
-
-
Menjelang subuh, pria itu sampai dirumahnya. Ia segera menekan bel dengan tak sabar hingga membangunkan semua orang kecuali Kya. Tepat sekali yang membuka pintu adalah Jiana, wanita itu berdiri didepannya dengan muka bantal
Bryan langsung masuk rumah, mendekat menangkup wajah itu dan mendaratkan bibirnya membuat kedua mata yang sayu itu membulat sempurna. Bryan bersemangat mencium bibir itu dengan rakus dan penuh na*su, ia bahkan mendorong Jiana kedingding dan menghimpitnya. Ia tak sadar Bi Ami dan Pak Deden yang keluar dari kamar mereka melihat semuanya. Keduanya memang kebetulan suami istri, mereka saling melempar senyum
" Pasangan muda memang masih hot." bisik Deden pada istrinya lalu menggandengnya kembali kekamar agar tak mengganggu kedua majikan yang mereka rasa sedang memadu kasih itu
Bryan semakin merakus menekan tengkuk Jiana dengan tangannya, ia tak mengerti dengan tubuhnya. Sekarang adiknya on hanya karena sebuah ciuman tapi semalam ia dan Clarissa melakukan lebih dari ciuman sang adik tak kunjung bangun
Jiana maupun Bryan terengah saat bibir itu Bryan lepaskan karena kehabisan nafas. Bryan membawa tubuh itu kedalam pelukannya memeluknya erat sambil memejamkan mata dan mengelus rambut pendek Jiana
" Kau kenapa sudah pulang?" tanya Jiana terengah
Bryan membungkam nyatanya perasaan kalut dan gusar itu hilang begitu saja. Yang ada hanya jantungnya yang berdebar kencang dan itu terdengar ditelinga Jiana
Bryan menarik Jiana menuju sofa, duduk disana berhadapan. Ia kembali menarik Jiana kedalam pelukannya
" Aku berbohong. " aku Bryan membuat Jiana mengernyitkan dahinya tak mengerti
" Itu bukan urusan bisnis, aku berlibur bersama David dan Arnold." ucap Bryan lagi
" Bersama wanita?" tanya Jiana
Bryan mengurai pelukannya, ia menangkup wajah Jiana dengan kedua tangannya
" Demi Tuhan aku tidak menyentuh mereka." saut Bryan, wajah itu kembali memelas pada Jiana yang hanya menatap dengan tatapan tak dapat diartikan
" Sayang, aku bersumpah aku tak meyentuh mereka. Maukah kau mempercayaiku?" tanya Bryan dengan kedua ibu jari yang tak henti mengusap kedua pipi Jiana
Hujan kecupan mendarat dibibir Jiana yang hanya diam membungkam membuat sang pria gusar tak karuan
" Ji .. " panggil Bryan lembut
" Kenapa kau tidak menyentuh mereka?" tanya Jiana, kedua maniknya menatap lekat manik Bryan mencari kebohongan disana tapi ia melihat manik hitam pekat itu tulus
" Aku mengingat Kya, aku mengingat putri kita. Meskipun pernikahan kita tidak seperti pernikahan lainnya tapi aku sungguh tidak mau membuat putriku menangis dan tahu kelakuan bejadku." saut Bryan kembali mengecup bibir itu seakan tak bosan
" Kau percayakan pada suamimu ini?" tanya Bryan
Jiana mengangguk pelan membuat Bryan tersenyum lebar dan kembali mendaratkan bibirnya dibibir Jiana. Mereka berciuman kembali, kali ini Jiana membalas dan mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan, entah apa yang merasuki Jiana saat ini hingga ia terhanyut dalam buaian Bryan
Bryan menarik Jiana kepangkuannya dan memangku wanita itu menuju kamar mereka tanpa melepaskan bibirnya sedikitpun. Untuk kali ini ciuman Bryan terasa lembut untuk Jiana, hingga wanita itu tak henti membalasnya
Hasrat Bryan mulai memuncak hanya karena balasan ciuman Jiana, ia membaringkan tubuh itu dengan pelan diatas kasur. Satu jemarinya mulai hinggap dikancing piyama Jiana membuat wanita itu tersentak dan spontan melepaskan bibirnya
