Stuck With Mr Bryan?

Stuck With Mr Bryan?
Permohonan Mama Mia



-


-


Entah kenapa suara kicauan burung pagi ini lebih terdengar indah ditelinga Bryan yang masih memejamkan matanya. Bibirnya pun tak henti tersenyum saat tadi ia mendapat kecupan lembut bibir Jiana pada keningnya. Istrinya kini benar berubah seperti dulu, hangat dan terasa lembut bahkan semalaman Jiana lengket memeluk tubuhnya ketika tidur


Sayangnya hari ini senin dan ia harus bekerja. Ia selalu lembur karena beberapa bulan kedepan ia akan terus mendampingi Jiana. Ia ingin ada didetik-detik anak-anaknya lahir kedunia. Bryan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan tak mendampingi Jiana. Ia sudah menyiapkan segala macamnya termasuk cuti panjang menjelang lahiran istrinya


Bryan ingin sekali meloncat girang saat melihat pakaian kerjanya sudah tertata rapih disisi ranjang, ia merasa seperti dulu lagi dan pagi ini Bryan senang bukan kepayang, ia jadi malas bekerja dan ingin terus bersama istrinya. Tapi tanggung jawab yang besar memaksa Bryan untuk segera bangun, ia menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar mandi


Setelah 30 menit berlalu, kini Bryan telah rapi. Ia menyambar tas kerjanya lalu turun kebawah. Dimeja makan sudah tersedia sarapan pagi, gadis kecilnya juga sudah ada rapi dengan seragam sekolahnya. Lucu dan menggemaskan dimata Bryan dengan kuncir kudanya


" Morning .. baby-baby daddy .. " sapa Bryan pada Jiana terlebih dulu, berputar mengelilingi meja pantry lalu mendekati Jiana untuk mencium pipi kiri wanita yang masih menggoreng telor mata sapi itu


" Pagi .. " saut Jiana membuat Bryan tersenyum lebar


" Love you .. " bisik Bryan ditelinga Jiana, kini giliran senyum Jiana yang melebar. Bryan mendekap tubuh itu dari belakang dengan satu tangannya


" Kamu lembur malam ini?" tanya Jiana


" Aku pulang jam 10, jangan menungguku tidurlah lebih dulu. " Jiana terdiam tak menjawab meskipun begitu Jiana masih tak mempercayai ucapan Bryan


" Aku bekerja Jia, hmm percayalah .. " ucap Bryan lagi yang tahu pikiran istrinya


" Nanti aku akan menelponmu saat makan malam hmm?" Jiana mengangguk pelan lalu mematikan kompor, menoleh dan tersenyum


" I love you .. love you so much!" bisik Bryan dengan senyum sambil berlalu menjauh tapi kepala pria itu tetap tertuju pada Jiana sampai-sampai Bryan akan menabrak bi Amy yang datang dari arah ruang tamu


" Emmh maaf bi." ucap Bryan terlihat senang membuat bi Amy tersenyum, Jiana benar-benar menuruti nasihatnya


Bryan menuju meja makan dan bibirnya langsung menyambar pipi bakpau sang gadis kecil. Awalnya Kya hanya diam namun saat Bryan kembali menciumnya lagi Kya langsung mencakar wajah sang ayah hingga Bryan berteriak kencang


" Awww .. kenapa Kya galak sekali, siapa yang mengajari hmm?" Bryan mencengkram pipi bakpau itu dengan pelan hingga bibir Kya mengerucut


" Daddy jangan mengganggu Kya!!" teriaknya melengking membuat Bryan terbahak kencang lalu melepaskan cengkraman tangannya. Bryan melirik Jiana yang tersenyum dengan pemandangan indah itu


Kemudian membawa dua telor mata sapi untuk Kya menuju meja makan. Ia letakan didepan Kya sambil menatap putrinya yang fokus main game diponsel." Kya .. " panggil Jiana. Kya meletakan ponsel Jiana begitu saja diatas meja membuat kedua orangtuanya tersenyum dengan putri mereka yang penurut


" Boy kamu mau yang mana?" tanya Jiana dengan suara lembut


" Kamu tahu apa yang aku suka sayang .. " saut Bryan. Jiana melirik dengan senyum manisnya lalu mengambil beberapa makanan yang disukai Bryan, Jiana sengaja memasak banyak pagi ini untuk menyenangkan sang suami


Usai mengambil makanannya ia duduk disamping Bryan. Mereka sarapan dengan tenang dan lebih hangat dari pagi sebelumnya. Jiana dan Bryan juga saling bergantian memperhatikan Kya yang makan dengan tangannya sendiri


Kini mereka telah selesai dan menuju keluar rumah. Bryan memegang kedua bahu Jiana, ia tersenyum beberapa saat menatap cantiknya wanita itu, pipi yang mulai chuby menjadi daya tarik Jiana saat ini. Bryan menyentuh dengan ibu jarinya pipi itu." Jaga dirimu hmm." Jiana mengangguk lalu menyentuh jemari Bryan


" Hati-hati." saut Jiana. Bryan memberikan kecupan lembutnya lalu berlutut untuk mencium perit Jiana, ini kegiatan setiap hari Bryan sebelum berangkat bekerja. Namun kali ini bedanya Jiana membelai rambut yang sudah tertata rapi itu, lembut dan penuh kasih sayang


Bryan kembali berdiri sambil menggendong Kya. Gadis kecil itu juga mengerucutkan bibir mencium bibir Jiana. Ketiganya berpelukan untuk beberapa saat sebelum Bryan benar-benar berjalan menuju mobil


" By .. By Mum .. " teriak Kya. Jiana tak memudarkan senyumnya melihat kedua harta berharganya. Sambil mengelus perutnya Jiana melambaikan tangan pada keduanya


Saat mobil hitam itu sudah menghilang dari pandangannya, Jiana turun dari teras rumah untuk berjalan-jalan dihalaman rumahnya dan Jiana juga menbuka alas kakinya. Sambil menggerakan kedua tangannya, ia mengitari halaman rumah barunya yang cukup luas, Jiana memuji Bryan dalam hati karena memilih rumah yang sangat bagus untuknya, uang memang bisa membeli apapun. Pikir Jiana


" Darimana mama tahu aku disini?" tanya Jiana dingin


" Mama hanya ingin menemui anak mama, apa itu salah?"


