" Jiana tersenyum manis lalu menggenggam tangan Bryan yang satunya lagi


Suapan kembali Jiana dapatkan


" Kamu sudah sarapan?"


" Aku sudah sarapan, kamu tidak tahu sekarang pukul berapa?" Jiana melirik jam yang ternyata menunjukan pukul 10 pagi


" Aku belum memberi asi untuk sikembar."


" Bella masih punya tabungan asimu!" saut Bryan


" Hari ini kamu tidak perlu menyusui sikembar." tambahnya lagi


" Kenapa?" tanya Jiana membuka lagi mulutnya lebar


" Karena hari ini giliranku!" sautnya dengan seringai nakal


" Kamu tak mau mengalah dengan anak-anakmu?"


Bryan tertawa


" Aku hanya bercanda, atau kamu mau aku serius?" Jiana memukul dada bidang yang kini tertutupi kaos hitam Bryan. Keduanya tertawa memenuhi kamar mereka


Saat itu sarapan Jiana habis, Bryan meletakan nampan itu diatas meja nakas disamping tempat tidur. Ia menatap Jiana yang berantakan lalu merapihkan rambut itu menyisir dengan kedua jemarinya." Aku akan memijat tubuhmu, berbaliklah." perintah Bryan membuat Jiana tercengang


" Ayo berbaliklah." Jiana hanya menurut, ia semakin senang dengan perlakuan manis Bryan pagi ini. Ia membiarkan Bryan memijat punggungnya lebih dulu


" Ahhh enak sekali!" gumam Jiana memejamkan mata akan pijatan kedua tangan Bryan pada punggungngya


" Bagaimana aku handal bukan?"


" Iya sayang." saut Jiana dengan begitu lembut


Bryan tampak fokus selama setengah jam ini, begitu telaten memijat tubuh Jiana, sedikit menghilangkan rasa pegal tubuh itu


" Boy .." tiba-tiba tubuh Jiana saat kedua tangan itu beralih kedepan pada buah dadanya


" Sayang .." panggil Bryan mesra menciumi pundak Jiana


" No more." larang Jiana menoleh kebelakang sambil menjauhkan tubuhnya dari Bryan hingga bibirnya mengapung diudara


" Oh ayolah!" gerutu Bryan mengerucutkan bibirnya


" Maksud kamu?"


" Sayang semuanya tidak gratis, kamu harus membayarnya." Saut Bryan menaikan kedua alisnya, Jiana tercengang membuka mulutnya lebar, Bryan benar-benar licik


" Jadi kamu tidak tulus begitu?"


" Tidak ada yang gratis didunia ini." Bryan membuka kaosnya lagi melemparnya kelantai


Saat itu juga Jiana beringus menjauh kesisi ranjang yang lain mencoba kabur dari Bryan. Naasnya kaki Jiana tersangkut selimut dan berhasil Bryan tangkap dan tarik mendekat padanya


" Aku lelah!"


" Aku sudah memberimu tenaga tadi." Jiana menghela nafas ketika Bryan membuka celana pendeknya, lihatlah burungnya telah kembali berdiri siap menerkam kewanitaaan Jiana


Jiana hanya pasrah karena menolakpun rasanya percuma. Ia membiarkan Bryan menaklukannya lagi, mencummbui tubuhnya lagi. Selalu penuh naffsu padahal Jiana belum mandi


" Boy memangnya kamu tidak bekerja?" tanya Jiana pada Bryan yang asyik main digunung kembarnya


" Aku seorang bos, apa gunanya aku punya bawahan."


" Benar juga!" saut Jiana sambil tak henti memandangi sang suami


Tubuh Jiana mulai menggeliyat geli tatkala Bryan mulai menyusu layaknya sikembar. Lahap dan rakus dimata Jiana." Bagaimana hmm?" tanya Bryan mengangkat wajahnya


" Bagaimana apanya?"


" Aku dan sikembar."


