Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Aku akan pergi



-


-


Setelah seminggu berlalu Bryan kini kembali ke Paris dan kerumah Jiana. Ia tak mungkin terus membuang-buang waktu sementara hari persidangan itu kian mendekat. Bryan selalu berupaya untuk tiba malam hari karena dimalam hari Kya sudah tertidur jadi tak akan mengganggu dirinya menanam benih pada Jiana


Mendengar suara pintu terbuka, Jiana yang sedang santai menonton televisi itu terlonjak kaget dan membulatkan kedua matanya membuat Bryan tertawa dan segera menghampirinya. Tanpa basa-basi Bryan langsung mencium bibir Jiana dengan begitu gemas." I miss you .. " bisik Bryan


" Kau pikir aku akan tergoda, cukup Bryan aku sudah kebal dengan rayuan busukmu itu." jawab Jiana membentak. Bryan terkekeh dan mengulukan jemarinya membelai bibir Jiana


" Aku benar-benar merindukanmu, seminggu ini tak bertemu kamu semakin cantik sayang." Jiana berdecih menghempas kasar jemari itu dan beranjak berdiri


" Mau kemana?" tanya Bryan menarik kembali Jiana duduk disampingnya


" Aku mau tidur jangan menggangguku."


" Tidur? ini masih sore untuk tidur." Jiana melipat kedua tangannya didada dan memalingkan wajah menatap kearah televisi. Saat itu Bryan mendekap tubuh Jiana dengan kedua tangannya. Bryan tersenyum memandangi wajah jutek Jiana


" Bagaimana kalau kita menghabiskan malam bersama. Aku akan membuatmu puas." bisikan itu memancing amarah Jiana


" Apa dimatamu ini aku boneka sek* yang tak punya hati. Aku bukan wanita pemuas nafsuumu, aku mohon hentikan semua ini. Aku benar-benar lelah menghadapimu, lepaskan aku Bryan .. biarkan aku dan Kya bahagia .. "


" Kenapa kamu menganggapnya seperti itu, kamu istriku. Kalaupun kamu ingin bahagia, aku yang akan membahagiakanmu-"


" Kau hanya menyakitiku dengan naf*u sialanmu itu. Kau hanya pria yang tak cukup dengan satu wanita. Itu sebabnya kau meniduri Queen karena kau memang tak pernah puas. Nafsmmmmhhhh." Bryan membungkam bibir yang menurutnya banyak bicara itu. Jiana benar-benar tak bisa dilembuti, perkataan itu selalu menghina dan merendahkan harga dirinya membuat hatinya berdenyut sakit


" Aww .. " teriak Bryan histeris saat Jiana menggigit bibir bawahnya begitu kencang hingga mengeluarkan darah membuat Bryan naik pitam. Bryan melepaskan Jiana dan menarik kedua kaki wanita itu sehingga Jiana berbaring disofa. Bryan mengurung dengan tubuhnya, ia mengusap bibir yang berdarah itu dengan tatapan pada Jiana


" Lepaskan aku!" teriak Jiana


" Diam." bentak Bryan menggelegar dan langsung menyerbu leher Jiana, merakus dengan tangan yang juga main kasar dibuah dada Jiana. Wanita itu mulai menangis lagi karena Bryan, Jiana selalu merasa dilecehkan suaminya sendiri


" Diam Jiana, atau aku akan mengambil Kya malam ini." ancam Bryan dan seketika itu juga tangisan Jiana yang mengganggu Bryan terhenti. Pria itu melanjutkan lagi cumbuannya dileher Jiana dengan tangan masuk kebalik rok Jiana. Bryan menarik CD itu dengan sekuat tenaga hingga robek lalu membuangnya kelantai


Saat itu ia membuka kedua kaki Jiana dan menurunkan resletingnya. " Aaaahh .. " Jiana mulai menjerit saat burung jumbo itu masuk menembus dan mengoyak kewanitaannya


Jiana mulai merintih menikmati guncangan Bryan pada tubuhnya. Kedua tangannya mulai mencengkram kemeja dibagian punggung Bryan apalagi jika mendengar erangan Bryan dilehernya, Jiana rasanya tidak tahan, darahnya berdesir hebat