Bryan mengerutkan dahinya menatap Jiana yang masih saja menolaknya bahkan jemari wanita itu kini menyentuh jemarinya mencoba menahan Bryan untuk tak berbuat terlalu jauh. Bryan tersenyum lalu menjauhkan tangannya lagi dan hinggap di puncak kepala Jiana, mengelus rambut itu dengan ibu jarinya
" Jangan membenciku lagi." ucap Bryan memelaskan wajahnya
Jiana hanya terdiam menatap Bryan sampai bibir itu kembali menyatu barulah ia memejamkan matanya lagi. Bryan mencoba meredam gairah yang tengah menyelimutinya tapi ia juga tak tahan untuk tak menjamah bibir Jiana. Alhasil keduanya hanya berciuman mesra dan lembut hingga sinar matahari benar-benar menerangi bumi
Saat itu Bryan merasa lelah, ia tertidur memeluk Jiana yang membuka matanya menatap wajah yang ia rasa mulai tampan dimatanya. Jiana menyentuh bibirnya sendiri lalu menyentuh bibir Bryan. Mendadak ia tersenyum akan ciuman lembut yang menghanyutkan hingga jantungnya tak terasa berdetak begitu cepat. Jiana juga tak menyangka Bryan akan berani mengakui kebohongannya membuat Jiana sedikit tersentuh dengan pengakuan pria itu
Jiana mencoba melepaskan kedua tangan Bryan, ia akan melakukan kegiatan rutinnya membuat sarapan untuk keluarga kecilnya. Ia tak bisa hanya berdiam diri meskipun ada pembantu dirumah ini dan hal itu membuat sang pelayan kagum akan sosok Jiana yang rajin
" Mau kemana?" tanya Bryan bergumam tanpa membuka matanya
" Aku akan membuat sarapan." saut Jiana
" Nanti saja sayang, ini masih pagi. Aku juga belum lapar."
" Kya akan kelaparan, dia tidak pernah telat makan." kali ini Bryan membuka matanya yang terasa lengket, sebelum melepaskan Jiana ia kembali memberi kecupan dibibir itu
" Aku mau sup jagung untuk pagi ini." pinta Bryan lalu ia menutup matanya kembali
" Sup jagung. " gumam Jiana pelan lalu menuruni ranjang dan berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya sebelum membersihkan diri ke kamar mandi
Bryan tersenyum lebar mendengar gumaman istrinya. "Jiana si culun .. Jiana istriku." gumam Bryan
Pukul 10.30 Bryan terbangun dari tidur paginya. Ia merenggangkan ototnya beberapa saat lalu turun dari ranjang. Ia berjalan keluar mencari Jiana
"Ji .. " panggil Bryan berteriak bak tarzan dihutan
" Sayang .. " panggil Bryan lagi saat tak menemukan Jiana di dapur yang ada hanya bi Ami
" Oh nyonya pergi belanja ke supermarket sama Nona Kya. "
" Diantar pak Deden?"
"Iya Den. " saut Bi Ami
" Kenapa tidak meminta ijin padaku." gerutu Bryan lalu melengos pergi keluar rumah. Ia hempaskan tubuhnya di kursi depan diberanda rumahnya menunggu Kya dan Jiana
Tak sampai sejam Jiana dan Kya sudah pulang. Keduanya keluar dari mobil, saat Kya melihat sang ayah mata gadis itu berbinar terang seterang mentari pagi
" Daddy. " panggil Kya berteriak kencang membuat Jiana dan pak Deden tersenyum dengan Kya yang terlihat mengidolakan sang ayah. Kya berlari kencang tanpa memperhatikan jalannya dan tersandung batas jalan dan rumput hingga terjatuh ke tanah
Seketika ia menangis kencang membuat Bryan langsung mendekat memangku gadis kecil itu membawanya duduk ditempat semula
" Dad sudah bilang, Kya jangan berlari tapi Kya tidak pernah menurut. " gerutu Bryan memarahi putrinya
" Hhuuuuu sakit. " teriaknya menangis kencang sambil menunjuk kedua lututnya yang terluka dan mengeluarkan darah
Jiana mendekati keduanya, berjongkok didepan Bryan lalu melihat kedua lutut putrinya
" Ini akibatnya karena tidak pernah mau menurut." Jiana ikut memarahi Kya sambil menaikan jari telunjuknya lalu menyentil kuping gadis itu pelan membuat tangisan Kya mengencang
" Ji .. " tegur Bryan memelototkan kedua matanya
" Dia tidak boleh terlalu dimanja."
