
-
-
-
-
Bryan tersenyum menatap kelangit-langit kamar. Ia menghentikan waktu dan terus menikmati kehangatan ini. Kya dan Jiana membawa dampak besar dalam hidupnya. Bryan yang nakal itu lebih betah dirumah bermain bersama anak dan istrinya. Bryan yang suka keluyuran malam-malam menyambangi klub-klub malam tapi sekarang lebih senang berbincang hangat bersama anak dan istrinya. Bryan yang jarang sekali makan dirumah itu kini tak pernah absen untuk menikmati masakan yang dibuat istrinya, lidah Bryan sudah terbiasa dengan masakan Jiana hingga makan siang dikantor yang ia pesan dari sebuah Restautant mahal pun terasa hambar untuk Bryan
Bryan kembali mendaratkan bibirnya dikening Jiana. " Terima kasih telah melahirkan putri kita." Bisiknya lembut lalu kembali menatap langit-langit dan tersenyum
Setelah beberapa saat ia mendengar nafas teratur putrinya, Bryan menunduk mencoba menjangkau wajah Kya, mata itu terpejam membuat Bryan merasa senang lalu segera membaringkan tubuh kecil itu di sampingnya
Bryan tersenyum melihat ludah Kya melebar membasahi pipi bapaunya. Kemudian ia mengambil beberapa bantal menumpuknya untuk menghalangi Kya agar tidak terjatuh kelantai
Bibir itu menyeringai nakal sembari bergerak berbalik pada Jiana yang membelakanginya. Bryan menarik tubuh itu terlentang." Mulai sekarang membelakangi suami dilarang diatas ranjang." Bisik Bryan pada Jiana dengan seringai mesumnya
Sementara Jiana hanya terdiam dan mengalungkan kedua tangannya dileher Bryan. Ini menjadi kesempatan Bryan mendaratkan bibirnya, melanjutkan kembali ciuman mereka tadi
Lembut yang perlahan merakus, lidah Bryan menyeruak masuk membelit lidah Jiana didalam rongga mulut wanita itu
" Emmmhh .. " lenguh Jiana mencengkram lembut rambut belakang Bryan, sepertinya berniat mengacak-ngacak rambut itu
Bryan mulai menaiki tubuh itu dan beralih ke sisi yang lain kasur, kini Jiana yang berada ditengahnya dan Kya
Ah
Suara desah itu keluar tatkala Bryan melepaskan bibirnya dan beralih pada leher. Satu tangannya mulai menurunkan resleting dress Jiana lalu pengait bra hitamnya. Tak lama tubuh Jiana polos tanpa sehelai benangpun karena Bryan
Ah ah ah
Suara Jiana mulai kencang dan sering saat puncak buah dada itu dikulum Bryan, kini Bryan tahu kelemahan Jiana. Makanya ia tidak pernah melewatkan gunung kembar saat menyetubuhi Jiana
" Emmmh Bryan .. "
" Emmmh Jia .. " saut Bryan parau, kedua tangannya tak diam dibuah dada sementara bibirnya turun keperut, mencecapi kulit halus Jiana yang tak ia lewatkan sedetikpun
Bryan semakin turun kebawah hingga tubuhnya tenggelam dalam selimut, semakin pula membuat Jiana merapatkan kedua kakinya. Tubuh Jiana menggeliyat tatkala benda kenyal itu sampai diatas kewanitaannya, memberi kecupan-kecupan kecil disana dan aroma khas area sensitif itu semakin membangkitkan hasrat Bryan, ini pertama kalinya dalam sejarah persetubuhannya dengan wanita, Bryan belum melangkah sampai sejauh itu. Ia tidak pernah memanjakan wanita tapi bagi Bryan Jiana sangat berbeda
" Bryan .. " Jiana mencoba menahan kepala Bryan agar pria itu tak berbuat semakin jauh, ia benar-benar malu jika Bryan melakukannya
Bryan mengangkat wajahnya,menatap dari bawah." Biarkan aku menyentuhnya." Ucap Bryan mencoba membuka kedua kaki Jiana, padahal ia sangat ingin menyentuh ketitik terdalam Jiana
Jiana menggelengkan kepala dengan wajah memerah membuat Bryan mendekat, ia menurut dan tak mau memaksa istrinya. Bryan kembali melu*at bibir itu, lembut penuh penghayatan dengan jemari tak menjauh dari buah dada Jiana