Ahh


Ahh


" Bryan ahh .. " begitulah rintihan Jiana, terdengar manja dengan suara khas wanita itu


" Mumy .. " tapi suara panggilan lucu itu membuat tubuhnya berlonjak kaget


" Bryan berhenti." Jiana mencoba mendorong tubub Bryan yang menghimpitnya


" Dimana Mumy .." suara itu kian mendekat


" Bryan berhenti, Kya bangun." bisik Jiana tersengal dan kali ini Bryan berhenti, ia menatap Jiana sesaat sebelum bangkit melepaskan penyatuannya dan Jiana. Keduanya bangun duduk dan menoleh kebelakang pada putri mereka yang tampak celingukan, tadi Kya tak melihat keduanya karena terhalangi kepala sofa


" Daddy .. " teriak Kya girang saat tak sengaja melihat sang ayah. Bryan segera memasukan kembali burungnya dan meresletingkan celananya dengan tergesa. Pria itu juga mengambil CD Jiana dilantai dan menyembunyikannya kedalam saku celana saat Kya berlari memutari sofa. Gadis kecil itu langsung berhambur memeluknya


" Daddy Kya!" teriaknya kencang


" Sayang Daddy." balas Bryan memeluk Kya sambil melihat Jiana. Wanita itu terdiam dengan kedua mata berkaca, lalu beringus bangun meninggalkan keduanya, ia menghempaskan tubuhnya kekasur dan menangis kencang menyembunyikan wajahnya dibalik bantal. Ia selalu tak kuat melihat putrinya, selama seminggu ini Kya selalu berceloteh menannyakan ayahnya membuat Jiana kian sedih memikirkan dan meratapi nasib putrinya karena memiliki ayah seperti Bryan


" Daddy bohong, ini tujuh hari bukan lima hari." gerutu dengan bibir mengerucut itu. Bryan tertawa mencubit pipi bakpau Kya


" I'm sorry baby. Daddy sangat sibuk."bisik Bryan ditelinga Kya lalu mencium pipi bakpau Kya. Gadis kecil itu naik kepangkuan Bryan meletakan pipinya dipundak Bryan dengan manja


" Kenapa Kya bangun?"


" Kya takut."


" Apa yang Kya takutkan, ini didalam rumah."


" Kya takut monstel." Bryan tertawa mencubit lagi pipi Kya


" Monster hanya dalam film tak ada didunia nyata."


" Tapi Monstelnya mau mencekik Kya." Bryan tertawa lagi dan menggeleng pelan dengan lanturan putrinya. Ia mengelus rambut Kya dan saat itu terdengar suara Kya yang menguap


Bryan tersenyum mengeratkan pelukannya sembari mengubah posisi Kya menyamping dipangkuannya. Bryan menimang Kya agar putrinya kembali tertidur. " Kya sayang Daddy, Daddy jangan lama-lama pelginya." ucapan manja itu tiba-tiba membuat kedua mata Bryan berkaca. Bryan segera menyembunyikan wajah mungil itu didadanya dan menumpu sebelah pipinya dipuncak kepala Kya, kini kedua sudut matanya benar-benar mengeluarkan airmata


Lama Bryan diposisi seperti itu hingga putrinya tertidur kembali dan tangisan Bryan kian mengencang. " Maafkan Daddy Kya, gara-gara Daddy kita berjauhan." ucap Bryan kemudian ia mengurai pelukannya dan menghujani wajah itu dengan kecupan lembut


Punggung Bryan bergetar karena tangisnya membuat Jiana mematung dengan kedua mata berkaca, sedari tadi wanita itu memperhatikan Bryan dan Kya didepan pintu kamarnya. Lama kelamaan Jiana juga menitikan airmatanya, merasa tak tega melihat Bryan. Rasanya ia ingin memeluk Bryan. Tapi keadaan memaksa Jiana bertahan dengan tekadnya. Ia tak boleh goyah hanya karena melihat Bryan menangis, jika ia lemah ia yang akan tersakiti lagi


Kemudian ia melihat Bryan membawa Kya kekamarnya, wajah itu sembab dengan sisa-sisa cairan bening yang masih menetes. " Selamat malam Kya, mimpilah indah. Kelak kita akan bersama lagi." bisik Bryan ditelinga Kya sambil membaringkan Kya lalu menyelimutinya


