Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Jiana menghilang



-


-


Bryan menepati janjinya, tepat pukul 10:00 malam ia pulang kerumah. Saat itu keadaan sudah sangat sepi bahkan semua lampu dilantai bawah sudah padam dan gelap. Bryan membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang selalu ia bawa dan masuk kedalam. Bryan mengunci pintu itu lagi lalu menaiki tangga menuju lantai dua


Ia berjalan sambil membuka jas lalu menyampaikannya dipundak. Rasanya lelah untuk Bryan seharian ini bergelung dengan pekerjaan. Namun rasa lelah itu kini terbayarkan saat membuka pintu kamar dan Jiana masih terjaga menunggunya. Bryan meletakan jas dan tas kerjanya disisi ranjang, pandangannya lurus pada Jiana yang sedang duduk santai menyandar pada kepala sofa dengan berbalut lingerie merah menyala yang sangat seksi, entah kapan Jiana membeli pakaian seperti itu. Tapi yang pasti kini kedua mata Bryan segar kembali melihat pemandangan indah ini


Bryan mendudukan dirinya dihadapan Jiana sembari mengangkat kedua kaki itu kepahanya. " Aku sudah bilang jangan menungguku." gerutu Bryan pelan membelai wajah Jiana, Bryan baru menyadari ternyata istrinya malam ini juga berdandan


" Kamu sudah minum susu?" tanya Bryan. Jiana hanya mengangguk dengan senyum menggoda. Mata Bryan jelalatan dengan jakun naik turun, gairahnya bangkit dengan godaan didepan matanya ini


" Kalau begitu tidurlah-" Bryan tak melanjutkan perkataannya saat Jiana menarik dasi dileher Bryan sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Bryan bahkan tak mengedip menatap wajah istrinya, ia terus meneguk ludahnya kasar. Kedua jemari itu naik menelusuri dada dan mengalung dilehernya


Bryan kembali terkejut dengan Jiana yang tiba-tiba seperti ini, bibir hangat itu mulai menyentuh bibirnya yang masih dingin karena cuaca musim hujan ini. Namun terlepas dari itu Bryan sangat senang, ia menyambut belaian bibir Jiana pada bibirnya. Mereka berciuman dengan mesra dan hawa dingin hujan lebat malam ini membuat Bryan semakin mendekap tubuh Jiana


Saking mesranya tautan bibir itu sampai bersuara. Jiana mulai bergerak agresif, wanita itu naik kepangkuan Bryan lalu melepaskan bibirnya. Bryan hanya diam dengan senyum nakal saat kedua jemari itu membuka dari, melamparnya kelantai lalu menyentuh kancing kemeja abu-abu suaminya


Jiana menatap Bryan untuk beberapa saat, bibir keduanya saling tersenyum. Bryan tak mengerti Jiana jadi seagresif ini, wanita itu tampak tergesa-gesa membuka kancing kemejanya. Tapi Bryan sangat senang dengan kedua mata berkobar api gairah. Jemarinya juga mulai nakal mengelus kedua paha Jiana yang terekspos sempurna


Nafas memburu itu mulai terdengar ditelinga Jiana saat bibirnya menyentuh leher Bryan. Jiana juga mengisap leher itu memberikan setitik tanda merahnya dileher sang suami." Sayang .. " panggil Bryan


Bruk


Jiana melempar kemeja abu itu kelantai. Ia kembali menatap Bryan sebelum meraup bibirnya. Bryan mulai tak tahan, kedua tangannya mulai melepas lingerie ditubuh Jiana, ia lempar juga kelantai. Lalu Bryan menyentuh area sensitiv itu dan tertawa kecil." Sayang kamu sudah tidak tahan?" tanya Bryan. Jiana tak bersuara, sepertinya ia akan menghemat suaranya untuk nanti, wanita itu hanya berbisik ditelinga Bryan


