
-
-
Pagi ini Jiana semakin riweh karena Bryan. Wanita itu harus menyiapkan beberapa pakaian suaminya untuk ia masukan kedalam koper. Saat membuka koper Jiana sedikit mengernyit bingung dengan kotak-kotak merah didalam koper tersebut. Ia ambil dan teliti dengan benar, ia bolak balik tapi ia benar tak mengerti lalu ia masukan kembali kedalam koper Bryan beserta tiga stel pakaian pria itu, satu pakaian kerja dan dua lainnya pakaian santai
Bryan keluar dari kamar mandi dengan handuk putih melingkar diperutnya juga satu mengalung dilehernya. Sambil berjalan menuju Jiana ia tak henti mengusap rambut yang basah dengan handuk tersebut
" Apa Kya sudah bangun?" tanya Bryan sambil mengambil pakaiannya di samping Jiana yang sedang duduk dilantai
" Sepertinya belum." saut Jiana
Bryan pakai kemeja soft blue itu ditubuhnya lalu pakaian dalam serta celana hitamnya. Tampan sudah pria itu bila terlihat pacar-pacarnya, tapi Jiana .. wanita itu hanya akan menampilkan wajah datarnya
" Kau tidak memakai dasi dan jas?" tanya Jiana menengadah menatap Bryan
" Emmh tidak, acara resminya besok sore." saut Bryan mendekati meja rias dimana segala macam skincare, parfum serta perawatan tubuh lainnya ada disana, bukan miliknya tapi milik Jiana yang ia berikan beberapa waktu lalu untuk merayu wanita itu, Bryan menata rambutnya tapi tak serapi biasanya karena tujuannya hari ini akan berlibur bukan untuk bekerja
Jiana selesai, ia merapatkan koper itu dan beranjak berdiri. Menggeret koper itu mendekat pada Bryan yang langsung menariknya duduk dipangkuan
" Suamimu akan pergi, setidaknya berilah sedikit ciumanmu." ucap Bryan
" Kau seperti akan pergi selamanya saja." saut Jiana datar menyentuh pundak Bryan dengan kedua telapak tangannya
" Ayolah sayang. " pinta Bryan memelas dan Bryan metutuki dirinya yang tak pernah memelas terlebih pada wanita
Cup
Kecupan Jiana mendarat dibibir Bryan
" Sekali lagi, ini tidak terasa." saut Bryan menyengir
" Kau selalu mencari-cari kesempatan."
" Tidak apa-apa, aku kan suamimu. Kau tidak berniat membuatku senang?" tanya Bryan mengusap pelan pipi kanan Jiana
Jiana menangkup wajah itu dengan kedua tangannya, ia memberikan ciuman lembutnya dibibir Bryan meskipun gerakan bibir Jiana amatiran namun itu sukses membuat jantung Bryan berdebar kencang
" Mum Dad. " teriak Kya membuat keduanya berjingkat kaget. Jiana segera beranjak berdiri memberi jarak tubuhnya dan Bryan
" Hey sayang kamu sudah bangun?" tanya Bryan tersenyum
" Mum Kya pipis." ucapnya dengan bibir mencebik dan kedua mata menggenang airmata
" Kemarilah ayo kita kekamar mandi." ucap Jiana berjalan mendekat
Kya menggeleng cepat dan airmata itu tumpah karenanya
" Kya pipis dicelana." isaknya pelan
" Tidak apa-apa, kemarilah Mum akan mengganti celanamu." saut Jiana berjongkok menarik tubuh Kya
" kasulnya basah."
Jiana tersenyum
" Mum akan menggantinya dengan sprei Pororo." saut Jiana tapi Kya malah menangis kencang membuat Bryan terbahak mentertawakannya, sungguh lucu dimata Bryan
" Atau Kya mau Mariposa?"
" Emmh keroppi?"
" Atau tingkerbell?" tawar Jiana
" Kya mau Angli bil." sautnya yang sekali lagi membuat Bryan tertawa kencang
" Baiklah Mum akan menggantinya dengan Angry bird." saut Jiana lalu ia menuntun Kya kekamarnya untuk memandikan gadis kecil itu
Bryan tak henti menatapi keduanya, ia duduk dikasur saat Jiana selesai memandikan Kya dan memakaikannya pakaian. Sudah lengkap dengan mini dress lucu berwarna maroon ditubuhnya, Kya langsung berlari menuju sang Daddy yang tak henti tersenyum melihatnya dengan sang ibu
Bryan langsung mengecup kening dan kedua pipi bapau yang dipenuhi bedak bayi itu dengan begitu lembut lalu membawa Kya dalam pangkuannya
" Kya tunggu bersama Mum hmm?"
