
-
-
Jiana tersenyum melihat suaminya yang sudah jam 8 pagi masih saja pulas tidur dengan posisi telungkup dan bergelung dalam selimut. Bryan kelelahan karena semalam ia menemani Chelsea yang kebiasaan bangun tengah malam, bukan menangis mau menyusu namun bayi itu malah mengajak Bryan bermain dan berceloteh sepanjang malam. Alhasil selama hampir seminggu ini Bryan selalu begadang dan kurang tidur
Lucunya Chelsea benar-benar sudah tak mau tidur dalam box bayi, bayi mungil itu lebih nyaman tidur bersama Bryan dan Jiana. Benar-benar pengganti sang kakak yang dulu selalu mengganggu keduanya. Jiana yang baru selesai membuat sarapan itu kini mendekati ranjang dan langsung menaiki tubuh sang suami
Ia kecup sebelah pipi itu dengan lembut. Bahkan setiap malam ia bisa merasakan jemari kekar itu mengelus rambutnya ketika tidur. Bryan memang tak pernah membiarkan Jiana bangun, ia tahu seharian Jiana sudah lelah mengurus keempat anaknya
" Sayang kamu sungguh tidak akan bekerja?" tanyanya tepat ditelinga Bryan
" Hmm." sautnya membuat Jiana tersenyum lucu, merasa gemas ia memiringkan kepala untuk mencium bibir yang menganga itu
Cuppp
" Shut up, aku benar-benar mengantuk." gerutunya. Jiana tertawa lalu menoleh pada sang bayi yang juga masih terlelap disamping ayahnya dengan posisi meringkuk menghadapnya
" Lucunya bayiku."
" Bayi kita." Bryan menyaut tanpa membuka matanya
" Iya anak kita." saut Jiana dengan suara lembut dan itu sukses membuat Bryan membuka matanya
" Apa yang kamu masak pagi ini?" tanyanya
" Kesukaanmu, ayam balado dan kangkung seafood. Mau makan sekarang?"
" Nanti saja aku belum mandi." sautnya lalu kembali memejamkan mata. Jiana tersenyum dan memutuskan untuk turun dari tubuh Bryan karena sepertinya Chelsea akan bangun, bayi itu mengucek kedua matanya
" Uhhh sayang." Jiana memutari ranjang dan langsung memangku Chelsea yang bangun membuka kedua matanya. Lucunya bayi itu tak menangis sangat berbeda saat malam, selalu menangis dan merengek jika tidak tidur bersamanya dan Bryan
Jiana membawa Chelsea kekamar sikembar dimana saat itu kedua kakaknya sudah rapi dan sudah ia mandikan tadi bersama Bella
" Lihat kedua kakakmu sudah tampan."
Emmmmaama
Jiana tersenyum dengan celotehan itu lalu membawa Chelsea kekamar mandi. Ia dudukan dibak mandi kecil khusus bayi-bayinya dan membuka pakaian Chelsea
Selang 15 menit berkubak dikamar mandi, Jiana kembali dengan Chelsea yang diselimuti handuk sampai kepalanya." Semakin besar Chelsea semakin mirip Kya." ucap Bella
" Bukan Kya tapi semua anakku mirip ayahnya Bell." Bella tersenyum
" Konon jika mirip ayahnya itu berarti kak Ji yang jatuh cinta duluan pada Tuan Bryan."
" Yang benar saja, dia yang mengejar-ngejarku." gerutu Jiana tapi ia tersenyum
" Tapi Tuan memang terlihat sangat menyayangi kalian, aku iri. Kak Ji benar-benar beruntung. Kak Ji punya keluarga yang hangat dan sangat menyayangi kak Ji." Jiana tersenyum, sambil memakaikan baju pada Chelsea
" Kelak, jika kamu sudah menemukan orang yang tepat, kamu pun akan sama sepertiku. Kakak yakin Bell, tidak akan selamanya kamu sendiri."
" Ya aku selalu berdoa." Jiana tersenyum lagi
" Tuhan selalu maha adil."
" Aku berharap begitu!" Jiana kali ini menoleh menatap lekat Bella yang akhir-akhir ini tak seceria dulu
" Ada apa? apa yang terjadi? mungkin kakak bisa membantumu?" Untuk kesekian kalinya Bella menggelengkan kepala dan tersenyum
" Aku baik-baik saja." Jiana tak mau memaksa dan mendandani bayinya secantik mungkin, ia pakaikan Chelsea bando merah muda dikepalanya. Saat itu Jiana tersenyum bangga melihat putrinya
" Aaaah cantiknya anak Mum Ji." puji Bella dengan senyum merekah
" Bella bantu kakak menyuapi sikembar."
" Kenapa kakak selalu meminta tolong, itu kan memang tugasku." gerutu Bella
" Tidak Bella, sebenarnya tugasmu disini hanya menjaga sikembar. Mengurus mereka sebenarnya tugas seorang ibu.