" Tentu saja sangat berbeda!" gerutu Jiana membuat Bryan terkikik lucu


" Denganmu ada setrumnya!" saut Jiana membuat Bryan tertawa kencang, merasa gemas Bryan mencium mesra bibir Jiana


" Aaahh .." Jiana menjerit kencang saat tiba-tiba Bryan memasukinya dalam sekali hentakan kuat


" Eeemmmh enak sayang?"


" Aaah boy .." Bryan tersenyum lucu dan mulai mengguncang pahatan indah karya Tuhan itu


" I miss you some muchh hhhhhmmm." racau Bryan


5 menit


20 menit


30 menit


" Ouuuhhhh shiitttt." Racau Bryan kencang melepaskan rasa nikmatnya, mengguncang hebat tubuh Jiana dan memenuhi rahim itu dengan lahar panasnya


Seketika itu tubuh besar Bryan tumbang kesamping Jiana. Pria itu memejamkan mata dan langsung tertidur membuat Jiana geleng kepala. Jiana beringus bangun menyelimuti tubuh polos suaminya sambil tersenyum


Lalu ia usapi keringat yang merenung di sekitar dahi dan pelipisnya." I love you, kamu hal indah yang pernah kumiliki Bryan, meskipun kamu selalu konyol tapi aku sangat bahagia hidup denganmu dan anak-anak kita!"


" Biarkan aku tidur." Jiana tersenyum dengan racauan itu lalu memberi kecupan lembut dikening Bryan


Selang satu jam ia keluar kamar, ia menuju kamar sikembar. Ia membuka pintu pelan tapi tak langsung masuk, ia memperhatikan kedalam sana. Untuk kesekian kalinya Jiana melihat interaksi Delan dan Bella, keduanya tampak dekat meskipun tak saling bicara


" Apa mereka saling menyukai?" gumam Jiana tersenyum memperhatikan keduanya


" Tapi mereka memang sangat cocok, tidak apakan bila Bella bersama Delan. Toh keluarga ini tak pernah memandang status dan derajat seseorang?." gumam Jiana lagi


Lalu ia memberanikan diri masuk kedalam kamar. Saat itu keduanya tampak malu-malu pada Jiana


" Ada apa? apa aku mengganggu kalian?"


" Kenapa kakak bicara seperti itu?" tanya Bella dengan wajah merah


Jiana tersenyum manis lalu mendekati box bayi sikembar." Mereka semalam tidak menangis?"


" Tidak kak, Zayn, Zeen dan Chelsea bayi-bayi yang sangat baik tidak pernah merepotkan!" saut Bella


Jiana kembal tersenyum


" Mereka sudah makan dan minum susu lalu tidur lagi."


" Kamu yang melakukannya?"


" Tidak, tuan Bryan yang menyuapi mereka. Saya hanya membantu!" saut Bella lalu beranjak berdiri mendekati Jiana


" Kak emmmh!"


" Ada apa?"


" Aku mau ijin pulang sore ini."


" Memangnya kamu mau kemana?"


" Besok aku ada ujian masuk perguruan tinggi."


" Baiklah, persiapkan dirimu untuk belajar."


" Benar tidak apa-apa?"


" Ya, tentu saja masa depanmu yang paling penting.


" Kak Jiana benar-benar baik."


" Ayolag Bella, jangan terus memujiku hmm?"


Bella mengangguk cepat dengan wajah sumringahnya." Tapi kak Jia sungguh baik." Bella tiba-tiba menutup mulutnya membuat Jiana tertawa


" Bryan sedang tidur, dia tidak akan mendengarmu!"


