Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Kata maaf



-


-


" Daddy .. Daddy mana mainan Kya?" tanya Kya menyadarkan Bryan dan Jiana dari keterpakuan mereka


Bryan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia bingung harus memberi alasan apa untuk Kya


" Jangan-jangan Daddy lupa." ucap Kya lagi


" Daddy lupa." saut Bryan memberikan cengirannya


" Huff Daddy selalu saja." gerutunya melipat kedua tangannya didada membuat Jiana dan Bryan kembali tertawa sambil saling melirik


" I' m sorry baby, bagaimana kalau kita bermain sungguhan?" tanya Bryan menggerakan tubuh Kya duduk menyamping dipangkuannya


" Bermain sungguhan?" tanyanya lucu membuat Bryan gemas dan mencubit pelan pipinya


" Ya kita bermain melihat binatang dialam. Binatang apa yang Kya suka?" tanya Bryan hingga kedua mata sembab itu berbinar terang


" Jepapah, gajah, kaming, angli bild." saut Kya membuat Bryan tergelak kencang dengan suara cadel itu


" Baiklah, baiklah kita lihat Jepapah." saut Bryan ditengah tawanya


" Kau belum sarapan." ucap Jiana membuka suaranya


" Kenpa tidak membangunkanku?" tanya Bryan, kembali jemari itu menyentuh bibir Jiana, rasanya Bryan selalu tidak tahan untuk tak menyentuh Jiana


" Kau terlihat lelah." saut Jiana bangkit berdiri diikuti Bryan yang memangku Kya dengan satu tangannya sementara tangan yang lain mulai menggandeng bahu Jiana


" Apa yang kau tunggu?" tanya Bryan pada Jiana yang malah mematung memperhatikan tangan Bryan dibahunya


" Aku sudah sarapan."


" Temani aku, aku tidak terbiasa makan sendiri." saut Bryan melangkah sambil menarik tubuh Jiana agar mengikutinya


Mereka berjalan menuju meja makan, Bi Ami yang sedang membenahi dapur tersenyum melihat Jiana dan Bryan yang tampak akur. Biasanya pasangan suami istri itu selalu adu mulut bahkan untuk masalah kecil sekalipun. Pasalnya Bu Ami maupun pak Deden tidak tahu bahwa Jiana dan Bryan adalah pasangan yang baru menikah dua bulan yang lalu, setahu mereka pasangan itu sudah lama menikah mengingat anak mereka yang sudah berusia 4 tahun


Bryan menarik kursi, duduk disana menunggu Jiana yang menuju meja pantry dimana bi Amy berada


" Biar bibi saja nyonya."


" Tidak bi, ini untuk suamiku." saut Jiana menyalakan api dikompor untuk menghangatkan sup jagung yang Bryan pesan untuk sarapan pagi


Setelah dirasa mendidih kembali Jiana segera mematikan api, mengambil mangkuk lalu menuangkan sup jagung itu kedalamnya. Jiana kembali pada Bryan, meletakan sup jagung beserta sendok tepat didepan pria itu lalu ia duduk disamping Bryan sesuai permintaan suaminya


" Ini pertama kalinyq aku membuat sup jagung, bagaimana rasanya?" tanya Jiana membuat Bryan yang sedang melahap sup jagung itu beralih padanya


" Kau maunya bagaimana?" tanya Bryan dengan senyum nakal


" Tentu saja aku berharap kau memujiku." saut Jiana dengan wajah yang kembali jutek


" Ini sangat enak. Terima kasih sayang." puji Bryan menekankan kata sayang pada Jiana dengan membisikan ketelinganya


" Jangan berbohong hanya untuk merayuku."


" Aku tidak pernah berbohong aku selalu mengatakan yang sejujurnya."


" Lalu kemarin apa?" tanya Jiana membentak pelan


Bi Ami kembali menggeleng pelan, belum sampai sejam ia melihat kemesraan pasangan itu kini keduanya malah bertengkar dan beradu mulut lagi


" Jangan membawa masalah kemarin. Itu berbeda." saut Bryan pelan seraya melahap kembali sup itu kedalam mulutnya sementara Jiana hanya menggerutu tak jelas


" Bukankah aku sudah mengatakan semuanya, aku memang berbohong dan itu untuk terakhir kalinya." ucap Bryan yang merasa sedikit kesal dengan gerutuan Jiana, wanita itu hanya diam dengan tatapan kesembarang arah


Lalu Bryan menunduk melihat Kya yang merengut celingukan menatapnya dan Jiana bergantian, tatapan itu seperti biasa saat melihatnya dan Jiana yang selalu bertengkar


" Hey .. " panggil Bryan menarik dagu Kya agar menatapnya


" Kenapa Mum dan Dad selalu beltengkal." ucap Kya membuat kedua orangtuanya membeku mendadak dan membuat Bi Ami yang mendengarnya merasa kasihan pada Kya, bahkan anak sekecil itupun menyadari bahwa orangtuanya memang tak pernah akur


" Onty dan Papa Dean juga tidak pelnah beltengkal."