" Aaah kenapa ada orang seperti kak Jiana." gerutu Bella lagi membuat Jiana tertawa
Lalu keduanya membawa ketiga bayi kembar Jiana kebawah dibantu bi Amy yang juga memangku Zeen karena Bella dan dirinya memangku Zayn dan Chelsea
Mereka mendudukan ketiga bayi itu di masing-masing stroller lalu Jiana menuju dapur mengambil bubur bayi yang sebelumnya ia buat untuk sikembar. Tak lama Jiana kembali dengan semangkuk bubur ditangannya
Saat sibuk menyuapi bayi-bayinya saat itu Bryan turun dari lantai atas dengan setelan santai yaitu kaon dan celana panjang jeans dengan wajah yang sudah fresh. Pria itu langsung mendekati sang istri dan bibirnya langsung mendarat dikening Jiana yang sedang duduk disofa dengan ketiga bayi didepannya
" Sarapan dulu." perintah Jiana
" Sayang kamu sudah sarapan."
" Boy ini sudah sangat siang."
" Kenapa tidak menungguku." gerutunya samhil menghempaskan tubuhnya duduk disamping Jiana. Jiana terkekeh menoleh sesaat sambil meniupi bubur bayi
" Aaaa ." Bryan membuat bi Amy dan Bella tertawa
" Ini bubur bayi." gerutu Jiana
" Tapi aku mau disuapi."
" Astaga, kenapa bayiku jadi bertambah." gerutu Jiana dan ia benar-benar menyuapi Bryan dengan bubur bayi membuat Bella dan bi Amy kembali tertawa
" Rasa apa ini?"
" Ini wortol dan brokoli." saut Jiana
" Lagi aaa?"
" Bryan." Jiana jelas kesal, Bryan selalu manja tak tahu tempat. Bisa-bisa pria itu mau menghabiskan bubur ketiga bayi mereka
" Iya sayang, aku hanya bercanda." sautnya dengan kekehan kecil lalu beringus bangun meninggalkan semua orang dan menuju dapur dimana meja makan berada
Bi Amy dan Bella saling melirik dan menahan tawa, keduanya sering sekali menyaksikan Bryan yang sering digalaki istrinya
" Hallo cucu-cucu Momy." Suara lantang itu membuat perhatian semua orang tertuju pada pintu utama, disana mertua Jiana berada
" Mom, Dad?"
" Kenapa kamu belum siap-siap?" tanya sang mama mertua sambil berjalan bergandengan dengan sang suami menuju stroller sikembar yang berjejer tiga
" Siap-siap?"
" Boy bilang kalian akan pergi?" Jiana tentu heran dan menggelengkan kepalanya
" Tadi Boy menelpon mom, dia menitipkan sikembar untuk sementara pada Mom dan Dad." Jiana hanya diam dengan wajah tak mengerti
" Kemarilah, mom yang akan menyuapi mereka. Kamu bersiap-siap saja." ucapnya sambil mengambil alih semangkuk bubur ditangan Jiana
" Tapi-"
Mau tak mau Jiana menuruti sang ibu mertua. Ia naik kelantai dua untuk berganti pakaian
-
-
Bukan tempat romantis melainkan tempat yang menjadi trauma untuk Jiana. Wanita itu mematung didepan pintu." Kenapa? kamu takut?" tanya Bryan dengan senyum lucunya
" Kenapa kamu membawaku kemari?"
" Kita bernostalgia sayang." bisik Bryan namun Jiana malah diam melipat kedua tangannya didada kedua mata menyipit
" Kamu takut? ya sudah kita kembali." Bryan berniat membalikan tubuh itu lagi namun Jiana menahan dengan satu tangannyanya
" Kenapa harus takut?" Jiana menaikan dagunya angukuh lalu masuk kedalam dengan diperhatikan sang suami yang tersenyum lucu melihatnya
Semuanya masih sama, perabotan dalam Apartement itu masih sama. Sofa ruang tamu dan televisinya pun masih sama." Kenapa kamu membawaku kemari?"
" Karena ini awal mula aku mencintaimu!" saut Bryan membuat Jiana berhenti bergerak memutar tubuhnya menghadap Bryan yang dua meter dibelakangnya
" Aku jatuh cinta padamu sejak malam itu, tak perduli bahwa kamu itu siculun." Jiana tersenyum manis, ia sudah sering mendengar kata-kata manis dari bibir Bryan tapi menurutnya ini yang paling manis
" Tapi aku membencimu sejak malam itu." aku Jiana
" Tapi pada akhirnya kamu mencintaiku kan?" Jiana tersenyum lagi lebih manis dari sebelumnya
" Ya aku cinta mati padamu!" Kini senyuman Bryan yang merekah sempurna lalu ia melangkah mendekat. Meraih satu tangan Jiana dan membawa wanita itu kekamar pribadinya
Jiana terpaku karena kamar itu masih berantakan seperti saat terakhir ia meninggalkannya, bedanya tidak ada debu sama sekali malah sangat terawat dan bersih. Jiana menoleh pada Bryan dengan tatapan heran." Boy." panggilnya
" Aku menjaganya, pelayan selalu datang untuk membersihkan semuanya tanpa menyentuh apapun disini. Aku melarangnya."
