
-
-
Bryan tersenyum mengusap-usap sisa-sisa percintaannya bersama Jiana di sprei hitamnya yang sangat kentara sekali jika itu adalah cairannya yang semalam berceceran mengalir dari kewanitaan Jiana. Bryan menggeliatkan tubuhnya dan melepaskan kompres didahinya yang sudah mengering, entah kapan istrinya meletakan itu disana
Lalu ia bangun dari tidurnya, tubuhnya memang terasa remuk namun Bryan sangat senang bukan kepayang pagi ini karena telah berhasil mendapatkan tubuh istrinya. Percintaan itu terasa luar biasa untuk Bryan meski ia sedang sakit, mungkin karena ia sudah lama tak melakukannya atau mungkin juga karena Jiana yang sejak 5 tahun lalu tubuhnya menjadi candu untuk Bryan
Senyum Bryan semakin melebar tatkala kini wanita yang ia perdayai semalam datang dari luar kamar membawa nampan dengan semangkuk bubur ditangannya diikuti putri mereka yang berjalan sambil meloncat-loncat girang hingga kedua kuncir kudanya berampul-ampul keudara
" Daddy. " teriaknya berlari dan cekatan naik ke atas ranjang duduk dipangkuan Bryan yang tatapannya terpaut pada Jiana
" Sayang, Daddy sedang sakit. Jangan terlalu dekat. " tegur Jiana lembut mendudukan dirinya di sisi ranjang disamping Bryan, Jian melirik Bryan
" Kenapa belum pakai baju." bisik Jiana menatapi tubuh setengah naked suaminya dengan bagian bawah tertutupi selimut
Bryan terkekeh lalu menyentuh pipi Jiana. " Memangnya kenapa? dia kan putri kita. Jangan bilang kau cemburu pada putrimu sendiri." saut Bryan menatap mesum
" Kalau Kya menyingkap selimutmu bagaimana?" tanya Jiana memelototi Bryan
" Memangnya kenapa? Kya juga kan berasal dari sana." saut Bryan terus saja mesum
" Percuma bicara denganmu." gerutu Jiana membuat Bryan terbahak
" Makanlah." perintah Jiana menyodorkan nampan ditangannya
" Suapi aku sayang, kau tahu aku sedang sakit." saut Bryan mengambil sendok dan memberikannya ke tangan Jiana
" Manja sekali." gerutu Jiana lagi sambil menyendok penuh bubur lalu menyuapkannya pada Bryan yang terlihat senang, Bryan tak henti menatapi Jiana yang juga tak berhenti menatapnya dan Kya secara bergantian
Suap demi suap Jiana berikan pada Bryan, pria itu tidak terlihat sedang sakit bahkan makannya pun lahap hanya wajahnya saja yang memucat. Jiana meletakan nampan dengan mangkuk kosong itu ke atas meja nakas lalu ia mengambil segelas air putih dan obat penurun demam untuk Bryan. Pria itu langsung mengambil dan meminumnya
" Mum. " ucap Kya memelaskan wajahnya pada Jiana
" Ada apa?" tanya Bryan
" Dia ingin bersama Pevita." saut Jiana
" Memangnya mereka belum pulang?"
" Belum, mereka berencana liburan keluar kota." saut Jiana
Bryan mengangguk lalu menunduk menatapi Kya yang memelaskan wajah lucunya
" Baiklah, baiklah pak Deden akan mengantar Kya kerumah grandma." ucap Bryan membuat Kya bersorak senang
" Sayang ambilkan ponselku." perintah Bryan manja menunjuk tas kerjanya
Bryan terkikik senang, kini ia benar-benar menaklukan Jiana, lihatlah wanita itu kini selalu menurut padanya mengambilkan ponsel Bryan disaku celananya dikeranjang pakaian kotor dan memberikan ketangannya
Bryan menyalakan ponsel itu dan dengan sengaja menunjukan wallpaper ponselnya dengan gambar mereka bertiga pada Jiana membuat wanita itu tersenyum begitu manis dan langsung mendapat kecupan bibir Bryan
" Kau harus mengganti layar ponselmu juga." perintah Bryan lalu ia menghubungi penjaga sekaligus sopirnya yaitu Deden untuk kekamar
Tak lama pria berusia sekitar 40 tahunan itu datang mengetuk pintu dari luar. Deden tak berani masuk hanya berdiri diambang pintu
" Pak Deden antarkan Kya kerumah Daddyku." perintah Bryan
" Baik Tuan." sautnya
Kya menciumi bibir Bryan dan Jiana bergantian sebelum turun dari ranjang dan meninggalkan kedua orangtuanya. Pria itu tersenyum lebar karena ini menjadi kesempatan Bryan untuk bermesraan bersama ibunya
Jiana masih terdiam memperhatikan Kya yang dituntun pak Deden keluar dari kamarnya. Sampai Bryan menarik pinggang Jiana mendekat padanya barulah Jiana beralih
" Terima kasih." bisik Bryan lembut
" Terima kasih karena kau telah mendapatkan tubuhku?" tanya Jiana menyentuh kedua pundak Bryan dengan kedua jemari lentiknya
" Terima kasih telah merawatku dan terima kasih untuk semalam." saut Bryan dengan senyum manis
" Aku tidak mungkin membiarkanmu sakit nanti siapa yang akan mencari uang untukku dan Kya."
