Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Menjaga anak-anak dengan baik



Dengkuran halus menemani Jiana dipagi yang cerah ini. Jiana tersenyum membuka kedua matanya, ia memegang tangan Bryan yang melingkar diperutnya lalu berbalik pada Bryan yang masih tertidur


" Sayangku, benar-benar lelah karena semalam hmm?" Senyuman manis kembali terbit, Jiana mengelus pelan dagu Bryan lalu mencium bibirnya dengan begitu lembut


" I love you too." Bisiknya membalas ucapan Bryan semalam lalu bangkit bangun. Kagetnya Jiana tak melihat anak-anak mereka ditempatnya


" Boy." Jiana mengguncang bahu Bryan sambil melihat jam, wajahnya terkejut karena ia bangun terlalu siang. Sejak rujuk bersama Bryan ia sering sekali bangun terlambat, penyebabnya siapa lagi kalau bukan pria yang kini malah bergerak memeluk perutnya


" Bryan, anak-anak dimana?" teriak Jiana memukul punggung Bryan


" Berisik sekali Jia, aku masih lelah sayang."


" Dimana anak-anak." teriak Jiana lagi


" Mereka bersama para Nanny." Saut Bryan tanpa membuka matanya


Jiana memaksa melepaskan kedua tangan itu lalu bangkit berdiri. Ia tergesa-gesa memakai mantelnya karena pakaian sudah dipakaikan Bryan sebelum Kya bangun, jika tidak tentu gadis kecil itu akan banyak bertanya pada Bryan kenapa ibunya tak memakai pakaian saat tidur


Jiana berjalan tergesa-gesa mencari anak-anaknya mengitari semua ruangan vila. Ia sangat khawatir lalu berlari keluar vila saat tak menemukan sikembar dan Kya. Tepat di luar pintu Jiana mengusap dadanya, sikembar dan Kya ternyata sudah berada dihalaman rumah bersama tiga wanita seusianya, sedang melihat danau dan pergunungan yang indah dipagi hari



" Demi Tuhan, ini benar-benar indah." Gumam Jiana lalu mendekati Kya dan sikembar


" Selamat pagi Nyonya." Jiana tersenyum tipis menanggapi sapaan Nanny sikembar yang mendadak Bryan sewa untuk liburannya, rasanya Bryan takkan sanggup mengurus empat buah hatinya, selain itu ia kasihan pada Jiana karena malamnya wanita itu harus meladeni nafsunya yang bagai listrik tegangan tinggi


Lalu Jiana berlutut didepan bayi kembarnya yang sedang disuapi bubur yang terbuat dari ayam dan sayuran higienis." Apa makan mereka banyak?" tanya Jiana


" Bayi-bayi yang lucu ini makan dengan lahap, apa mereka baru diberi makan?" seolah terlatih merawat bayi, Nanny berambut pirang namun pandai berbahasa Indonesia itu kembali menyuapi Zayn yang lahap


" Baru hari kemarin aku memberinya makan, sebenarnya mereka belum genap 6 bulan." Saut Jiana mengusap sudut bibir Zayn dan tersenyum, melihat betapa tampannya bayi itu. Semuanya yang ada pada Zayn dan Zeen memang semuanya adalah Bryan bahkan kuku jari mereka pun sama seperti Bryan


" Tidak apa-apa, kebanyakan memang ibu memberi makan bayi seperti itu." Jiana mengangguk lalu menoleh kebelakang pada Kya yang sedang memetik bunga-bunga kecil berwarna violet, kesukaan pada bunga dan tanaman sang Nenek yaitu Jeny sepertinya menurun pada Kya


" Mum, look!" perintahnya berteriak kencang membuat semua orang tersenyum, tak berbeda dengan ketiga bayi kembar, gadis kecil itupun sangat lucu apalagi celotehan cadelnya. Kya berlari mendekati Jiana dengan bunga dikedua tangan kecilnya


" Mum, this is beautifull." Jiana terkekeh dengan putrinya yang berbahasa asing karena Bryan memang kerap mengajari Kya


" Ya, seperti Kya. " Puji Jiana mengambil satu bunga itu dan menempelkan ditelinga Kya. Spontan gadis kecil itu cekikikan dan berlarian kesana kemari, tampak terlihat senang dimata Jiana


" Sayang apa kamu sudah sarapan?" tanya Jiana berteriak


" Yes, of course Mum!" Kya balas berteriak sambil berlari dan meloncat-loncat


" Awas nanti kamu jatuh hmm?" Namun Kya hanya cekikan riang


" Gadis kecilku tumbuh besar dengan baik." Gumam Jiana tersenyum lebar lalu menoleh lagi pada Nanny yang juga tersenyum


" Aku titip mereka sebentar."


