Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Vila dekat danau



-


-


Kini mereka tiba dibandara internasional Swiss setelah berjam-jam lamanya bergelut terbang diudara. Keduanya kembali disambut dengan dua orang tour guide pria dan wanita yang akan menemaninya dan Jiana selama di Swiss, kedua orang itu akan menunjukan beberapa tempat yang ingin dikunjungi Bryan dan Jiana


Bryan beserta Jiana dan anak-anaknya menaiki sebuah mobil limosin hitam menuju vila yang disewa Bryan. Vila itu terletak antara kota dan pegunungan, didepannya juga sebuah danau besar


Sungguh indah pemandangannya dan sungguh menyejukan mata Jiana, kepala wanita itu sampai tak diam bergerak kekiri dan kanan melihat gunung yang dilapisi salju juga danau yang terlihat hampir membeku


Jiana tak sabar hingga saat sampai wanita itu keluar duluan. Meskipun udara sangat dingin tapi Jiana sangat menikmatinya, matanya terpejam indah mengayati udara dan semilir angin kecil yang menerpa anak rambutnya


Dan sebuah pelukan hangat oleh kedua tangan Bryan, Jiana dapatkan." Bagaimana?" tanyanya


" Ini benar-benar indah boy." sautnya membuat bibir Bryan tersenyum lebar


" Kita masuk kedalam, istirahat dulu!"


Jiana mengangguk melingkarkan tangannya dilengan Bryan. Keduanya masuk menyusul anak-anak mereka yang lebih dulu dibawa tiga pelayan disana. Jiana menatapi setiap seluk beluk pria dengan bangunan minimalis itu, terlihat sederhana dengan beberapa ornamen tradisional ala negara Swiss


Bryan membawa Jiana masuk kedalam sebuah kamar yang benar-benar luas. Terdapat dua ranjang king size disana, untuk ia dan Jiana dan untuk anak-anak mereka, tentu itu atas perintah Bryan pada pelayan disana. Keduanya segera mendekati troli sikembar, bibir keduanya tersenyum melihat bayi-bayi mereka sudah membuka matanya, lucunya ketiga bayi itu tampak melongo, mungkin karena tak mengenali kamar itu dan terasa asing untuk mereka


Sementara Kya langsung terlelap dikasur, gadis kecil itu kelelahan karena lamanya perjalanan


" Sayang duduklah dikasur." perintah Jiana yang mana langsung dituruti Bryan, pria itu duduk dengan manis


" Kamu bisa menggendong dua?" tanya Jiana


" Jia, aku seorang pria. Tentu saja aku bisa!" gerutunya manja


Jiana terkekeh lalu memangku Zayn terlebih dulu dan memberikannya ketangan Bryan." Zayn .. " panggil Bryan menyentuh pipi gembul Zayn, bayi itu membuka mulutnya lebar


" Jia, sepertinya Zayn mau menyusu."


" Iya boy, tunggu sebentar." saut Jiana lalu memangku Zeen dan kembali ia berikan pada Bryan ditangan satunya lagi, lihatlah pria itu tampak kesusahan tak seperti ucapannya


Kini Chelsea yang Jiana pangku dan bawa kekasur. Jiana meletakannya diatas kasur, bayi itu tampak tak mau dan merengek." Lihat!" ucap Jiana


" Chelsea, ayolah sayang."


Oek oek oek


Chelsea yang manja mulai menangis dengan kedua tangannya tak diam. Jiana dan Bryan tertawa memperhatikan bayi bungsu mereka lalu Jiana bergegas membuka koper dan mengambil beberapa botol asi yang ia tabung sebelum meninggalkan Jakarta dan mendarat di Swiss


Keadaan semakin riweh saat Zayn dan Zeen ikut menangis karena sudah tak sabar dan tampak kehausan." Ayolah, kalian pria kenapa jadi cengeng seperti Chelsea."


Jiana tersenyum manis memandangi suaminya." Letakan Zayn disisi Chelsea." perintahnya. Bryan menuruti Jiana meletakan baby Zayn disamping Chelsea. Seketika itu Jiana memberikan satu botol kemulut Zayn dan menuntun bayi itu memegang botolnya sendiri


Bryan tertawa melihat Zayn yang ternyata sudah bisa menyusu sendiri." Aaah Zayn, kamu memang paling pintar disini." pujinya pada sang putra sembari menyentuh pipi kembung Zayn dengan telunjuknya


" Apa Zeen sudah bisa?"