" Daddy mau kelja? ini kan hali sabtu." sautnya lucu
" Daddy harus keluar kota untuk bekerja." saut Bryan, hatinya mendadak dipenuhi rasa bersalah untuk kesekian kalinya karena membohongi kedua wanita itu
" Apa Daddy akan membeli mainan lagi untuk Kya?"
" Ya .. tentu saja. Daddy akan membelikan yang banyak."
Gadis kecil itu mengangguk cepat
" Beri Daddy ciuman, kita tidak akan bertemu dua hari." saut Bryan
" Kya dua hali jauh sama Daddy,"
Bryan mengangguk pelan membuat bibir gadis itu mengerucut
" Dua hari tidak akan lama, Daddy akan secepatnya pulang dan membelikan mainan yang banyak untuk Kya. Bolehkan?"
Dengan wajah yang terlihat sedih Kya mengangguk lemah lalu memeluk manja sang ayah, sementara Jiana hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan keduanya untuk membuat sarapan dan bekal untuk Bryan
Ia membuat susie agar memudahkan suaminya saat makan nanti, ia masukan kedalam kotak bekal makan siang hello kity yang biasanya untuk Kya
Bryan sudah siap bersama Kya dimeja makan membuat Jiana segera membawa makan untuk sarapan pagi keluarga kecilnya. Seperti biasa ia mengambilkan untuk Bryan dan putrinya, setelah keduanya selesai barulah dirinya
" Ini apa?" tanya Bryan menunjuk kotak bekal hello kity dalam papperbag coklat
" Ini bekal untukmu didalam pesawat." saut Jiana
" Sayang, kau pikir didalam pesawat tidak ada makanan?" tanya Bryan terkekeh lucu
" Kenapa? kau tidak mau membawanya?" tanya Jiana dengan wajah garang
Bryan melirik kotak bekal makan siang itu beberapa saat
" Aku akan membawanya." saut Bryan membuat Jiana tersenyum namun saat Bryan melihatnya Jiana segera menyembunyikan senyum itu
Setelah sarapan, Jiana bersama Kya mengantar Bryan kedepan. Seperti yang mereka lakukan setiap harinya, tentu saja karena Kya yang harus selalu melambaikan tangannya pada sang ayah saat pria itu akan pergi bekerja
Sekali lagi Bryan mencium kening Kya dengan lembut, gadis itu tersenyum manis lalu mengerucutkan bibirnya yang Bryan balas dengan kecupan lembut dibibir.
Kemudian ia berdiri dan menatap Jiana, ia raih dagu runcing itu dan berikan kecupannya. Bryan masuk kedalam mobil dan membuka semua kaca mobilnya, ia menatap Jiana dan Kya beberapa saat, entah mengapa ia merasa enggan meninggalkan keduanya
" Daddy bye .. bye .." teriak Kya melambaikan tangannya yang juga Bryan balas dengan lambaian tangannya
" Pak Deden saya titip istri dan anak saya." teriak Bryan pada penjaga rumah yang telah selesai memasukan koper Bryan ke kursi belakang
" Siap Den." sautnya. Lalu mobil melaju meninggalkan halaman rumah meninggalkan Kya dan Jiana yang masih berdiri didepan rumah
Bryan sampai dibandara, ia buka pintu mobil dan keluar. Ia juga buka pintu mobil belakang untuk mengambil kopernya. Bryan tutup kembali dan memberikan kunci mobil pada petugas Valet. Namun belum juga selangkah Bryan memutar tubuhnya dan meminta kunci itu kembali. Ia buka pintu mobil depan dan mengambil papperbag coklat dikursi samping kemudi yang sebenarnya tak berniat benar-benar akan ia bawa, ia membawanya hanya untuk menyenangkan istrinya tapi Bryan kembali diliputi rasa bersalah dan enggan meninggalkan papperbag itu
Setelahnya Bryan keluar dan kembali memberikan kuncinya pada petugas valet yang sejak tadi menunggunya. Bryan masuk kedalam bandara dan disambut dengan teman-temannya yang bersorak senang tapi ia terkejut dengan satu wanita disamping David
" Viona?" gumam Bryan
-
-