" Kenapa?" tanya Jiana
" Karena ini kenangan kita!" sautnya dengan senyum yang tak pudar, Jiana terpesona entah untuk keberapa kalinya pada suami tampannya itu
Ia sampai tak sadar Bryan mendekat dan Jiana terkejut bukan main saat Bryan tiba-tiba membopong tubuhnya lalu berjalan menuju ranjang." Aku akan memperkosamu lagi." ucapnya dengan tawa kecil sambil melempar tubuh Jiana keatas ranjang. Bryan langsung merangkak naik dan mengurung tubuh Jiana dibawahnya
" Jangan gila!" bentak Jiana tapi dengan senyum menggodanya sembari memukul dada bidang Bryab
" Ayolah mengaku saja, malam itu kamu juga merasakannya bukan?"
" Merasakan apa?"
" Rasa nikmat." Bryan tersenyum lucu melihat wajah merona Jiana
" Itu sangat menyakitkan." saut Jiana ketus
" I'm sorry, apa sesakit itu?"
" Boy aku masih virgin saat itu." gerutunya
" Aku tahu. Itu benar-benar susah untuk masuk." Bryan mengulum senyumnya melihat wajah jengah Jiana
" Kita tidak membawa pengaman!" Jiana menahan wajah yang hendak memiring untuk meraih bibirnya itu dengan kedua tangannya
" Siapa bilang?" Bryan menyeringai nakal lalu merogok saku celananya, pria itu mengambil 5 pengaman dalam saku celananya membuat Jiana kian merasa jengah menatap lima bungkus pengaman dengan warna kuning menyala ditangan Bryan. Sejak kapan pria itu merencanakan semua ini, gerutunya dalam hati. Mati sudah ia siang ini, lihatlah pengamannya saja begitu banyak
" Aku akan memperkosaaaamuuu laaaagi." Jiana mendadak tertawa dengan nada suara genit itu, ia menampar pelan sebelah pipi Bryan lalu mengalungkan kedua tangannya
" Aku ikhlas sekarang, tidak usah diperkosaa!" sautnya dengan senyum manis
" Tidak apa-apa kita reka ulang adegan dulu. Bagaimana?" Bryan mengerlikan matanya nakal
Plak
" Uhh sakit Jia." teriaknya kencang menggelegar dikamar itu
" Sakitkan?"
" Jangan terlalu kencang." rengek Bryan dengan suara manja
Jiana terkekeh lalu mengusap pipi Bryan yang ditamparnya." Heh sungguh sakit?"
Bryan mengangguk pelan dengan bibir mengerucut seperti Kya yang mana langsung disambar kecupan Jiana
" Masih sakit?" Jiana mengecup pipi yang mendapat tamparan itu
Bryan kembali mengangguk yang mana mendapat kecupan lagi dipipinya
" Masih sakit?" tanya Jiana lagi dengan wajah polosnya
" Hmm." saut Bryan. Kali ini Jiana tak memberikan bibirnya dipipi Bryan. Wanita itu tahu Bryan mencuri-curi kesempatan padanya
Bryan terkekeh lucu melihat raut wajah itu lalu menyibak rambut Jiana yang menghalangi dada atasnya. Ia kecup dada atas itu dengan lembut
" Harum tubuhmu Jia, membuatku terus merindukanmu sejak malam itu." gumam Bryan dan masih terdengar jelas ditelinga Jiana
" Boy."
Bryan mengangkat wajahnya, ia menatap Jiana
" Apa kamu pernah ke kafe Arabian?" Bryan terpaku untuk beberapa saat lalu tersenyum
" Saat itu kamu memakai rok pink?"
" Bagaimana kamu bisa tahu?"
" Kamu bekerja disana?" Jiana mengangguk cepat dengan senyum tak memudar hingga menyalur pada Bryan
" Aku tertarik sejak pertemuan pertama kita, saat itu kamu terlihat tampan." Bryan mengerutkan dahinya
" Terlihat tampan?"
" Hehe, maksudku sangat tampan."
Keduanya saling menatap lalu tertawa
" I love you Darl." bisik Bryan ditelinga Jiana
Dan terjadilah pemerkosaan lagi di Apartement itu tapi kali ini Jiana menndesah kencang bukan menjerit kesakitan ..
" Itu bukan malam yang kelam, tapi awal semuanya dimulai." bisik Bryan ditelinga Jiana
-
-