Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Terlambat pulang



-


-


Berbulan-bulan berlalu sejak gagalnya gugatan cerai Jiana. Kini usia kehamilan itu sudah mencapai tiga bulan, Jiana mulai mengalami nafsu makan yang tinggi. Hari-harinya dipenuhi makan hingga berat tubuh itu melonjak naik membuat tubuh Jiana yang beberapa bulan kebelakang itu kini berisi dan semakin berlekuk dimata Bryan


Selama dua bulan ini juga Bryan terus bersabar pada istrinya. Jiana dingin selalu mengabaikan Bryan dan Jiana tak mau melayani suaminya sediktpun. Sehari-hari wanita itu hanya diam, menonton tv bermalas-malasan dengan mulut yang tak henti mengunyah. Kecuali mengurus Kya, Jiana masih melakukan itu meski sesekali dibantu bi Amy


Seperti saat ini Jiana sedang duduk santai menaikan dua kakinya keatas meja sembari menonton acara tv yang membuatnya sedikit senang dan banyak tertawa. Tapi hati Jiana juga kesal, cemburu, dan sedih tatkala melihat jam sudah menunjukan pukul 09.30 malam namun sang suami tak kunjung pulang. Pikiran buruk menghantui Jiana, berpikir Bryan mampir kerumah Queen, istri mudanya


" Nyonya mau buah lagi?" tanya bi Amy yang hampir setiap malam menemani Jiana menonton tv karena beberapa hari ini Bryan selalu pulang telat


" Aku mau buah anggur dan pear." saut Jiana


" Baik." saut Bi Amy beringus bangun berjalan menuju dapur tapi wanita itu berputar arah saat mendengar suara bell berbunyi. Bi Amy segera membuka pintu rumah utama." Tuan .." panggilnya


Bryan segera masuk." Jia sudah tidur bi?"


" Belum Tuan. "


" Kenapa selalu begadang." gerutu Bryan lalu melengos masuk kedalam, ia menghela nafas melihat Jiana yang masih cekikian menonton acara tv


Bryan membungkuk mencium kening Jiana lalu memutari sofa untuk duduk disamping wanita itu sambil meletakan tas kerjanya ke sofa." Kenapa belum tidur hmm, kasihan mereka." Begitulah Bryan selalu bersuara lembut meskipun selalu diabaikan Jiana. Bryan mengusap perut itu lalu mencium pipi Jiana


Tak mendapatkan jawaban Jiana, Bryan beranjak berdiri. Ia selalu kesal diabaikan tapi mau bagaimana lagi ia hanya bisa bersabar. Sambil berjalan menuju dapur Bryan melonggarkan dasi yang terasa mencekiknya. Bryan membuka kulkas dan mengambil susu hamil rasa coklat untuk istrinya, ini kegiatan Bryan setelah pulang bekerja


" Itu untuk Jia bi?" tanya Bryan


" Iya Tuan .. "


" Biar saya saja." Bryan mengambil alih piring ditangan bi Ami. Membawanya dikedua tangan bersama segelas susu hangat lalu kembali duduk disamping Jiana


" Minumlah .. " perintah Bryan


Jiana selalu menuruti Bryan untuk meminum susu hamil yang dibuatkan untuknya. Sejujurnya Jiana sedikit tersentuh dengan sikap perhatian tiap hari suaminya ini. Dan lihatlah kini Bryan juga mulai menyuapi potongan buah dipiring untuk Jiana, pria itu seolah tak lelah meskipun kerap diabaikan Jiana


Dan yang lebih membuat Jiana tersentuh adalah saat ini, Bryan menaikan kedua kaki Jiana ke pahanya dan setelah itu Bryan akan memijat dari lutut sampai telapak kaki secara bergantian


" Kau kemana saja pulang semalam ini?" untuk pertama kalinya Jiana bicara pada Bryan, pria itu tertegun beberapa saat


" Tentu saja bekerja sayang, memangnya kamu pikir aku kemana?"


" Queen juga istrimu." Bryan menghela nafasnya


" Kenapa? bukankah kau sangat mencintainya."


