Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Ide cemerlang Arnold



-


-


Suara ketikan lincah tak beraturan itu terdengar menggema diruangan luas nan mewah milik siapa lagi jika bukan Bryan. Jemari-jemari itu tak henti menekan keyboard dengan pandangan kosong pada layar laptop. Setiap hari selama dua minggu setelah kepergian anak dan istrinya itulah yang dilakukan Bryan, pria itu banyak melamun dan selalu salah dalam pekerjaannya membuat semua bawahan merasa heran, biasanya pria itu akan propesional dalam bekerja


Dan helaan nafas panjang sesekali keluar dari bibirnya. Sudah dua minggu ini juga Bryan tak pernah kembali kerumahnya maupun kerumah ayah ibunya, pria itu mengurung diri dikantor dan tak membiarkan siapapun masuk kedalam termasuk Arnold dan David yang Bryan rasa penyebab awal semua yang terjadi dalam rumah tangganya


Jeny dan Ken hanya menghubunginya sesekali dan bertanya apa yang terjadi namun Bryan selalu menjawab bahwa semuanya baik-baik saja dan mengatakan ia sangat sibuk dalam bekerja. Bryan masih menyembunyikan fakta bahwa Jiana dan Kya kini sudah kembali ke Paris yang kedua orangtuanya pikir Jiana juga sibuk dengan sekolah Kya itu sebabnya cucu dan menantunya itu tak pernah main lagi ke rumah mereka


Bryan ingin sekali menyusul Jiana, ia merindukan anak dan istrinya tapi Bryan sangat malu, ia belum bisa membuktikan semuanya pada Jiana tentang bayi yang dalam kandungan Queen. Sementara untuk melakukan tes DNA janin harus berusia lebih dari 20 minggu, Bryan sangat bingung apa bisa ia menahan rasa rindunya pada Jiana dan Kya sampai 4 bulan kedepan?


Bryan terus memikirkan hal itu sampai tak sadar pintu terbuka dan seorang pria muda berlencana polisi datang ke ruangannya. Pria berkumis sedikit tebal itu mengerutkan dahi melihat Bryan yang terlihat so sibuk dengan pandangan kosong pada layar


Lalu pria itu mendekati Bryan yang duduk dimeja kerjanya dan memberanikan diri melihat layar laptop Bryan, ia terkikik pelan melihat layar itu hanyalah huruf A dan L yang memenuhi layar laptop tersebut


" Emmh Bos. " panggilnya pelan dan takut Bryan terganggu. Bryan segera tersadar dengan wajah muramnya menoleh pada detektif andalan yang sering ia beri perintah


" Ada apa?" tanya Bryan ketus


" Ini bos, kabar darurat." ucapnya seraya meletakan amplok coklat tepat didepan Bryan


" Tidak ada yang lebih darurat dibandingkan Kya dan Jiana saat ini." gerutu Bryan lalu mengambil amplok coklat itu, ia mengambil secarik kertas didalamnya dan alangkah terkejutnya Bryan saat membaca apa yang ada dalam kertas tersebut


" Tidak ini tak boleh terjadi. " Bryan menggelengkan kepalanya, wajah muram itu jadi bertambah muram. Bryan berdiri menggebrak meja kerjanya dengan kencang


" Beraninya wanita itu menggugat cerai padaku!" bentak Bryan


" Nyonya Jiana menggugat anda dipengadilan, sidang akan dilakukan dua bulan kedepan."


" Lakukan sesuatu, kau pikir aku akan menerima ini semua." bentak Bryan kembali menggebrak meja membuat detektif itu terkejut dan takut hingga memundutkan langkahnya


" Pikirkan sesuatu cari solusi agar Jiana tak menggugatku, apa yang harus kulakukan!" teriak Bryan marah lalu ia melempar semua barang yang berada diatas meja kerjanya hingga berserakan dan mengeluarkan suara gaduh keluar ruangan


Bryan bangkit dari duduknya, ia berjalan mondar-mandir diruangan itu, hatinya gusar, gelisah dan dipenuhi rasa takut yang tinggi. " Tidak, aku tak bisa kehilangan Jiana dan Kya, Sayang kenapa kamu tidak menungguku .. " gumam Bryan meremas rambutnya kasar membuat detektif itu pusing dan hilang akal melihat Bryan


" Lakukan sesuatu, bukankah kau selalu punya ide."


" Berikan aku alamat mereka." perintah Bryan


" Maaf Tuan, dengan cara apa Tuan membatalkan gugatan pengadilan, apa Tuan akan menyuap mereka?"