" Kiss me!" bisiknya dan Bryan segera membalikan tubuh itu, membuat Jiana terlentang dibawahnya. Seperti keinginan Jiana, Bryan mulai menciumi kemolekan tubuh itu, Bryan juga berlama-lama diperut dan berakhir di kewanitaan yang sudah basah


Pria itu mulai bermain dibawah membuat suara Jiana lolos dan memenuhi kamar mereka. Kamar yang sudah berbulan-bulan ini sepi tanpa suara itu kini kembali riuh dengan suara Jiana


Ah


Ah


Ah


Bryan .. ouuhsshhh aaah


Sayang emmmmhhh


Ummmhhhh


Bryan tampak bersemangat, ia semakin menekan membenamkan lidahnya yang mana membuat Jiana merintih tak karuan, tubuhnya bergelin#g nikmat dan menghimpit kepala Bryan dibawah sana. Masih dengan nafas terengah, Jiana bangkit duduk, membelai rambut Bryan yang acak-acakan dijambaknya


" Enak?" tanya Bryan. Jiana mengangguk pelan lalu menarik Bryan agar berlutut, dengan tergesa-gesa ia buka sabuk pria itu melemparnya kelantai. Sementara Bryan membelai rambut yang tergerai panjang itu, ia membiarkan Jiana menurunkan kedua celananya. Bryan menggigit bibir bawahnya kencang, aaahh Jiana benar-benar menggoda, wanita itu kini pintar memanjakan Bryan. Permainan mereka kian memanas karena Jiana


" Ouuh shiiiittt .. " racau Bryan lalu menarik tubuh Jiana agar bersejajar dengannya dan meraup bibir yang menggodanya itu


" Kamu mau diatas atau dibawah?" goda Bryan tepat didepan bibir Jiana


" Biar aku yang memuaskanmu!" tantang Jiana


" Baiklah!" saut Bryan mengalah membaringkan dirinya terlentang membiarkan Jiana berbuat sesuka hatinya. Bryan hanya mengulurkan kedua tangannya untuk menjadi pegangan Jiana. Rasanya hasrat Bryan memuncak melihat tubuh molek itu sedang bergoyang diatasnya. Perut buncit menambah keseksian Jiana, Bryan gemas ingin mendominasi permainan tapi tak ia lakukan, ia menunggu istrinya merasa lelah terlebih dulu


Bryan sudah terlalu lama membiarkan Jiana diatas, Ia segera melepaskan kedua tangan itu dari Jiana saat melihat tubuh itu bercucuran keringat. Bryan memegang kedua pinggang Jiana lalu mulai bergerak mengimbangi tubuh istrinya." Aahhh Boy .." jeritnya membuat Bryan kian bersemangat, sedikit mempercepat permainannya


Dan saatnya Bryan bangkit, ia merengkuh tubuh itu bergerak jadi Jiana yang berada dibawahnya. Bryan menaikan kedua kaki itu kepundaknya lalu mendekati Jiana menumpu kedua telapak tangan pada kasur. Jiana menjerit lagi tatkala burung itu semakin tenggelam kebawah


Bryan


Bryan


Bryan


Bryan


" Sakit tidak?" tanya Bryan mengangkat tubuhnya


Jiana menggeleng pelan." Tidak sayang, aku sangat menikmatinya." Bryan terkekeh karena jawaban itu lalu menjatuhkan tubuhnya tepat disamping Jiana, wanita itu berangsur memeluk tubuh berkeringat Bryan dan menarik selimut hingga batas dada


Bryan masih mengatur nafasnya sambil memandangi langit-langit kamar mereka. Bibirnya tersenyum manis dengan keagresifan Jiana malam ini lalu ia bergerak tidur menyamping membawa tubuh itu dalam pelukannnya. " Kenapa belum tidur?" tanya Bryan saat Jiana menengadahkan wajah menatapnya


" Aku benar-benar malu." ucap Jiana, jemari lentik itu menyentuh dada bidang Bryan


" Kenapa harus malu, kamu sangaaat menggoda malam ini." puji Bryan


" Aku mau lagi." Bryan tercengang untuk beberapa saat


" Ah tidak sayang, besok lagi saja ya. Kasihan sikembar!" Seketika itu Jiana menarik jemarinya, ia berbalik membelakangi Bryan dengan bibir mengerucut. Bryan ingin sekali tertawa melihatnya lalu ia mengangkat tubuhnya menumpi dengan sikutnya untuk melihat Jiana


" Kenapa? apa karena aku sedang hamil dan tubuhku kurang menarik?"