Jiana tak menjawab, ia berjalan masuk kedalam rumahnya diikuti mama Mia. Jiana tak tahu apa tujuan ibunya datang yang pasti kini Jiana sudah tak mempercayai sang ibu lagi, wanita itu tak ada sama sekali disaat Jiana terpuruk. Jiana mendudukan dirinya disofa ruang tamu dengan tangan tak henti mengelus perutnya seolah berusaha melindungi anak-anaknya dari Mia


" Ada apa?" tanya Jiana tanpa basa-basi


" Kenapa kamu seperti ini? memangnya kamu tidak merindukan mamamu?" tanya Mia mendudukan dirinya berhadapan dengan Jiana. Sementara bi Amy berlalu menuju dapur untuk membuat minum


" Aku tak tahu apa tujuan mama datang kemari, apa karena Queen?"


" Ji, mama minta maaf atas nama Queen, mama terlalu malu untuk menemuimu. Mama juga tidak menyangka Queen dan Bryan akan melakukan itu dibelakangmu. Mereka memang saling mencintai sejak dulu-"


" Kalau mama datang kesini untuk membicarakan hal itu, maaf ma lebih baik mama pergi." Tukas Jiana dengan pandangan dingin


" Ji .. "


" Mama tahu kamu anak yang kuat sejak dulu .. kamu hidup tanpa orangtua, kamu membesarkan Kya seorang diri. Mama baru tahu itu dari ibu mertuamu. Ji .. maafkan mama .. mama sungguh minta maaf. "


" Kenapa mama minta maaf?"


" Mama .. "


" Emmm mama .. " ucapan Mia terbata, dalam hatinya Mia benar-benar tak tega mrmbicarakan hal ini pada Jiana. Ia mencoba meraih jemari yang mengelus perut buncitnya itu


" Kamu tahu Ji, Queen adalah anak yang manja, dia sangat sensitif. Dulu dia sakit parah dan hampir mati karena bunuh diri. " Jiana bukan tak punya hati hanya saja hatinya sudah mati rasa bila terhadap Queen, Jiana benci kenyataan Queen dan Bryan pernah saling mencintai


" Mama membawanya berobat ke Jerman dan menjauhkannya dari Bryan. Saat itu Queen berniat bunuh diri karena Bryan memutuskannya. Bryan sangat marah Queen meninggalkannya tiba-tiba .. "


" Lalu apa tujuan mama membicarakan hal itu? membuatku marah dan bertengkar lagi bersama Bryan?" tanya Jiana sarkas


" Sejujurnya mama takut, Queen sangat mencintai Bryan sampai sekarang. Mama takut Ji adikmu akan melakukan hal yang sama. Bryan bahkan tak pernah mau menjenguk Queen, tak pernah mau bahkan untuk sekedar mengantar Queen pergi kedokter kandungan. Setiap malam Queen selalu menangis dan menyalahkan mama .. dia bilang ini semua gara-gara mama. Jika mama dulu tak membawanya pergi ke LN mungkin ia dan Bryan sudah menikah dan bahagia sekarang." Hati Jiana mulai sakit lagi mendengar penuturan sang ibu, bahkan sang ibu tak pernah membela Jiana yang notabennya tersakiti oleh Queen sedikitpun. Kedua mata Jiana mulai berair


" Ji .. maukah kamu mendengarkan mama untuk kali ini saja?" Mia semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Jiana dengan wajah memohon


" Tinggalkan Bryan untuk sementara waktu Ji, berikan waktu pada Bryan dan Queen, mama hanya ingin Bryan adil terhadap kalian berdua .. mama takut-" airmata Jiana tak tertahan lagi, menderai deras


" Kenapa mama selalu membela Queen. Apa karena aku bukan anak dari pria kaya seperti Queen?" tanya Jiana serak membuat mama Mia tertegun untuk beberapa saat. Jiana tersenyum kecut


" Ayahku memang tidak kaya, tapi aku tidak pernah menyesal menjadi anaknya. Ayahku benar-benar pria yang sangat tulus yang mencintai istrinya meskipun istrinya seorang penghianat!" saut Jiana lalu menghempas pelan kedua tangan yang sudah mengeriput itu. Jiana beranjak berdiri


" Ji mama mohon!!" mama takut Queen akan nekad, saat ini Queen benar-benar depresi!" Mia kembali meraih tangan itu namun kembali dihempas Jiana


" Tapi aku juga mencintai Bryan, aku sangat mencintai suamiku." saut Jiana membentak lalu benar-benar pergi meninggalkan Mia yang membeku ditempat. Jiana berlari menuju lantai dua, menuju kamarnya dan segera menutup rapat pintu kamar itu. Ia menangis kencang, sangat kencang sampai menggema dikamar. Ia sangat kecewa dengan sikap ibunya, bahkan tak sedikitpun menghargai Jiana, wanita itu hanya memikirkan Queen, Queen dan Queen.


-


-