Bibir Bryan turun kebuah dada seiring dengan jemarinya juga yang turun kepangkal paha. Ia menyusu seperti Kya membuat Jiana tak tahan, tubuhnya meliuk-liuk tak karuan
" Boy .. " suara itu manja
Ah ah ah
Bryan tersenyum mendengar suara Jiana yang menikmati permainannya membuatnya kian antusias memaju mundurkan jari tengahnya masuk ke milik Jiana
" Bryan emmm .. "
" Emmmmh Baby .. " goda Bryan membalas suara nyaring Jiana, pria itu tersenyum lucu dibuah dada Jiana dan semakin mempercepat jemarinya dibawah sana
" Bryan .. "
" Jia .. " goda Bryan lagi lalu mengangkat wajahnya, mensejajarkan dengan Jiana. Menatap Jiana yang merem melek karena ulahnya
" Aaaaahhhhh aaahhhh .. " rintih Jiana
" Ooh sayang aku tidak tahan .. " ucap Bryan parau, ia menggigit bibir bawahnya saat tubuh mungil itu bergetar karena permainannya
Bryan segera mencabut jari tengahnya dan tersenyum puas jari itu basah oleh cai*an istrinya. Lalu Bryan mengusapkannya pada puncak buah dada Jiana dan langsung ia jilati dengan lidahnya membuat Jiana yang masih menikmati sisa-sisa kenikmatan itu tersentak dibuatnya
Pria itu segera bangkit menjauh untuk membuka kaosnya menampilkan tubuh sempurnanya dihadapan Jiana. Lalu beralih kecelana membukanya satu persatu menampilkan burung yang Jiana rasa berukuran jumbo
Bryan tersenyum menatapi Jiana yang tak mengedip melihat tubuhnya lalu ia menarik kedua kaki Jiana mendekat membuat wanita itu memekik dan kepalanya terjatuh dari bantal." Uuhh .." suaranya sangat manja ditelinga Bryan
Dengan jakun naik turun Bryan mengangkat satu kaki Jiana kepundaknya, menciumi betis itu sesaat lalu kembali menatap area sensitif Jiana, ia menyentuh dengan ibu jari sisa cairan istrinya yang masih menepel disana dan menjilat ibu jarinya sendiri membuat Jiana meneguk ludahnya kasar, Bryan sangat menggairahkan dimatanya
Aah
" Sayang aku belum melakukan apapun." ucap Bryan tersenyum lucu, padahal ia baru menempelkan ujung burungnya saja
" Aaahh baby .. " erang Bryan sambil melesakan burung yang sudah tegak berdiri itu
" Ooouuuuhhh .. " kini Bryan yang mulai berisik seperti Jiana tadi dan keberisikan itu menyamai suara Jiana
"Aaaahhh aaaahh eeuuuungggg" Jiana dan Bryan seolah berlomba-lomba untuk mengeluarkan suaranya, keduanya seakan tak perduli bila Kya bangun dan mengganggu mereka
" Sial ini sangat nikmat." umpat Bryan kencang sambil bergerak memaju-mundurkan adiknya dengan penuh semangat
" Aaah baby .. "
" Ummmh .. "
Seperti Jiana, kedua mata Bryan merem melek karena pergumulan itu, ia mencoba lebih mendekat menumpu kedua telapak tangannya pada kasur disisi tubuh Jiana, hal itu menjadi pegangan untuk Jiana, kedua jemarinya mengerat memegang lengan Bryan yang kekar
" Aaah Jia kau panas dan menggairahkan." racau Bryan dengan kepala tak diam menengadah kadang menunduk menatap miliknya yang besar keluar masuk milik Jiana yang terasa mungil untuk ukuran adiknya. Darah Bryan serasa naik keubun-ubun melihat kewanitaan Jiana membuatnya semakin berpacu dan bergerak cepat
" Sayang .. uuuuhhhh .. "
" Berisik!" tiba-tiba suara itu terdengar kencang dari mulut Jiana membuat Bryan tertawa pelan, ia membuka matanya lebar menatap Jiana yang melihat pada Kya
" Dia tidak akan bangun, dia mendukungku untuk membuat adik." ucap Bryan tersenyum membuat Jiana beralih padanya
" Aku mau keluar." pekik Jiana
" Yeah baby keluarkan." saut Bryan semakin berpacu
Ah ahaaa ahh emmmh aaahh
Bryan tersenyum mesum akan jeritan itu, tadi Jiana menyuruhnya untuk tidak berisik tapi sekarang malah dirinya yang berisik. Selain menggairahkan Bryan juga merasa percintaannya bersama Jiana selalu menyenangkan
-
-