" Astaga pertanyaan macam apalagi itu?" Bryan mulai kesal tapi yang ia tak bisa kasar pada Jiana, ia hanya menangkup wajah itu


" Dia mantan kekasihmu, tentu kau masih mencintainya." Bryan menghembuskan nafas panjang


" Jia, aku minta maaf aku tak menceritakan hal itu padamu karena kupikir itu tidak berarti lagi untukku. Sekarang yang berarti dihidupku hanya kamu dan anak-anak kita." tutur Bryan memandang dengan sendu


Jiana memalingkan wajah yang mana Bryan langsung menariknya lagi agar menatapnya." Tidak ada Queen, cintaku hanya kamu Jia .. "


" Aku lelah. " ucap Jiana memaksa menurunkan kedua kakinya. Jiana juga memutar tubuhnya menghadap lagi kearah tv


" Tapi aku merindukanmu." bisik Bryan mencium telinga Jiana, Bryan menatap Jiana dari samping lalu menyelipkan rambut Jiana kebelakang telinganya. Kemudian bibirnya ia daratkan dileher Jiana dengan tangan mengelus perut Jiana


Cup cup cup


Kecupan dileher itu sampai bersuara membuat Jiana meneguk ludahnya kasar. Tapi selama ini Jiana selalu menahan semuanya dan memendam rasa keinginan disentuh Bryan. Bryan menarik dagu runcing itu ia hendak mencium Jiana, bahkan kepalanya sudah memiring namun Jiana memalingkan wajahnya lagi membuat Bryan kecewa saat itu juga


" Baiklah ayo kita tidur." ajak Bryan mengalah dan beranjak berdiri sembari menggenggam jemari lentik Jiana. Keduanya berjalan menuju kamar mereka


Jiana langsung membaringkan tubuhnya diranjang membelakangi Bryan sementara pria itu masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya dari keringat. Bryan tak mengalihkan tatapannya pada Jiana, ia benar-benar merindukan istrinya yang sudah berbulan-bulan ini tak ia sentuh


Sambil mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, Bryan menyalakan tv untuk mengusir hasratnya pada Jiana lalu memakai piyama tidurnya. Bryan merangkak naik keatas ranjang, membaringkan dirinya terlentang dan menonton tv untuk beberapa saat


Bryan tertawa melihat hal yang lucu ditelevisi membuat Jiana tertarik dan bergerak tidur terlentang. Bryan hanya melirik seraya mengusap puncak kepala Jiana." Tidurlah hmm ini sudah malam." perintah Bryan namun Jiana tak bergeming malah tertawa melihat hal yang lucu ditv


Bryan terkekeh lucu lalu bergeser mendekat menggantikan layar tv itu dengan wajahnya. Bibirnya mencium bibir Jiana untuk beberapa saat lalu berbaring kembali memeluk Jiana yang terlentang, mengelus perut Jiana yang mulai membuncit karena kehamilan kembarnya


Pria itu menyusupkan wajahnya diceruk leher Jiana, mengendus aroma tubuh candunya membuat Jiana menoleh pada Bryan yang menatapnya. Wajah Bryan memelas bagaikan kucing rumahan yang kelaparan minta diberi makan. Keduanya hanya saling menatap untuk waktu yang lama


" Minggirlah aku sedang menonton tv." ucap Jiana membuat Bryan lunglai seketika dan menjatuhkan lagi kepalanya kebantal, Bryan hanya menatap Jiana dari samping. Bibirnya mendadak tersenyum melihat Jiana yang tertawa


" Cantik." puji Bryan namun Jiana tak bergeming, wanita itu kini tak bisa dirayu Bryan lagi. Merasa gemas Bryan menarik tubuh itu dalam pelukannya, Bryan engurung Jiana dengan tubuhnya dengan menimpa sebelah kakinya pada paha Jiana agar wanita itu tak berontak serta jemari membelai rambut Jiana yang kini memanjang hingga kepalanya terkurung kedua tangan Bryan


Bryan tersenyum puas saat Jiana hanya diam tak melakukan perlawanan. Wanita itu tertawa lagi didada Bryan, akhir-akhir ini Jiana memang sangat menyukai acara lucu di tv yang Bryan pikir itu bawaan bayi mereka sehingga istrinya sering menghabiskan waktu berdiam diri dikamar dan diruang tv. Bahkan wanita itu kini malas-malasan mengantar Kya kesekolah membuat Bryan sering menitipkan Kya pada Chesa yang juga mengantar Juno kesekolah


Tapi Bryan tak pernah mempermasalahkan itu, meski Jiana dingin, cuek dan sekarang lebih pemarah. Bryan tetap mencintai Jiana dan berharap wanita itu kembali hangat seperti dulu. Bryan benar-benar rindu saat-saat indahnya bersama Jiana. Lalu ia semakin mengeratkan pelukan dengan bibir menempel dikening Jiana


-


-