" Tapi tidak dengan memakai tanganmu. " tegur Bryan lagi kesal, ini pertama kalinya ia melihat Jiana melakukan itu
" Aku bahkan tak memakai tenaga." gerutu Jiana berdiri lalu masuk kedalam untuk mengambil kotak P3K didekat ruang tv
Tak lama Jiana kembali dan berjongkok didepan Kya yang duduk dipangkuan Bryan, gadis itu tak kunjung menghentikan tangisannya. Jiana mengambil kapas dan menuangkan alkohol ke kapas lalu ia mengusapkannya pada lutut Kya yang terluka untuk membersihkan area itu
" Mum sakittt .. " teriaknya kencang
" Ssuuuut diam, kalau tidak diobati ini akan membusuk. Kya mau punya kaki busuk dan dokter akan memotongnya." ucap Jiana menakut-nakuti hingga tangisan itu mereda hanya isakannya saja yang terdengar karena takut dengan ucapan sang ibu
Bryan tersenyum melihat putrinya yang ketakutan sekaligus menahan rasa sakit saat Jiana kembali mengusap lutut satunya lagi dengan kapas yang sudah dituangi alkohol
Hiks hiks hiks
Isakan tangis itu terdengar kian kencang saat Jiana mulai mengolesi luka itu dengan betadine, untuk ukuran orang dewasa saja betadine pada luka memang terasa perih apalagi pada seorang gadis kecil seperti Kya, lalu ia menutupi luka dimasing-masing lutut itu dengan plester
" Nah sudah selesai." ucap Jiana tersenyum hangat pada Kya
" Sakit Mum .. " lirihnya lucu dan manja
" Ini jadi pelajaran untuk Kya, kedepannya dilarang berlari. "
" Mengerti?" tanya Jiana
" Sakiiiitt huhu .. " isaknya pelan dengan wajah takut pada Jiana
" Mum akan sembuhkan hmm?"
Lalu Jiana meniup-niup pelan luka dikedua lutut itu membuat isakan itu memelan dan wajah sembab itu menengadah menatap sang ayah yang tak henti tersenyum
" Giliran Daddy sembuhkan Kya." ucapnya sesegukan
" Dengan senang hati princess." saut Bryan lalu mengangkat kaki Kya lebih keatas dan mendekatkan bibirnya pada lutut itu meniupinya pelan dan bergantian
" Daddy ajaib." ucap Kya
" Tidak sakit lagi." tambah Kya membuat kedua orangtuanya tertawa, Jiana berlutut ke lantai berhambur memeluk Kya namun ia malah tak sengaja malah memeluk Bryan. Jiana mendadak malu dan melepaskan perlahan kedua tangannya tapi segera di tahan Bryan
Sambil menatap lekat Jiana Bryan menarik kedua tangan itu untuk melingkar ditubuhnya membuat Jiana tersenyum malu. Bryan menyukai wajah malu-malu itu, ia mengulurkan jemarinya untuk menyentuh bibir Jiana
" Cantik." puji Bryan membuat Jiana spontan menengadah menatapnya
Deg deg deg deg
Suara jantung keduanya berpacu tatkala tatapan kedua mata itu terkunci. Mereka terpaku hingga mengabaikan putri mereka yang berada ditengah-tengah mereka
-