" Dia dan Chelsea belum bisa!" saut Jiana lalu berbaring disamping Chelsea, menyodorkan puttingnya kemulut Chelsea sedangkan Zeen melalui botol seperti Zayn, bedanya dipegangi Bryan


Keduanya tampak senang mengurus bayi mereka sendiri tanpa campur tangan seorang pengasuh. Bagi Bryan ini benar-benar quality time bersama keluarga kecilnya. Bryan janji setiap bulannya ia akan selalu meluangkan bersama anak dan istrinya. Tak akan melulu pekerjaan yang ia pikirkan


Setelah bayi kembar tiga itu kenyang dengan susu. Bryan maupun Jiana segera berhenti dan menjauhkan botol susu dari Zayn dan Zeen. Jiana beranjak bangun mengambil dua botol dan meletakannya dimeja nakas disamping tempat tidur. Lalu kembali pada Bryan yang kini berbaring menghadap tiga bayi kembarnya, pria itu tertawa melihat tangan-tangan kecil yang mengacung-ngacung keatas seperti hendak meraih sesuatu


" Zayn .." Bryan tertawa lagi saat kepala bayi itu berputar mencoba mencari suaranya


" Heheh dia mengenali namanya!" Jiana tersenyum lalu ikut berbaring disamping Chelsea yang diujung


" Zeen .." Kini Zeen yang kepalanya berputar, bahkan bayi itu menoleh dan tubuh mungilnya berbalik pada sang ayah sambil mengemut kepalan jemarinya


" Kenapa bayi suka sekali melakukan ini?" tanya Bryan menyentuh lengan Zeen


" Ya karena mereka memang seperti itu!" saut Jiana menyusupkan jari telunjuknya pada kepalan jemari Chelsea, bayi itu berusaha memasukan telunjuk Jiana kedalam mulut mungilnya


" No, Chelsea." Jiana menjauhkan telunjuknya begitupun kepalan jemari Chelsea hingga bayi itu merengek


" Uuuuuh sayang .. cup cup cup." Bryan tersenyum mendengar suara lembut itu


Mau tak mau Jiana dan Bryan terus menemani anak-anak mereka yang memelek. Ketiganya sudah puas tidur didalam pesawat dan kini saatnya bermain. Celotehan-celotehan kecil itu membuat Bryan dan Jiana tertawa lucu, memperhatikan ketiga bayi kembar mereka


Tapi hanya beberapa menit menemani ketiga bayinya bermain, Bryan malah ketiduran. Cuaca dingin membuat kedua matanya mengantuk hingga ketiduran membuat Jiana menghela nafas, ini sudah kebiasaan Bryan, pria itu selalu ketiduran jika menemani putra dan putrinya bermain. Akhirnya hanya Jiana lah yang menemani bayi kembar mereka. Sambil sesekali memperhatikan Bryan yang terlelap dengan posisi telungkup, bibirnya tersenyum lalu mengulurkan jemari menyentuh alis tebal Brya


" I love you boy .." ucapnya lalu kembali beralih pada bayi-bayi mungil ditengah mereka. Bayi-bayi yang akan menginjak enam bulan itu kini sudah mulai bisa merangkak perlahan keatas sehingga Jiana maupun Bryan harus ekstra menjaganya


Jiana bergerak bangkit kemudian mengambil selimut tebal yang ia tiduri. Ia menyelimuti Bryan yang sudah dua jam ini tertidur bersamaan dengan bayi-bayi mereka yang ikut menyusul sang ayah kecuali Zeen, kedua mata bayi itu masih memelek celingukan, mungkin merasa asing dengan tempat yang ia tinggali saat ini


Lalu Jiana memangku Zeen untuk lebih dekat dengannya, ia mencoba menyusui Zeen. Lucunya bayi mungil nan tampan itu langsung memegang buah dada sang ibu dengan kedua tangan kecilnya, membuat sang ibu tersenyum dan memberi kecupan lembut dikeningnya


" Zeen .." panggil Jiana, seketika bayi mungil itu melepaskan puttingnya


" Emmmh, tampan . kamu sudah mengenal suara Mum?" tanya Jiana mengelus pelan pipi Zeen dengan telunjuknya, bayi itu tertawa diajak bicara ibunya


" Aaah benar-benar mirip ayahmu, Zeen sedikit saja mirip Mum." ucap Jiana lalu mencium bibir Zeen yang terbuka lebar


Bibir Jiana tersenyum manis memperhatikan Bryan dan ketiga bayi kembar mereka. Cukup lama Jiana menunggu Zeen tidur, setelah bayi itu tidur Jiana bangkit dan mendekat ke ranjang dimana putri sulungnya terlelap


Jiana mencium pipi yang masih saja gembul itu, ia tersenyum lagi sembari menyelipkan anak rambut Kya kebelakang telinganya. Lalu Jiana kembali pada Zeen, mengambil dua bantal untuk melindungi Zeen sebelum ia beranjak kekamar mandi


Wanita itu memutuskan memenuhi Jaguzzi dikamar mandi dengan air hangat dan kelopak bunga mawar merah. Mengingatkan Jiana pada liburan mereka dulu dimana Bryan mempersiapkan semuanya untuk liburan rasa bulan madu mereka