" Kenapa belum tidur, ini sudah malam." Bryan mendudukan dirinya disamping Jiana


" Aku tidak bisa tidur." saut Jiana dan tumben sekali suara itu lembut pada Bryan


Bryan menatap lekat Jiana sehingga Jiana menoleh, keduanya saling menatap cukup lama." Jia ayo kita akhiri disini." perkataan Bryan membuat hatinya kembali tercubit sakit tapi ia berusaha kuat menahannya


Jiana mengangguk pelan dan memaksakan senyumnya." Mungkin kita tidak berjodoh Bryan."


Bryan terdiam, ia lebihmendekati Jiana


" Aku akan pergi, aku akan benar-benar pergi." ucapan itu terdengar serius ditelinga Jiana. Jiana hanya terdiam, dalam hatinya ia ingin sekali menangis kencang


" Tapi aku meminta satu hal padamu .. "


" Jika aku bisa aku akan melakukannya." saut Jiana serak


" Aku ingin malam yang indah bersamamu, anggap saja ini malam perpisahan kita." Jiana terdiam membatu


" Aku akan pergi dari hidupmu." tatapan Bryan terlihat sangat serius untuk Jiana saat ini


" Dengan satu syarat." saut Jiana


" Katakan!"


" Jangan didalam, aku tidak mau mengambil resiko. Aku sedang dalam masa subur." Bryan merasa ada secercah harapan mendengar penuturan itu, Jiana bodoh ia seperti menyerahkan dirinya sendiri. Bryan kian mendekati Jiana, menyentuh pipinya


Bryan menggelengkan kepalanya." Aku tidak akan membebanimu, aku akan mengeluarkannya diluar." saut Bryan dengan tatapan serius, meyakinkan Jiana hingga wanita itu terlihat percaya pada Bryan. Bryan tersenyum puas saat Jiana menangkup wajahnya dan mendaratkan bibirnya, Bryan berikan ciuman mautnya untuk Jiana


Tanpa melepaskan bibirnya, Bryan turun dari sofa dan berlutut didepan Jiana. Ia mwncumbui bibir itu dengan tangan yang mulai melucuti pakaian Jiana satu persatu. Jiana hanya diam, membiarkan Bryan menikmati tubuhnya, menjamah lehernya lalu pada buah dada. Tubuhnya mulai meliuk kala Bryan menyulum puncaknya dan memainkan satunya lagi dengan tangannya


Jiana hanya menatap Bryan dengan bibir menganga mengeluarkan suara-suara lembut dan manja membuat Bryan semakin bersemangat menyusu padanya. Setelah lama dan merasa puas menodai didada dan perut, kini bibir Bryan mulai turun menuju pusat kenikmatan Jiana. Bryan membuka kedua kaki itu lebar, bibir dan lidahnya mulai mengoyak memberi kenikmatan yang luar biasa untuk Jiana hingga Jiana merintih dengan suara kencang


Ah


Ah


Ah


Bryan tersenyum lucu, Jiana adalah tipe wanita yang berisik dan Bryan tidak pernah menemukan wanita sebrisik Jiana, sangat menggoda dan membuat Bryan semakin panas. " Bryan .. " apalagi dengan panggilan itu rasanya hasrat Bryan naik keubun-ubun dan ingin segera memasuki kewanitaan itu


Kedua kaki Jiana mulai menggeliyat-geliyat dipunggung Bryan dan jemarinya terulur membelai rambut Bryan. " Bryan aaahhh .. "


" Bryan .. "


" Sayang aku tidak tahan .." racau Jiana. Bryan benar-benar membuatnya takluk, permainan pria itu terlalu panas untuk Jiana hingga wanita itu menjadi tak sadar dan tak tahu malu


Bryan dapat merasakan tubuh Jiana bergetar juga kedua kakinya yang menghimpit Bryan. Setelah puas meneguk cairan Jiana, Bryan kembali berlutut. Sambil menatap Jiana, Bryan melucuti semua yang melekat pada dirinya dengan tergesa-gesa