" Tentu saja Nyonya, itu tugas kami." Jiana mengangguk lalu masuk lagi kedalam rumah dan kedalam kamar melewati Bryan yang masih tertidur dikarpet berbulu dengan selimut menggulung tubuhnya


Jiana memutuskan untuk mandi dengan air hangat, merilekskan tubuhnya dalam bathup setelah pertempuran panas semalam yang membuat tubuhnya terasa remuk. Sekitar satu jam ia memanjakan diri lalu memakai pakaiannya. longdress bunga santai menjadi pilihan Jiana, ia pakai dan sedikit berias dicermin memakai pelembab bibir


Tak lupa Jiana meminum pil pencegah kehamilan yang mulai dikonsumsinya bila Bryan tak memakai pengaman. Ia tak mau mengambil resiko dan membuat Chelsea punya adik, bayi tiga kembar itu saja sudah membuat Jiana stress karena harus mengurus ketiganya sekaligus apalagi jika brrtambah satu lagi, bisa gila dia


Mencium aroma masakan membuat cacing diperut Bryan meronta. Pria itu lekas bangun dan membuka kedua matanya lebar. Bryan tahu penyebabnya, ia langsung menuju dapur, mendekat dengan langkah pelan dan langsung menghambur memeluk Jiana dari belakang


" Sudah puas tidurnya?" ledek Jiana


" Aku sudah bertenaga lagi sekarang." Saut Bryan menumpu dagunya dipundak Jiana yang tertawa pelan


" Aku sangat bahagia, terima kasih sayang." Jiana meletakan spatula sejenak lalu menyentuh jemari Bryan didadanya


" Mendengarnya akupun sangat bahagia." Keduanya tersenyum hangat lalu Bryan mencium pipi Jiana


" Mandilah, setelah itu sarapan."


" Nanti saja, aku ingin sarapan dulu."


" Jorok sekali."


" Tapi kamu menyukainya."


" Percaya diri sekali."


" Jadi kamu tidak menyukaiku?"


" Aku menyukaimu, sangat banyak."


" Ahhh I love you Mum Kya." saut Bryan setengah berteriak, Jiana menggelengkan kepalanya dan tersenyum


Bryan mencium pipi itu lagi dengan gemas." Aku akan melihat anak-anak sebentar." Ucap Bryan


Jiana mengangguk dan merasakan pelukan Bryan terlepas, sedari tadi Jiana menahan debaran di jantungnya, meskipun telah lama saling mengenal Jantung Jiana masih terus berdebar bila didekati Bryan


" Daddy." Teriak Kya begitu melihat Bryan keluar dari rumah, untuk sejenak ia menghirup aroma sejuk dari pegunungan yang masih asri


" Jangan berlarian, atau kamu akan terjatuh." Tegur Bryan namun bukan Kya namanya bila tidak nakal, ia tak mendengarkan Bryan dan sibuk meloncat-loncat girang. Bryan menggelengkan kepala lalu mendekati tiga roda bayi. Bibirnya tersenyum lebar melihat ketiganya yang sedang membuka mata dan tampak menikmati sinar matahari yang menghangati mereka dimusim dingin ini


Ternyata Chelsea sudah mulai mengenali wajah sang ayah, bayi itu mulai merengek hingga Bryan harus menggendongnya." Uhhhhmmm sayang." Bryan memangku sambil menciumi pipi Chelsea yang wangi bedak


" Mereka sudah makan dan minum susu." ucap Nanny yang tadi berbicara dengan Jiana. Bryan hanya mengangguk tak menatap ketiganya yang tampak terpesona dengan ayah empat anak ini yang pagi ini memang lebih tampan dengan rambut acak-acakannya


" Daddy, Kya juga mau digendong." lihatlah, Kya tidak pernah mau mengalah dengan adik-adiknya, gadis kecil itu memeluk kaki Bryan dan memelaskan wajahnya


" Kya, harus bergantian dengan Chelsea."


" Tidak mau, Kya juga mau digendong." Bryan menghela nafas lalu mengubah gendongannya pada Chelsea, menjadi bayi itu menghadap kedepan dan membelakangi Bryan. Ia berjongkok membuat Kya langsung berhambur naik kepunggungnya


" Kya jangan mencekik Daddy." Bryan menggerutu karena kedua tangan kecil itu malah mencekiknya, anehnya bukan takut Kya malah cekikikan seolah menggoda sang ayah adalah hal yang menyenangkan


Sejak kehadiran tiga bayi kembarnya Bryan selalu riweh seperti sekarang, satu tangannya harus memegang Chelsea dan yang lainnya memegang Kya sangat berat, Bryan menjaga keduanya dengan baik. Itu pemandangan indah untuk Jiana, wanita itu terkikik didapur melihat mereka dari balik jendela yang terbuka


-


-