Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Perubahan Jiana



-


-


Setelah memgeringkan airmatanya Jiana mencoba memberanikan diri keluar untuk bertemu keluarga Bryan. Bulan lalu ia dan Bryan tak mengikuti reuni keluarga itu karena selain pada Bryan Jiana juga dingin terhadap keluarga suaminya


Hal itu membuat Semuanya tersenyum senang, sepertinya waktu membuat Jiana memaafkan kesalahan mereka. Jiana mendudukan dirinya diteras yang mana langsung dihampiri ibu Pevita wanita itu tersenyum dan duduk disamping Jiana


" Ini baru tiga bulan, perutmu sudah membuncit." ucap Bulan mengelus perut Jiana


" Ya mereka sudah mulai membuatku susah berjalan." saut Jiana tersenyum


" Mereka? maksudmu kembar?" tanya Bulan dengan kedua mata berbinar


Jiana mengangguk dengan senyum tak memudar membuat Bryan yang memperhatikannya sejak tadi ikut tersenyum. Sedikit demi sedikit Jiana mulai berubah lagi dan Bryan harap kedepannya perubahan itu semakin nyata untuk Bryan


" Aaaaa aku sangat senang, keponakanku bertambah dua .. " teriak Bulan


" Aku akan membawanya satu ke Paris untuk teman Pevita .. " tambah Bulan lagi


" Enak saja, buat saja sendiri." gerutu Bryan membuat Bulan terbahak


" Dean .. " rengek Bulan


" Ah sudahlah Pevita bilang tidak mau adik. Iya kan Pev?" tanya Dean sembari mengelus rambut Pevita


" Siapa bilang selama ini Pevita selalu minta adik." sautnya membuat semua orang tertawa


" Maksudku Delan yang tidak mau adik lagi." saut Delan menggandeng sang putra yang duduk disampingnya


" Ya Pevita saja sudah membuat rumah rusuh." saut Delan tanpa menatap semua orang karena sibuk dengan ponselnya


" Huh menyebalkan." umpat Pevita melipat kedua tangannya didada


Sang ibu tersenyum melihat putrinya lalu kembali pada Jiana, menatap lekat wajah Jiana. Saat itu Jiana saling berpandang bersama Bryan dari jarak jauh dua meter kedepan


" Jiana, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf atas semuanya. Kalau tahu seperti ini aku tidak akan memintamu menikahi Bryan." tutur Bulan dengan suara pelan membuat Jiana menoleh padanya


" Aku sudah memaafkan kalian, tidak ada yang perlu disesali. Meskipun berat harus berbagi suami. Aku akan mencoba menerima semuanya. Mungkin nasibku memang seperti ini." saut Jiana dengan kedua mata berkaca


" Aku yakin cinta Bryan hanya untukmu. Dia memang brengsek tapi aku yakin dia benar-benar mencintaimu. Dan aku yakinkan kamu akan menjadi satu-satunya lagi setelah bayi itu lahir .. "


Jiana tersenyum dan mengangguk hingga airmatanya tumpah kebawah. Bulan segera mengusap airmata itu. Ia iba dan kasihan, jika Bulan mungkin tak akan sanggup bila harus diposisi Jiana." Aku sangat menyayangimu dan Kya, kamu tidak akan kekurangan kasih sayang Ji. Aku pastikan itu. Dulu saat bertemu denganmu untuk pertama kali aku sangat yakin kamu adalah wanita baik dan kuat, kamu membesarkan Kya seorang diri dan aku benar-benar kagum padamu, kamu wanita tangguh berani mengambil keputusan membesarkan anak dari pria yang mempekosamu. Karena Bryan aku benar-benar malu padamu Ji .. " Jiana terdiam menatap Bulan dengan dahi berkerut, sejak kapan wanita didepannya ini tahu bahwa adanya Kya karena pemaksaan Bryan dan sekarang adanya sikembar pun karena Bryan memaksanya lagi


" Tidak, aku tidak mau membahas hal pahit itu lagi. Sekarang aku hanya ingin bahagia, itu sudah cukup untukku."