" Apapun akan kulakukan agar aku tak berpisah dengan Jiana."


" Sepertinya akan sulit, hakim Jordi adalah salah satu hakim yang paling adil dan tak bisa disuap dengan uang sebesar apapun." ucapan detektif itu kian membuat Bryan marah, secepat kilat ia mencengkram kerah baju pria itu dengan kedua tangannya


" Lalu apa yang harus kulakukan?" tanya Bryan membentak dipenuhi amarah hingga wajahnya memerah


Ceklek


Suara pintu terbuka itu membuat keduanya menoleh. Amarah Bryan kian meluap melihat kedua temannya yang berada diambang pintu." Boy ada apa denganmu? kenapa terus mencegah kami untuk datang kemari?" tanya David dengan wajah heran


Bryan melepaskan cengkraman pada detektif itu lalu berjalan tergesa mendekati David yang mendadak menciut melihat tampang sangar Bryan


Bruk


Bruk


Dua pukulan keras Bryan berikan diwajah David dan Arnold membuat keduanya terkejut dengan Bryan yang tiba-tiba seperti ini


" Semuanya gara-gara kalian." bentak Bryan menggelegar dan sudah mengepalkan lagi tinjunya


" Boy .. boy tenanglah dulu jelaskan pada kami."


" Tenang .. kau bilang tenang, Jiana menggugat cerai, kau bilang harus tenang." bentak Bryan melangkah mrndekat namun keduanya beringus berlari menjauh membuat sang detektif ingin sekali tertawa melihat ketiganya


" Apa? bagaimana bisa?" tanya David berteriak


Bryan mengusap wajahnya kasar lalu berjalan menuju sofa, menghempaskan tubuhnya dengan kasar. Wajah itu terlihat marah dan banyak pikiran dimata kedua sahabatnya. Lalu keduanya memberanikan diri mengikuti Bryan dengan duduk disofa berhadapan begitupun sang detektif


Bryan menghela nafas beratnya lalu mulai menceritakan semua masalah pelik rumah tangganya dan Jiana pada David dan Arnold


" Jadi sekarang istrimu dua?"


" Jangan gila, aku tak berniat menikahi wanita gila itu."


" Lalu bagaimana jika benar itu bayimu."


" Tidak, itu bukan bayiku. Meskipun aku mabuk aku masih bisa merasakan saat menyentuh seorang wanita. Tapi Jiana tak mempercayaiku sedikitpun."


" Kalau begitu jelaskan pada Jiana kalau itu bukan bayimu dan bilang kau tidak meniduri Queen. Bawalah bunga, tas mahal, perhiasan atau apapun yang disukai istrimu sebagai permintaan maaf."


" Pulanglah, kau sama sekali tak memberi solusi" usir Bryan mengibaskan tangannya mengusir David membuat pria itu ingin sekali tertawa melihat wajah frustasi temannya


" Hamili istrimu!" suara lantang Arnold membuat ketiga pria itu beralih padanya


"Pengadilan tak akan menerima gugatan cerai istrimu jika dia sedang hamil anakmu." ucap Arnold lagi membuat wajah muram dan frustasi itu memudar dan digantikan oleh senyuman tipis


" Kau benar, kenapa aku baru memikirkannya sekarang." gerutu Bryan menepuk-nepuk jidatnya


" Itu karena kau bodoh selalu memakai otot." ejek David mencebik


" Diam, keluar dari ruanganku. " usir Bryan membentak pada David tapi pria itu malah terbahak kencang


" Tapi bagaimana melakukannya, Jiana saja sangat marah padaku bagaimana aku bisa menyentuhnya. Jiana sudah tidak bisa dirayu lagi."


" Astaga berhentilah bodoh, Kau itu suaminya, kau berhak melakukan apapun selama masih suaminya." gerutu Arnold


Bryan menyeringai licik seraya menyandarkan tubuhnya pada kepala sofa. Ia mengusap dagu memikirkan perkataan Arnold yang membuatnya memiliki jalan untuk memiliki Jiana kembali


" Jika Jiana hamil, bukan hanya gugatan cerainya yang tidak diterima pengadilan, tapi kau juga bisa membawa istrimu kembali dengan alasan bayi kalian." ucap Arnold kian membuat senyuman itu melebar sempurna


" Kau benar, idemu sangat cemerlang." saut Bryan tersenyum senang


" Jia tunggu aku, aku akan membawamu kembali dan kita akan bersama-sama lagi membesarkan anak-anak kita nanti."


-


-



-


-