
-
-
Bryan tersenyum memandangi Jiana dan Kya yang sedang bermain ditaman hiburan dekat pantai Saint Malo. Setelah beberapa jam mengapung diudara, seolah tiada lelah Bryan langsung menuju rumah ditepi pantai dimana anak dan istrinya tinggal
Bagi Bryan bukan hal yang sulit untuk menemukan Jiana, ia punya puluhan anak buah yang akan siap dan cepat memberikan kabar padanya mengenai Jiana. Sambil mengistirahatkan tubuhnya, Bryan menunggu Kya dan Jiana keluar dari rumah dan akhirnya membuntuti keduanya sampai disini
Bryan segera menyembunyikan dirinya dibalik tembok yang tak jauh dari keduanya saat telunjuk dan pandangan Kya tertuju padanya
" Mum, itu Daddy!" begitulah suara yang didengar Bryan, rasa rindunya pada Kya membuat kedua matanya berkaca
Jiana yang mendengar itu menghela nafasnya dan berpikir Kya sangat merindukan Bryan sampai berhalusinasi. Lalu ia segera memangku Kya. Ia membawa Kya duduk dibangku taman disudut taman hiburan itu diikuti Bryan yang mendekat dan kembali bersembunyi dari mereka dibalik tembok
" Huuu huuuu Daddy .. "
" Sayang, Kya anak pintal, bukannya sudah tidak menangis lagi?"
" Daddy huuu .. " Jiana tak kuasa, ia menitikan airmatanya lagi mendengar tangisan Kya
" Kya .. bagaimana kalau kita cari Daddy lagi untuk Kya .. " ucap Jiana menangkup wajah Kya yang menangis dipangkuannya
" Jiana bisa-bisanya kau bicara seperti itu pada putriku." gerutu Bryan mengepalkan kedua tangannya
" Eemmm kita cari yang lebih tampan dan lucu dari Daddy Blayen, Bagaimana?" hibur Jiana mengusap airmata Kya, gadis kecil itu sedikit meredakan tangisannya
" Apa Kya mau hmm?"
" Hmm?" tanya Jiana lagi
" Jangan Kya, jangan mau, Daddy Kya hanya Daddy Blayen. " gerutu Bryan kesal
" Yang lebih manis dali Daddy Blayen. " sautnya sesegukan
" Astaga putri Mum sangat pintar." puji Jiana dengan suara lembut lalu memeluk Kya dan menangis tanpa mengeluarkan suaranya membuat Bryan melunak melihat airmata Jiana, pria itu membeku ditempat, hatinya kembali serasa dihantam ribuan ton batu. Bryan merasa jadi pria paling brengsek karena terus membuat kedua malaikatnya menangis
Tak lama Jiana menurunkan Kya dari pangkuannya. Ia menuntun putrinya dan membawanya pulang." Apa Kya mau membeli mainan?" tanya Jiana mengusap pipi kiri Kya
Gadis kecil itu menggeleng pelan dan sedetiknya kedua mata itu berbinar saat melihat pria yang kini datang mendekat padanya dan sang ibu yaitu Darwin. Kepala Kya celingukan kebelakang dengan harapan sang ayah datang, tentu karena gadis kecil itu mengenal Darwin sebagai bawahan ayahnya
" Dimana Daddy." gumaman kecil itu masih terdengar jelas ditelinga Jiana, meskipun sudah dua minggu ia dan Kya membiasakan diri tanpa Bryan tapi selama ini Kya tidak pernah melupakan ayahnya. Memang Kya tak pernah banyak bertanya pada Jiana, tapi Jiana tahu putrinya sangat merindukan Bryan
" Bagaimana kabar kalian?" tatapan dan senyuman Darwin membuat Bryan yang diam-diam mengikuti Jiana dan Kya dari dalam mobil marah, ia langsung cemburu buta pada Darwin yang mendekati istrinya sampai mengejar ke Paris. Pantas saja pria itu mengambil cuti tiga hari rupanya untuk mengambil Jiana dan Kya darinya. Pikir Bryan mengepalkan kedua tangannya geram
" Seperti yang kau lihat." saut Jiana lalu melirik Kya yang tampak merengut
Darwin tersenyum lucu melihatnya lalu ia memberanikan diri berjongkok, ia ingin mengambil hati Kya sebelum mengambil hati ibunya. Pikir Darwin yang memang saat itu tak sengaja mendengar percakapan Bryan dengan detektif suruhan Bryan. Darwin seakan memiliki kesempatan untuk mendapatkan Jiana hingga saat itu juga ia mengambil cuti dan terbang tanpa tahu Bryan pun datang kemari untuk membawa Jiana lagi kedalam pelukannya
" Hallo Kya, apa Kya masih mengingat Paman?" tanya Darwin dengan senyum manisnya
" Hmm Paman Dalwin." Darwin tertawa dengan suara cadel itu lalu mencubit pipi Kya
" Paman punya hadiah untuk Kya."