Perlahan-lahan Jiana membuka semua pakaiannya. Sejenak ia berdiri didepan cermin besar didepan matanya, memandangi tubuh berlekuk yang ia selalu jaga semenjak melahirkan ketiga bayinya. Jiana tak mau kalah dengan model ataupun wanita cantik lainnya yang berada diperusahaan Bryan. Meskipun Bryan sangat setia namun bagaimana pun Jiana tetaplah seorang istri yang harus selalu waspada


Jiana menyentuh bekas luka caesar di dekat pusarnya dengan senyum yang tak memudar." Apa aku tidak seksi lagi, ini kentara sekali." gumamnya


" Sangat seksi!" Tubuh Jiana terlonjak kaget dengan bisikan yang tiba-tiba dibelakang tubuhnya


" Boy." Bryan tersenyum manis sambil melangkah mendekat


" Aku sudah mengelilingi mereka dengan bantal sayang." sautnya lalu memeluk tubuh polos Jiana


" Memangnya kamu tidak kedinginan huh?"


" Aku akan mandi, lepaskan aku!"


" Sayang aku juga belum mandi."


" Kalau begitu lepaskan dan buka bajumu!" gerutu Jiana


" Tentu saja!" saut Bryan dengan seringai nakalnya. Ia membuka mantelnya lalu kemeja dan terakhir kedua celananya


Saat itu Jiana terperangah, dengan langkah pelan ia berbalik dan mundur mencoba menjauhi Bryan. Namun sepertinya Jiana kalah cepat, karena dengan kedua tangan panjangnya Bryan menarik pinggang Jiana dalam dekapan tubuhnya. Jiana menggelengkan kepala dengan wajah memelas


" Ada apa?"


" Nanti saja!" sautnya berbisik menyentuh dada bidang Bryan


" Jia kamu tidak lihat!" Bryan menunjuk pangkal pahanya dengan dagu tapi Jiana masih tampak menolak


" Baiklah, baiklah kita mandi saja!" Bryan menarik tubuh itu kedalam Jaguzzi membasahi tubuhnya dan Jiana dengan air hangat hingga batas perut. Lalu Bryan menarik tubuh itu hingga tubuhnya dan Jiana sebagian tenggelam kedalam air hingga batas dagu


" Aku akan memandikanmu, ini ucapan terima kasihku karena kamu menemani sikembar main tadi." ucap Bryan dengan senyum manis lalu mengambil sabun cair yang tak jauh dari sana


" Berbaliklah." Jiana menurut, ia membelakangi suaminya. Sementara Bryan tampak fokus menuangkan sabun cair keleher Jiana lalu kedua pundak Jiana


Sambil memijat-mijat punggung Jiana, Bryan membalurkan sabun cair itu kebawah sampai bokong Jiana hingga jaguzzi itu kini berbusa." Bagaimana pijatanku?" tanyanya


" Enak boy, lagi."


" Tentu saja sayang." saut Bryan


" Sandarkan tubuhmu!" perintahnya dengan suara lembut


" Ini sangat romantis." ucap Jiana dengan senyum mengembang dibibirnya


" Kamu selalu membuatku senang sayang, emmmh you' re so sweet." puju Jiana menyentuh jemari Bryan dipundaknya sambil memejamkan kedua matanya, menghayati setiap pijatan Bryan


" Sungguh?" bisik Bryan


" Hemmm, I love you." Bryan menarik tubuh itu menyandar


Lama-kelamaan jemari itu mulai turun kebawah pada dada dan buah dada. Saat itu Jiana membuka matanya." Sudah cukup, aku sudah merasa lebih baik."


" Hey .." Jiana menoleh kebelakang


" Aku sudah menengang, memangnya kamu tidak merasa?"


" Menegang, menegang apanya?" tanya Jiana berpura-pura bodoh dan secepat kilat mengalihkan pandangannya kedepan lagi


" Ayolah Jia, kamu bukan lagi siculun yang tak tahu burung." gerutu Bryan benar-benar vulgar untuk Jiana


" Burung sialan, selalu bangun tak tahu waktu." Bryan terkikik lucu


" Ya ..ya .. aku kan sudah menyenangkanmu, sekarang giliranmu?" Jiana berdecak kesal menoleh lagi kebelakang


" Aku tarik lagi ucapanku." gerutunya


" Ucapan yang mana?" tanya Bryan dengan jemari nakal dipipi Jiana hingga busa ditangannya menempel disana


" Kamu bukan pria romantis, tapi kamu sangat mesum. Kamu dan burungmu!" Bryan terbahak kencang lalu memutar tubuh Jiana


" Kenapa selalu menyalahkanku, salahmu kenapa tidak berpakaian." Jiana yang gemas mencubit kedua pipi Bryan


" Ayo kita mulai sebelum anak-anak bangun." rayu Bryan menurunkan pandangan mesumnya dan kedua jemarinya pada buah dada Jiana


Dan terjadilah apa yang harusnya terjadi dikamar mandi itu ..


-


-