Bryan tertawa pelan lalu ia bergerak membuka laci meja nakas dan mengambil kotak hitam yang belum sempat ia berikan pada Jiana. Bryan membuka kotak hitam itu dan memasangkan kalung berlian dengan liontin hati di leher Jiana
" Kalungnya maksudku." tambah Bryan lagi membuat bibir Jiana mengerucut dan wajah itu galak padanya
Bryan tertawa, ia segera mengecup bibir itu lembut dan membawa Jiana kedalam pangkuannya
" Ayo kita memulai semuanya dari awal. Pernikahan kita." ucap Bryan dengan tatapan memuja pada Jiana membuat Jiana terpesona dan menangkup wajah memucat itu, mengusap pipi Bryan dengan kedua ibu jarinya
" Aku sudah memaafkanmu, aku tidak membencimu lagi " saut Jiana
" Terima kasih sayang. Kita jaga dan besarkan Kya bersama oke?."
Jiana mengangguk cepat dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya hingga senyum itu menyalur pada Bryan
" Emmh sayang .. " panggil Bryan manja menyelipkan rambut Jiana kebelakang telinganya
" Astaga cantik sekali." rayu Bryan mengulum senyumnya. Jiana terkekeh, ia sudah terbiasa mendapat gombalan itu dari mulut Bryan tapi pagi ini rayuan itu tak seperti biasanya membuat hatinya membuncah senang
" Bagaimana kalau kita main lagi, mumpung Kya tidak ada." saut Bryan berbisik. Tanpa menunggu jawaban Jiana yang tak mengerti dengan ucapannya, Bryan segera meraup bibir itu menekan tengkuk Jiana dengan satu tangannya sembari bergerak membaringkan Jiana ke ranjang, lalu menyelimuti tubuhnya dan Jiana dengan selimut
Bryan melepaskan tautan bibir itu , tatapannya penuh terkaman pada istrinya berbeda dengan Jiana yang terkejut dengan kedua mata membulat melihat junior Bryan yang tegak berdiri bak tiang bendera. Semalam ia tak sempat melihatnya karena Bryan yang tak sabaran memasukinya
" Pantas saja semalam sangat sakit." gumam Jiana dalam hati
" Apa kau suka?" tanya Bryan nakal membelai wajah Jiana yang memerah malu. Segera Jiana memalingkan wajahnya dari bawah pada wajah Bryan. Bryan segera meraup bibir itu lagi dengan ganas, tangannya juga mulai menggulung dress ketat rajut Jiana keatas, paha, bokong tak luput dari jamahannya
" Emmmhh. " pekik Jiana saat tangan itu menyusup kebalik underwarenya. Kini Jiana mulai tak tahan jika Bryan menyentuh bagian sensitifnya
" Sayang buka bajumu." perintah Bryan
" Ini masih terlalu pagi." bisik Jiana menyentuh jemari Bryan yang masih nakal dipangkal pahanya
" Memangnya kenapa?" tanya Bryan mengernyitkan dahinya aneh
" Aku .. emm aku .. "
" Banyak alasan, ayolah buka kakimu." perintah Bryan. Malu-malu Jiana membuka kedua kakinya untuk Bryan
" Jangan merobeknya lagi." tahan Jiana pada jemari Bryan
" Aku belikan yang berenda untukmu ya." ucap Bryan berbisik seraya kembali merobek kain segitiga Jiana. Lalu mulai memposisikan tubuhnya untuk menyatukan dirinya dan Jiana pagi ini
" Aaahhh sssttt .. " ringis Jiana mencengkram pelan kedua lengan atas Bryan
" Sakit?" tanya Bryan
" Pelan-pelan." saut Jiana
" Aku tidak bisa pelan, itu tidak ada diranjangku .. " bisik Bryan parau ditelinga Jiana dengan senyum nakalnya
" Aww pelan-pelan. " teriak Jiana merengek
Bryan tersenyum lucu mendengar rengekan itu. Ia menjauhkan tubuhnya dari Jiana, menopang tubuh itu dengan satu tangan sementara tangan yang lain membuka sisa pakaian Jiana yang masih melekat ditubuhnya. Dengan gerakan cepat yang membuat gunung Jiana berguncang ia kembali mendekat dan rengkuh tubuh itu, menautkan bibirnya dengan Jiana hingga suara decap bibir serta suara benturan tubuhnya dan Jiana memenuhi kamar mereka
" Eeeuuuh emmmh ssshh aah ... " suara itu keluar dari bibir Jiana saat Bryan melepaskan bibirnya
" Kau sangat seksi sayang." racau Bryan menunduk dan tak henti menatapi gunung kembar Jiana yang berguncang kencang
" Aah pelankaaaan .. "
" Ah jangan menggangguku. Ini benar- benar aaaarrhhh .. " saut Bryan meracau.
Ke
Setelah lama berpacu, mengeluarkan suara-suara erotis, akhirnya Bryan mengerang panjang menyebut nama Jiana dan memenuhi rahim itu dengan caira* panasnya
" Panas. " desah Jiana membuat Bryan tersenyum menatap wajah Jiana yang memerah setelah keduanya sama-sama mencapai batas
" Terima kasih istriku." bisik Bryan lembut lalu mengecup kening Jiana lama dan dalam, untuk kesekian kalinya hati Jiana bergetar karena itu
-
-