Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Usaha yang sia-sia



-


-


Jiana menggeliyatkan tubuhnya yang terasa remuk. Bagaimana tidak? semalam Bryan menyetubuhinya hingga tiga ronde membuat Jiana lemas tak berdaya dibawah kungkungannya." Gila, sampai kapan aku diperdaya seperti ini." teriak Jiana memukul-mukul kasur dengan kedua tangannya


Lalu ia bangun melilitkan selimut putih ditubuhnya. Pandangannya mengedar kesetiap penjuru kamar dan tak menemukan Bryan disana." Kemana dia?" gumam Jiana menuruni kasur dan berjalan menuju lemari pakaian


Saat melangkah keluar kamar dengan dress selutut bunga-bunganya, Jiana mendengar suara cekikikan putrinya dari luar disertai suara deburan ombak yang setiap saat terdengar ditelinganya. Jiana segera keluar rumah dan menemukan Bryan sedang berenang bersama Kya ditepi pantai


Selama ini putri mereka bahkan tak pernah mau berenang dipantai. Jika bersama ayahnya mungkin Kya merasa terlindungi, dan lihatlah cekikikan itu membuat senyum dibibir Jiana terbit. Jiana mendekat ia duduk dibangku ayunan depan rumahnya, ia menatap Bryan yang menggendong Kya dipundaknya, pria itu menceburkan dirinya kedalam ombak hingga cekikikan kembali keluar dari bibir Kya


" Daddy lihat Kya." teriaknya terdengar ditelinga Jiana. Pria itu menengadah dan tertawa melihat wajah Kya yang dipenuhi pasir


Itu sukses membuat Jiana kembali tersenyum." Andai saja kau tidak menghamili Queen dan yang paling membuatku benci adalah kau yang tak pernah jujur tentang siapa Queen sebenarnya .." gumam Jiana melipat kedua tangannya didada


" Mum.. " teriak keduanya berbarengan dengan riang lalu mendekati Jiana


" Apa kamu sudah sarapan? aku sudah menyiapkannya diatas meja." ucap Bryan


Jiana memalingkan wajah dengan bibir cemberut pada Bryan, pria itu tersenyum lucu lalu menurunkan Kya


" Daddy ayo kita main ail lagi."


" No baby kita sudah terlalu lama, bukankah ini waktunya Kya sekolah?" seketika bibir mungil itu mengerucut pada Bryan


" Oh ayolah anak Daddy kan sudah besar, sudah sekolah dan punya teman." Bryan berjongkok didepan Jiana dan Kya, underware hitam yang mencetak tepat bagian pangkal paha Bryan menjadi perhatian Jiana, ia meneguk ludahnya kasar melihat cetakan itu yang belum bangun saja sudah terlihat besar. Pantas saja selama ini Jiana masih sering merasakan perih bila awal berhubungan


" Baiklah, tapi Kya mau diantal Daddy."


" Tentu saja, Daddy akan mengantar Kya." saut Bryan dengan senyum manis lalu beralih pada Jiana


" Mum aku sangat kedinginan, peluk aku." Bryan memelaskan wajahnya pada Jiana dihadapan Kya


" Iya Mum, peluk Daddy." Kya ikut menyahut membuat Jiana terperangah


" Kya, Daddy sangat kedinginan."


" Kya akan memeluk Daddy." sautnya memeluk leher Bryan


" Kya saja tidak cukup harus bersama Mum." Dan tangan Jiana sungguh gatal ingin menampar Bryan yang wajahnya sengaja memelas mengharap belas kasihan dihadapan putri mereka


" Mum ayolah peluk Daddy sepelti Kya." teriak Kya pada ibunya. Jiana mendengus kesal, mau tidak mau ia membungkuk dan memeluk Bryan, itu membuat Bryan senang karena bisa mencuri-curi kesempatan membenamkan wajahnya didada Jiana


" Hangatnya .. " ucap Bryan dengan suara manja membuat Kya cekikikan tapi membuat Jiana kesal dan ingin sekali menjambak rambutnya


Akhirnya kekesalan itu berakhir saat Bryan beranjak berdiri, menariknya dan memangku Kya masuk kedalam rumah. Bryan tak membiarkan Jiana melakukan tugasnya, ialah yang riweh memandikan Kya dan memakaikan pakaian pada Kya


" Cantik sekali anakku." puji Bryan tersenyum memandangi Kya yang sudah ia kuncir dua dan beri bedak dipipinya. Dipuji ayahnya Kya menjadi genit, kepalanya melenggak lenggok kekiri dan kanan membuat Bryan terkekeh lucu


