
Sore harinya saat salju tak turun, Bryan mencoba membawa Jiana dan anak-anaknya berjalan-jalan mengitari sekitaran vila. Bryan memang sengaja mengajak Jiana dan anak-anaknya ke daerah pedesaan karena menurutnya suasana desa lebih bagus untuk mereka
Bryan dan Jiana bergandengan sementara didepan mereka ada Kya beserta tiga nanny yang mendorong troli bayi sikembar ditangannya masing-masing
" Aku tidak pernah melihat tempat seindah ini."
" Kamu akan melihat sisi lain bumi bila terus berada disampingku." Jiana tersipu, ia merekatkan pegangannya pada lengan Bryan. Keduanya tampak sangat serasi dengan pakiaan senada yaitu putih, Bryan memakai kemeja putih dan celana jeans biru serta mantle beige sementara Jiana memakai longdress putih dengan mantel warna beige
" Berjanjilah kamu tidak akan pernah melepaskanku." pinta Jiana
" Siapa juga yang akan melepaskanmu, sebenarnya aku ingin sekali mengurungmu agar tidak dilihat orang." Jiana menepuk dada itu dan tertawa
" Memangnya aku burung." Bryan terkekeh akan jawaban itu, tanpa malu ia mencium kening Jiana didepan umum
" Burung cantik yang menggoda." Puji Bryan. Jiana tersenyum, padahal mereka sudah memiliki empat orang anak namun rasanya mereka seperti orang yang pacaran tanpa beban
Cukup jauh mereka berjalan sampai Kya ingin digendong Bryan dibelakang tubuhnya. Mereka tiba disebuah pasar tradisional yang menjual oleh-oleh khas daerah sana. Sebagai seorang wanita tentu kepala Jiana mengedar melihat barang yang menarik untuk ia beli
Bryan hanya mengikuti Jiana, begitupun semua orang menuju sebuah pernak-pernik yang terlihat terbuat dari berlian asli. Jiana mengambil sebuah cincin dengan mata biru laut yang sangat cantik. Ia tersenyum saat cincin itu sangat pas dijarinya
" Beli apapun yang kamu inginkan."
" Benarkah?" tanya Jiana. Bryan mengangguk cepat, selama ini Jiana bahkan tak banyak meminta jika bukan Bryan yang membelikan untuknya
Tak disangka ternyata istrinya juga sama seperti wanita lain, suka belanja. Mungkin itu kodrat seorang wanita, pikir Bryan yang pusing mengikuti Jiana yang kesana kemari membeli pernak-pernik perhiasan dan jam tangan
" Kenapa Mum tidak belhenti-belhenti sih." Kya yang dibelakanh menggerutu membuat sang ayah terbahak kencang. Bryan menoleh pada Kya yang menempel dipumggungnya
" Coba Kya bilang agar Mum berhenti."
" Mum ayo cepat!" Kya mulai berteriak
" Sebentar Kya." Saut Jiana lalu berbalik pada Bryan
" Sayang, lebih bagus mana?" Tanya Jiana menunjukan dua buah jam tangan pada Bryan, yang satu dengan warna maroon yang satunya lagi dengan warna coklat tua
Bryan terdiam, sebenarnya ia tak tahu selera Jiana ia hanya asal menunjuk warna coklat
" Baiklah." Saut Jiana lalu berbalik untuk membayarnya
Setelah memuaskan hasrat istrinya. Bryan semakin jauh membawa Jiana pada pusat keramaian disana. Suara bising mulai terdengar namun membuat Jiana dan Bryan sangat penasaran. Alhasil mendekati kebisingan itu yang ternyata sebuah pertunjukan sulap. Bryan dan Jiana merasa tertarik dan berniat menontonnya
Bryan yang memang merasa penasaran dengan hal seperti ini dibawa ketengah oleh wanita cantik itu hingga mendapat sorakan ramai penonton. Bryan akan dijadikan objek sulap, ia diberikan bunga mawar hitam dan tangannya kembali akan di raih oleh wanita itu
" Itu Daddy Kya!" Kya berteriak galak masuk ketengah acara itu, berkacak pinggang dengan wajah galak pada wanita itu. Jiana tak bisa menghentikan Kya, gadis kecilnya berlari begitu saja mengikuti sang ayah
Sontak membuat semua orang dewasa disana tertawa begitupun Jiana
" Itu Daddy Kya." Kya kembali berteriak lalu menghempas lengan wanita itu dengan kasar dan berniat menggigitnya bila saja Bryan tak menghentikannya
" Sayang, aku pinjam Daddymu sebentar ok!"
" No, Daddy punya Mum." Bahkan anak sekecil Kya sangat membela ibunya, membuat Jiana tak berhenti tersenyum begitupun Bryan ia sangat ingin sekali tertawa
" Hanya sebentar ok?"
" No, Daddy ayo kita pulang." ajaknya menarik lengan Bryan hingga tubuh pria itu condong kedepan
" Uuuhhm i am sorry." ucap Bryan pada semuanya. Sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang akan ditunjukan wanita pesulap itu. Bryan mengikuti langkah kecil Kya. Ia berhenti tepat didepan Jiana yang sedang bersedekap dada kemudian berlutut dihadapan Kya yang seperti akan menangis
" Hey." Bryan menangkup wajah Kya yang murung
" Siapa yang akan mengambil Daddy dari Kya dan Mum, mereka tidak akan berani." Ucap Bryan
" Kya tidak suka, tante genit memegang Daddy."
" Baiklah, Daddy tidak akan melakukannya lagi." Saut Bryan dengan suara lembut lalu menaikan jari kelingkingnya yang mana langsung disambut Kya. Gadis kecil itu berhambur memeluk leher ayahnya, bagi Kya sang ayah hanya miliknya, ibunya dan adik-adiknya tidak ada yang lain
Itu membuat beberapa orang terharu dan memuji kecerdasan Kya yang tau cara menjaga sang ayah dari perempuan genit
" Kya mau pulang."
" Baiklah kita pulang." Saut Bryan sambil menengadah pada Jiana, bibirnya tersenyum begitupun Jiana
" Anak kita, benar-benar." Bisik Bryan ditelinga Jiana yang kembali menggandeng lengannya. Mereka memutuskan kembali ke vila seperti keinginan sang bocil
-
-