Bryan mendekati Jiana menumpu kedua telapak tangannya disisi tubuh Jiana sambil melesakan benda panjang yang sudah mengeras itu menembus kewaniaan Jiana membuat wanita itu menjerit kencang, mulutnya terbuka lebar dengan mata terpejam. Bryan mengecup kening Jiana sebelum menggoyang, bergerak berirama memaju mundurkan adinya dibawah sana


" Aah ssshhh oohh ahhh .. " Bryan mulai bersuara dengan manik tak lepas dari Jiana, wanita itu seperti Bryan, sangat berisik memperhatikan hujamannya dibawah sana, bagi Jiana itu sungguh panas, melihat benda besar yang terus masuk dan keluar miliknya


Rintihan Jiana semakin kencang membuat suasana semakin panas. Rasa nikmat itu terus menjalar ditubuh Jiana mengalir keubun-ubun dan berpusat dibawah sana. Saat Jiana memalingkan wajahnya dari bawah keatas, saat itu jugalah Bryan meraup bibirnya melahapnya habis hingga suara keduanya terkulum didalam mulut


" Bryan emmmhh." rintih Jiana saat bibir itu terlepas dan saat itu juga Bryan mengubah posisinya, kedua tangannya mulai memegang pinggang. Jiana mulai menjerit bukan merintih lagi karena Bryan mulai berpacu, liar dan sangat cepat. Guncangannya membuat buah dada Jiana bergerak lincah seakan bisa saja terlepas dari tempatnya jika Bryan terus berpacu seperti sekarang membuat Jiana segera menahan dengan satu tangannya


" Bryan pelan-pelan .." rengek Jiana dengan mata sayu dan wajah memelas tapi pandangan itu tertuju kebawah


" Aah Jia nikmat sekali sayang." racau Bryan


Lama Bryan dalam posisi itu. Kini ia mengubah posisinya, ia membaringkan Jiana dan mengurung wanita itu dengan tubuhnya. Jiana selalu pasrah dan membiarkan Bryan dalam posisi apapun, wanita itu hanya bisa merintih dan menjerit karena Bryan tak pernah membiarkan Jiana mengambil alih permainan, pria itu lebih suka mendominasi dan Jianalah yang terkalahkan olehnya


Cup cup


Dua kecupan lembut mendarat dipipi Jiana sebelum Bryan menyembunyikan wajahnya diceruk leher Jiana. Bryan menyusupkan kedua tangannya merengkuh tubuh Jiana, hal itu membuat Jiana sadar. Ini sudah lama dan hampir berlalu 30 menit dimana Jiana tahu disitu batas Bryan


" Bryan .. " Kedua tangan Jiana yang berpegangan pada kedua pundak Bryan itu kini pindah kebahu, berusaha mendorongnya


" Bryan keluarkan diluar." tegur Jiana dengan nafas tersengal. Jiana mulai khawatir saat Bryan malah mengeratkan rengkuhannya sehingga tubuhnya dan Bryan kian menempel


" Bryan kau sudah janji padaku." tegur Jiana lagi mencoba mendorong sekuat tenaganya. Dan detik-detik ini Jiana bisa merasakan guncangan itu semakin tak beraturan dan kian cepat, Jiana sangat hapal Bryan akan segera mencapai puncaknya


Nafas Bryan kian memburu dengan erangan memekakan telinga Jiana. Jiana menggelengkan kepalanya cepat, bahkan ia sudah tak merasakan rasa nikmat itu lagi. Jiana mulai marah pada Bryan dan lampiasan rasa marah itu pundak dan punggung Bryan yang ia cakar-cakar


" Bryan kau berbohong." teriak Jiana saat guncangan hebat itu membuat kepalanya terbentur pada sisi sofa, airmata Jiana mengalir deras


" Kau jahat .. kau brengsek .. aku membencimu." tubuh Jiana melemas, yang ia rasakan hanya rasa hangat saat guncangan-guncangan itu masih mengalirkan spe*ma kedalam rahimnya, Bryan memenuhi rahim itu dengan benih-benihnya. Tangisan Jiana mengencang, ia mencakar-cakar lagi punggung dan pundak Bryan hingga terluka dan mengeluarkan darah