" Apa Kya suka hadiah?"
" Kya suka hadiah dan mainan."
" Baiklah, kalau begitu maukah Kya ikut bersama Paman."
" Mum." panggil Kya menengadah pada ibunya
" Bersama Mum juga, Paman akan mengantar Kya pulang." ucap Darwin
Kya mengangguk dan langsung mau dipangku Darwin." Ji .. " panggil Darwin karena Jiana terlihat ragu
" Aku hanya akan mengantarmu pulang." ucap Darwin dengan senyum manis, tampan namun masih Bryanlah yang tertampan. Pikir Jiana menggelengkan kepakanya pelan dan malah membanding-bandingkan Darwin dengan Bryan
Sesampainya dirumah, Darwin segera membuka pintu dan memutari mobil membuka pintu untuk Jiana. Terlihat sekali raut wajah Darwin sangat senang dengan keadaan ini sangat berbeda dengan pria yang masih dibelakang beberapa meter dari mereka
" Mana hadiah Kya?" tanya Kya membuat Jiana dan Darwin tertawa
" Kya tidak sabaran juga ya .. " goda Darwin lalu memutari mobil lagi menuju bagasi. Ia membuka bagasi itu dan mengambil sepeda kecil sebagai hadiah untuk Kya. Saat ia datang ke rumah Bryan, ia sering sekali melihat Kya bermain sepeda
" Mum sepeda!" teriaknya menunjuk sepeda dengan warna pink di tangan Darwin
Darwin tak hentinya tersenyum lalu mendekat pada Kya. Meletakan sepeda itu tepat didepan Kya yang riang dan langsung menaiki sepeda itu
" Dia sangat lucu." puji Darwin
" Duduklah." perintah Jiana menunjuk bangku panjang di halaman rumahnya yang tak terlalu luas. Darwin menurut pria itu segera duduk dengan tatapan tak hentinya memandangi Kya yang berkeliling dengan sepeda dihalaman rumah
" Kau mau minum apa?" tanya Jiana
" Teh manis sepertinya enak dicuaca dingin ini." saut Darwin menengadah pada Jiana
Jiana mengangguk lalu berjalan masuk kedalam rumahnya. Ia tak tahu bahwa Bryan mengikutinya dengan berjalan mengendap-ngendap masuk kedalam rumah seperti seorang pencuri. Bryan mengedarkan pandangannya kesegala penjuru menatapi rumah yang tak terlalu luas namun sangat nyaman untuk ditinggali karena Jiana memanglah tipe orang yang cinta kebersihan
Jiana menuju dapur sementara Bryan berjalan menuju sebuah kamar dengan pintu bergambar doraemon yang diyakini adalah kamar Kya. Bryan segera masuk kedalam untuk melihat semuanya, ia tersenyum kamar itu terasa persis dengan kamar dirumah mereka di jakarta. Banyak boneka dikamar itu juga mainan Kya menumpuk, mungkin Jiana menghibur putrinya selama dua minggu ini dengan begitu banyak mainan
Senyuman Bryan kian melebar saat melihat bingkai foto mereka bertiga terpajang diatas meja etalase bersama boneka-bonekanya. Bryan mengambil bingkai foto mereka bertiga dan mengusapnya pelan
" Jangan khawatir Kya, kita akan bersama lagi. Daddy tidak akan membiarkan Mum pergi begitu saja." gumam Bryan dengan kedua mata berkaca
Lalu ia meletakan bingkai itu kembali ketempat semula. Bryan melangkah menuju jendela dan mengintip putrinya yang sedang bersepeda dari sana. Bibirnya tiba-tiba menyeringai licik melihat Darwin dan Jiana sedang duduk berdampingan dibangku dengan pandangan pada Kya
" Kau mau mengambil Jiana dariku?"
Bryan berdecih." Jangan mimpi Darwin, langkahi dulu mayatku!" gumam Bryan dengan tatapan tajam tertuju pada Darwin
-
-