" Kenapa bicara seperti itu, aku hanya tidak mau kamu kelelahan." saut Bryan merapihkan anak rambut Jiana kebelakang telinganya. Jiana masih merajuk dan Bryan pikir ini karena hormon kehamilan Jiana, moodnya mudah berubah seperti kata Arnold


" Baiklah, tapi sekarang aku yang diatas." ucap Bryan dan seketika itu juga Jiana membalikan tubuhnya terlentang. Jiana menangkup wajah Bryan


" Boy kamu sangat tampan." pujinya dengan suara manja membuat Bryan terbahak


" Kamu juga sangat cantik Jia." saut Bryan membelai tubuh itu


" Boy aku sangat merindukanmu, sentuh aku lagi." astaga Bryan menepuk jidatnya karena hal ini tapi ia juga tak bisa menolak Jiana. Alhasil ia kembali mencumbu* bibir itu lagi, kali ini Bryan lebih memanjakan Jiana membuat wanita itu klimak* selma tiga kali berturut-turut. Saat sudah tak tahan barulah Bryan menyatukan tubuh mereka lagi


Cup


Kecupan mesra pada bibir itu mengakhiri pergumulan panas keduanya. Kali ini Jiana tampak lelah dan tak berdaya dalam pelukan Bryan. " Tidurlah .. selamat malam sayang." bisik Bryan mengelus punggung polos Jiana


Paginya Bryan tampak masih lelah, berbulan-bulan ia dan Jiana tak berolahraga jadi tubuhnya sedikit kaku. Bryan juga merasa kepalanya pusing tapi ia merasa tak demam. Bryan sempoyongan menuruni ranjang lalu memakai boxer hitamnya yang masih dilantai


" Jia .. " panggil Bryan manja


" Sayang .. "


" Aaarrrgghh .. " Bryan memukul-mukul kepalanya sendiri saking pusingnya


" Sialan, apa aku akan sakit." gerutunya lalu keluar dari kamar


" Jia .. " panggil Bryan


" Sayang .. " panggil Bryan membuka kamar Kya, kamar itu kosong tak ada putri kecilnya lalu Bryan melirik jam yang ternyata sudah menujukan pukul 09:34


" Kenapa Jia tidak membangunkanku." gerutunya dan melanjutkan langkah menuju lantai satu


Saat itu tubuh Bryan menegang melihat keadaan dibawah berantakan seperti kapal pecah." Jia .. " panggil Bryan terteriak dengan wajah mulai khawatir


Lalu Bryan menuju dapur, ia kembali dibuat menegang saat melihat didapur itu malah ada Queen sedang memasak" Dimana istriku?" tanya Bryan membentak dengan wajah panik dan kulit itu mulai memucat pasi


" Sayang aku juga istrimu!" Bryan memutar tubuhnya tak menghiraukan Queen, meskipun kepalanya terasa berputar Bryan memaksakan berjalan dengan sempoyongan. Saat itu tubuh Bryan menegang melihat tubuh bi Amy dan pak Deden tergeletak diambang pintu utama. Bryan mencoba mendekat dengan wajah takut, ia juga panik tak menemukan Jiana dimanapun. Tapi yang terjadi pandangan Bryan mengabur lalu tak lama menjadi gelap, dan tubuhnya mulai melunak bak tanpa tulang


Bruk


Bryan terjungkal kelantai tak sadarkan diri


-


-