" Tentu saja kamu harus bahagia, bilang padaku jika nanti Bryan tidak membuatmu bahagia. Aku sendiri yang akan mengambilmu dari Bryan." saut Bulan membuat Jiana kian terisak lalu berhambur memeluknya


" Kamu tidak sendiri, banyak orang yang akan mendukungmu. Mom dan Daddy semuanya mendukungmu, semuanya menyayangimu. Kita semua keluarga. " saut Bulan mengusap-usap punggung Jiana


Bryan menitikan airmata melihat itu, Bryan tahu sebenarnya wanita itu sangat rapuh dan Jiana berusaha menutupinya dengan sikap dingin. Bryan menghapus airmata itu dengan ibu jarinya lalu menoleh pada semua orang." Apa kalian sudah sarapan?" tanya Bryan


" Tentu saja, ini sudah pukul 9." saut Chesy, wanita itu juga masih ketus dan marah pada Bryan


" Jia belum sarapan, aku kedalam sebentar." saut Bryan beranjak bangun lalu mendekati Jiana yang saat itu juga melepaskan pelukannya pada Bulan


" Kamu belum sarapan." ucap Bryan, pria itu tertegun saat Jiana menautkan jemari pada jemarinya. Bryan tersenyum lalu menarik Jiana berdiri dan masuk kedalam


Dengan tangan yang bertaut Bryan dan Jiana menuju meja makan. Disana makanan sudah tersedia begitu banyak untuk keduanya. Bryan menarik kursi untuk Jiana dan dirinya. Saat itu juga Bryan kembali dibuat tertegun saat Jiana mengambilkan piring dan nasi untuknya


Bryan sangat senang dan kembali tersenyum. Apalagi yang diambil pertama kali oleh Jiana adalah ayam balado. " Apa lagi?" tanya Jiana


" Tumis kangkung." saut Bryan membuat Jiana segera mengambilnya. Bryan sangat senang kedua matanya sampai berkaca karena hal itu


Jiana meletakan sepiring makanan tepat didepan Bryan lalu ia mengambil untuk dirinya. Bryan terkekeh melihat porsi makan Jiana yang banyak, wanita itu memenuhi piringnya dengan berbagai makanan. Kemudian Jiana duduk dan mulai melahap makanan itu


Keduanya sarapan dengan tenang sambil sesekali saling melirik dan tersenyum. Bryan mengusap puncak kepala itu lalu mencium pipi Jiana." Aku sudah mandi." ucapnya manja mengusap pipinya yang berminyak karena bibir Bryan


" Emmm sorry, aku sangat senang sekali pagi ini." saut Bryan mengambil tisue diatas meja lalu mengusapkannya dipipi Jiana. Kali ini Jiana tersenyum sembari menggenggam jemari Bryan dengan tangannya yang lain. Demi Tuhan Bryan sangat senang, rasanya beban dipundak Bryan mulai berkurang


" Aku sudah kenyang." saut Jiana membuat Bryan terkekeh, bagaimana tidak kenyang Jiana menghabiskan sepiring penuh makanan itu sampai tandas


Meskipun Bryan belum menghabiskan sarapan paginya, Bryan beranjak bangun dari duduk mengikuti Jiana yang berjalan menuju tangga. Bryan setengah berlari lalu menggandeng bahu Jiana dengan bibir tersenyum senang


" Mandilah, ini sudah siang." perintah Jiana


Cup


" Terima kasih." ucap Bryan tersenyum senang


" Terima kasih untuk apa?" tanya Jiana


" Untuk semuanya, aku sangat senang kamu tidak mengabaikanku lagi." Jiana tersenyum lalu memeluk tubuh Bryan membuat Pria itu semakin merasa senang dan membalas pelukan itu dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jiana


Jiana tersenyum mendengarkan jantung Bryan yang berdebar kencang. Ia berlama-lama memeluk Bryan, itu membuatnya nyaman." Ada apa hmm?" tanya Bryan merasa heran Jiana tiba-tiba seperti ini


" Aku hanya tidak mau melewatkan waktu. Mulai sekarang aku ingin menikmati semuanya .. hidupku bersamamu bersama anak-anak kita. Aku ... tidak akan perduli lagi pada Queen, aku tidak perduli lagi jika harus berbagi suami. Aku hanya ingin bahagia .. " saut Jiana. Bryan mengurai pelukan Jiana lalu mengecup kening itu begitu dalam


" Kamu tidak perlu khawatir Jia .. kamu tidak sedang berbagi suami. Karena istriku hanya satu yaitu kamu .." Keduanya saling memandang penuh kehangatan dan tersenyum


-


-