" Sayang. " panggil Jiana lembut menyentuh pipi Kya


" Kya tidak suka melihat Mum dan Dad beltengkal. " ucapnya cemberut melipat kedua tangan kecilnya didada


Jiana maupun Bryan tak ada yang membuka mulut, keduanya sama-sama bungkam dan merasa malu dengan perkataan putrinya. Sambil makan dalam diam, Bryan memikirkan perkataan putrinya. Memang selama ini ia dan Jiana kerap bertengkar dihadapan putri mereka, keduanya seolah tak bisa menahan diri dan selalu beradu mulut padahal hal itu akan berpengaruh pada psikologis anak mereka, bukan membuat Kya bahagia seperti tujuannya justru kini Bryan malah membuat putrinya sedih


Sampai tiba dikamarnya pun bibir Kya masih mengerucut seperti tadi dimeja makan. Bryan sendiri bingung harus membujuk Kya dengan cara apa sementara dirinya pun memang salah


" Sayang .. " panggil Bryan berjongkok dihadapan Kya yang sedang duduk diatas kasur


" Kyasha .. maafkan Dadfy hmm, Daddy selalu nakal pada Mum. Jadi Mum selalu marah pada Daddy. " ucap Bryan dengan sengaja memelaskan wajahnya berharap sang putri luluh karenanya


" Kya .. Dad janji Dad tidak akan nakal lagi. Kya maukan memaafkan Daddy?"


" Sayang .. " panggil Bryan lagi menangkup wajah yang terasa kecil dikedua tangannya itu


" Dad janji tidak akan beltengkal lagi dengan Mum?" tanya Kya melunak


" Ya .. Dad janji." ucap Bryan menaikan jari kelingkingnya membuat sang gadis kecil menyengir dan mengaitkan jari kelingkingnya pada sang ayah


Lalu Bryan mengambil boneka barbie dengan sayap kupu-kupu diatas meja nakas, ia kembali berjongkok didepan Kya


" Tunggulah sebentar bersama Mariposa hmm?" tanya Bryan seraya memberikan boneka barbie itu ke tangan Kya


" Dad mau kemana?"


" Dad mau mandi dan berganti baju. Bukankah kita akan bermain sungguhan?"


" Kya suka main sungguhan." sautnya kembali riang


" Baiklah kita akan pergi setelah Dad selesai. Sekarang main dulu bersama Mariposa sambil menunggu Dad oke?"


" Yes Daddy." saut Kya berteriak kencang


" Kenapa ada anak menggemaskan seperti ini." gumam Bryan sambil menciumi pipi Kya


" Daddy belhenti." teriaknya melengking


Bryan tertawa pelan lalu meninggalkan Kya. Ia menuju kamarnya dan Jiana yang disebelah kamar Kya. Bryan menghela nafas diambang pintu, tinggal satu lagi kendalanya yaitu Jiana. Bryan masuk menutup pintu itu rapat dan duduk disamping Jiana yang sedang memilah-milah pakaiannya dan Bryan yang sejak tadi pagi selesai di setrika bi Ami


" Ji .." panggil Bryan seraya menahan lengan Jiana yang akan beranjak berdiri


" Kita harus bicara." ucap Bryan, kali ini wajah itu serius menatap Jiana yang hanya diam menatap kesembarang arah, lalu ia duduk disamping Jiana


" Sayang .. " panggil Bryan lembut


" Kenapa kau selalu seperti itu." saut Jiana membuat Bryan mengernyit heran, seumur-umur hanya Jiana wanita yang protes saat ia panggil mesra seperti itu. Bryan menarik nafasnya panjang lalu menarik dagu Jiana agar menatapnya


" Karena kau istriku." saut Bryan mengusap pelan dagu Jiana, wanita itu hanya diam menatapnya


" Ji .. apa kau memikirkan perkataan Kya tadi? aku benar-benar memikirkannya Ji. Tak bisakah kita jangan menunjukan semuanya didepan Kya, rasa benci dan rasa tidak sukamu padaku? tak bisakah kau bersandiwara menyukaiku, setidaknya untuk membuat putri kita senang. " tutur Bryan


" Akan kucoba." saut Jiana singkat


Bryan tersenyum mengusap pipi Jiana dengan ibu jarinya


" Maaf. " bisik Bryan tulus


" Maaf untuk malam itu." bisiknya lagi membuat Jiana tertegun, ini pertama kalinya ia mendengar kata maaf yang terdengar tulus dari bibir Bryan


" Maaf menyakitimu ..." Bryan berhenti sejenak sebelum melanjutkan ucapannya, ia menatap lekat kedua mata Jiana


" Maaf karena sampai detik ini aku tidak pernah menyesali perbuatanku. Maaf juga karena aku sangat senang kita memiliki Kya." bisik Bryan hingga tak terasa airmata Jiana menetes mendengarnya


-


-