Keduanya tertawa mentertawakan suami Jiana, pria itu memang banyak aturan dan cerewet pada Bella. Namun meskipun begitu Bella akui Bryan adalah sosok majikan yang baik, pria itu bahkan memberinya bayaran tinggi atas kinerja baiknya membantu Jiana dalam mengurus anak-anak mereka


-


Hujan lebat sore ini mengguyur sekitar ibukota Jakarta membuat Bella terdiam didepan rumah menunggu hujan reda. Meskipun ada payung namun sepertinya keadaan hujan dengan badai tak akan membantu Bella


" Lain kali bawalah semua buku-buku pelajaranmu kemari." Jiana tiba-tiba berucap dari arah belakang Bella


" Iya kak." saut Bella tanpa mengalihkan pandangannya pada hujan


" Sayang sekali, pak Deden sedang tidak ada." gumam Jiana sambil ikut memperhatikan hujan


" Tidak apa-apa, aku bisa sendiri, hanya saja petir membuatku sedikit takut." Jiana tersenyum lalu mengusap rambut keriting Bella. Rasanya Jiana kagum pada gadis yang baru menginjak usia 17 tahun itu


" Sebentar, kakak akan menyuruh boy untuk mengantarmu!"


" Jangan kak." tolak Bella


" Tidak usah Aunty biar Delan saja." Tiba-tiba Delan datang dari arah belakang membuat jantung Bella berdebar kencang


" Kamu yakin?" tanya Jiana


" Iya." saut Delan lalu membuka payung


" Ayo!" ajaknya pada Bella yang tampak ragu


" Bella .." panggil Delan


" Bella ayolah, mumpung Delan sedang berbaik hati padamu!" saut Jiana dengan kikikan lucunya, melihat daur muda yang terlihat saling menyukai itu


Meskipun canggung berdekatan dengan Delan, Bella memaksakan dirinya masuk kedalam payung berdua bersama Delan. Keduanya menuju garasi mobil diperhatikan Jiana


" Aah benar-benar manis." gumam Jiana dengan senyum mengembang


" Mereka mau kemana?" tanya sang kakak ipar yaitu ibu Delan


" Delan akan mengantar Bella kerumahnya."


" Ah priaku sangat baik, dengan temannya dia tidak pernah dingin." saut Bulan senang


" Teman ya .." gumam Jiana namun masih terdengar jelas


" Lalu apa huh, Delan masih terlalu muda untuk berpacaran." gerutu Bulan lalu meninggalkan Jiana


Didalam mobil, Bella benar-benar gugup sampai meremaas jemarinya sendiri karena berduaan bersama Delan." Dimana rumahmu?" tanyanya dengan suara yang terdengar indah ditelinga Bella


" Belok kekanan, ada pertigaan lalu belok kekiri." Delan tersenyum dengan suara gemetar itu lalu mematikan ac mobilnya


Tiba ditempat tujuan Delan berhenti didepan sebuah gang sempit." Mana rumahmu?" tanya Delan


" Rumah Bella didalam Tuan." Delan tampak mengerutkan dahinya melihat pemukiman sepi, ia sedikit khawatir pada Bella


" Aku akan mengantarmu!"


" Tidak Tuan, hujannya sangat lebat."


" It's oke!"


"Ah tidak-tidak nanti Tuan sakit!"


" Aku seorang pria!" saut Delan tampak kesal dengan perkataan Bella yang seolah menganggap Delan pria lemah yang gampang sakit


Hening


Bella menoleh pada Delan, ia semakin gugup saat pria itu menatapnya dengan jakun naik turun. Entah kenapa keadaan menjadi panas untuk keduanya. Delan mencoba menghindari rasa tak nyaman itu, ia keluar mobil membiarkan tubuhnya basah oleh air hujan lalu berputar membuka pintu untuk Bella


" Ayo!" ajaknya menarik Bella


Delan membuka jaketnya dan menutupi kepalanya dan Bella dengan jaket tersebut. Satu tangannya menggenggam jemari Bella. Keduanya berlari memasuki gang kecil ditengah badai sore menjelang malam ini


Jedar


Jedar


Suara petir tak menghentikan lengkah keduanya. Sampai mereka tiba disebuah kamar kos kecil milik Bella. Gadis itu terus menggerutu dengan kenekadan Delan lalu membuka pintu membiarkan Delan masuk kedalam kamar kosnya


-


-