Dengan tangan yang bertaut dengan Kya, Bryan keluar dari kamar. Senyuman terbit dibibir Bryan saat melihat Jiana sedang memakan sarapan dimeja makan kecil, Jiana tidak tahu Bryan membuat nasi goreng itu dengan susah payah untuknya dan Kya


" Bagaimana rasanya? enakkan?" Jiana menoleh dan memberi delikan sebalnya pada Bryan


" Kau berniat mengantar Kya seperti itu?" tanya Jiana pada penampilan Bryan yang masih mengenakan underware basahnya


" Cih .. " hanya itu yang keluar dari mulut Jiana


Bryan menghela nafasnya lalu memutar tubuh untuk mengganti pakaian. Ia melangkah masuk kekamar Jiana, mengambil koper hitamnya dibelakang pintu dan memakai setelan santainya


" Tampan." pujinya pada diri sendiri didepan cermin lalu keluar dari kamar


" Ayo kita berangkat." ucap Bryan menautkan kembali jemarinya pada Kya


" Daddy apa kita akan naik mobil?"


" Kya mau naik mobil?"


" Iya, Kya bosan jalan kaki telus sama Mum."


" Baiklah, kita naik mobil."


Keduanya pergi meninggalkan Jiana sendiri dirumah, wanita itu menyaksikan Bryan yang naik mobil bersama Kya dari jendela." Apa yang harus kulakukan, aku tidak bisa seperti ini. Semakin lama aku semakin takut perasaanku akan lebih dalam pada Bryan dan aku takut tak bisa melepaskannya." gumam Jiana menatap keluar jendela sejenak lalu kembali menyapu dalam rumahnya


Jiana kembali mengintip keluar jendela saat mendengar suara orang berbincang diluar rumahnya. Dilihatnya dua orang pria bertubuh besar serta pakaian layaknya petugas negara, memakai tuxedo hitam sedang berdiri didepan rumahnya." Siapa mereka? apa mereka polisi disini?" gumam Jiana


" Ini kesempatanku bukan untuk melarikan diri dari Bryan .. yaa .. dia tidak akan berani menggangguku bila aku melaporkannya ke polisi." gumam Jiana


Dengan bodohnya ia keluar rumah, berlari mendekati dua orang yang membelakanginya." Tuan .. tolong saya .. " mendengar suara lembut wanita kedua pria bertubuh tinggi besar itu memutr tubuh


Keduanya terkesima dan tersenyum tipis melihat tawanan bos mereka yang ternyata sangat cantik." Pantas dihajar terus, sangat cantik ternyata." bisik salah satunya


" Nona apa yang kami bisa tolong?"


" Apa kalian polisi, TNI atau ..." mendengar ucapan Jiana keduanya mengulum senyum akan kepolosannya. Selama ini mereka memang selalu bersembunyi dari Jiana


" Tolong saya tolong, saya ditawan oleh seorang pria."


" Pria itu .. " Jiana mulai menjerit histeris tatkala sebuah mobil yang ia kenali berhenti tepat dihalaman rumahnya


" Pak, tolong saya .. saya terus diperkosa pria itu." Jiana kembali berteriak histeris sembari menunjuk Bryan yang keluar dari mobil


" Tolong saya, tahan pria itu, dia sangat jahat. Saya terus dipaksa, saya diperkosa terus menerus." Jiana memegang lengan salah satu anak buah Bryan itu dan bersembunyi dibelakangnya


Seketika para pria itu tertawa kencang begitupun Bryan yang perlahan mendekat. Pria itu memegang perutnya karena tak kuat mentertawakan Jiana." Kenapa kalian tertawa?" tanya Jiana menatap semua orang bergantian, ia mundur selangkah saat Bryan berusaha menarik pinggangnya


" Kalian bersekongkol?" tanya Jiana berteriak dan terus memundurkan langkahnya, tawa kembali menguar disana


" Ayolah sayang ada apa denganmu?" suara Bryan sungguh nakal. Bryan melangkah cepat dan segera menangkap tubuh Jiana


" Lepaskan aku sialan."


" Tuan, tolong .. aku minta belas kasihan kalian." teriak Jiana meronta saat Bryan memanggul tubuhnya dipundak


" Diamlah .. mana ada diperkosa mendesa* .." ucapan Bryan sukses membuat kedua pria itu terbahak kencang, mereka mengingat hal semalam saat mereka berjaga, suara Jiana dan Bryan sampai terdengar keluar membuat keduanya bergantian kekamar mandi


-


-